Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Rully Tri Cahyono

http://rullymesgapati.wordpress.com/ http://gembulisme.wordpress.com

Kiat-Kiat Belajar Bahasa Inggris dengan Baik-Bagian Pertama (Berdasarkan Pengalaman Pribadi)

OPINI | 19 August 2013 | 15:30 Dibaca: 29   Komentar: 0   0

Ditulis di Bandung, 27 Maret 2011

Kira-kira sebulan yang lalu nilai TOEFL IBT (internet based test) saya keluar. Alhamdulillah skornya 104 (dari maksimum 120). Nilai 104 jika dikonversikan ke TOEFL PBT (paper based test) setara dengan 613 (dari maksimum 677). Dari kemungkinan nilai maksimum setiap section adalah 30, saya mendapatkan skor 28 untuk reading, 29 untuklistening, 22 untuk speaking dan 25 untuk writing. Saya coba bagi pengalaman saya kepada pembaca dan karena panjang, teks ini dibagi ke dalam dua bagian. Bagian pertama utamanya menjelaskan latar belakang, listening dan reading sedangkan writing, speaking dan kiat-kiat umum dibahas di bagian kedua.

Nilai 613 menempati persentil 87. Artinya, dari seluruh orang di dunia yang pernah ikut tes, ada 13% yang mempunyai skor lebih dari 613. Meskipun begitu saya tetap senang karena beberapa alasan. Pertama, waktu TPB nilai saya sekitar 490-500 an, artinya saya sudah mencapai kemajuan yang cukup berarti selama 6,5 tahun ini. Sebagaimana umumnya mahasiswa yang berasal dari luar Jakarta dan Bandung, kemampuan bahasa Inggris kami -mahasiswa dari Jember, Jawa Timur- tidak istimewa. Ini adalah fakta yang tidak bisa dimungkiri. Dalam hal kemampuan analitis mahasiswa daerah tidak kalah, bahkan cenderung unggul, tetapi hal sebaliknya berlaku untuk kemampuan bahasa Inggris. Sebagai contoh, mahasiswa baru dari daerah lebih suka membaca komik atau menonton film dengan teks bahasa Indonesia, sementara teman-temannya dari Jakarta dan Bandung sudah terbiasa dan lancar dengan teks Inggris.

Kedua, selama kuliah saya mencapai kemajuan gradual dari waktu ke waktu. Dari angka 490 di semester 1, selama 8 semester berikutnya skor saya naik menjadi 510 an, 550 an dan 570 an. Setelah saya analisis, kemajuan ini pastilah karena saya lebih terbiasa dengan bahasa Inggris dibandingkan ketika sebelum kuliah. Diantaranya adalah membaca buku teks bahasa Inggris, membaca komik dari XTREME dan menonton film serial.

Ketiga, untuk persiapan TOEFL IBT saya melakukannya secara mandiri. Alasan utama kenapa saya tidak ikut les adalah karena tidak ada waktu. Tetapi karena waktu tes tinggal tiga bulan lagi dan harga tes yang cukup mahal, USD 165 (meskipun pada akhirnya dibayari), saya harus mencari cara yang paling baik untuk belajar. Struktur IBT juga berbeda jauh dengan PBT sehingga persiapan yang efektif mutlak dibutuhkan. Berikut metode belajar mandiri bahasa Inggris ala saya yang coba dipaparkan di tulisan ini. Metode ini bukan khusus untuk persiapan tes TOEFL IBT, tetapi lebih mengenai bagaimana belajar bahasa Inggris secara umum.

Perlu pembaca ketahui bahwa structure yang dulu ada di PBT sekarang dihapuskan di IBT. Sebagai gantinya, peserta harus menempuh tes speaking dan writing. Pada bagianreading dan listening, teks bacaan dan media percakapan/kuliah nya juga jauh lebih panjang dari PBT.

Telah saya pahami bahwa dalam bahasa Inggris kemampuan gramatikal dan sintaksis bahasa adalah fondasi. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk belajar structureterlebih dahulu. Buku yang saya gunakan adalah seri dari Betty S. Azar, Basic English Grammar dan Fundamentals of English Grammar. Sebenarnya masih ada satu buku lagi yang saya tidak sempat pelajari, Understanding and Using English Grammar. Untuk menghabiskan 32 bab dalam dua buku itu saya butuh waktu 2 bulan penuh. Tetapi hasilnya sepadan. Ketika pembaca mempelajari dua buku itu, mungkin banyak ajaran-ajaran yang dianggap remeh. Tetapi justru itulah kuncinya, yang remeh itu sering kali kita lupa. Sudahkah Anda tahu bahwa I am seeingyes, she’s dan they have pen itu salah? Saya tahu setelah belajar dua buku itu.

Setelah kemampuan gramatikal dan sintaksis mencukupi, belajar bahasa Inggris menjadi lebih mudah. Hal ini logis karena bahasa Inggris strukturnya lebih utuh dan terstruktur dibandingkan bahasa Indonesia sehingga sekali kuncinya dipegang, lanjutannya menjadi mudah. Selanjutnya tinggal mencari cara yang tepat untuk belajar di masing-masing kemampuan bahasa; mendengarkan (listening), membaca (reading), berbicara (speaking) dan menulis (writing).

Marilah kita kupas satu per satu. Listening sering dianggap sebagai momok, saya pun begitu. Untuk belajar mendengarkan, saya latihan menonton film tanpa subtitle dan coba memahami alur dan detail percakapannya. Kemudian film tersebut saya putar sekali lagi dengan subtitle dan sekaligus mengecek apakah secara garis besar pemahaman saya sebelumnya sudah betul dan dimana detail-detail percakapan yang saya salah tangkap. Dengan cara belajar seperti ini tentu saya tidak bisa menggunakan film yang terlalu panjang karena bisa membosankan. Maka dari itu, saya gunakan film serial dimana setiap episode durasinya hanya sekitar 20 menit. Film yang saya gunakan adalahHow I Met Your Mother sesi 1-3, terdapat 22 episode di setiap sesi.

Untuk reading, saya tidak mengalami banyak kesulitan karena pada dasarnya saya memang suka membaca. Dan saya sudah terbiasa membaca literatur bahasa Inggris sejak dari semester 3. Untuk persiapan IBT, secara khusus saya membaca buku otobiografi Nelson Mandela, Long Walk to Freedom dan novel karangan Jane Austen, Emma. Buku pertama gaya bahasanya akademis dan historis sedangkan buku kedua banyak membantu untuk memahami gaya bahasa klasik sebelum abad ke -19 (bersambung).

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Indonesia Bikin Kagum Negara Tetangga …

Apriliana Limbong | | 24 July 2014 | 20:51

Taman Bunga Padang Pasir …

Ferdinandus Giovann... | | 24 July 2014 | 19:07

Permohonan Maaf kepada Ahmad Dhani …

Kompasiana | | 24 July 2014 | 20:27


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: