Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Ken Setiawan

Moderator website www.republikngapak.com

Republik Ngapak Angkat Budaya Jawa Dari Gerusan Modernisasi

REP | 19 April 2013 | 02:04 Dibaca: 400   Komentar: 4   0

13663117971264541291

Saat ini tidak sedikit diantara generasi muda yang malas mengetahui budaya atau kearipan lokal yang ada di daerahnya sendiri. Diantara mereka, juga ada yang merasa malu untuk menggunakan bahasa lokal. Alasannya kampungan, norak dan tidak terkesan modern.

Nah, hal itu sangat bertolak belakang dengan komunitas yang satu ini. Justru, mereka begitu aktif untuk mengangkat dan mengembalikan kejayaan kearipan lokal. Itulah Republik Ngapak.

Komunitas yang dibentuk pada 1 Agustus 2010 ini adalah salah satu organisasi yang membawahi beberapa komunitas di Jawa tengah, terutama daerah yang menggunakan bahasa/dialek khas ngapak.

Selama ini daerah yang terkenal menggunakan ngapak diantaranya adalah Kebumen, Banyumas, Cilacap, Purwokerto, Tegal, Brebes, Pemalang, Pekalongan, Purbalingga, dan Banjarnegara.

Agar semakin banyak pihak yang peduli pada budaya dan kearipan lokal, maka Republik Ngapak yang dibentuk oleh Ken Setiawan ini juga tidak terbatas hanya kepada daerah yang berbahasa ngapak. Karena Republik Ngapak juga terbuka bagi daerah luar yang memang tertarik dan peduli terhadap bahasa daerah ngapak agar bisa berkembang lagi.

Untuk memudahkan antar anggotanya berinterkasi, Republik Ngapak memiliki akun group Facebook https://www.facebook.com/groups/republikngapak/ atau juga bisa di akses melaui browser klik www.republikngapak.com

Menurut Ken Setiawan, ide dibentuknya Republik Ngapak karena saat ini semakin menyusut minat masyarakat terhadap hal hal yang sifatnya tradisional dan budaya lokal. Padahal, budaya lokal adalah sumber pengetahuan yang terintegrasi dengan pemahaman terhadap alam dan budaya sekitarnya. Sehingga budaya lokal harus tetap dilestarikan agar pembangunan bisa berjalan dengan dinamis.

“Kalau bukan kita yang melestarikan lalu siapa lagi,” tanya Ken Setiawan saat ditemui TNOL.

Ken menuturkan, saat ini banyak anak muda yang bukan bangga terhadap budaya lokal. Anak-anak muda, justru malu menggunakan bahasa daerahnya. Padahal, seharusnya bangga karena menjadi ciri khas daerah asal sebagai tempat lahirnya. Jika terlalu mengikuti globalisasi yang tidak dibarengi dengan menjaga kearifan lokal banyak anak muda menjadi korban modernisasi yang mengarah pada hal hal yang negatif.

Anak muda merupakan tulang punggung bangsa, di tanganyalah masa depan bangsa dipegang,” tegasnya.

Nah, untuk bisa bergabung di Republik Ngapak yang memilki sekretariat di Jl Pejaten Raya No 9 Pasar Minggu, Jakarta Selatan ini sangat mudah. Cukup registrasi dan membayar iuran sebesar Rp 10 ribu/bulan, maka bisa menjadi anggota. Iuran tersebut digunakan sebagai uang kas untuk bisa menggelar kegiatan sosial seperti menjenguk anggota yang sakit.

“Kita juga pernah menggelar kegiatan sosial seperti menyumbang masker untuk korban merapi . Selain itu, kita juga pernah memberikan bantuan untuk korban banjir di Jakarta,” jelas Ken.(Sbh)

sumber: http://www.tnol.co.id/komunitas/minat/21604-republik-ngapak-angkat-budaya-jawa-dari-gerusan-modernisasi-.html

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Mencintai Alam Ala Kebun Wisata …

Rahab Ganendra 2 | | 31 October 2014 | 23:42

Tim Jokowi-JK Masih Bersihkan Mesin Berkarat …

Eddy Mesakh | | 01 November 2014 | 06:37

Bahaya… Beri Gaji Tanpa Kecerdasan …

Andreas Hartono | | 01 November 2014 | 06:10

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 3 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 4 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 5 jam lalu

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 7 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Kesaksian Terakhir …

Arimbi Bimoseno | 9 jam lalu

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | 9 jam lalu

Topik 121 : Persalinan Pervaginam Pd Bekas …

Budiman Japar | 9 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Transjakarta: Busnya Karatan, Mental …

Gunawan Eswe | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: