Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Kang Inun

Kang Inun lahir di pesisir teluk lada saat matahari baru tersenyum tahun seribu empat ratus selengkapnya

Bahasa Indonesia: Bahasa Melayu Sentuhan Belanda

HL | 24 April 2013 | 17:00 Dibaca: 1177   Komentar: 13   12

Minggu lalu ketika saya pulang kampung, saya begitu asyik memperhatikan adik-adik yang khusuk melihat serial animasi asal Malaysia : Ipin-Upin. Saya ketawa kecut saat lihat di layar kaca ternyata dibubuhkan pula teks terjemahan dari percakapan bahasa Melayu dari tokoh-tokoh dalam serial tersebut. Namun dari kecutnya tawa saya ini, saya tergelitik untuk mengetahui lebih dalam perkembangan Bahasa Melayu di Indonesia sehingga berwujud menjadi bahasa Indonesia seperti sekarang.

Sejak era penjelajahan dunia timur, bangsa Eropa telah menyadari akan pentingnya Bahasa Melayu di wilayah kepulauan Hindia. van Linschoten menyebut pentingnya bahasa Melayu ini seperti pentingnya bahasa Perancis untuk kaum terdidik di Eropa. Sehingga penjelajah diwajibkan untuk mengerti Bahasa Melayu.

Berbeda dengan bangsa Eropa lainnya, Belanda melakukan eksklusivitas terhadap Bahasa Belanda. Dari awal menjejakkan kaki di Banten sampai menyerah ke Jepang, Bahasa Belanda hanya digunakan di lingkungan strata sosial tertentu. Untuk komunikasi dengan inlander, Belanda menggunakan bahasa daerah tersebut atau Bahasa Melayu. Hal tersebut diperkuat dengan dididiknya para calon pegawai pemerintah di Delft mengenai tata norma dan kebudayaan masyarakat Hindia Belanda.

Hal nyata untuk menjadikan bahasa Melayu sebagai lingua franca terjadi pada pertengahan abad 19. Pelopornya adalah Hillebrandus Cornelius Klinkert (1829-1913), dia adalah seorang pengabar Injil Menonite. Klinkert menyadari agar firman tuhan  dapat ditangkap lebih banyak oleh jemaat  maka dia harus pergi ke sumber bahasa yang dimengerti oleh hampir seluruh penduduk Hindia-Belanda : Riau. Sebagai wilayah Hindia Belanda Riau sebelumnya tidak terlalu dilirik karena tidak memiliki komoditas ekonomi, namun Klinkert menyadari Riau memiliki Komoditas lain yaitu Bahasa.

13667970901707812129

HC Klinkert (1829-1913)

Di Riau, Klinkert bertemu dengan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi yang tersohor karena karya-karya tulisannya dan kedekatannya dengan bangsa barat. Klinkert begitu mengagumi bahasa Abdullah, hal berbeda dilakukan oleh Inggris yang menganggap rendah bahasa dari karya Abdullah karena terlalu “modern” tidak seperti bahasa dalam Sulalatus salatin yang dianggap bahasa Melayu Tinggi. Setelah mendapatkan tinta emas untuk menorehkan ayat-ayat tuhan, Klinkert menerjemahkan Bibel dalam bahasa Melayu, 1870, dan kamus Melayu – Belanda. Karya klinkert mendapat sambutan hangat dari masyarakat.

13667972611274726639

Salah satu terjemahan Klinkert (Kitab Indjil Soetji : Johannes)

Di sisi lain pada akhir abad 19 pemerintah Hindia-Belanda melalui direktur pendidikannya, Snouck Hurgronje, merasa perlu mencari altenatif bahasa untuk administrasi pemerintahan selain bahasa Belanda. Dipilih lah opsi dua bahasa untuk keperluan ini : Bahasa Jawa dan Melayu. Bahasa Jawa dipilih dengan mempertimbangkan mayoritas populasi penduduk Hindia-Belanda adalah suku Jawa; Namun dalam kenyataannya Bahasa Jawa sulit untuk dipraktekkan karena sifat Bahasa Jawa yang mengenal tingkatan sosial penggunanya. Dengan sebab demikian, Bahasa Melayu menjadi pilihan dan diangkat sebagai bahasa administrasi karena sifat kesetaraan dan bahasa pasarnya ini.

13667973931747894870

Snouck Hurgronje (1857 �1936)

Terpilihnya Bahasa Melayu sebagai bahasa kedua menjadikan bahasa ini kokoh dan tersebar dengan leluasa apalagi setelah van Ophuijsen (1901) mengeluarkan ejaan baku dalam tulis menulis dan salah satu faedah utamanya yaitu untuk transliterasi Bahasa Melayu yang notabenenya ditulis dalam huruf Jawi. Cengkraman dan cakupan Bahasa Melayu semakin menggurita setelah 1908 pemerintah Hindia Belanda  mendirikan Balai Pustaka karena Mayoritas terbitan Balai Pustaka adalah buku-buku berbahasa Melayu. Bahasa Melayu olahan Belanda ini lambat laun tumbuh dewasa dan meninggalkan kesan melayunya apalagi setelah dicuri oleh para inlander dan diganti nama menjadi Bahasa Indonesia pada kongres pemuda kedua.

Daftar pustaka :

Hoffman, John. 1979.  A Foreign Investment : Indies Malay to 1901. Indonesia. No. 27 pp. 69-91 . Southeast Asia Program Publictions at Cornell University : Ithaca.

Paauw, Scott. 2009. One Land, One Nation, One Language : An Analysis of Indonesia’s National Language Policy. Univeristy of Rochester Working Papers In The Language Science Vol. 5 No.1 : Rochester.

Sweeney, Amin. 2011. Pucuk Gunung Es : kelisanan dan keberaksaraan dalam kebudayaan Melayu-Indonesia. Kepustakaan Populer Gramedia : Jakarta.

http://www.sabda.org/sabdaweb/bible/chapter/?b=48&version=kl_1863&altver[]=tb dilihat pada 23 April 2013 pukul 15.00

http://www.sabda.org/sabdaweb/bible/chapter/?b=62&c=1&version=kl_1870&altver%5B%5D=tb&view=column&lang=indonesia&theme=clearsky dilihat pada 23 April 2013 pukul 15.00

http://www.sabda.org/sejarah/sejarah/ver_klinkert.htm dilihat pada 23 April 2013 pukul 15.20

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Timnas U-23 dan Prestasi di Asian Games …

Achmad Suwefi | | 22 July 2014 | 13:14

Sindrom Mbak Hana & Mas Bram …

Ulfa Rahmatania | | 22 July 2014 | 14:24

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Beri 8 Milliar untuk Facebook! …

Tukang Marketing | 14 jam lalu

Selamat Datang Bapak Presiden Republik …

Ahmadi | 15 jam lalu

Perlukah THR untuk Para Asisten Rumah …

Yunita Sidauruk | 16 jam lalu

Jangan Keluar dari Pekerjaan karena Emosi …

Enny Soepardjono | 16 jam lalu

Catatan Tercecer Pasca Pilpres 2014 (8) …

Armin Mustamin Topu... | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: