Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Michael Sendow

Redaktur Majalah Infosulut. Writer. Trainer & Motivator. As long as you are still alive, you selengkapnya

Bahasa Inggris Bahasa International, Tapi Bahasa Indonesia Adalah Bahasa Kita

OPINI | 07 May 2013 | 19:13 Dibaca: 2841   Komentar: 15   11

Bahasa Inggris Bahasa International, Tapi Bahasa Indonesia Adalah Bahasa Kita

13679287421649245387

Sebagai bahasa yang sudah dipercaya menjadi bahasa Internasional (bahasa dunia) tentu saja Bahasa Inggris akan terus menjadi bahasa yang paling banyak dipergunakan. Paling digemari, dan paling diidolakan. Sekitar 375 juta orang berbicara bahasa Inggris sebagai bahasa utama mereka. Secara keseluruhan, diperkirakan ada sekitar 1.5 miliar yang orang dapat berbahasa Inggris, itu sudah termasuk mereka yang menjadikan bahasa Inggris sebagai second language atau third languagenya mereka.

Tapi menurut saya, Bahasa Indonesia yang kita cintai tidaklah kalah dibanding Bahasa Inggris. Bahasa kita juga, secara hitungan kasar sudah digunakan oleh lebih dari 250 juta orang. Belum lagi di beberapa negara yang menggunakan bahasa sejenis seperti Brunei Darrusalam dan Malaysia. Jadi, bagi saya menjadi pengguna bahasa Indonesia kita juga sudah seharusnya berbangga diri. Bahasa kita termasuk di jajaran ‘bahasa-bahasa yang paling banyak digunakan’ di muka bumi ini. Menguasai bahasa Inggris itu penting, tapi bisa berbicara bahasa Indonesia yang baik dan benar itu adalah sebuah kebanggaan dan keharusan. Bahasa Inggris tidak kita kuasai secara sempurna, it’s okay. Tidak menguasai Bahasa Indonesia (bahasa kita sendiri) it’s really not okay.

Bahasa Inggris dan bahasa Indonesia juga punya keunikan sendiri ketika kita mempelajarinya. Ada kalanya kita bisa salah dalam penempatan kata maupun pemaknaan kata padahal kata-kata tersebut sudah kita sering digunakan sehari-harinya. Kita tahu artinya, tapi tidak paham maknanya. Contoh beberapa kata dalam bahasa Inggris yang belum tentu kita tahu maknanya, walaupun sering mengucapkannya: Wont’be beaten. Bagaimana kita mengartikannya? Ternyata makna ungkapan itu adalah want to win, atau dengan kalimat lain, ingin selalu menang. Nah, dalam bahasa Indonesia ingin selalu menang itu beda jauh artinya dengan ingin menang selalu (ego). Kata lainnya adalah umpamanya go to the flow. Apa maknanya? Itu artinya mengikuti kebiasaan atau toe the line. Lain lagi misalnya ungkapan life-of-the-party, ini tentu saja bukan berarti bahwa hidup Anda adalah berpesta-pora. Kalimat itu bermakna Anda itu orangnya high spirited, atau orang yang sangat antusias.

Lantas bagaimana dengan kata ‘good-mixer’? Itu maknanya adalah orang yang mix easily with others, atau dengan kata lain Anda adalah orang yang mudah menyesuaikan diri. Kemudian ada contoh lain, bagi mereka yang ingin segalanya akurat tiada bercacat cela (perfectionist) ada kata yang cocok untuk itu –yaitu fussy. Lalu apa artinya ketika Anda dibilangin sebagai orang yang cultured? Apakah artinya bahwa Anda adalah orang yang berbudaya? Bisa jadi, maknanya adalah you know how to say and do things right. Bersikap sewajarnya. Sebenarnya masih banyak kata-kata lainnya yang bisa diartikan salah bila kita menerjemahkannya secara harafiah.

Kesalahan Berbahasa Sudah Biasa?

Dalam kehidupan berbahasa kita sering beranggapan bahwa kesalahan berbahasa itu biasa. Bagi saya, itu sudah menjadi biasa karena kita sendirilah yang membiasakannya. Pada akhirnya kesalahan-kesalahan tersebut akan tetap kita anggap biasa sampai kapan pun. Dalam percakapan sehari-hari mungkin saja hal tersebut tidak menjadi soal, akan tetapi bagaimana bila hal itu terjadi dalam penyusunan skripsi, tesis, atau disertasi mahasiswa? Ini pastinya akan mengurangi ‘nilai’ mahasiswa bersangkutan. Atau juga dalam urusan bisnis internasional. Pertemuan delegasi dua negara dan lain sebagainya?

Ini ada beberapa contoh nyata tentang penulisan bahasa Indonesia yang masih keliru pada sebuah tulisan disertasi mahasiswa.

Dari pengukuran tersebut, maka dapat diketahui jumlah pemakaiannya, dimana jumlahnya semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Naiknya harga pangan menyebabkan penderitaan orang miskin meningkat lebih cepat. Sedangkan, turunnya harga pangan memperlambat pemiskinan.

Lemak harus dipisahkan dari larutan dengan memakai metode tertentu. Sehingga, akan dihasilkan larutan nutrisi bebas lemak.

Perhatikan kata dimana yang dipergunakan sebagai penjelas kata atau kelompok kata yang disebutkan sebelumnya. Sangat bisa jadi, penggunaan kata ini dianalogikan dari penggunaan kata where di dalam Bahasa Inggris. Nah, aturan bahasa ini memang membolehkan penggunaan where untuk menjelaskan tempat. Ada juga kata-kata lain yang berkonotasi penjelas, misalnya saja kata that atau which.

Tapi kita harusnya ingat betul bahwa bahasa Inggris tentu saja berbeda dengan Bahasa Indonesia. Kata dimana tidak bisa dipergunakan sebagai pengganti kata yang. Kata Dimana ini sebetulnya hanya boleh dipergunakan dalam kalimat tanya atau dalam kalimat yang di dalamnya mengandung konotasi tanya. Umpamanya saja untuk kalimat berikut ini, “Dimana Pak Johan tinggal?” atau pada kalimat berikut ini, “Saya tidak mengetahui dimana Pak Pepih tinggal”.

Bagaimana dengan kata sehingga dan sedangkan yang dipergunakan di bagian awal sebuah kalimat? Mustinya kedua kata tersebut dipergunakan dalam kalimat majemuk, atau kalimat yang mengandung hubungan (sebab akibat, perlawanan, kesetaraan) antara anak kalimat satu dengan anak kalimat lainnya. Sederhananya adalah bahwa kedua kata itu tidak boleh dipergunakan sebagai awal sebuah kalimat. Ternyata bahasa Indonesia pun tidak segampang dan sesederhana yang kita bayangkan.

Banyak mahasiswa kita yang masih terpengaruh oleh berbagai bahasa asing, terutama Bahasa Inggris. Namun apa yang terjadi kemudian? Mereka akhirnya tidak menerapkan atau bahkan tidak menguasai Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Padahal yang paling penting dalam bahasa Indonesia adalah teknik penyusunan kalimat, penggunaan tanda baca, serta penggunaan kata bantu yang mencerminkan hubungan antara dua anak kalimat. Dan juga hal lain yang paling sering terjadi adalah para mahasiswa menerapkan ragam bahasa lisan di dalam ragam bahasa tulisan baku. Kalau untuk menulis di Kompasiana, seperti tulisan saya ini sih tidaklah mengapa. Justru akan ‘mempercantik’ alur cerita dalam tulisan. Tapi bagaimana bila itu terjadi dalam sebuah tesis atau disertasi?

Kecil atau besar, pasti akan ada dampak yang bakalan muncul dari kesalahan berbahasa. Bisa saja akan ada kesalahan tafsir atau munculnya tafsir ganda terhadap tulisan yang bersangkutan. Bisa jadi juga, akan ada keraguan orang lain atas penelitiannya yang sudah dibuatnya (’hanya’ gara-gara kesalahan berbahasa.)

Kini sudah saatnya kita mendudukkan Bahasa Indonesia setarakan atau kalau perlu lebih tinggi dari bahasa asing, terutama Bahasa Inggris. Bukankah kecenderungan yang terjadi selama ini sangat tidak menguntungkan bagi perkembangan Bahasa Indonesia. Ambil contoh untuk penerimaan mahasiswa, baik itu untuk S2 maupun S3, maka nilai TOEFL (Test of English as a Foreign Language) dijadikan salah satu syarat yang sering berlebihan (anak muda bilang—terlalu lebay). Apabila nilai ini tidak memenuhi syarat, mahasiswa bersangkutan lantas diharuskan mengikuti kuliah Bahasa Inggris terlebih dahulu. Padahal jelas-jelas itu adalah test of English sebagai Foreign Language bukan Own Language. Rasa-rasanya dalam hal ini Bahasa Indonesia yang kita cintai dan kagumi sepertinya telah dianaktirikan, padahal tulisan ilmiah mahasiswa pasti mempergunakan bahasa Indonesia. Terkecuali mahasiswa tersebut hendak berkuliah di luar negeri. Itu lain cerita. Saya sangat menyukai bahasa Inggris, tapi saya amat cinta bahasa Indonesia. Cheers!

Bahasa menunjukkan kepribadian, tapi sebaliknya kepribadian dalam berbahasa menunjukkan kualitas seseorang.—Michael Sendow.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gayatri, Sang “Doktor Cilik” Itu Telah …

Randy Ghalib | | 24 October 2014 | 12:25

Ide Fadli Zon Bangun Perpustakaan & …

Hazmi Srondol | | 24 October 2014 | 08:54

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Tindak Pidana di Indonesia Masih Tinggi, Ini …

Joko Ade Nursiyono | | 24 October 2014 | 08:14

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Jokowi Tunda Tentukan Kabinet: Pamer …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Jokowi Marahin Wartawan …

Ifani | 7 jam lalu

Pelacur Berisi, Berintuisi di Dalam Selimut …

Seneng | 10 jam lalu

Jokowi Ngetest DPR …

Herry B Sancoko | 12 jam lalu

Jika Tak Lulus CPNS, Kahiyang Akan Jaga …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Diari Santri: Rambo …

Syrosmien | 7 jam lalu

Pesta Alkohol Setiap Hari di belakang Kantor …

Febrian Arham | 7 jam lalu

Proses Kreatif Desainer Kaver Buku The Fault …

Benny Rhamdani | 7 jam lalu

Kabinet Ramping Presiden Jokowi Batal! …

Ibnu Dawam Aziz | 8 jam lalu

Pengaruh Millieu Cas, Cis, Cus Inggris-Ria, …

Imam Muhayat | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: