Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Fandi Sido

Dinding kotor karena coretan. | Kita bisa berbincang lewat @FandiSido dan afseeboy@gmail.com.

‘Korsa’ dalam Pengertiannya

OPINI | 05 April 2013 | 18:50    Dibaca: 5391   Komentar: 0   10

Sebagai anak perantauan, saya juga merasakan korsa. Tinggal bertahun-tahun di Yogyakarta yang adalah “kampung orang” membawa saya dan teman-teman pada solidaritas yang tak bisa kami temukan di kampung halaman. Jiwa korsa yang disebut-sebut sebagai bentuk saling menghargai, menghormati, saling merasakan kebahagiaan dan penderitaan serta gotong royong dalam setiap urusan kiranya dirasakan oleh anak rantau di manapun.

Kata korsa mendapatkan kembali singgasana pamornya tatkala pada Kamis (4/4/2013) terlontar dari mulut Ketua Tim Investigasi TNI Angkatan Darat Brigjen Unggul K. Yudhoyono. Hasil investigasi menyimpulkan sebelas penyerang dan penembak mati empat tahanan LP Cebongan Sleman dipastikan adalah anggota Korps Pasukan Khusus (Kopassus). Motifnya: jiwa korsa.

Hampir selusin tentara khusus tidak terima dan ingin dendam atas kematian rekan mereka, semata-mata karena serasa dan sepenanggungan. Tidak mengherankan jika menurut Unggul, pengeksekusi sadar penuh dan mengerti konsekuensinya. Seakan-akan ‘korsa’ berarti membalas dalam bentuk apapun.

Tapi, apa arti sebenarnya dari kata korsa?

Saya mencari-cari di dua kamus berbeda dan hasilnya nihil. Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga (2008) tidak menyantumkan kata ini. Yang ada hanya korps, korsase dan korpus, dan memang dua di antaranya berkaitan makna dengan dunia solidaritas dan satuan kemiliteran. Pun tidak saya temukan di KBBI edisi Lux terbitan Widya Karya Semarang. Apakah kata ini memang tidak familiar di kalangan dewan bahasa?

Saya cari lagi, dan ternyata baru ketemu korsa di Kamus Besar Tesaurus Indonesia (Pusat Bahasa Kemendiknas, 2008). Korsa ditulis sebagai satuan pemaknaan dengan lema dasar batalion. Beberapa kata yang semakna dengan korsa antara lain bala, pasukan, resimen, peleton, termasuk gerombolan.

Secara umum, korsa diartikan sebagai kesamaan tujuan, rencana, sikap, kepedulian, perasaan dan tindakan kesetiakawanan yang terorganisasi secara sadar dan tidak, dalam balutan kesatuan. Istilah ini juga saya pernah kenal pas zaman Pramuka SMP dulu, selain Dasadarma. Karena belum tercatat dalam KBBI, korsa diterjemahkan ke dalam banyak arti sesuai konteks kesatuan dan keadaannya di sebuah lingkup sosial.

Militer termasuk TNI sejak zaman ABRI dulu sudah mengenal korsa sebagai singkatan dari KOMANDO SATU RASA. Namun akronimnya kemudian dikenal lebih popular ketimbang kepanjangannya itu sendiri. Di luar militer, ada berbagai macam bentuk istilah yang semakna dengan korsa.

Sebut saja istilah siri’ na pacce dan abbulo sibatang yang sangat terkenal di kalangan masyarakat adat Sulawesi Selatan. Atau istilah wong yang dalam bahasa Jawa lama melekat sebagai konteks kebahasaan persatuan etnis tertentu. Orang-orang Padang dan Medan punya istilah korsa-nya juga dengan “anak rantau”, “urang minang/urang rantau”. Dari teman-teman di Jerman dan Taiwan saya sering dengar istilah diaspora yang arah artinya kurang lebih sama.¬†Untuk budaya popular modern, saya ambil contoh film aksi militer favorit saya Black Hawk Down (2001) yang terkenal dengan istilahnya “No one left behind - Tidak boleh ada yang tertinggal.

Sebetulnya kata korsa ini punya arti yang sangat positif. Dan semoga arti itu tetap bertahan walaupun tindakan belasan oknum anggota TNI telah memancing opini kita untuk mengartikan korsa sebagai aksi gerombolan sebagaimana ikut dicantumkan Tesaurus.

Apapun itu, semoga ke depannya kita bisa membentuk korsa-korsa lebih banyak dan kuat untuk menguatkan masyarakat, menjauhkan dari rasa takut dan mendekatkan pada kesejahteraan. Pun semoga KBBI edisi kelima yang akan terbit (menurut rencana) bulan Maret ini bisa memasukkan korsa sebagai lema yang berarti satu rasa untuk kebaikan.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Asyiknya Jadi Selebriti di Tanzania …

Taufikuieks | | 30 May 2015 | 13:47

Menyiapkan Keluarga untuk Menyambut Ramadhan …

Cahyadi Takariawan | | 30 May 2015 | 13:09

Mini Market Tanpa Miras, Kita Lihat …

Kompasiana | | 30 May 2015 | 18:33

Catatanku di Eropa: Pungutan Kuliah? No! …

Dyah Rahmasari | | 30 May 2015 | 04:59

Sambutlah: Kompasiana Baru 2015 yang Lebih …

Kompasiana | | 20 May 2015 | 19:02


TRENDING ARTICLES

Gagasan Khilaf Khilafah …

Iqbal Kholidi | 9 jam lalu

Salah Membaca Gestur, Calon Doktor Itu …

Muhammad Armand | 10 jam lalu

Berkat Jokowi Rakyat Indonesia Semakin Kuat …

Stefanus Toni A.k.a... | 11 jam lalu

Jika Ibu Kota Dipindah ke Palangka Raya! …

Jimmy Haryanto | 13 jam lalu

Buku Kontroversial: Akulah Istri Teroris …

Muthiah Alhasany | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: