Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Hesma Eryani

Membaca dan menulis menjadi bagian tak terpisah dari kehidupan saya. Dengan membaca dan menulis saya selengkapnya

Mengunduh Bahasa Daerah

OPINI | 19 August 2013 | 18:06 Dibaca: 204   Komentar: 0   0

DALAM dunia media sosial yang membuat manusia hidup saling berjaringan, senantiasa dihubungkan atau terhubung antara satu dan lainnya oleh jaringan sistem komunikasi elektronik yang megah. Kita mengenal banyak kosakata baru yang mau tak mau harus diterima tanpa upaya untuk mengkritisinya.

Kosakata-kosakata itu datang dari perbendaharaan tata bahasa asing. Kita sangat tak akrab dengan kosakata-kosakata itu selama ini. Tapi, karena dalam kehidupan sehari-hari kita sangat akrab dengan jejaring sosial itu, setiap kosakata yang kita dapat menjadi sedemikian akrab sehingga menjelma menjadi konvensi.

Bahasa pada akhirnya memang hasil konvensi sosial. Tidak jelas betul bagaimana bahasa dapat menjadi konvensi mengingat kesamaan persepsi, pemikiran, dan cara pandang sulit dicapai di antara manusia yang berasal dari ragam suku dan bangsa. Tiba-tiba saja kosakata seperti upload dan download yang berasal dari bahasa asing, membuat perbedaan suku dan bahasa daerah antara kelompok masyarakat yang satu dan lainnya menjadi lebur.

Kita menjelma menjadi masyarakat jejaring sosial dengan tingkat pemahaman dan pengetahuan yang serupa atas makna dari istilah-istilah asing dalam dunia jejaring sosial.

Memang, para pengamat bahasa Indonesia acap menawarkan alternatif diksi atas istilah-istilah asing itu. Padanan setiap istilah asing dicari dalam kamus bahasa Indonesia, juga kamus-kamus bahasa daerah. Maka, secara perlahan-lahan kita menemukan kata unggah dipadankan dengan kata upload, dan unduh padanan dari kata download.

Kata unggah maupun kata unduh dipopulerkan oleh Pusat Bahasa. Kedua kata tersebut diambil dari perbendaharaan bahasa daerah. Dalam bahasa Melayu, kata unggah dan unduh dapat ditemukan. Makna kedua kata itu mirip dengan makna yang ditemukan dalam bahasa daerah seperti bahasa Sunda dan Jawa. Kata unggah bisa dimaknai dengan naik, sedangkan unduh bermakna turun.

Namun, pemakaian kata unggah untuk mengganti istilah upload mengalami perluasan makna jika dipergunakan dalam dunia jejaring sosial. Unggah dalam hal ini tidak hanya berarti naik, juga berarti menampilkan. Jika makna unggah merupakan menampilkan, kata unggah yang dikedepankan sebagai padanan upload mengacu pada kata munggah yang dapat ditemukan dalam bahasa sehari-hari di sejumlah daerah.

Dalam bahasa Sunda, misalnya, ada istilah munggah yang mengacu pada kegiatan tradisi masyarakat. Sering kata munggah diberi akhiran “an” menjadi munggahan, seperti pemakaian akhiran -an pada kata maulud (kelahiran) menjadi mauludan. Jadi, kata munggah atau lebih sering dipakai masyarakat Sunda dengan munggahan, sesungguhnya lebih tepat sebagai padanan kata upload yang berarti menampilkan.

Begitu juga halnya dengan kata unduh. Kata ini acap dipergunakan dalam masyarakat Jawa untuk menggambarkan kegiatan menurunkan buah dari pohon. Dengan begitu, pemakaan kata unduh sebagai padanan kata download dalam jejaring sosial merupakan perluasan makna kata.

Unduh tidak sekadar bermakna menurunkan, juga berarti mengeluarkan. Kata unduh dipakai untuk kegiatan mengeluarkan data dari dalam jaringan internet.

Kedua kata dari bahasa daerah ini belakangan menjadi konvensi masyarakat dalam jejaring sosial dari lingkungan budaya mana pun mereka berasal. Pemadanan kata unggah dan unduh itu menunjukkan betapa khazanah bahasa-bahasa daerah sangat kaya dan potensial menjadi padanan dari setiap istilah baru. Ketimbang memakai istilah-istilah baru dan asing, dan menjadikannya konvensi dalam berbahasa Indonesia, lebih baik kita memasyarakatkan istilah-istilah yang ditemukan dalam khazanah bahasa daerah melalui perluasan-perluasan makna.

Dalam berbahasa, kita harus menunjukkan bahwa kita adalah sebuah bangsa. Tidak seperti negeri jiran Malaysia yang mengaku hebat, tetapi longgar dalam peristilahan bahasa sehingga bahasa nasional mereka lebih mirip dengan gado-gado

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melukis Malam di Bawah Lansekap Cakrawala …

Dhanang Dhave | | 21 October 2014 | 13:50

Kisah Setahun Jadi Kompasianer of the Year …

Yusran Darmawan | | 21 October 2014 | 11:59

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Merencanakan Anggaran untuk Pesta Pernikahan …

Cahyadi Takariawan | | 21 October 2014 | 10:02

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 5 jam lalu

Film Lucy Sebaiknya Dilarang! …

Ahmad Imam Satriya | 8 jam lalu

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 9 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 11 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Saat Angin Kencang, Ini Teknik Menyetir …

Sultan As-sidiq | 7 jam lalu

Golkar Jeli Memilih Komisi di DPR …

Hendra Budiman | 8 jam lalu

Rekor MURI Jokowi …

Agus Oloan | 8 jam lalu

Cerpenku: Perempuan Berkerudung Jingga …

Dewi Sumardi | 8 jam lalu

Kecurangan Pihak Bank dan Airline Dalam …

Octavia Eka | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: