Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Gustaaf Kusno

A language lover, but not a linguist; a music lover, but not a musician; a selengkapnya

Bahasa Indonesia Penuh dengan Kebijaksanaan?

OPINI | 30 July 2013 | 17:22 Dibaca: 552   Komentar: 16   6

Manakala orang Indonesia mengatakan ‘mohon kebijaksanaan’, ini bermakna yang bersangkutan ‘minta dispensasi’,‘minta perlakuan khusus’ atau ‘minta pengecualian dari aturan yang berlaku’. Dalam bahasa Inggris disebut dengan ‘waiver’. Jadi ‘kebijaksanaan’ ini sama sekali tak ada kaitannya dengan sifat bijak bestari (wise), pun tak ada korelasi dengan kata ‘kebijakan’ (policy). Saking banyaknya kebijaksanaan terhadap peraturan yang berlaku, ada pelesetan yang berbunyi ‘bijak sana dan bijak sini’. Ada kebijaksanaan (waiver) di lembaga pemasyarakatan, kebijaksanaan di rekrutmen calon pegawai negeri, kebijaksanaan penerimaan mahasiswa perguruan tinggi negeri dan sebagainya.

Tak luput bahasa Indonesia pun terkena imbas kecenderungan ‘kebijaksanaan’ ini, yang bermakna banyak sekali pengecualian diberlakukan terhadap kaidah bahasa yang sudah dibakukan. Kita lihat pada istilah ‘koneksitas, rutinitas, profesionalitas’. Seharusnya, sesuai dengan dengan kaidah penyerapan kata asing, ketiga istilah berasal dari kata ‘connecity, routinity, dan professionality’. Tapi aneh bin ajaib, dalam kamus bahasa Inggris tak satu pun dijumpai kosakata ini. Dalam kamus bahasa Belanda pun tak akan kita temukan istilah-istilah tersebut. Inilah yang saya maksudkan dengan ‘kebijaksanaan’ alias ‘pengecualian’. Untuk perbandingan, dalam bahasa Inggris ketiga istilah ini disebut dengan ‘connectivity, routine, dan professionalism’.

Masih berbicara tentang akhiran ‘tas’, kita sudah sangat akrab dengan sebutan ‘properti, selebriti, dan sekuriti’. Ketiga kata ini pun juga masuk dalam kategori pengecualian kaidah bahasa Indonesia. Istilah yang diserap dari bahasa Inggris ‘property, celebrity, dan security’ ini, seharusnya diindonesiakan menjadi ‘propertas, selebritas dan sekuritas’. Yang lebih runyam lagi, ternyata ‘sekuriti’ dan ‘sekuritas’ sama-sama eksis dengan permaknaan yang berlainan. Ada pula kebingungan dengan istilah ‘komoditi’ dan ‘komoditas’. Apakah istilah ini juga masuk dalam kelompok pengecualian yang nampaknya direstui oleh pusat bahasa?

Untuk diketahui, lema ‘koneksitas, rutinitas, profesionalitas’ tak tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), namun hal ini tak menafikan kenyataan bahwa istilah-istilah ini sudah amat lazim dipakai dalam wacana lisan maupun tulisan. Menyebutkan bahasa Indonesia penuh dengan kebijaksanaan, mungkin nadanya terasa agak sarkastis, tapi itulah yang saya rasakan. Bagaimana menurut Anda?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

9 Mei 2014, Sri Mulyani Come Back …

Juragan Minyak | | 25 April 2014 | 10:12

Senayan Berduka: Wajah Baru Caleg Misterius …

Saefudin Sae | | 25 April 2014 | 08:37

Kesuksesan Kerabat Kepala Daerah di Sulawesi …

Edi Abdullah | | 25 April 2014 | 10:02

Ahmad Dhani: Saya Dijanjikan Kursi Menteri …

Anjo Hadi | | 24 April 2014 | 23:45

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: