Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Alim El Choy

Tak semua yang ku tulis itu aku, tak semua yang kau baca itu kau

Nahwu

OPINI | 04 April 2013 | 04:38 Dibaca: 209   Komentar: 0   0

{UNTUK MEREKA YANG MENERTAWAKAN NAHWU}

Miris, sampai detik ini masih saja ditemukan manusia-manusia angkuh yang mendaku cerdas bahasa. Mereka ini cuma cerdas, tetapi sayang sama sekali tak bijak. Dengan congkaknya, mereka menertawakan teori nahwu klasik. Katanya kuno, sudah usang dan ketinggalan jaman. Maka, kata mereka; “percuma saja kau belajar jurumiyah, imrithi atau Al-fiyah! Sia-sia, tak ada guna! Tidakkah kau tau bahwa bahasa itu berkembang!”

Memang benar, bahwa bahasa itu berkembang, bahkan tak jarang teori-teori nahwu klasik tak lagi sesuai dengan realitas bahasa kontemporer. Namun, bukan berarti belajar teori dasar nahwu klasik tak ada faidah. Nahwu klasik itu ibarat batu pijak, tanpa itu mustahil seorang bisa merangkak naik. Maka, pesan saya: jangan sekali-kali kau tertawakan Imam Sibawaih, al-Kisa’iy, Khalil, atau imam Ibnu Malik. Jangan kau hina nahwu klasik kami! Jika kalian masih percaya kualat, maka silahkan bercermin pada kisah Imam Ibnu Malik. Diceritakan bahwa karena petikan syair “Faiqatan alfiyata ibni Mu’thi” (Alfiyah ini lebih unggul dari Alfiyah yang dikarang Ibnu Mu’thi) ini, Imam ibn Malik kehilangan daya inspirasi-kreatifnya. Hingga suatu ketika, sang imam bertemu gurunya yang tak lain adalah Ibnu Mu’thi. Semenjak itu, imam Ibnu Malik sadar dan berintrospeksi atas kelancangan kata-katanya itu. Pada akhirnya ia pun bisa melanjutkan 1000 baitnya, tak lupa ia memuji sang guru, Ibnu Mu’thi “wa huwa bisabqin haa’izun tafdlila” (Ibnu Mu’thi berhak mendapat keutamaan sebab ia lebih dulu pada zamannya).

Mereka yang suka melecehkan nahwu klasik dan mendewakan teori bahasa kontemporer ini biasanya baru berkenalan dengan tokoh-tokoh linguistik kontemporer  macam Ibnu Madla’ dengan karya kontroversialnya   ar-Radd ala an-Nuhat wa al-Masyriq fi an-Nahwi, Tanzih al-Qur’an amma la Yaliqu bi al-Bayan dan al-Masyriq fi al-manthiq, Ibrahim Musthafa dengan bukunya “Ihyâ’ al-Nahwi” (revitalisasi ilmu nahwu) atau Syauqi Dhaif dengan Taisiru al-Nahwi al-Ta’limi Qadiman wa Haditsan ma’a Nahji Tajdidihi.

Jika dicermati sebenarnya upaya rekonstruksi yang dilakukan oleh mereka ini tak lebih dari sebuah penyederhanaan dari teori nahwu klasik yang katanya dikenal ‘mbulet’ dan susah dipaham. Maka, supaya mudah dipahami oleh siapa saja dibuatlah teori praktis yang tak bertele-tele. Ambil saja salah satu teori milik Ibnu Madla’ yang sama sekali tak setuju dengan konsep ‘amil. Baginya, yang merafa’kan atau menashabkan sebuah kalimat bukanlah amil lafdzi atau ma’nawiy, melainkan si mutakallim itu sendiri. Hemat saya, ini teori kelewat praktis. Saking praktisnya, sampai tak mau susah-susah mencari amil. Jalan pintas pun diambil, ya sudah anggap saja penyebab utamanya adalah si mutakallim.

Karena itu,tak berlebihan jika saya katakan bahwa orang-orang yang anti nahwu klasik ini adalah orang-orang yang ndak mau repot, ndak mau mikir jero. Jika begitu, maka sejatinya teori nahwu klasik seng jarene mbulet, njlimet tur angel dipaham itu setingkat di atas teori bahasa kontemporer.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bangsa Tiongkok Besar karena Budaya Literasi …

Eko Prasetyo | | 01 March 2015 | 20:35

Kisah Sedih Sepiring Nasi …

Mira Marsellia | | 01 March 2015 | 18:32

Pentingnya Belajar Geografi …

Gordi | | 01 March 2015 | 14:47

Bale Woro, Ruang Tunggu Unik di RSUD …

Mawan Sidarta | | 01 March 2015 | 19:02

Kompasiana - SKK Migas-Kontraktor KKS Blog …

Kompasiana | | 14 February 2015 | 13:45


TRENDING ARTICLES

Sejuta “Ahok” Lagi Akan Lahir …

Tjiptadinata Effend... | 2 jam lalu

Congor, Akal dan Iman Ahok …

Gan Pradana | 5 jam lalu

Calon-calon Pesakitan KPK Kasus Dana Siluman …

Salman | 8 jam lalu

Komplotan Begal DPRD …

Irham Rajasa | 8 jam lalu

Beraninya Pak Ahok …

Kamaruddin Mustari | 8 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: