Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Ian_mujaddid.kompasiana.com

Kesuksesan hanya milik mereka yg Siap dan Pemberani.

Nirleka Sebagai Sebuah Penyakit

OPINI | 16 April 2013 | 05:53 Dibaca: 446   Komentar: 1   0

Istilah “Nirleka” adalah istilah yang merujuk pada zaman pra-sejarah di mana zaman ini tulisan belum dikenal. Pada dasarnya pra-sejarah bermula dari terciptanya alam semesta akan tetapi, pandangan umum tentang istilah Nirleka merupakan suatu gambaran di mana pada zaman pra-sejarah yang dimaksudkan telah terdapat kehidupan ummat manusia. Dengan kata lain, nirleka merupakan istilah yang memproyeksikan alam primitif atau realita kehidupan manusia purba.

Para pakar sejarah telah sepakat bahwa zaman pra-sejarah dan sejarah ditandai dengan tulisan. Nirleka sendiri, sebagaimana yang telah disinggung di atas, merupakan istilah yang digunakan di mana manusia hidup di alam primitif. Seiring bergeraknya roda zaman dan peradaban-peradaban ummat manusia terus melaju ke depan, maka istila nirleka dapat diklasifikasikan ke dalam dua bentuk. Pertama, Nirleka Purba-Primitif. Yaitu realitas manusia purba yang belum mengenal tulisan sehingga mereka belum bisa membaca dan membentuk teks untuk mencatatkan kehidupan mereka. Kedua, Nirleka Moderen. Yaitu kehidupan manusia-manusia di alam moderen tapi, tidak senang dengan aktivitas membaca.

Jadi, berdasarkan pengklasifikasian di atas, maka bisa disimpulkan bahwa terdapat dua jenis Nirleka. Nirleka pertama menunjukkan realitas manusia yang belum mengenal tulisan sedangkan, Nirleka kedua adalah realita kemalasan manusia moderen untuk membaca.

Tanpa perlu melakukan riset lebih jauh, kita sudah tentu dapat menyimpulkan bahwa Indonesia adalah negara yang masyarakatnya tergolong sebagai masyarakat “Nirleka Moderen”. Hal demikian sudah menjadi rahasia umum sehingga hanya melihat sepintas dinamika kemasyarakatan kita tentu sudah bisa menyimpulkannya. Kenyataan Indonesia sebagai negara berkembang, menurut saya tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sudah tentu penyakit Nirleka moderen yang menjangkiti sebagian besar masyarakat, khususnya pemuda-pemuda bangsa sudah sepatutnya mendapat perhatian serius untuk ditangani. Salah satu caranya adalah bagaimana pemerintah dan masyarakat bersinergi membentuk kesadaran untuk mencintai membaca.

Bagaimana pun juga kita pasti sepakat bahwa membaca adalah metode ampuh untuk maju.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tuntutan Kenaikan Upah Buruh yang Tak …

Agus Setyanto | | 31 October 2014 | 13:14

Soal Pem-bully Jokowi, Patutkah Dibela? …

Sahroha Lumbanraja | | 30 October 2014 | 20:35

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31

Hanya Kemendagri dan Kemenpu yang Memberi …

Rooy Salamony | | 31 October 2014 | 11:03

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Inikah Sinyal PKS Bakal Cabut UU Pornografi? …

Gatot Swandito | 3 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 8 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 8 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Jokowi Memenuhi Janjinya Memberantas Mafia …

Sang Pujangga | 7 jam lalu

Milad Himakom UNIFA yang ke-4: Himakom Dulu, …

Komunikasi Universi... | 7 jam lalu

Setelah Kelas Ibu Hamil, Ada Kelas Balita …

Imma Firman | 7 jam lalu

Positif Mengkritik Santun Memberi Saran …

Ferra Shirly | 8 jam lalu

Robohnya Kampus Kami …

Ardi Winangun | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: