Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Blasius Mengkaka

Penulis buku berjudul: JALAN WADAS POLITIK DAN PENDIDIKAN INDONESIA KONTEMPORER (Depok: Herya Media, 2014)-ISBN 978-602-71351-5-4, selengkapnya

Situasi Pembelajaran Bahasa Jerman di Sekolahku

OPINI | 09 August 2013 | 17:03 Dibaca: 762   Komentar: 5   3

Sebagai seorang guru bahasa Jerman, saya memiliki tantangan untuk bagaimana menyajikan pembelajaran bahasa Jerman yang berkualitas. Tentunya saya juga harus memperhitungkan keadaan para siswa/iku yang merupakan pembelajar bahasa Jerman. Mereka hanya akan belajar bahasa Jerman 2 x 45 menit setiap minggu. Sedangkan para siswa/i jurusan bahasa 4 x 45 menit setiap minggu. Ketika menginjak kelas XI hanya sekitar 40 siswa/i saja yang bertahan belajar bahasa Jerman bila mereka memilih program bahasa. Sedang mayoritasnya sudah tidak belajar Bahasa Jerman lagi karena mereka memilih jurusan IPS dan IPA.

Sekolah kami SMA Kristen Atambua -NTT-Indonesia adalah merupakan sebuah sekolah yang berada di luar binaan Goethe Institut Jakarta (GIJ). Maka pembelajaran bahasa Jerman di sekolah ini - juga sekolah-sekolah lain yang berada di luar binaan Goethe Instutut Jakarta  (GIJ)- hanya mengikuti pedoman yang ditetapkan Kurikulum dan juga kreativitas guru-gurunyamenjadi hal yang mutlak. Secara umum sejak lama, para guru bahasa Jerman tergabung dalam IGBJI (Ikatan Guru bahasa Jerman Indonesia) dengan ketuanya saat ini ialah Herum Nugrowati. IGBJI memiliki perwakilan dan gugus tugas zona untuk daerah-daerah. Ketua gugus tugas itu membawahi Propinsi-Propinsi yang memiliki pelajaran bahasa Jerman di sekolahnya. Dengan demikian maka pembelajaran bahasa Jerman, selain berdasarkan pedoman atau petunjuk Kemendikbud juga kreativitas guru yang tetap dimonitoring oleh IGBJI sebagai perpanjangan tangan Pemerintah. Para guru bahasa Jerman sendiri yang telah diangkat oleh pemerintah dianggap merupakan perpanjangan tangan Depdikbud, pihak Goethe Institut Jakarta (GIJ) dan Kedutaan Besar Jerman di Indonesia.

Jenis-jenis guru bahasa Jermanpun beraneka ragam. Saya mengelompokkan jenis-jenis guru bahasa Jerman:

1. Guru honor sekolah (GTT)

2. Guru honor pemerintah daerah (Honda)

3. Guru PNSD (Non Sertifikasi atau Sertifikasi)

4. Guru Tetap Yayasan (GTY) (Non sertifikasi atau Sertifikasi)

5. Guru bantu pusat (Guru bantu pusat)

Dalam Kurikulum saat ini maupun Kurikulum 2013 kelak, guru-guru bahasa Jerman dalam posisi cukup aman. Namun hanya sedikit yang telah diangkat jadi guru PNS, GTY baik yang bersertifikat maupun tidak bersertifikat. Oleh karena cara penyajian di kelas harus menuntut penguasaan bahasa Jerman lebih banyak maka para guru harus memiliki perbendaharaan kata-kata dan kalimat bahasa Jerman yang banyak di kepalanya. Pembelajaran di kelas harus juga memperhatikan Tata Bahasa Jerman (Grammatik). Grammatik harus memiliki jam khusus. Maka sebagai guru yang baik, para pengajar harus mampu membagi jam-jam di kelas yakni: Grammatik, dialog, Ausprache (pengucapan), menulis, mendengarkan, menyimak, dll.

Semua jenis pengajaran seperti itu harus diberikan. Para pengajar tidak boleh hanya memberikan Grammatik sampai melupakan membaca, menulis, mendengar, dll. Sebaiknya semua jenis metode pengajaran diberikan sekaligus dalam satu tatap muka. Dalam arti baik tata bahasa (Grammatik), Ausprache. lernen, schreiben, Ubungen (latihan-latihan) usw. Semuanya ini hendaknya diberikan sekaligus dalam satu kali pertemuan atau tatap muka di kelas. Kadang-kadang juga perlu diceriterakan keadaan Jerman meliputi pendidikan, wisata, sejarah, kota-kota besar, filsafat, teologi, sosiologi, ilmu alam, musik, dll.     Pengenalan tentang Jerman juga perlu diberikan kepada para siswa/i agar mereka dapat menarik kesimpulan tentang tujuan dan manfaat pelajaran bahasa Jerman bagi dirinya sendiri. Para guru juga bisa mendeskripsikan manfaat penggunaan bahasa Jerman bagi para siswa/i.

Sejak tahun 2005, saya praktis telah menjadi pengajar tunggal bahasa Jerman di SMA Kristen Atambua. Sering-sering saya mendapat bantuan dari beberapa guru, namun mereka akhirnya meninggalkan profesi ini karena basic skill mereka memang bukan menjadi guru bahasa Jerman. Tinggallah saya seorang diri menjadi guru bahasa Jerman hingga kini. Saya bertugas mengajar Bahasa jerman dari kelas X (8  Kelas), Kelas XI dan Kelas XII. Setiap hari saya harus berangkat ke sekolah menmpuh 21 km ke kota Atambua. Saya mengajar di kota Atambua namun saya tinggal jauh dari kota itu yakni 21 km. Saya tinggal di Halilulik, sebuah kota pelajar juga di kabupaten Belu karena memiliki sekitar 2 SMP, 2 SMA, 3 SD dan 2 TKK. Saya menggunakan kendaraan roda 2 buatan tahun 2009. Mesin motor yang kuat membuat saya hanya butuh sekitar 20 menit untuk tiba di kota Atambua.Memang ada banyak suka dan duka menjadi guru bahasa Jerman. Sukanya ialah para siswa/i selalu gembira ketika kami berinteraksi di kelas. Memang kelas selalu nampak ramai bila pelajaran bahasa Jerman. Kelas selalu nampak hidup.

Prinsip saya ialah, saya berusaha menjadi guru yang menyenangkan semua orang dan diri saya sendiri. Dengan motivasi ini, saya terlihat senang mengajar hingga selesai waktu Ppelajaran. Untuk maksud ini memang membangun interaksi menjadi hal yang pasti dan berguna antara saya dengan para siswa/iku. Untuk interaksi, saya telah berusaha memposting bahan-bahan ajar itu di situs www.blasmkm.com, membuka akses HP, Email, dll. Malahan sejak tahun ini kami akan mulai mencetak buku mata pelajaran bahasa Jerman sendiri sehingga para siswa dapat lebih tenang memiliki buku bacaan pelajaran bahasa Jerman yang berkualitas dan terjangkau. Selain itu, dengan membangun dialog yang bagus lewat Media-Media, saya berusaha menjadi yang terbaik sebagai pembimbing bahasa Jerman bagi para siswa/i ku ini. Tetapi yang terpenting ialah selain demi ilmu, saya juga dapat hidup bersama mereka, saling sharing kehidupan dan saling menyapa dalam suasana kehidupan ilmiah atau santai yang bermakna dan berguna demi masa depan para pembelajar dan saya sendiri. Semoga sukses…

__________________________________

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[PENTING] Panduan ke Kompasianival 2014, …

Kompasiana | | 18 November 2014 | 15:19

OS Tizen, Anak Kandung Samsung yang Kian …

Giri Lumakto | | 21 November 2014 | 23:54

Aku dan Kompasianival 2014 …

Seneng Utami | | 22 November 2014 | 02:18

Obama Juara 3 Dunia Berkicau di Jaring …

Abanggeutanyo | | 22 November 2014 | 02:59

Seru! Beraksi bareng Komunitas di …

Kompasiana | | 19 November 2014 | 16:28


TRENDING ARTICLES

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 8 jam lalu

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 9 jam lalu

Memotret Wajah Jakarta dengan Lensa Bening …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Ckck.. Angel Lelga Jadi Wasekjen PPP …

Muslihudin El Hasan... | 13 jam lalu

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Asyiknya Wisata di TRMS Serulingmas …

Banyumas Maya | 8 jam lalu

Ajang Kompasianival Melengkapi Pertemanan …

Thamrin Dahlan | 8 jam lalu

Generasi Sandwich …

Sitti Fathimah Herd... | 8 jam lalu

Eh, Susi Nongol Lagi! …

Mbah Mupeang | 9 jam lalu

Indonesia Tidak Bisa Seenaknya Tenggelamkan …

Ibnu Purna | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: