Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Ian_mujaddid.kompasiana.com

Kesuksesan hanya milik mereka yg Siap dan Pemberani.

Nirleka Sebagai Sebuah Penyakit

OPINI | 16 April 2013 | 05:53    Dibaca: 467   Komentar: 1   0

Istilah “Nirleka” adalah istilah yang merujuk pada zaman pra-sejarah di mana zaman ini tulisan belum dikenal. Pada dasarnya pra-sejarah bermula dari terciptanya alam semesta akan tetapi, pandangan umum tentang istilah Nirleka merupakan suatu gambaran di mana pada zaman pra-sejarah yang dimaksudkan telah terdapat kehidupan ummat manusia. Dengan kata lain, nirleka merupakan istilah yang memproyeksikan alam primitif atau realita kehidupan manusia purba.

Para pakar sejarah telah sepakat bahwa zaman pra-sejarah dan sejarah ditandai dengan tulisan. Nirleka sendiri, sebagaimana yang telah disinggung di atas, merupakan istilah yang digunakan di mana manusia hidup di alam primitif. Seiring bergeraknya roda zaman dan peradaban-peradaban ummat manusia terus melaju ke depan, maka istila nirleka dapat diklasifikasikan ke dalam dua bentuk. Pertama, Nirleka Purba-Primitif. Yaitu realitas manusia purba yang belum mengenal tulisan sehingga mereka belum bisa membaca dan membentuk teks untuk mencatatkan kehidupan mereka. Kedua, Nirleka Moderen. Yaitu kehidupan manusia-manusia di alam moderen tapi, tidak senang dengan aktivitas membaca.

Jadi, berdasarkan pengklasifikasian di atas, maka bisa disimpulkan bahwa terdapat dua jenis Nirleka. Nirleka pertama menunjukkan realitas manusia yang belum mengenal tulisan sedangkan, Nirleka kedua adalah realita kemalasan manusia moderen untuk membaca.

Tanpa perlu melakukan riset lebih jauh, kita sudah tentu dapat menyimpulkan bahwa Indonesia adalah negara yang masyarakatnya tergolong sebagai masyarakat “Nirleka Moderen”. Hal demikian sudah menjadi rahasia umum sehingga hanya melihat sepintas dinamika kemasyarakatan kita tentu sudah bisa menyimpulkannya. Kenyataan Indonesia sebagai negara berkembang, menurut saya tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sudah tentu penyakit Nirleka moderen yang menjangkiti sebagian besar masyarakat, khususnya pemuda-pemuda bangsa sudah sepatutnya mendapat perhatian serius untuk ditangani. Salah satu caranya adalah bagaimana pemerintah dan masyarakat bersinergi membentuk kesadaran untuk mencintai membaca.

Bagaimana pun juga kita pasti sepakat bahwa membaca adalah metode ampuh untuk maju.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mencari “Menara” di Tanah …

Imam Rahmanto | | 29 May 2015 | 20:36

Mengurai Wajah Surabaya bersama Risma …

Wildan Hakim | | 28 May 2015 | 18:01

[Blog&Photo Competition] Saatnya Non …

Kompasiana | | 17 March 2015 | 16:48

Makin Solid karena Pasien Sakit …

Rinta Wulandari | | 29 May 2015 | 19:56

Rahim Melorot, Siapa yang Paling Bertanggung …

Nanang Diyanto | | 28 May 2015 | 20:58


TRENDING ARTICLES

Gagal Jadi Mualaf …

Yo | 13 jam lalu

Managerial Meeting Berlangsung Alot, Timnas …

Af Yanda | 15 jam lalu

Nasib Pelapor Beras Plastik …

Pical Gadi | 15 jam lalu

Petral Ternyata Tidak Berdosa, Bukan Sarang …

Asaaro Lahagu | 15 jam lalu

Gambar Cibiran terhadap FIFA Meramaikan …

Ardiansyah | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: