Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Philipus Dellian Agus Raharjo

Seorang yang ingin menjadi kawan seperjalanan anda.

Belajar Aksara Jawa (10)

OPINI | 22 September 2013 | 20:25 Dibaca: 2169   Komentar: 15   4

Para Kompasianer yang tercinta, apa kabar? Semoga anda dalam keadaan sehat dan berbahagia. Pada tulisan yang lalu saya memberi contoh penulisan aksara Jawa dalam 3 buah paribasan atau peribahasa. Sekarang saya ingin mengajak anda untuk mengenal penggunaan aksara Jawa dalam bidang seni menulis indah, yaitu kaligrafi.

Seperti budaya tulis lainnya, aksara Jawa mengenal seni menulis indah atau kaligrafi (Yun. kallos = indah, graphe = menulis). Biasanya kalau mendengar kata kaligrafi, kita akan terbayang pada seni kaligrafi Arab. Padahal seni kaligrafi sangat luas dikenal oleh bangsa/budaya lain juga, bukan hanya oleh bangsa/budaya Arab. Di Asia saja kita dapat mengenal seni kaligrafi China (shufa), Jepang (shodou), Korea (seoye), Persia, India, Nepal, Tibet, dan sebagainya. Di Eropa, buku-buku zaman pertengahan banyak dihiasi dengan tulisan-tulisan indah yang ditulis dengan tangan oleh para rahib atau biarawan. Pendek kata, di mana dijumpai budaya tulis, di situ pasti ada seni kaligrafi. Masing-masing budaya memiliki ciri khas dalam proses pembuatan dan wujud kaligrafinya.

Kaligrafi China, Jepang, dan Korea biasanya berupa huruf-huruf kanji atau dalam bahasa Mandarin disebut hanzi. Huruf-huruf itu disusun menjadi puisi dan semacamnya. Jarang dijumpai contoh kaligrafi budaya Asia Timur yang menggunakan huruf-huruf untuk membentuk gambar seperti kita jumpai dalam kaligrafi Arab dan kaligrafi Jawa. Bukan berarti sama sekali tidak ada.

Tak perlu saya bahas lebih lanjut mengenai macam-macam kaligrafi selain kaligrafi Jawa itu. Langsung saja ya, kita masuk pada bahasan tentang kaligrafi Jawa. Perhatikan gambar berikut ini:

1379851285932189175

Semar berpengawak Sastra Dentawyanjana.

Gambar Semar yang dibuat dengan aksara Jawa ini sangat terkenal. Di dalamnya termuat ke-20 aksara Jawa yang disusun dalam empat baris kalimat. Keempat baris kalimat itu berisi filsafat ha-na-ca-ra-ka yang khas dengan kandungan ilmu kejawen mengenai asal dan tujuan manusia (sangkan-paraning dumadi).

Untuk mempermudah pembacaan keempat baris kalimat itu - sesuai dengan urutan ha-na-ca-ra-ka, saya akan bantu dengan pewarnaan pada aksara-aksara yang membentuk tubuh Semar ini. Perhatikan gambar berikut:

13798516651329622232

ha - na - ca - ra - ka

Aksara Jawa yang saya beri warna biru berbunyi hananing cipta rasa karsa. Aksara ha dan na terdapat dalam kata hananing, aksara ca terdapat dalam kata cipta, aksara ra terdapat dalam kata rasa, dan aksara ka terdapat dalam kata karsa. Aksara ha mulai dari hidung ke atas membentuk kuncung atau jambul Semar. Aksara na terletak tepat di bawah aksara ha. Kemudian ning (aksara na yang mendapat sandhangan wulu dan cecak), membentuk kepala Semar. Cipta (aksara ca mendapat sandhangan wulu, aksara pa yang diikuti pasangan ta), membentuk tengkuk dan lengan kanan Semar. Karsa (aksara ka mendapat sandhangan layar, sa nglegena/tanpa imbuhan apapun) membentuk bibir dan mulut Semar.

Hananing cipta rasa karsa mengandung makna, bahwa manusia dalam hidup dan kehidupannya sudah dilengkapi secara kodrati dengan daya cipta, rasa, dan karsa untuk mencapai tujuan hidupnya.

Gambar berikutnya adalah:

1379853156785988750

da - ta - sa - wa - la

Aksara Jawa yang saya beri warna biru berbunyi datan salah wahyaning lampah. Aksara da nglegena tertulis pada dagu Semar. Sedangkan tan salah (aksara ta nglegena, aksara na diikuti pasangan sa, aksara la dirangkai dengan sandhangan wignyan). Aksara ta membentuk leher dan puting susu Semar. Aksara na dan sa membentuk bagian tangan kiri Semar, aksara la diikuti wignyan membentuk bagian jari, telapak tangan, dan siku Semar. Kemudian wah (aksara wa dirangkai dengan sandhangan wignyan). Tidak seperti la yang langsung diikuti wignyan, pada kata wah ini wignyan ditulis di bawah wa, bukan karena ingin menyalahi aturan penulisan, melainkan karena lebih pada fungsi estetik dan sekaligus membentuk bagian pantat Semar. Aksara ya nglegena ditulis secara vertikal membentuk jari-jari kaki Semar. Berikutnya kata ning lampah (na mendapat wulu dan cecak, la nglegena, ma diikuti pasangan pa yang dirangkai dengan wignyan) membentuk kaki Semar. Kaligrafer dengan cerdik menempatkan kata lampah (yang berarti jalan, berjalan) pada kaki Semar.

Datan salah wahyaning lampah, mengandung makna bahwa daya cipta, rasa, dan karsa (pada kalimat pertama tadi) diberikan supaya manusia tidak salah langkah dalam mengarungi kehidupan.

Gambar berikutnya:

13798542371259232642

pa - dha - ja - ya - nya

Aksara yang saya beri warna biru berbunyi padhang jagadé yèn nyumurupana. Bagian depan aksara pa membentuk bagian bahu kiri Semar, sedangkan bagian belakang pa bersama dhang (aksara dha diberi cecak) menjadi perhiasan bagian pinggang belakang, sekaligus menjadi lengan atas kanan Semar. Kata jagadé, aksara ja terdapat di bagian atas pantat Semar, aksara ga nglegena ditulis secara vertikal dengan bagian depan diperpanjang membentuk lengan bawah kanan Semar, sedangkan bagian aksara ga yang lain menjadi gelang. Disusul dengan aksara da dan pasangan da yang diberi sandhangan taling, membentuk jari-jari dan telapak tangan kanan Semar. Kata-kata yèn nyumurupana membentuk hiasan pada kain yang dikenakan Semar, terdiri dari aksara ya mendapat taling, diikuti aksara na yang dirangkai dengan pasangan nya yang diberi suku, aksara ra diberi suku, pa diikuti pasangan pa, dan terakhir aksara na nglegena.

Padhang jagadé yèn nyumurupana, kalimat ketiga ini baru akan dapat dimaknai setelah dirangkai dengan kalimat keempat. Maka mari kita perhatikan gambar berikutnya:

1379855423333005688

ma - ga - ba - tha - nga

Aksara yang saya beri warna biru berbunyi marang gambaraning bathara ngaton. Aksara-aksara ini dapat dibaca dengan mudah karena susunannya seperti menulis aksara Jawa biasa. Mudah terlihat/terbaca karena sudah ngaton (terlihat).

Sekarang saya akan rangkai kalimat ketiga dengan kalimat keempat, sehingga menjadi padhang jagadé yèn nyumurupana marang gambaraning bathara ngaton. Makna kalimat ini adalah manusia akan selamat apabila mau menyadari kepentingan sesama hidup lainnya (manusia dan alam semesta ciptaan Tuhan).

Filsafat asal dan tujuan manusia (sangkan paraning dumadi) yang menjadi dasar dibuatnya kaligrafi Semar di atas disusun oleh Soenarto Timoer dalam makalahnya “Mengkaji Makna Ha-na-ca-ra-ka, Menguak Hakikat Sangkan Paraning Dumadi” dalam Seminar Nasional Pengkajian Ha-na-ca-ra-ka pada 15-16 April 1994. Mengenai bahasan tentang filsafat sangkan paraning dumadi lebih mendalam, saya persilakan para Kompasianer menanyakannya kepada para ahli filsafat Jawa.

Sebagai penutup tulisan ini, saya berikan kaligrafi Semar yang lain. Aksara dan susunannya lebih mudah dibaca. Isi dari kaligrafi berikut adalah tiga semboyan bagi para pendidik yang dirumuskan oleh RM Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hajar Dewantara:

1379856185878225795

Semboyan bagi para pendidik Indonesia.

Bagaimana? Sudah terbaca? ^_^

Semoga.

Sampai jumpa lagi di tulisan berikutnya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Ratu Atut [Hanya] Divonis 4 Tahun Penjara! …

Mike Reyssent | 9 jam lalu

Benarkah Soimah Walk Out di IMB Akibat …

Teguh Hariawan | 10 jam lalu

Kisah Nyata “Orang Vietnam Jadi …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

Pak Jokowi, Saya Jenuh Bernegara …

Felix | 15 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

V2 a.k.a Voynich Virus (Part 21) …

Ando Ajo | 9 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 10 jam lalu

Pemuda Solusi Terbaik Bangsa …

Novri Naldi | 11 jam lalu

Rasa Yang Dipergilirkan …

Den Bhaghoese | 11 jam lalu

Kisah Rhoma Irama “Penjaga …

Asep Rizal | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: