Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Hesma Eryani

Membaca dan menulis menjadi bagian tak terpisah dari kehidupan saya. Dengan membaca dan menulis saya selengkapnya

Mengunduh Bahasa Daerah

OPINI | 19 August 2013 | 18:06 Dibaca: 202   Komentar: 0   0

DALAM dunia media sosial yang membuat manusia hidup saling berjaringan, senantiasa dihubungkan atau terhubung antara satu dan lainnya oleh jaringan sistem komunikasi elektronik yang megah. Kita mengenal banyak kosakata baru yang mau tak mau harus diterima tanpa upaya untuk mengkritisinya.

Kosakata-kosakata itu datang dari perbendaharaan tata bahasa asing. Kita sangat tak akrab dengan kosakata-kosakata itu selama ini. Tapi, karena dalam kehidupan sehari-hari kita sangat akrab dengan jejaring sosial itu, setiap kosakata yang kita dapat menjadi sedemikian akrab sehingga menjelma menjadi konvensi.

Bahasa pada akhirnya memang hasil konvensi sosial. Tidak jelas betul bagaimana bahasa dapat menjadi konvensi mengingat kesamaan persepsi, pemikiran, dan cara pandang sulit dicapai di antara manusia yang berasal dari ragam suku dan bangsa. Tiba-tiba saja kosakata seperti upload dan download yang berasal dari bahasa asing, membuat perbedaan suku dan bahasa daerah antara kelompok masyarakat yang satu dan lainnya menjadi lebur.

Kita menjelma menjadi masyarakat jejaring sosial dengan tingkat pemahaman dan pengetahuan yang serupa atas makna dari istilah-istilah asing dalam dunia jejaring sosial.

Memang, para pengamat bahasa Indonesia acap menawarkan alternatif diksi atas istilah-istilah asing itu. Padanan setiap istilah asing dicari dalam kamus bahasa Indonesia, juga kamus-kamus bahasa daerah. Maka, secara perlahan-lahan kita menemukan kata unggah dipadankan dengan kata upload, dan unduh padanan dari kata download.

Kata unggah maupun kata unduh dipopulerkan oleh Pusat Bahasa. Kedua kata tersebut diambil dari perbendaharaan bahasa daerah. Dalam bahasa Melayu, kata unggah dan unduh dapat ditemukan. Makna kedua kata itu mirip dengan makna yang ditemukan dalam bahasa daerah seperti bahasa Sunda dan Jawa. Kata unggah bisa dimaknai dengan naik, sedangkan unduh bermakna turun.

Namun, pemakaian kata unggah untuk mengganti istilah upload mengalami perluasan makna jika dipergunakan dalam dunia jejaring sosial. Unggah dalam hal ini tidak hanya berarti naik, juga berarti menampilkan. Jika makna unggah merupakan menampilkan, kata unggah yang dikedepankan sebagai padanan upload mengacu pada kata munggah yang dapat ditemukan dalam bahasa sehari-hari di sejumlah daerah.

Dalam bahasa Sunda, misalnya, ada istilah munggah yang mengacu pada kegiatan tradisi masyarakat. Sering kata munggah diberi akhiran β€œan” menjadi munggahan, seperti pemakaian akhiran -an pada kata maulud (kelahiran) menjadi mauludan. Jadi, kata munggah atau lebih sering dipakai masyarakat Sunda dengan munggahan, sesungguhnya lebih tepat sebagai padanan kata upload yang berarti menampilkan.

Begitu juga halnya dengan kata unduh. Kata ini acap dipergunakan dalam masyarakat Jawa untuk menggambarkan kegiatan menurunkan buah dari pohon. Dengan begitu, pemakaan kata unduh sebagai padanan kata download dalam jejaring sosial merupakan perluasan makna kata.

Unduh tidak sekadar bermakna menurunkan, juga berarti mengeluarkan. Kata unduh dipakai untuk kegiatan mengeluarkan data dari dalam jaringan internet.

Kedua kata dari bahasa daerah ini belakangan menjadi konvensi masyarakat dalam jejaring sosial dari lingkungan budaya mana pun mereka berasal. Pemadanan kata unggah dan unduh itu menunjukkan betapa khazanah bahasa-bahasa daerah sangat kaya dan potensial menjadi padanan dari setiap istilah baru. Ketimbang memakai istilah-istilah baru dan asing, dan menjadikannya konvensi dalam berbahasa Indonesia, lebih baik kita memasyarakatkan istilah-istilah yang ditemukan dalam khazanah bahasa daerah melalui perluasan-perluasan makna.

Dalam berbahasa, kita harus menunjukkan bahwa kita adalah sebuah bangsa. Tidak seperti negeri jiran Malaysia yang mengaku hebat, tetapi longgar dalam peristilahan bahasa sehingga bahasa nasional mereka lebih mirip dengan gado-gado

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Masril Koto Bantah Pemberitaan di …

Muhammad Ridwan | | 23 September 2014 | 20:25

Tanggapan Rhenaldi Kasali lewat Twitter …

Febrialdi | | 23 September 2014 | 20:40

“Tom and Jerry” Memang Layak …

Irvan Sjafari | | 23 September 2014 | 21:26

Kota Istanbul Wajib Dikunjungi setelah Tanah …

Ita Dk | | 23 September 2014 | 15:34

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Habis Sudah, Sok Jagonya Udar Pristono …

Opa Jappy | 3 jam lalu

Jangan Sampai Ada Kesan Anis Matta (PKS) …

Daniel H.t. | 3 jam lalu

Mengapa Ahok Ditolak FPI? …

Heri Purnomo | 6 jam lalu

Apa Salahnya Ahok, Dimusuhi oleh Sekelompok? …

Kwee Minglie | 7 jam lalu

Join dengan Pacar, Siswi SMA Ini Tanpa Dosa …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenapa Harus Wanita yang Jadi Objek Kalian?? …

Dilis Indah | 8 jam lalu

β€˜86’ Hati-hati Melanggar Hukum Anda …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu

Jack Ma: Gagal Ujian Matematika, Menjadi …

Hanny Setiawan | 8 jam lalu

Fabel : Monyet dan Penguasa Pohon Jambu …

Syam Jr | 8 jam lalu

Sunyi …

Yufrizal | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: