Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Ira Oemar

Live your life in such a way so that you will never been afraid of selengkapnya

Bahasa Daerah yang Hampir Punah

OPINI | 16 June 2013 | 15:00 Dibaca: 1793   Komentar: 63   26

Salah satu kebanggan saya pada Indonesia adalah beragamnya bahasa daerah, yang satu sama lain bahkan bisa sangat berbeda kosa katanya. Dalam salah satu kesempatan berkumpul dengan teman-teman dari beberapa negara, ketika saling “membanggakan” berapa banyak bahasa yang kami kuasai, saya dengan santai bisa mengklaim sudah menguasai 3 bahasa sejak masih SD : bahasa Jawa, bahasa Madura dan bahasa Indonesia. Kontan teman saya sesama orang Indonesia tertawa dan mereka pun ikut mengklaim sejak kecil menguasai lebih dari satu bahasa, minimal bahasa Indonesia dan bahasa “ibu” yang diajarkan sejak mereka bayi.

Semula teman-teman asing saya mengira kami bercanda. Mereka mengira beragam bahasa daerah di Indonesia hanya beda pengucapan/dialek saja. Tapi kami membantahnya, bahasa daerah itu bisa jadi sangat jauh berbeda kosa katanya. Jadi seseorang yang menguasai bahasa daerah, dia bukan saja berbicara dengan logat dan intonasi seperti sukunya, tetapi juga menguasai beragam kosa kata dan tata bahasa yang berbeda. Teman-teman asing kami lalu mengetes pengakuan kami. Secara spontan mereka meminta kami menyebutkan kosa kata yang mereka pilih secara acak (dalam bahasa Inggris) untuk diterjemahkan ke dalam bahasa daerah. Mulai dari kosata kata yang umum – misalnya kata ganti personal/orang – sampai ke kosa kata yang merujuk pada benda-benda yang lazim ada dalam kehidupan sehari-hari.

Saya berperan menterjemahkan dalam bahasa Madura, teman saya yang lain bertugas menterjemahkan ke bahasa Sunda, teman yang satu lagi ke bahasa Jawa (meski sebenarnya dia sama sekali bukan orang Jawa, hanya saja beristrikan wanita Jogja). Kami tidak boleh berunding, setiap kata yang disebut harus diterjemahkan segera secara spontan. Hasilnya : memang berbeda. Apalagi kemudian saya menerangkan bahwa bahasa daerah umumnya mengenal tingkatan kosa kata yang menjadi pembeda politeness. Misalnya bahasa Jawa mengenal Jawa ngoko, kromo nengah dan kromo inggil. Bahasa Madura pun kurang lebih sama : kasar, cukup halus dan halus sekali. Kedua teman saya yang lain membenarkan pernyataan saya dan kami memberi contoh masing-masing bahasa. Maka, makin terheran-heranlah teman-teman kami dari negara lain, yang umumnya hanya mengenal satru bahasa nasionalnya saja, tanpa ada ragam polite language/polite words. “Kalau begitu, anak-anak di Indonesia pandai-pandai ya,sejak kecil mereka sudah menguasai beberapa bahasa” kata mereka.

=========================================

Nah lho! Bagaimana tidak bangga dengan ragam bahasa di Indonesia? Tanpa harus perlu ikut les/kursus atau club conversation, sejak kecil anak Indonesia dikenalkan pada 1,2,3 bahasa sekaligus. Sayangnya, kebanggaan itu sekarang tampaknya perlu dievaluasi : berapa banyak anak kecil, ABG dan remaja sekarang yang masih menggunakan bahasa daerah dalam permainan mereka? Jangankan fasih menggunakan dalam kesehariannya, sekedar mengerti artinya saja, belum tentu mereka tahu. Belum lama ini Kemendikbud mengeluarkan sinyalemen yang memprihatinkan : bahasa daerah di Indonesia sudah nyaris punah! Ya, punah, seperti dinosaurus dan kawan-kawannya, semua hanya tinggal kenangan di buku cerita atau film fiksi.

Bagaimana kalau sebuah bahasa yang punah? Bukankah bahasa hanya bisa digambarkan lewat ucapan dan bukan visualisasi gambar kartun atau film animasi? Sebuah bahasa akan tetap eksis selama penggunanya masih terus memakai bahasa tersebut. Bahasa adalah hasil budi daya manusia yang paling mendasar. Sebelum manusia mengenal peradaban barter, berniaga, bernegosiasi dan bahkan berpolitik, mereka pasti menciptakan istilah yang disepakati bersama dalam komunitas itu. Istilah-istilah itulah yang kemudian berkembang menjadi bahasa daerah setempat.

Dalam perkembangannya, sebagai produk budaya dan peradaban, sebuah bahasa akan mengalami pengayaan kosa kata akibat persentuhannya dengan budaya luar dan kemajuan budi daya yang lain yaitu teknologi. Semisal bahasa Indonesia, yang dalam 2 dekade terakhir ini mengenal kosa kata “Anjungan Tunai Mandiri” sejak teknologi Automatic Teller Machine merambah dunia perbankan kita. Contoh lain : dulu orang menyebut “bekas” pada pejabat terdahulu, atau untuk menggambarkan status hubungan yang pernah ada tapi kini tidak lagi. Misalnya : “bekas Bupati”, “bekas Presiden”, “bekas pacar”, “bekas mertua”. Kata “bekas” tak ada bedanya dengan barang bekas. Kini, istilah “bekas” mengalami penghalusan dengan pengenalan kosa kata “mantan”.

Semakin sebuah bahasa jarang digunakan, maka otomatis bahasa itu akan mengalami stagnasi, kemandegan. Baik kemandegan dalam pengayaan kosa kata, maupun popularitas. Ada fenomena sosial yang menarik dicermati sejak paruh kedua tahun 1970-an. Anak-anak yang terlahir pasca dekade tersebut, jarang yang diajarkan “bahasa Ibu” dengan bahasa daerahnya. Umumnya sejak lahir mereka diajak berdialog dengan bahasa Indonesia. Memasuki dekade 1980-an, fenomena ini makin meluas, yang semula hanya menggejala pada masyarakat perkotaan dan di kalangan kelas sosial menengah atas saja, makin lama merambah keluarga yang tinggal di kampung dan tak lagi terbatas pada kelas sosial menengah atas saja. Masih beruntung anak-anak yang terlahir di kampung, karena ketika mereka beranjak besar, komunikasi dengan orang-orang dewasa di sekelilingnya kemudian memaksa mereka memahami bahasa daerah dan menggunakannya.

Kini, makin jarang kita temui anak ABG dan remaja jaman sekarang yang masih fasih berbahasa daerah. Kompasianer yang berprofesi sebagai dosen di Makasar, Muhammad Armand, beberapa waktu lalu pernah menuliskan kegalauannya atas fenomena ini dalam bentuk puisi yang menarik. Bahkan, anak-anak di kota besar – terutama yang belajar di sekolah dengan labelisasi “bertaraf internasional” – jauh lebih mahir ber-casciscus dalam bahasa Inggris. Satu dekade belakangan ini bahkan bahasa Mandarin pun turut jadi bagian dalam kurikulum di sekolah tertentu. Entah sekarang mungkin bahasa Korea yang banyak diajarkan di sekolah menengah. Serbuan budaya dan industri Korea membuat sebagian dari kita merasa perlu untuk belajar bahasa Korea. Mungkin demi menyambut tamu. Padahal, kalau merujuk pada pepatah “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, semestinya tamu lah yang belajar bahasa dan adat istiadat tuan rumah.

Sayangnya, bahasa daerah yang diajarkan di beberapa SD, justru lebih menjadi momok ketimbang menyenangkan. Semisal anak diminta menyebutkan kosa kata bahasa daerah dari anak hewan tertentu. Saya ambil contoh, dalam pelajaran bahasa Jawa, kadang anak diminta mengisi titik-titik dari kalimat “Anake kebo arane …… lan anake kucing arane ……” (Anak kerbau disebut …… dan anak kucing disebut ……) atau pertanyaan  “Anake gajah arane opo?” (Anak gajah disebut apa?). Atau kalau itu menyangkut tetumbuhan : “Kembange suruh arane opo?” (Bunga sirih disebut apa?).

Hai…, hello…, pentingkah itu dalam percakapan sehari-hari? Pentingkah anak yang baru belajar bahasa daerah mengerti istilah itu? Kalau belajar bahasa daerah tingkat advance, bolehlah halitu ditanyakan. Memangnya, berapa kali sehari atau seminggu atau sebulan atau bahkan setahun seorang anak bertemu anak kerbau, anak gajah? Seberapa sering mereka memetik bunga sirih yang bahkan mungkin tak ditemuinya di halam rumah? Apa salahnya kalau mereka bisa bercakap-cakap dalam bahasa Jawa, tetapi ketika harus mengatakan “anak kucing” mereka tetap menyebutnya “anak kucing”? Bukan suatu kesalahan yang fatal bukan?

Sebuah kabupaten di Jawa Tengah beberapa waktu lalu bahkan dihebohkan dengan buku LKS bahasa daerah Jawa yang isinya dinilai sangat tidak pantas dibaca anak SD kelas 3, karena mengajarkan kosa kata “nyimeng” dalam sebuah bacaan bertajuk resep awet muda seorang kakek. Wah, ini bahasa daerah yang bahkan merusak moral dan pikiran anak.

====================================

Berharap bahasa daerah akan tetap hidup dalam keseharian masyarakat dengan mengandalkan lembaga pendidikan formal, rasanya sama sekali tak memadai. Berapa SKS siswa mendapat pelajaran bahasa daerah dalam seminggu? Apalagi kalau setelah itu tidak dipraktekkan dalam keseharian di rumah tangga. Saya pernah membaca sebuah majalah – bertahun-tahun lalu – satu keluarga yang lama tinggal di Amerika dan putra mereka pun bersekolah di sana, tetap mengajarkan bahasa Jawa pada anaknya lengkap dengan tata bahasa kromo. Kalau tak salah, setelah kembali ke Indonesia, putra mereka menjadi anak berprestasi secara akademik tapi juga tak menjadi asing bergaul dengan teman-teman dan warga sekitar. Sungguh salut dengan pola asuh keluarga itu.

Sehari-hari saya masih menggunakan bahasa daerah dengan Ibu dan keluarga saya, baik keluarga dekat maupun keluarga jauh, juga dengan sebagian teman kantor. Dengan teman-teman SMP dan SMA yang tergabung dalam grup BBM, sehari-hari kami berdiskusi dan bercanda dalam bahasa daerah : Jawa dan Madura, meski dalam bentuk tertulis. Dalam rangka menyambut HUT Kota kelahiran saya, Surabaya, 2 minggu lalu saya menulis di Kompasiana dalam bahasa daerah Jawa dialek Suroboyoan. Saya pikir tulisan itu akan sepi pembaca.

Ternyata tulisan itu cukup menarik banyak pembaca dan komentar. Memang, yang mampir ke tulisan itu umumnya mereka yang orang Jawa Timur. Tapi ada pula Kompasianer yang bukan orang Jawa ikut membacanya, mereka mengerti maksud tulisan saya hanya saja dalam memberikan komentar dalam bahasa Indonesia. Saya menilai animo pembaca bukan hanya dari jumlah click, tetapi tulisan berjudul “Cak Fathonah Pancen Mokong Tenan” (Mas Fathonah Memang Benar-benar Bandel) itu ternyata banyak menuai vote dan sempat nangkring di kolom “Menarik” selama 2 hari. Jumlah share ke media sosial juga lumayan banyak. Saya mencium aroma kerinduan akan bahasa daerah di kalangan pembaca Kompasiana. Maka ketika ada tulisan berbahasa daerah, mereka pun mampir dan bertukar komentar dan candaan. Ini menggembirakanbuat saya : bukan karena tulisan saya dibaca, tapi karena kami bisa saling berdialog dalam bahasa daerah.

Sedikit usulan saya untuk Admin Kompasiana dan himbauan untuk rekan Kompasianer lainnya : mari kita ikut melestarikan bahasa daerah. Sudahlah kita ini tak bisa menarikan tariannya, tak bisa menembangkan lagu-lagu daerahnya, tak bisa memasak makanan khasnya, sekedar berkomunikasi dalam bahasa daerah saja masa tidak bisa? Bukankah butir ke-3  Soempah Pemoeda 1928 tidak menyatakan “Kami bangsa Indonesia, berbahasa satu, bahasa Indonesia”? The founding fathers negeri ini sudah berpkirian visioner dengan memilih diksi : “menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Artinya : beliau-beliau ingin bahasa daerah tetap eksis, dengan dipersatukan oleh bahasa Indonesia. Untuk Admin, sekiranya saya boleh usul : kalau ada kanal bahasa Inggris, kenapa tidak dipertimbangkan ada kanal bahasa daerah? Untuk rekan Kompasianers : menulis dalam bahasa daerah, siapa takut?! Yuuk…, mareee…!!!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada Kain Benang Emas dan Ulos Gendongan Bayi …

Piere Barutu | | 24 April 2014 | 22:40

Lost in Translation …

Eddy Roesdiono | | 24 April 2014 | 22:52

PLN Gagap Online …

Andiko Setyo | | 24 April 2014 | 23:40

Drawing AFC Cup U-19: Timnas U-19 Berpotensi …

Primata Euroasia | | 24 April 2014 | 21:28

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Ahmad Dhani: Saya Dijanjikan Kursi Menteri …

Anjo Hadi | 9 jam lalu

Partai Manakah Dengan Harga Suara Termahal? …

Chairul Fajar | 11 jam lalu

Siapa yang Akan Bayar Utang Kampanye PDIP, …

Fitri Siregar | 11 jam lalu

Riska Korban UGB jadi “Korban” di Hitam …

Arnold Adoe | 12 jam lalu

Tangis Dahlan yang Tak Terlupakan …

Dedy Armayadi | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: