Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Fandi Sido

Humaniora dan Fiksiana mestinya dua hal yang bergumul, bercinta dan kawin. | @FandiSido

‘Korsa’ dalam Pengertiannya

OPINI | 05 April 2013 | 18:50 Dibaca: 3753   Komentar: 0   10

Sebagai anak perantauan, saya juga merasakan korsa. Tinggal bertahun-tahun di Yogyakarta yang adalah “kampung orang” membawa saya dan teman-teman pada solidaritas yang tak bisa kami temukan di kampung halaman. Jiwa korsa yang disebut-sebut sebagai bentuk saling menghargai, menghormati, saling merasakan kebahagiaan dan penderitaan serta gotong royong dalam setiap urusan kiranya dirasakan oleh anak rantau di manapun.

Kata korsa mendapatkan kembali singgasana pamornya tatkala pada Kamis (4/4/2013) terlontar dari mulut Ketua Tim Investigasi TNI Angkatan Darat Brigjen Unggul K. Yudhoyono. Hasil investigasi menyimpulkan sebelas penyerang dan penembak mati empat tahanan LP Cebongan Sleman dipastikan adalah anggota Korps Pasukan Khusus (Kopassus). Motifnya: jiwa korsa.

Hampir selusin tentara khusus tidak terima dan ingin dendam atas kematian rekan mereka, semata-mata karena serasa dan sepenanggungan. Tidak mengherankan jika menurut Unggul, pengeksekusi sadar penuh dan mengerti konsekuensinya. Seakan-akan ‘korsa’ berarti membalas dalam bentuk apapun.

Tapi, apa arti sebenarnya dari kata korsa?

Saya mencari-cari di dua kamus berbeda dan hasilnya nihil. Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga (2008) tidak menyantumkan kata ini. Yang ada hanya korps, korsase dan korpus, dan memang dua di antaranya berkaitan makna dengan dunia solidaritas dan satuan kemiliteran. Pun tidak saya temukan di KBBI edisi Lux terbitan Widya Karya Semarang. Apakah kata ini memang tidak familiar di kalangan dewan bahasa?

Saya cari lagi, dan ternyata baru ketemu korsa di Kamus Besar Tesaurus Indonesia (Pusat Bahasa Kemendiknas, 2008). Korsa ditulis sebagai satuan pemaknaan dengan lema dasar batalion. Beberapa kata yang semakna dengan korsa antara lain bala, pasukan, resimen, peleton, termasuk gerombolan.

Secara umum, korsa diartikan sebagai kesamaan tujuan, rencana, sikap, kepedulian, perasaan dan tindakan kesetiakawanan yang terorganisasi secara sadar dan tidak, dalam balutan kesatuan. Istilah ini juga saya pernah kenal pas zaman Pramuka SMP dulu, selain Dasadarma. Karena belum tercatat dalam KBBI, korsa diterjemahkan ke dalam banyak arti sesuai konteks kesatuan dan keadaannya di sebuah lingkup sosial.

Militer termasuk TNI sejak zaman ABRI dulu sudah mengenal korsa sebagai singkatan dari KOMANDO SATU RASA. Namun akronimnya kemudian dikenal lebih popular ketimbang kepanjangannya itu sendiri. Di luar militer, ada berbagai macam bentuk istilah yang semakna dengan korsa.

Sebut saja istilah siri’ na pacce dan abbulo sibatang yang sangat terkenal di kalangan masyarakat adat Sulawesi Selatan. Atau istilah wong yang dalam bahasa Jawa lama melekat sebagai konteks kebahasaan persatuan etnis tertentu. Orang-orang Padang dan Medan punya istilah korsa-nya juga dengan “anak rantau”, “urang minang/urang rantau”. Dari teman-teman di Jerman dan Taiwan saya sering dengar istilah diaspora yang arah artinya kurang lebih sama.¬†Untuk budaya popular modern, saya ambil contoh film aksi militer favorit saya Black Hawk Down (2001) yang terkenal dengan istilahnya “No one left behind - Tidak boleh ada yang tertinggal.

Sebetulnya kata korsa ini punya arti yang sangat positif. Dan semoga arti itu tetap bertahan walaupun tindakan belasan oknum anggota TNI telah memancing opini kita untuk mengartikan korsa sebagai aksi gerombolan sebagaimana ikut dicantumkan Tesaurus.

Apapun itu, semoga ke depannya kita bisa membentuk korsa-korsa lebih banyak dan kuat untuk menguatkan masyarakat, menjauhkan dari rasa takut dan mendekatkan pada kesejahteraan. Pun semoga KBBI edisi kelima yang akan terbit (menurut rencana) bulan Maret ini bisa memasukkan korsa sebagai lema yang berarti satu rasa untuk kebaikan.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tertangkapnya Polisi Narkoba di Malaysia, …

Febrialdi | | 01 September 2014 | 06:37

Menjelajahi Museum di Malam Hari …

Teberatu | | 01 September 2014 | 07:57

Memahami Etnografi sebagai Modal Jadi Anak …

Pebriano Bagindo | | 01 September 2014 | 06:19

Kompas TV Ramaikan Persaingan Siaran Sepak …

Choirul Huda | | 01 September 2014 | 05:50

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 5 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 6 jam lalu

Bayern Munich Akan Disomasi Jokowi? …

Daniel Setiawan | 7 jam lalu

Kisah Ekslusive Tentang Soe Hok Gie …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Antara Mega dan Kwik (Siapa yang Memperdayai …

Mister Hadi | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | 7 jam lalu

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | 8 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 8 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

‘Royal Delft Blue’ : Keramik …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: