Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Syasya

Seorang Istri dan ibu dengan 2 putri. Mencoba menuliskan pengalaman hidup tentang indahnya Indonesia, serta selengkapnya

Ucapan Boleh Sama Artinya yang Beda

REP | 02 April 2013 | 16:56 Dibaca: 1045   Komentar: 29   6

1364872038383975070

foto pribadi

Ucapan boleh sama tapi artinya bisa beda. Kok bisa ya? ya jelas aja bisa apalagi kalau yang omong orang Indonesia dan yang denger orang Korea. Kata-kata yang bikin saya ketipu memahami artinya bahkan ada sebuah kata yang bikin saya malu ati hehehhe karena saya tidak memahami arti dari kata yang saya ucapkan sementara kata itu juga diucapkan oleh orang Korea.

Dulu saat baru nikah suami saya  memang belum lancar bahasa Indonesianya  bicara juga kebolak balik. Contohnya kalau iya menanyakan pada saya “sudah makan?” iya pasti bicaranya “makan sudah?”.  Atau “Makan apa?” iya pasti akan berkata “Apa makan?” nah lo jika tak memahami pasti gak bakalan mengerti maksudnya bicara. Untung yang diucapkan hanya beberapa kalimat saja kalau panjang bisa gak ngerti maksudnya apa hehheheh.

Karena bahasa korea sendiri memang seperti itu contohnya 어디로 가야 pengucapanya Odi e gayo? kalau diartikan sendiri Odi  e = kemana, sementar gayo= pergi kalau orang Korea  bicaranya “kemana pergi?” sementara kita mengartikanya “pergi kemana?”. Karenanya saya kadang pusing sendiri kalau suami bicara hheheh tapi untungnya sekarang bahasa Indonesianya lancar sekali sementara saya masih terpatah-patah kalau omong bahasa Korea.

Ceritanya pas masih pengantin baru suami  panggil saya denagn sebutan “섹시 = seksi” saat dipanggil seksi itulah saya mesti ngaca dulu bener gak sih saya ini seksi wakakakaak. Merasa tersanjung di panggil seksi akhirnya saya tanya deh emang bener ya saya terlihat seksi, jawabnya bikin saya tersipu malu. Iya berkata bahwa seksi itu sama dengan panggilan suami terhadap istrinya yang bisa diartikan istriku. Pangilan seksi ternyata berhenti setelah sang istri memiliki anak, biasanya mereka akan memangil kita “yobo”. Panggilan yobo juga berlaku untuk istri yang memanggil suaminya dan begitupula sebaliknya.

“시 랭 = silang ” kata-kata ini juga bikin saya terkecoh, dulu saat orang Korea bicara uri silang odie gayo? saya pikir iya menanyakan tanda silang pergi kemaana? tak tahunya silang berarti suami. Walau ada juga yang berkata suami sama dengan 남편 nampien.

Kata ketiga yang bikin saya ketipu dan bikin garuk-garuk kepala adalah saat ibu mertua saya meminta saya untuk membawa “가지 = gaji”. Kebetulan saat itu saya sedang membantunya di dapur, setelah iya terangkan gaji itu inilo sambil menunjukkan sebuah terong ditanganya. Gak cukup sampai disitu saat saya mengatakan bahwa saya mau makan ini sambil berkata jagung “재규어 = jagung” mertua saya senyum dan berkata jangan bicara itulagi didepan saya itu tidak pantas. Garuk-garuk pala deh apa yang salah dengan kata-kata saya tadi heheheh. Setelah lama tinggal di Korea saya baru tahu bahwa itu sebutan bagi miss V,  kata-kata ini sendiri tidak ada dikamus bahasa Korea seperti halnya di Indonesia sendiri ada banyak sebutan untuk miss V kan? wkwkwkwkw jadi omong joyok nih saya.

Panggilan untuk seorang ibu jika di Korea adalah “어머= Oma” padahal ditanah air oma sendiri adalah panggilan untuk nenek atau eyang putri hehehehhe. Karenanya saya lebih memilih anak-anak tidak memanggil saya dengan sebutan Oma heheheh nanti saya malah dikira neneknya lagi kalau  anak-anak panggil saya Oma saat di Indonesia.

Jika ditanah air Opa adalah panggilan untuk kakek maka  ” 파 = Opa” di Korea adalah panggilan untuk  perempuan pada laki-laki yang usianya lebih tua. Tapi kalau laki-laki kepada laki-laki yang lebih tua  maka dipanggil “형= hiyeng”. Karenanya di Korea Opa itu masih muda kalau di Indonesia sudah tua heheheh.

Bisa jadi bahasa yang digunakan di dunia ini dulunya sama semua ya hehehhehe ya iyalah kita kan keturunan nabi adam semua hehehhe walau begitu perlu pembuktian lebih jauh tentang hal ini.

Karenanya jangan terkecoh ya kalau orang Korea menyebut kata yang yang sama dengan kita bisa jadi kata tersebut memiliki arti yang jauh berbeda. Jadi ingat satu kata dalam bahasa lampung dan bahasa jawa “lawang” . Jika diartikan lawang itu berati gila atau kurang waras  dalam bahasa Lampung. Sementara orang jawa bilang “lawang berarti pintu” . Bahasa daerah saja ada yang sama ucapanya dan artinya berbeda hehehehhe aplagi bahasa antar negara ya.

Moga keragaman bahasa di daerah ataupun bahasa suatu negara tetap lestari dan tidak punah……. amin

Maaf jika ada yang tidak berkenan dalam postingan ini, terimakasih sudah mampir membaca dan memberi komentarnya.

Salam Sya, Shandong (RRC) 2013.04.02

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Johannes Karundeng Mengajari Kami Mencintai …

Nanang Diyanto | | 21 September 2014 | 15:45

Kompasianers Jadi Cantik, Siapa Takut? …

Maria Margaretha | | 21 September 2014 | 16:51

Kaizen dan Abad Indonesia …

Indra Sastrawat | | 21 September 2014 | 15:38

Kucing Oh Kucing …

Malatris | | 21 September 2014 | 16:00

[Daftar Online] Nobar Film “Tabula …

Kompasiana | | 21 September 2014 | 10:33


TRENDING ARTICLES

Pak SBY, Presiden RI dengan Kemampuan Bahasa …

Samandayu | 15 jam lalu

Setelah Ahok, Prabowo Ditinggal PPP dan PAN, …

Ninoy N Karundeng | 16 jam lalu

Australia Siaga Penuh …

Tjiptadinata Effend... | 16 jam lalu

MK Setuju Sikap Gerindra yang Akan …

Galaxi2014 | 18 jam lalu

Ini Tanggapan Pelatih Valencia B tentang …

Djarwopapua | 20 September 2014 16:34


Subscribe and Follow Kompasiana: