Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Much. Khoiri

Penulis dan Dosen Sastra (Inggris), Creative Writing, Kajian Budaya dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Trainer selengkapnya

Sikap Bahasa “Penentu” Pemilihan Bahasa?

OPINI | 04 August 2013 | 07:32 Dibaca: 570   Komentar: 12   6

oleh MUCH. KHOIRI

Sikap bahasa memberikan kecenderungan seseorang untuk menunjukkan perilaku tertentu dalam berbahasa. Dengan kata lain, sikap bahasa menentukan perilaku bahasa. Benarkah demikian?

Orang yang memiliki sikap bahasa positif terhadap bahasa Jawa, misalnya, mungkin akan mempelajarinya saja, menggunakannya saja, atau mempelajari sekaligus menggunakannya. Sedangkan orang yang memiliki sikap bahasa negatif, mungkin dia tidak berminat menggunakannya meskipun dia terpaksa mempelajarinya.

Ditemukan dalam analisis penelitian saya (2005), bahwa sikap bahasa responden berpengaruh signifikan  terhadap perilaku pemilihan bahasa. Kontribusinya sedang. Hanya sikap bahasa negatif dan netral terhadap bahasa Jawa yang pengaruhnya sangat signifikan, sedangkan sikap positif dan sangat positif memberikan pengaruh tidak signifikan.

Kontribusi pengaruh yang sedang menunjukkan, bahwa sikap bahasa bukan satu-satunya faktor yang menentukan pemilihan bahasa responden. Dalam kedudukannya sebagai faktor ekstralinguistik, jaraknya dengan pemilihan bahasa tidaklah sedekat kompetensi komunikatif misalnya.

Yang mengejutkan justru adanya temuan, bahwa sikap bahasa negatif dan netral mempengaruhi pemilihan bahasa secara signifikan. Jika dikonfrontasikan dengan pemilihan bahasa, sikap negatif memberikan kecenderungan penutur bahasa Jawa untuk perlahan-lahan mengarah ke penggunaan bahasa Indonesia.

Idealnya, orang Jawa akan divergen berkat kebanggaannya pada bahasa Jawa; tetapi dalam hal ini, mereka mulai bergeser ke bahasa Indonesia. Orientasi pengasuhan anak, pengadaptasian dengan kebutuhan anak akan pendidikan, atau tuntutan pekerjaan—misalnya—ikut menyebabkan orang Jawa bersikap negatif dan netral, sehingga pemilihan bahasanya jatuh ke bahasa Jawa yang mengarah ke bahasa Indonesia.

Akan tetapi, jika dicermati, pola umum pemilihan bahasa mengindikasikan para responden menggunakan campuran bahasa Jawa (lebih dominan) dan bahasa Indonesia (kurang dominan).

Rinciannya, responden  yang bersikap negatif  terhadap bahasa Jawa menunjukkan pola pemilihan bahasa penggunaan bahasa Jawa yang mengarah ke penggunaan bahasa Indonesia.  Untuk responden yang bersikap netral, positif, dan sangat positif, pemilihan bahasanya jatuh pada campuran bahasa Jawa (lebih dominan) dan bahasa Indonesia (kurang dominan).

Apa maknanya? Hal tersebut mengindikasikan, bahwa lebih dari sepertiga responden yang kurang menghargai bahasa Jawa, sehingga enggan untuk menggunakannya dalam komunikasi. Yang paling kentara, kebanyakan mereka mencari posisi aman, dengan berlindung di bawah bendera nasionalisasi bahasa Indonesia, yakni melakukan pencampuran penggunaan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia—kendati bahasa Jawa masih lebih dominan.

Pemilihan bahasa campuran (campur kode) itu membuktikan sejumlah pemikiran teoretis dan kajian empirik sebelumnya. Pertama, secara teoretis, Baker (1988) menyatakan hubungan sikap dan tindakan bukanlah selalu menjadi hubungan yang kuat. Dalam konteks pembelajaran bahasa asing, Fahri (1989) juga menemukan tiadanya korelasi antara sikap bahasa mahasiswa Bahasa Inggris dan prestasi belajarnya. Dalam konteks pemakaian dialek oleh kaum urban Jawa di Surabaya, Koiri dan Fahri (1991) juga menemukan bahwa sikap bahasa bukan termasuk faktor yang sangat vital dalam perilaku berbahasa.

Temuan penelitian ini, dengan konteks setting yang sama sekali berbeda, akhirnya memperkuat keyakinan bahwa sikap bahasa tidak selalu berpengaruh signifikan terhadap tindakan atau pemilihan bahasa.

Dengan kata lain, sikap bahasa negatif, netral, maupun positif mengantarkan orang Jawa di Perumnas KBD Gresik—menurut Teori Akomodasi (Giles & Smith 1979; Giles & Powesland 1997)—mengalami perilaku konvergen.

Di sini terjadi antagonisme nilai dan keyakinan yang memanifestasi ke dalam sikap bahasa. Isu alamiah konflik yang dialami oleh masyarakat Jawa di Perumnas KBD Gresik, bahkan, menunjukkan suatu ironi situasi yang memprihatinkan.

Sebagai orang Jawa mereka tidak lagi sangat bangga dan loyal terhadap bahasa Jawa. Karena berbagai kepentingan yang menyudutkan posisinya, termasuk nasionalisasi bahasa Indonesia, mereka kemudian menjadi lumer dan mulai bergeser ke arah penggunaan bahasa Indonesia.

Menurut Teori Interaksi Simbolik, tujuan konvergensi berbahasa ini antara lain untuk meraih makna tertentu dari penyesuaian diri dengan lawan bicara—terutama agar mendapatkan pengakuan atau penerimaan secara sosial oelh lawan bicaranya.

Dengan simbol bahasa yang digunakan dalam komunikasi, terlebih lagi menyesuaikan dengan bahasa lawan bicara, keberterimaan (acceptability) orang di mata lawan bicara semakin terbuka lebar.

Hal ini selaras dengan premis kedua Teori Interaksi Simbolik (dalam Coleman 1990), bahwa makna merupakan hasil dari interaksi sosial dalam masyarakat manusia. Dalam berinteraksi (komunikasi) mereka tampaknya sudah saling memahami bahwa bahasa yang digunakan harus dimengerti satu sama lain.

Kesepakatan ini, tanpa disadari, telah mengikis kebanggaan dan loyalitasnya terhadap bahasa ibu (bahasa Jawa). Dengan demikian, bahasa Jawa menjadi medium interaksi kondisional, yang digunakan sesuai dengan kondisi interaksi yang melibatkan mereka.

Dalam pandangan Teori Pilihan Rasional (dalam Ritzer & Smart 2001;  Ritzer & Goodman 2004), masyarakat Jawa di Perumnas KBD Gresik merasakan keterbatasan sumber daya bahasa (yakni tidak selalu bisa dipahami oleh semua orang), sedangkan lembaga sosialnya (yang diwarnai heterogenitas bahasa etnik) tidak selalu kondusif untuk berbahasa Jawa, maka mereka menempuh tujuan komunikasi yang bersifat altruistik dan egoistik.

Agar komunikasi lancar, mereka mungkin mengira bahwa pemilihan bahasa mereka hanya berdampak pada diri sendiri—sehingga lebih mengincar kondisi altruistik bagi peristiwa komunikasi di antara mereka dan warga etnik lain.

Dalam hal ini, rasionalitas mereka menjadi terbatas. Mereka mungkin rela mengorbankan kecintaan dan loyalitas mereka kepada bahasa-budaya Jawa, untuk berakomodasi, untuk berkonvergensi, atau untuk berbaur menjadi anggota masyarakat soft-shelled di dalam pluralitas (keberagaman).***

Copyrights@Much. Khoiri, 2013.

Cara Penulisan Daftar Pustaka :

Khoiri, Much. Tahun upload. Judul artikel.  Alamat URL lengkap artikel ini. Diakses pada tanggal……..

Contoh:

Khoiri, Much. 2013. Konsultasi Menulis via Chatting Fesbuk. Tersedia: http://edukasi.kompasiana.com/2013/07/07/konsultasi-menulis-via-chatting-fesbuk-574741.html. Diakses pada tanggal 4 Agustus  2013.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lolo Sianipar, Sukses Menjalankan Bisnis …

Erri Subakti | | 23 October 2014 | 19:54

Pak Jokowi, Rakyat Cuma Ingin Bahagia… …

Eddy Mesakh | | 23 October 2014 | 19:57

[YOGYAKARTA] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:06

Gesture …

Pm Susbandono | | 23 October 2014 | 19:05

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kaesang: Anak Presiden Juga Blogger …

Listhia H Rahman | 8 jam lalu

Akankah Pemkot Solo Berani Menyatakan Tidak …

Agus Maryono | 11 jam lalu

Jokowi-JK Tak Kompak, Langkah Buruk bagi …

Erwin Alwazir | 11 jam lalu

Jonru Si Pencinta Jokowi …

Nur Isdah | 13 jam lalu

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Selusur Goa, Mengingat Kembali Stalaktit dan …

Mentari_elart | 8 jam lalu

Jokowi Ngetest DPR …

Herry B Sancoko | 8 jam lalu

Penderita Lumpuh Layu Itu Hidupi Dua Kakak …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Jalasveva Jayamahe, Mengembalikan Kejayaan …

Topik Irawan | 9 jam lalu

Buah Strawberry untuk Kesehatan Jantung …

Puri Areta | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: