Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Didi Junaedi

Dosen, Penulis Buku, tinggal di Brebes Jawa Tengah

Buku dan Peradaban Kita

OPINI | 03 May 2013 | 11:00 Dibaca: 118   Komentar: 1   0

Ada sebuah ungkapan bijak dalam bahasa Arab yang berbunyi: “Khairu jaliisin fi al-zamaani kitaabun”, sebaik-baik teman di setiap saat adalah buku. Sebuah ungkapan sederhana, namun sarat makna jika dikaji lebih jauh.

Kita semua mafhum bahwa buku merupakan sumber informasi, lautan ilmu dan samudera pengetahuan. Dengan meyelaminya, kita akan mendapatkan hal-hal baru, yang mungkin tidak pernah kita ketahui sebelumnya selama ini.

Buku ibarat belantara pengetahuan tak berujung, lautan ilmu tak bertepi dan mayapada informasi tak berkesudahan. Siapa saja yang bisa masuk menjelajah ke dalamnya, akan menemukan mutiara terpendam yang tak ternilai. Dan, ketika mutiara itu sudah ditemukan, siapa saja akan merasa ingin selalu mencari mutiara-mutiara lainnya yang masih terpendam di balik lembaran-lembaran berjuta-juta buku lainnya.

Melalui buku, kepribadian seseorang terbentuk. Melalui buku pula, peradaban suatu bangsa akan tercipta. Bisa dipastikan, masyarakat suatu bangsa yang mencintai buku, menjadikannya sebagai menu wajib yang selalu menyertai dalam aktifitas kesehariannya, membudayakan aktifitas membaca di setiap saat, akan tampil sebagai bangsa dengan tingkat peradaban yang tinggi.

Sebaliknya, masyarakat sebuah bangsa yang tidak menaruh perhatian pada buku, menganggap buku sebagai hal yang remeh-temeh, tidak membudayakan aktifitas membaca, maka bisa dipastikan, bangsa tersebut akan menjadi bangsa terbelakang, ketinggalan informasi, gagap pengetahuan dan miskin peradaban.

Dalam konteks Indonesia, perhatian masyarakat secara umum terhadap buku masih sangat minim. Hal ini menjadi catatan yang kurang menggembirakan. Akan tetapi, kenyataan ini dapat dimaklumi dengan beberapa alasan.

Pertama, tingkat kesejahteraan masyarakat yang masih memprihatinkan. Kondisi ekonomi yang tidak menentu menjadi faktor utama terabaikannya perhatian terhadap buku. Masyarakat lebih memilih membeli beras untuk kemudian dikonsumsi, daripada membeli buku. Kedua, tidak ada contoh konkret dari para pemimpin, para pejabat pemerintahan yang tengah berkuasa saat ini, untuk dijadikan teladan dalam hal mencitai buku. Mereka lebih mementingkan bagaimana caranya survive di tengah kondisi yang tidak menentu seperti ini. Mengisi pundi-pundi kekayaan di saat menjabat jauh lebih menjanjikan, daripada mengisi rak dengan sederetan buku.

Inilah realita yang terjadi di negeri kita. Budaya mencintai buku masih menjadi barang langka. Menjamurnya penerbit buku tidak diiringi dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap buku. Sungguh ironis dan menyedihkan.

Budaya membaca

Berbicara tentang buku, maka ada dua aktifitas yang tidak bisa dipisahkan dan selalu menyertainya, yakni membaca dan menulis. Untuk menggali isi serta kandungan sebuah buku, maka tidak bisa tidak, kita harus melakukan aktifitas membaca. Dengan membaca, maka tersingkaplah segala ‘misteri’ yang ada dalam sebuah buku. Dengan membaca pula, kita mampu menyelami alur pemikiran si penulis. Membaca, membuka cakrawala pengetahuan kita. Maka tepat jika ada ungkapan menyebutkan, membaca, membuka jendela dunia.

Dalam tradisi Islam, membaca merupakan aktivitas pertama yang diperintahkan Allah Swt. melalui firman-Nya, sebagaimana termaktub dalam Q.S. Al-’Alaq: 1-5 : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah, dan Tuhanmu yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam (pena), Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Landasan teologis di atas menegaskan akan pentingnya membaca. Membaca dalam makna yang luas, seperti dijelaskan oleh M. Quraish Shihab dalam bukunya, Membumikan Al-Quran. Menurutnya, kata iqra dalam ayat tersebut, yang berarti bacalah! (perintah membaca), terambil dari kata qara’a yang mengandung arti: menghimpun, menelaah, membaca, meneliti dan mendalami. (M. Quraish Shihab: 1992 :167)

Dengan demikian, membaca adalah langkah kita untuk menelaah, meneliti serta mendalami ilmu pengetahuan yang tersebar di muka bumi ini. Budaya membaca akan menuntun kita pada kedewasaan berpikir, bersikap dan bertindak. Dengan membaca, jiwa kita dipenuhi oleh cahaya ilmu, pancaran pengetahuan dan pendaran sinar informasi.

Budaya menulis

Aktifitas lain yang menyertai hadirnya sebuah buku adalah menulis. Mustahil akan hadir sebuah buku ke tengah-tengah kita tanpa ada seseorang yang menulisnya.

Ironisnya, budaya yang hadir di hadapan kita adalah budaya lisan atau tradisi lisan (oral tradition), bukan budaya tulis. Kita lebih suka berbicara daripada menulis. Padahal, ucapan, betapapun bagus dan bernilainya, akan begitu mudah hilang ketika sudah terucap. Sedangkan tulisan, sampai kapanpun akan tetap abadi, dan lebih mudah untuk direkam ulang dalam memori kita ketika kita membacanya kembali.

Kita tidak bisa membayangkan seandainya para ilmuwan yang telah meninggal berabad-abad lamanya tidak mentransformasikan ilmunya dalam bahasa tulis. Kita tentu tidak akan pernah mengenal siapa itu Al-Kindi, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ibn Sina, Albert Enstein, Thomas Alfa Edison, dan ilmuwan-ilmuwan kelas dunia lainnya, jika mereka tidak menuliskan ilmunya ke dalam buku.

Maka, tepat sekali ketika Sayyidina Ali mengatakan, “ilmu adalah buruan, dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan ikatan yang kuat, yakni menuliskannya.”

Mencermati kondisi saat ini, dimana kemajuan teknologi informasi begitu pesat, ketika pelbagai ilmu pengetahuan begitu mudah didapat, alangkah ruginya kalau kita melewatkan kesempatan emas ini begitu saja. Kita bisa mendapatkan informasi apa saja, bisa membacanya melalui akses internet kemudian menuliskannya kembali dengan sudut pandang kita. Kita gali segala macam pengetahuan untuk kemudian kita sampaikan kepada khalayak dengan menuliskannya, entah melalui artikel, kolom, esai atau bahkan sebuah buku. Sebuah aktifitas yang sangat mulia, ketika kita mau berbagi pengetahuan yang kita miliki kepada orang lain dengan menuliskannya. Inilah investasi tak ternilai yang pasti akan menuai kebaikan baik bagi kita pribadi, maupun bagi orang lain.

Dari keterangan di atas, jelas bahwa kehadiran sebuah buku hanya akan bermakna ketika disertai dengan dua aktifitas yang melingkupinya, yakni membaca dan menulis. Buku tidak akan bisa berbicara kepada kita, kalau kita tidak membacanya. Dan, hasil bacaan kita tidak akan bermakna kalau kita tidak menuliskannya.

Akhirnya, dalam balutan momen Hari Buku Nasional kali ini, penulis mengajak masyarakat negeri ini untuk mencintai buku, menjadikannya sebagai teman dalam setiap kesempatan, membudayakan aktifitas membaca dan menulis demi membangun peradaban kita di masa yang akan datang.

Didi JunaediDosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Penulis sejumlah buku bertema agama dan motivasi Islami

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hari Pusaka Dunia, Menghargai Warisan …

Puri Areta | | 19 April 2014 | 13:14

Paskah di Gereja Bersejarah di Aceh …

Zulfikar Akbar | | 19 April 2014 | 08:26

Keluar Uang 460 Dollar Singapura Gigi Masih …

Posma Siahaan | | 19 April 2014 | 13:21

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Sstt, Pencapresan Prabowo Terancam! …

Sutomo Paguci | 11 jam lalu

Mengintip Kompasianer Tjiptadinata Effendi …

Venusgazer™ | 19 jam lalu

Suryadharma Ali dan Kisruh PPP …

Gitan D | 19 jam lalu

Kasus Artikel Plagiat Tentang Jokowi …

Mustafa Kamal | 22 jam lalu

Timnas U 19: Jangan Takut Timur Tengah, …

Topik Irawan | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: