Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Herlina Surbakti

Dilahirkan di Tanah Karo, Sumatera Utara. Bekerja pada organisasi-rganisasi Internasional sebagai Guru Orientasi Budaya, Bahasa selengkapnya

Bahasa Indonesia Sekarang dan Satu Generasi yang Akan Datang

OPINI | 22 August 2013 | 10:41 Dibaca: 293   Komentar: 0   0

Sebuah prediksi

Latar Belakang

Pada tanggal 28 Oktober 1928 organisasi-organsasi pemuda pemudi Indonesia mengadakan kongres. Ketika itu, yang mengikuti “Kongres Pemoeda” adalah wakil-wakil pemuda dari Jong jawa, Jong Sunda, Jong Batak, Jong Ambon, dan Jong Selebes. Jadi secara linguistis, yang dinamakan bahasa Indonesia saat itu adalah bahasa Melayu. Pada kongres tersebut mereka bersumpah. Salah satu dari isi sumpah tersebut adalah mengenai bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Jelas bahwa pemuda pemudi bangsa Indonesia pada masa itu yang berasal dari budaya-budaya yang sangat beraneka ragam menyadari bahwa kalau mereka memang ingin bersatu didalam satu Negara, maka Bahasa Indonesialah yang menjadi sebuah perekat yang sangat kuat oleh karena pada saat itu bahasa Melayu memenag sudah menjadi lingua franka di kepulaun nusantara ini.

Kemudian pada masa pendudukan Jepang, pemerintahan Jepang tidak membolehkan orang Indonesia berbahasa Balanda ataupun ber bahasa Inggris. Pemakaian Bahasa Indonesia diharuskan sebagai bahasa pengantar. Sementara itu, bangsa Indonesia yang baru saja lepas dari cengkeraman penjajahan Belanda merasa sudah terbebaskan dan menyambut dengan sangat baik peraturan pemerintah pendudukan Jepang tersebut. Pada masa pendudukan Jepang inilah Bahasa Indonesia berkembang dengan sangat pesat sehingga ketika masa kemerdekaan tiba, orang Indonesia sudah terbiasa dengan pemakaian Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah dan di kantor-kantor dan di perkotaan dan sekarang dipergunakan diseluruh Indonesia disamping bahasa daerah masing-masing.

Apa yang sedang terjadi pada Bahasa Indonesia pada Era Globalisasi sekarang ini?

Derasnya arus globalisasi masuk ke negara-negara di seluruh dunia status bahasa Inggris turut meningkat menjadi bahasa ‘prestige’ yang di minati oleh orang orang muda dan sebagian orang tua. Sehubungan dengan itu banyak pula Negara. negara di Dunia telah mencoba untuk melindungi budaya asli mereka dengan larangan masuknya intrusi budaya dari luar. Indonesia tidak luput dari pengaruh globalisasi ini. Banyak orang Indonesia yang tidak lagi merasa bangga untuk mempergunakan Bahasa Indonesia karena bahasa yang dianggap sebagai bahasa masa depan adalah bahasa Inggris. Banyak sekolah sekolah RSBI dan sekolah Internasional yang berdiri di Jakarta dan di kota-kota besar lainnya dimana guru-gurunya adalah orang Indonesia dengan kemampuan bahasa Inggris yang tidak memadai. Pada sekolah-sekolah seperti ini Bahasa Indonesia diposisikan sebagai bahasa yang tidak penting. Banyak orang tua murid yang melarang anak-anak mereka memakai bahasa Indonesia karena anak-anak mereka bersekolah di sekolah Internasional bahkan ada pula sekolah-sekolah yang melarang siswa-siswanya mempergunakan Bahasa Indonesia. Sementara itu di sekolah-sekolah Internasional seperti Jakarta International School misalnya ada kekhawatiran nyata bahwa jika anak-anak kita tidak memperoleh bahasa pertama mereka, mungkin mereka akan mengalami kesulitan di kemudian hari, tidak melek dan tidak mahir dalam hal akademis bahasa kedua (Collier, 1992, 1995a; Collier & Thomas, 1989; Cummins, 1981, 1991; Collier 7 thomas, 1995). Hubungan interaktif antara bahasa dan pertumbuhan kognitif adalah penting. Perkembangan kognitif tidak akan terganggu ketika orang tua dan anak-anak menggunakan bahasa yang paling mereka kuasai. Pengalaman dan ide-ide harus akrab dan bermakna bagi anak untuk dipelajari. Keterampilan akademik, pengembangan literasi, pembentukan konsep, subyek pengetahuan dan strategi belajar, semuanya diperoleh dalam bahasa pertama dan akan mentransfer semua keterampilan tersebut diatas ke dalam bahasa kedua, ketiga dan seterusnya, mereka menarik dari latar belakang pegalaman mereka yang telah tersedia dari pengalaman bahasa pertama mereka. Collier (1992) percaya bahwa anak-anak mengembangkan keterampilan dalam membentuk bahasa pertama mereka adalah sebagai dasar bagi mereka untuk sukses secara akademis dalam bahasa kedua mereka. Oleh karena itu apabila seorang anak sudah mempunyai dasar yang kuat dalam bahasa pertamanya maka si anak akan dapat berbahasa selanjutnya dengan baik. Apabila seorang anak tidak mempunyai dasar bahasa pertama yang baik maka bahasa-bahasa kedua, ketiga dan selanjutnya akan lemah juga. Oleh karena itu para orangtua disarankan agar tetap mempergunakan bahasa ibu.

Ada dua teori filsafat bahasa yang sudah sejak lama didefinisikan oleh filusuf-filusuf bahasa tentang berkembangnya bahasa. Ada teori yang mengatakan bahwa: ”Bahasa bersifat alamiah (FISEI) yang berarti bahwa: bahasa mempunyai hubungan dengan ILAHI, dimana sumber dalam prinsip abadi tidak dapat diganti diluar manusia itu sendiri oleh karena itu kita tidak dapat menolaknya. Sebaliknya para filusuf konvensionalis berpendapat bahwa bahasa timbul dari hasil-hasil tradisi, kebiasaan-kebiasaan dari “Tacit Agreement” yang artinya adalah diam tanda setuju atau “Silent Approval”. Oleh karena bahasa adalah tradisi maka aturan-aturan bahasa bisa dilanggar dan juga dapat berubah dengan berjalannya waktu. Bahasa bukanlah pemberian Ilahi, karena bahasa bersifat konvensional. Demikianlah pendapat para filusuf bahasa yang mencoba menemukan hakikat bahasa. Pada kenyataannya bahasa memang tidak dapat dipasung akan tetapi di dalam bahasa juga terdapat ciri-ciri “FISEI” hal itu meliputi jumlah yang tidak banyak.

Dari kedua pendapat diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa bahasa bisa berkembang dengan sangat pesat tanpa ada kontrol atau disebut dengan istilah “anomali”. Ada pula bahasa yang berkembang sesuai dengan aturan aturan yang sudah ada pada bahasa tersebut yaitu “analogi” lalu ada pula bahasa-bahasa minoritas yang terancam punah karena menghilangnya budaya dan tradisi pembicara bahasa tersebut. Kita lihat saja contohnya pada Bahasa Indonesia. Mayoritas orang Indonesia mempunyai bahasa ibu bahasa daerah yang tidak sama dengan bahasa Melayu. Misalnya bahasa Karo, bahasa Aceh, bahasa Jawa, bahasa Tionghoa dsb. Biasanya mereka ini terdiri dari masyarakat ekonomi kelas menengah kebawah dan tinggal di daerah-darah provinsi kecuali masyarakat yang berbahasa Tionghoa atau etnis Cina yang berasal dari kelas ekonomi menengah ke atas. Oleh karena itu seperti yang kita alami banyak kata-kata bahasa daerah menjadi bagian dari kata-kata bahasa Indonesia. Oleh karena penutur Bahasa Indonesia yang kebanyakan dari penutur bahasa Jawa, maka kita dapat melihat dengan jelas pengaruh bahasa Jawa sudah sangat besar dalam perkembangan kosa-kata Bahasa Indonesia.

Apakah pengaruh globalisasi terhadap Bahasa Indonesia?

Orang Indonesia pada umumnya sangat memandang tinggi kedudukan bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional. Mereka percaya bahwa mengetahui bahasa Inggris akan lebih mudah mendapat pekerjaan untuk memperbaiki taraf hidup mereka. Dengan kepercayaan ini, maka orang-orang yang dapat berbahasa Inggis walaupun hanya sedikit akan merasa statusnya lebih tinggi di tengah lingkungannya dan tidak bangga untuk mempergunakan bahasa Indonesia. Ini diperkuat pula dengan kurikulum 2006 yang lebih mengutamakan Bahasa Inggris dan pada sekolah-sekolah tertentu bahasa Mandarin, seperti yang diungkapkan oleh: Maryanto ; Pemerhati Politik Bahasa, KORAN TEMPO,  02 Januari 2013.“Lewat KTSP, bahasa Indonesia cenderung dilemahkan; dilecehkan pada setiap satuan pendidikan. Di tingkat sekolah dasar dan-bahkan-prasekolah, bahasa Indonesia mulai digeser posisi pentingnya sebagai bahasa pendidikan dengan bahasa selain Indonesia, terutama bahasa Inggris. Bahasa Mandarin juga menggeser bahasa Indonesia di sekolah-sekolah tertentu. Di sana, bahasa Indonesia bukan bahasa “buku” (baca: literasi) yang bergengsi. Dengan menggadai martabat bahasa Indonesia, para penyelenggara KTSP sudah meraup untung dari urusan pendidikannya.”

Contohnya kita bisa lihat pada siaran MTV Indonesia yang popular di kalangan anak-anak muda kelas ekonomi menengah ke atas menggunakan kata-kata Inggris yang dicampur aduk dengan pemakaian Bahasa Indonesia yang dengan jelas akan merusak kemampuan Bahasa Indonesia dan kemampuan berbahasa Inggris mereka. Sementara itu penguasaan yang benar dan baiklah yang dapat menjanjikan kedudukan, status sosial, dan tingkat ekonomi yang lebih baik. Di tempat-tempat umum seperti pada papan iklan banyak sekali penggunaan kata-kata Inggris sehingga kita mengalami kesulitan menemukan papan iklan yang murni memakai bahasa Indonesia kecuali papan iklan PILKADA.

Pengaruh bahasa gaul terhadap perkembangan Bahasa Indonesia.

Oleh karena pada pendidikan kita Bahasa Indonesia bukan bahasa yang dianggap penting maka para remaja menciptakan sendiri bahasa Indonesia yang digayakan berdasarkan selera mereka kemudian menyebar luas melalui sms keseluruh remaja di seluruh Indonesia. Bahasa ciptaan ini dikenal dengan bahasa gaul. Gejala ini turut berkontribusi terhadap ketidak mampuan generasi muda untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Contoh kata kata yang diciptakan, digunakan dan disebarluaskan oleh para remaja diantaranya adalah sebagai berikut:

1. cius berasal dari kata serius

2. mia apa berasal dari kata demi apa.

3. ai berasal dari kata sangat

4. alay, lebay berasal dari kata berlebihan

5. kepo berasal dari kata kampungan

6. cs berasal dari kata teman

7. parno perasal dari kata Inggris paranoid

Di sekolah para siswa tidak dilatih membiasakan diri untuk suka membaca, siswa hanya dituntut untuk membaca buku-buku teks, yang mengakibatkan kurangnya kemampuan untuk mengaplikasikan Bahasa Indonesia yang benar dan baik di lingkungan formal maupun di lingkungan informal. Para orang tua anak didik dari kalangan menengah keatas menganggap bahwa bahasa Indonesia sudah ketinggalan zaman. Pada situasi formal seperti kuliah, seminar, rapat dan lain lain, sudah sepantasnya siswa atau mahasiswa menggunakan bahasa Indonesia yang resmi dan formal serta memperhatikan kaidah-kaidah Bahasa Indonesia yang berlaku, seperti kaidah ejaan, kaidah pembentukan kata, kaidah penyusunan kalimat dan kaidah penataan penalaran. Apabila kaidah kaidah bahasa tidak ditaati, maka pemakaian Bahasa Indonesia tersebut menjadi tidak benar atau tidak baku. Walaupun kita menggunakan bahasa yang benar, belum tentu kita menggunakan bahasa yang baik untuk mencapai sasaran. Berbahasa Indonesia yang baik dan benar berfungsi sbb:

1. Pemersatu kebhinekaan budaya dan adat istiadat masyarakat Indonesia sesuai dengan tujuan “Sumpah Pemuda tahun 2928”

2. Penanda kepribadian yang menyatakan identitas Bangsa Indonesia dalam pergaulan dengan bangsa-bangsa lain di dunia Internasional.

3. Pembawa kewibawaan dalam masyarakat Indonesia untuk menunjukkan bahwa seseorang itu adalah orang yang berpendidikan.

Apakah tindakan yang harus diambil untuk memperbaiki situasi ini?

Menjadikan lembaga pendidikan sebagai basis pembinaan bahasa. Dunia pendidikan menjadikan Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi primer ditengah-tengah kehidupan masyarakat Indonesia. Pemahaman dalam berbahasa sangat penting agar kita dapat mengetahui cara menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan keadaan, tempat atau dengan siapa kita berbicara contohnya pada acara-acara resmi, kita diharapkan mampu menggunakan Bahasa Indonesia yang resmi atau formal, sedangkan jika kita berada di rumah atau di tempat lain yang bukan tempat resmi atau formal kita tidak dituntut untuk memakai bahasa formal melainkan kita dapat menggunakan bahasa sehari-hari.

Bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jadi kalau kita masih mau mempertahankan NKRI, maka kita harus membuat semua rakyat Indonesia mengerti dan bangga dalam menggunakan Bahasa Indonesia oleh karena Bahasa Indonesia adalah merupakan satu-satunya perekat yang sangat kuat bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Apa yang akan terjadi pada Bahasa Indonesia 25 tahun yang akan datang?

Dengan berlakunya kurikulum 2013 tahun ajaran yang akan datang, sudah jelas kelihatan bahwa pemerintah sedang berusaha untuk memperbaiki sikap anak didik terhadap pemakaian Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Pada kurikulum ini anak didik akan diajarkan antara lain:

Kemampuan berkomunikasi. Berkomunikasi disini berarti berkomunikasi dengan lancar dengan mempergunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Usulan untuk tingkat Sekolah Dasar adalah pelajaran Bahasa Indonesia akan diintegrasikan dengan pelajaran IPA dan IPS.

MATA PELAJARAN

KELOMPOK A

ALOKASI WAKTU

PER MINGGU {JP}

1.

Pendidikan Agama

2

2.

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

3

3.

Bahasa Indonesia

6

4.

Matematika

5

5.

Ilmu Pengetahuan Alam

5

6.

Ilmu Pengetahuan Sosial

4

7.

Bahasa Inggris

4

Jadi mata pelajaran Bahasa Indonesia pada kurikulum 2013 akan menjadi 15 jam per minggu sedangkan pada kurikulum yang sekarang (2006) hanya 6 jam per minggu. Dengan metode pembelajaran yang “student Centered”, cooperative and Collaborative” dan dengan menerapkan Penilaian Kinerja, maka kemampuan Bahasa Indonesia yang didalamnya termasuk kemampuan berbicara, kemampuan mendengar, kemampuan membaca dan kemampuan menulis di dalam Bahasa Indonesia akan menjadi sangat baik.

Oleh karena itu apabila kurikulum ini benar-benar dilakukan oleh guru-guru yang kompeten maka anak-anak Indonesia akan menjadi anak-anak yang percaya diri baik dalam pemakaian Bahasa Indonesia maupun di dalam pemakaian Bahasa Inggris. Karena orang-orang yang mempunyai bahasa pertama yang kuat akan dapat mempelajari bahasa kedua, ketiga dan seterusnya dengan baik pula. Apabila kurikulum ini dijalankan dengan baik dalam kurun waktu 25 tahun saya percaya Bahasa Indonesia akan menjadi bahasa Ilmu Pengetahuan yang menjadi kebanggaaan semua anak-anak dan orang tua Indonesia.

Daftar Bacaan:

Drs Kaelan, M.S., Filsafat Bahasa dan Perkembangannya, “PARDIGMA”, Yogyakarta, 1988.

Katz, J.J. 1966, The Philosophy of Language, Department of Humanities and . Research of Laboratory of Electronics, Massechuset Institute of Technology

Bahan Uji Publik Kurikulum 2013.

http://slideshare.net/ayu_larisa/perkembangan-masyarakat-indonesia-pada-masa-pemerintahan-pendudukan-jepang

http://www.early-advantage.com/articles/universalgrammar.aspx

http://www.education.com/reference/article/how-children-learn-second-language/

http://imoed-forum.blogspot.com/2009/12/children-vs-adults-in-second language.html

Ditulis oleh Herlina Surbakti, Februari 2012, di edit ulang Agustus 2013

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

9 Mei 2014, Sri Mulyani Come Back …

Juragan Minyak | | 25 April 2014 | 10:12

Gitar Bagus Itu Asalnya dari Sipoholon, Lho! …

Leonardo Joentanamo | | 25 April 2014 | 11:08

Kesuksesan Kerabat Kepala Daerah di Sulawesi …

Edi Abdullah | | 25 April 2014 | 10:02

Selamat Hari Malaria Sedunia 2014 …

Avis | | 25 April 2014 | 11:08

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: