Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Herlambang Wibowo

rumit mit mit mit tim tim tim timur -umit mit mit mit tim tim tim timu- __mit selengkapnya

SPOK di antara Kata “Laik” dan “Layak”

OPINI | 05 May 2013 | 16:39 Dibaca: 448   Komentar: 13   0

Ini hanyalah cerita yang berawal saat ujian CAWU (Catur Wulan) I  di SMU kelas 1 dulu, tahun pertama SMA berganti menjadi SMU. Sebelum ujian, guru pengawas seperti biasa menyampaikan amanat, jika ada yang tidak jelas mohon ditanyakan.

Ujian pun berlangsung dengan tenang. Setelah berhasil menjawab puluhan soal multiple choice (pilihan ganda), masuklah pada pertanyaan terbuka. Inti pertanyaan yang masih saya ingat adalah:

“Buatlah struktur kalimat berpola SPOK dengan menggunakan kata laik.”

Melihat kata yang terasa janggal dalam pengucapan dan ejaan tersebut (mungkin karena baru menemui), saya kemudian bertanya pada pengawas. “Apakah kata laik tersebut tercetak benar atau cetakan seharusnya adalah layak?”

Pengawas yang tak lain adalah guru BP hanya menjawab, “Silahkan jawab sesuai dengan apa yang tertera dalam soal.” Tentu saja jawaban tersebut bukanlah jawaban yang saya harapkan saat itu. Tapi dugaan saya terhadap kesalahan cetak, masih begitu kuat, dan saya meyakini jika kata yang dimaksud adalah layak, bukannya laik.

Tak ingin, mengosongkan jawaban hanya karena persinggungan dugaan yang tak jelas, saya kemudian menjawab soal tersebut sesuai dengan perintah yang dimaksud. Jawaban yang saya tulis adalah:

Saya/ akan membuat/ kalimat/ dengan kata laik.

Kalimat yang menurut saya benar itu, ternyata mendapat contrengan salah dari guru pengajar. Tentu saja, saya tak terima dan mengajukan protes saat hasil ulangan dibagikan. Tanpa pernah saya duga, ternyata banyak juga teman yang membuat pola kalimat serupa yang ikut-ikutan protes. Alasannya saya dan teman-teman, jawaban kami sesuai dengan esensi pertanyaan, yaitu membuat kalimat berpola SPOK sesuai dengan teori yang telah diajarkan.

Namun, protes yang kami ajukan ternyata mendapat respon dingin dari guru yang bersangkutan. Dengan alasan yang juga kuat, guru itu menyatakan bahwa yang diharapkan dari pertanyaan tersebut adalah, pemahaman siswa terhadap kata laik. Bukan semata-mata membuat pola kalimat tanpa mengetahui arti kata yang ditulisnya.

Mendengar alasan guru yang saya rasa aneh itu, saya mengajukan kembali pertanyaan yang sama. Guru tersebut kemudian menerangkan bahwa laik adalah kata baku dari layak. Ya, bagaimanapun, guru adalah juri dan keputusan juri tak bisa diganggu gugat. Sekuat apapun kami protes, contrengan salah tak pernah berubah. Salah satu poin juga dalam pendidikan saat itu (entah sekarang), bahwa guru tak seharusnya disalahkan.

Berdasarkan peristiwa tersebut, saya dan mereka yang ikut protes, hingga sekarang masih menggunakan kata laik sebagai kata baku dari layak. Namun, kenyataannya saya tak memiliki argumentasi yang kuat tentang penggunaan kata tersebut. Bahkan hingga bertahun-tahun, saya masih melihat kata layak tetap digunakan di media-media.

Lantas apa benar laik adalah kata baku dari layak? Jika benar, mengapa media-media masih menggunakah kata layak, yang katanya tak baku? Bukankah dengan begitu media telah memberikanbentuk pembelajaran yang salah? Atau, mungkin saja guru saya yang salah?

Iseng-iseng atas ketidakpercayadirian tersebut, saya membuka KBBI daring dan artikata.com. Hasilnya, kedua kata tersebut tetap ada, dengan makna yang hampir sama.

Melihat kata kedua kata tersebut masih ada dalam KBBI (meski daring/ dalam jaringan), tentu saja saya heran. Apa bisa atau apa boleh kata tak baku masuk dalam KBBI dengan penjabaran arti yang begitu jelas?

Penasaran dengan pertanyaan tersebut, saya kembali menelusuri KBBI, mencari padanan kata baku dan tak baku. Hasilnya, arti kata yang tak baku ternyata selalu dialihkan pada kata baku sebagai penggantinya. Contoh:

1. na·se·hat /nas·hat/ –> nasihat (artikata.com) ___ na·se·hat /naséhat/ ? nasihat (KBBI daring)
2. na·fas –> napas (Artikata.com) ___ na·fas ? napas (KBBI daring)
3. sub·yek /suby·k/ –> subjek (artikata.com) ___ sub·yek /subyék/ ? subjek (KBBI daring)
4. se·ke·dar –> sekadar (artikata.com) ___  se·ke·dar ? sekadar (KBBI daring)

Sedangkan laik dan layak dari penelusuran yang langsung saya copas, ternyata masih tercantum dengan arti yang hampir sama.

la·ik a memenuhi persyaratan yg ditentukan atau yg harus ada; patut; pantas; layak;
jalan memenuhi persyaratan yg ditentukan serta aman untuk dikendarai di jalan (tt truk, bus, mobil, dsb); – laut Lay memenuhi persyaratan yg ditentukan serta aman untuk berlayar di laut (tt kapal penumpang dsb); – pakai memenuhi persyaratan yg ditentukan serta aman untuk dipakai; – terbang laik udara; – udara memenuhi persyaratan yg ditentukan serta aman untuk terbang di udara (tt pesawat terbang);
ke·la·ik·an n 1 perihal laik; 2 keadaan laik; kelayakan

1la·yak a 1 wajar; pantas; patut: berikanlah mereka kehidupan yg –; 2 mulia; terhormat: krn jasanya, dia mendapat kedudukan yg –;
huni pantas untuk dihuni atau ditempati: pemerintah sedang giat membangun rumah sederhana yg — huni; – kutip wajar untuk dikutip: setelah lima tahun berjalan, keuntungan perusahaan itu sudah — kutip; – saji patut untuk disajikan
me·la·yak·kan v menjadikan layak; mematutkan;
ter·la·yak a lebih layak; sangat layak (pantas, patut);
ke·la·yak·an n 1 perihal layak (patut, pantas); kepantasan; kepatutan; 2 perihal yg dapat (pantas, patut) dikerjakan;
la·yak·nya adv 1 patutnya; pantasnya; 2 rupanya; lakunya: dr udara gedung-gedung itu tampak bagaikan kotak-kotak ~;
se·la·yak·nya adv sebaiknya; sepatutnya; sewajarnya: ~ kita membantu orang yg tertimpa musibah

2la·yak n ikan yg dibelah memanjang dr ekor ke kepala, lalu dikeringkan tanpa diberi garam;
me·la·yak v membelah ikan untuk dikeringkan

Berdasarkan penelusuran tersebut, saya kembali bertanya, manakah kedua kata di atas yang baku? Atau keduanya memang baku, hanya saja ada petunjuk penggunaan yang memang saya tak tahu? Atau jangan-jangan petunjuk penggunaan tersebut telah jelas seperti pada contoh di atas, namun selalu diabaikan saat penggunaan?

Entahlah.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Mencintai Alam Ala Kebun Wisata …

Rahab Ganendra 2 | | 31 October 2014 | 23:42

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 4 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 5 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 5 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 6 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 7 jam lalu


HIGHLIGHT

Kalau Bisa Beli ,Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

The Frame …

Diana Wardani | 7 jam lalu

BKN Diminta Bersikap Tegas …

'acha 'muh ... | 7 jam lalu

Teh Rasa Kopi …

Kopi Keliling | 7 jam lalu

Potret Dominasi Pendidikan Formal pada Kasus …

Median Mutiara | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: