Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Muhajir Arrosyid

Pengelola akun twitter/;@muhajir81 mengelola tunu.wordpress.com, vokalinstitute.com

Catatan Cerpen Minggu (CCM) Edisi 14 Juli 2013

OPINI | 21 July 2013 | 14:13 Dibaca: 571   Komentar: 2   1

Catatan Cerpen Minggu (CCM) Edisi 14 Juli 2013

13743903421056382226

Ilustrasi CCM 14 Juli 2013 (foto @muhajir81)

“Wid, tiga cerpen yang mincul pada minggu ini yaitu Sangkar di Atas Leher karya Adi Zamzam yang dimuat di koran Tempo, Belfegor karya Kiki Sulistyo yang di muat di Suara Merdeka, dan Mawar Menyiram Mawar Karya Yetti Eka yang dimuat di koran Jawa Pos semua bermain-main dengan simbul ya? Satu cerpen yang dimuat Kompas berjudul Hujan di bulan Februari mengambil sebuah peristiwa dalam tetralogi buru Pramodeya Ananta Toer. Cerpen ini juga mengangkat tokoh Minke meskipun bukan tokoh utama” Hal tersebut saya sampaikan kepada Widyanuari Eko Putra atau biasa saya panggil Wiwid di halaman Musium Mandala Bakti sambil menyaksikan tugumuda menjelang buka bersama. “Memang sekarang sedang musimnya cerpen gitu kok mas, realis megis, pakai simbul-simbul gitu.” Jawabnya.

Tawaku pecah berderai-derai, wah aku memang sudah lama tidak pernah membaca koran, jadi tidak mengetahui perkembangn dunia persilatan cerpen. Bagaimana ciri-ciri cerpen saat ini, siapa pengarang-pengarangnya, dan lain-lain. Aku baru mulai Minggu kemarin aktif lagi membaca koran Minggu. Aku mengajak ketemuan sama Wiwid, karena setahuku dia orang yang cukup setia sampai hari ini memperhatikan koran Minggu.

Sungguh saya penat menonton TV, acara baik yang senetron hingga berita semua mengacaukan akal sehatku. Orang-orang menonton senetron kemudian membincangnya dengan teman sekantor, menghujat-hujatnya, juga ada yang memuji-mujinya. Semakin dihujat justru semakin dikenal kemudian artis itu menjadi bintang iklan dan banyak job lainnya.

Dari pada waktu saya habis hanya untuk menonton senetron, mengobrolkan bintang-bintangnya, mengikuti perjalanan hidupnya melalui infotainmet, lebih baik saya membaca cerpen kemudian mengobrolkannya. Mungkin lontaran saya salah maka pembaca boleh membantah.

Pertama cerpen yang saya baca berjudul Belfegor karya Kiki Sulistyo yang terbit di Surat Kabar Suara Merdeka. Cerpen ini berkisah tentang Nenek dan cucunya. Ada juga ruang bawah tanah yang di rahasiakan. Pada suata saat yang sudah direncanakan sang nenek mengajak cucunya turun ke ruang bawah tanah. Sesampai di ruang bawah tanah sang cucu menyaksikan sebuah peristiwa…..sampai aku melihat sebutir bola dihadapan Nenek. Di belakang bola itu samar-samar aku melihat sosok tubuh tinggi besar….

Sang cucu akhirnya kaya raya dan tampaknya menjadi pejabat di pemerintahan. Musabab kaya rayanya adalah karena mendapatkan kutukan dari nenek. ….”Anak tikus tolol. Sekarang kau sudah mewariskan kutukanku. Hiduplah di dunia ini dengan kutukan itu. Apa saja yang ingin kau lakukan, lakukanlah. Sampai dunia ini menyusut dalam genggamanmu. Tapi ingat suatu ketika kau harus mewariskan kutukan ini pada anakmu. Dan sebaik-baiknya anak dari anakmu adalah anak dari perempuan iblis…..

Saya mencoba mereka-reka cerpen ini. Karena rekaan maka bisa saja benar bisa saja salah. Nenek dengan ajaran syihirnya adalah representasi dari setan. Sang nenek demi mendapatkan kemakmuran merelakan dirinya untuk menyembah setan. Dan prilaku menyembah setan tersebut diwariskan kepada tokoh aku, cucunya. Sampai kemudian si cucu kaya raya, ia menjadi pejabat pemerintahan. Menurut nenek, kekayaan yang di dapat oleh si cucu adalah karena kutukan nenek, artinya kutukan setan. Harfiahnya adalah sang cucu dalam menempuh karirnya telah menempuh jalan setan misalnya korupsi, sikut sana-sini, minjilat, memfitnah, mengadu domba, dan lain-lain.

Dan si aku harus mewariskan kutukannya kepada anaknya, dan anak yang kwalitas menurut ukuran nenek adalah dari perempuan iblis. Seorang istri sangat berpengaruh dalam keluarga, kalau ingin sang anak mewarisi kesetanan bapaknya harus lahir dari perempuan iblis, atau perempuan sejenis. Kalau nikahnya dengan orang baik misalnya, maka akan perang pengaruh terhdap anak.

Kedua cepen Mawar Menyiram Mawar, cerpen ini bercerita tentang sepasang suami istri dan kekasih sang suami. Sang kekeasih dalam cerpen ini diibaratkan sebagai mawar. Sang suami yang bernama Jemmy itu memantau Mawarnya yang sedang di kepung banjir. …..“Jimmy, tenanglah. Semua baik saja. Aku sedang menyiram mawar di dalam kamar.”….Sang Mawar seolah-olah tenang saja di dalam kamar sambil mnyiram Mawar.

Banjir bisa berarti bencana yang mengancam, atau masalah yang mengancam yang mengepung dan siap menggilas dengan segera. Mawar tidak mau percaya dengan orang lain, mungkin ada tim SAR yang berniat untuk menolong tapi sepertinya dia menolaknya. Sampai TV mati, air terus naik Mawar masih juga asyik memindahi air dengan ember dari kamar mandi. …. Istriku terus menggerutu, Seharusnya kau di sana. Seharusnya kau ada bersamanya di saat begini. Satu-satunya orang yang dia percaya adalah kau. Ah, kenapa harus kau? Ia menahan tangis….

Perasaan sang istri tidak menentu ntara kasihan dan merelakan suaminya untuk menemui Mawar yang sedang dalam bahaya dan perasaan cemburu yang melanda.

Cerpen ketiga Sangkar di Atas Leher, cerpen karya Adi Zamzam ini bercerita tentang seorang istri yang pada masa mudanya bebas lepas seperti burung terbang, banyak aktifitas seperti berlatih tari tiba-tiba harus terkungung di rumah. Katanya ….Aku bukan Rani, Suamiku juga tak seperti Suami Rani….Sang istri terkungngkung dalam rumah tangga, ia harus terikat dengan pekerjaan-pekerjaan rumah seperti mencuci dan merawat anak. Dan suaminya tidak memberi kesempatan dia untuk beraktifitas seperti yang dia impikan. Cerpen ini menggunakan perumpamaan burung dalam sangkar. Burung itu indah, suarnya bagus tapi terpenjara.

Simbul memang memiliki banyak kemungkinan tafsir. Simbul tidak memiliki arti tunggal. Satu dua kata dapat ditafsirkan bermacam-macam hingga berhalaman-halaman. Beginikah cerpen muthahir? (muhajir arrosyid)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 8 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 9 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 10 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Photo-Photo: “Manusia Berebut Makan …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Kisruh di DPR: Jangan Hanya Menyalahkan, …

Kawar Brahmana | 8 jam lalu

Saran Prof Yusril Ihza Mahendra Kepada …

Kopi Keliling | 8 jam lalu

Korupsi yang Meracuni Indonesia …

Cynthia Yulistin | 8 jam lalu

MA Pasti Segera Bebas, Karena Kemuliaan …

Imam Kodri | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: