Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Asrini Hani

MENULISLAH ketika ingin menulis, untuk kebahagiaan ataupun kebermanfaatan

Ketika Bahasa Vicky Jadi Bahasa Gaul

OPINI | 14 September 2013 | 07:05 Dibaca: 2241   Komentar: 4   2

Beberapa hari ini banyak orang yang tengah terjangkiti ‘bahasa gaulnya’ Vicky. Kalau sebelumnya muncul bahasa alay (menuliskan besar kecil, campur huruf dan angka sehingga membuat mengkerut-kerut kening dan kacau bagi yang membaca). Atau dengan kosa kata anak-anak ABG, yang katanya bahasa gaul dengan miapah, enelan, ciyus, dan sebagainya dan seterusnya. Pun sekarang semakin komplit dengan kosa kata baru ala Vicky (yang mungkin bisa dibilang bahasa modifikasi Vicky) atau banyak orang menyebutnya dengan istilah baru Vickybulary ataupun vickynisasi.

Menurut pendapat Gorys Keraf (ahli bahasa ternama Indonesia), bahasa adalah alat komunikasi berupa simbol bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia yang digunakan dalam masyarakat. Dari pengertian ini bahasa mencakup 4 hal yaitu sistem lambang bunyi, alat komunikasi, simbol bunyi yang memiliki arti dan makna, digunakan oleh masyarakat untuk berinteraksi. Sedangkan fungsi bahasa itu sendiri adalah alat untuk menyatakan ekspresi diri, alat komunikasi dan alat untuk mengadakan adaptasi sosial.

Fungsi bahasa yang pertama, bahasa untuk menyatakan ekspresi diri. Bahasa disini berfungsi untuk menyatakan diri secara terbuka apa yang ada dalam fikiran dan perasaan kita. Ini bukan tentang mengajarkan membaca pikiran orang. Melainkan lebih pada mengetahui ketika seseorang berbicara menunjukkan apa yang tengah dia pikirkan ataupun yang dirasakan. Misalnya saja ketika kita berlibur di pantai dan menikmati keindahan panoramanya, dan secara otomatis kita berucap: “hmmm,,,luar biasa, indah nian…..”.

Fungsi bahasa yang kedua sebagai alat komunikasi. Disini bahasa berfungsi untuk mengutarakan maksud atau pesan dari seorang komunikator (sumber) kepada komunikan (penerima pesan). Seorang komunikan benar – benar faham dan mengerti apa yang disampaikan oleh komunikator. Dan ketika sudah faham, maka kerjasama pun akan terjalin secara lancar. Misalnya bisa kita ambil contoh seorang guru (komunikator) harus memiliki pesan yang jelas yang ingin disampaikan kepada murid (komunikan). Selain itu guru juga harus menyesuaikan topik/tema yang sesuai dengan umur si komunikan, dan akhirnya dampak/efek pada diri komunikan sesuai dengan yang diinginkan. Intinya kedua belah pihak saling paham dan bisa terjalin hubungan yang lancar.

Pada konteks bahasa Vicky, bisa dikatakan sebaliknya. Kalau kita melihat bahasa dari Vicky, mungkin ingin menunjukkan eksistensi dirinya agar bisa menjadi bagian dari suatu kelompok. Atau bisa juga untuk mempromosikan bahasa gaul yang baru. Kalau alasannya yang terakhir, yang terjadi bukan lagi jadi gaul melainkan jatuhnya jadi gowal-gawul (maaf kalau saya menyebutnya demikian). Bisa jadi bahasa yang digunakan itu merupakan bahasa tingkat tinggi, sehingga karena tingginya kita dibuat susah untuk mencernanya. Sisi positifnya dari semua itu kita mendapat hiburan gratis.

Fungsi yang ketiga dari bahasa adalah alat untuk mengadakan adaptasi sosial. Maksudnya dari interaksi yang terus-menerus bahasa akan memudahkan seseorang untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Sedangkan pengertian bahasa gaul sendiri adalah bahasa prokem, ragam bahasa Indonesia non standar yang muncul akhir tahun 1980-an. Kemudian sekarang banyak digunakan sebagai bahasa pergaulan anak-anak remaja. Bisa dikatakan kita lebih familiar dengan PD (untuk menggantikan percaya diri), PDKT (untuk menggantikan kata pendekatan), lemot (menggantikan lambat), typo (untuk menggantikan salah ketik), dan sebagainya.

Sebenarnya penggunaan bahasa gaul ini kalau melihat sisi positifnya, akan bisa menjalin hubungan kedekatan antara guru dengan murid, orang tua dengan anak remaja. Hal ini bisa saja terjadi kalau guru atau orang tua ini mencoba masuk ke dalam dunia mereka tanpa perlu merasa tersinggung, karena dunia mereka memang seperti itu. Ini bisa saja digunakan hanya sebatas agar tidak terjadi gap (jurang pemisah), sehingga murid atau anak ini tidak merasa sungkan dan bisa menjadikan sosok orang tua atau guru sebagai sahabat.

Di luar konteks itu, sebenarnya juga penting untuk menekankan penggunaan Bahasa Indonesia yang standar dan baku yang digunakan untuk situasi dan kondisi formal. Karena bisa dikatakan bahwa Bahasa Indonesia itu sejatinya merupakan jati diri suatu bangsa.

Selamat Berakhir Pekan :)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kunonya Rekapitulasi Pilpres, Kalah Canggih …

Ferly Norman | | 22 July 2014 | 07:48

Cara Mudah Kenali Pelaku Olshop yang …

Ella Zulaeha | | 22 July 2014 | 11:59

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21

Cara Mudah Kenali Pelaku Olshop yang …

Ella Zulaeha | | 22 July 2014 | 11:59

Bukan Dengkuran Biasa …

Andreas Prasadja | | 22 July 2014 | 10:45


TRENDING ARTICLES

Perlukah THR untuk Para Asisten Rumah …

Yunita Sidauruk | 6 jam lalu

Catatan Tercecer Pasca Pilpres 2014 (8) …

Armin Mustamin Topu... | 8 jam lalu

Rekap Final Kawalpemilu.org Jokowi 53,15%, …

Rullysyah | 8 jam lalu

Lima Artis Terseksi Indonesia dengan Selera …

Sahroha Lumbanraja | 11 jam lalu

Jejak Itu Bernama Screenshot… …

Sunardi Al Banyumas... | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: