Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Jonter Sitorus

Jonter Pandapotan Sitorus, kelahiran Pematang pao 1 oktober 1986. Mari Kita Berkarya...

“Kamus Mental” Manusia

OPINI | 09 March 2013 | 11:10 Dibaca: 261   Komentar: 0   0

Berbahasa merupakan salah satu keunikan manusia sebagai ciptaan Tuhan yang paling mulia. Oleh karena itu, tidak heran jika keunikan manusia dalam hal berbahasa penting untuk dikaji. Ada beberapa hipotesis bagaimana sebenarnya manusia itu pada akhirnya mampu untuk berbahasa. Hipotesis pertama, yaitu hipotesis Nurani yang diprakarsai oleh Noam Chomsky yang pada intinya manusia sebenarnya sudah dibekali semacam alat berbahasa atau sering juga disebut dengan istilah LAD (language acquistion device). Dengan adanya piranti berbahasa itu, manusia pada akhirnya dapat berbahasa. Hipotesis yang kedua adalah hipotesis Tabularasa yang diprakarsai John Locke yang pada intinya bahwa manusia diibaratkan seperti kertas kosong sejak ia lahir dan lingkunganlah yang memberi pengaruh sehingga manusia dapat berbahasa. Hipotesis yang ketiga dan cukup terkenal, yaitu hipotesis Kesemestaan Kognitif yang dikemukakan oleh Piaget. Pada intinya hipotesis ini menekankan bahwa manusia dapat berbahasa berdasarkan adanya struktur-struktur kognitif deriamotor. Struktur-struktur itu diperoleh melalui interaksi dengan benda-benda maupun lingkungannya. Terkait dengan hal itu, jelas bahwa manusia sungguh makhluk yang paling “ajaib”. Jadi, sesungguhnya pada otak manusia itulah yang menyebabkan manusia itu ajaib. Mengapa ajaib? Alasannya bahwa dalam otak manusia sudah terdapat fokus-fokus bahasa atau dalam istilah ini dalam otak manusia sudah terdapat semacam “kamus mental”.

Ibarat kamus yang berfungsi sebagai alat untuk mencari arti kata atau lebih kompleks sebuah kalimat maka kamus sangat diperlukan. Semakin tebal kamus itu maka semakin banyak informasi yang akan kita temukan. Demikian halnya dengan otak manusia. Otak kita sebenarnya juga berfungsi sebagai kamus. Namun, arti kamus di sini jangan diartikan hanya sebatas mengartikan sebuah kata atau kalimat saja, tetapi jauh dari itu otak kita berfungsi lebih kompleks lagi. Maka dari itu, otak kita merupakan “kamus mental” yang artinya segala perilaku berbahasa dan kebahasaan diatur oleh otak kita. Bunyi-bunyi yang kita dengar baik langsung maupun tidak langsung atau kata dan kalimat yang kita dengar dari mitra tutur kita akan segera direspon otak kita. Singkatnya, otak akan bekerja mencari arti atau konsep-konsep yang ada dengan membuka kamus mental yang ada dalam otak kita.

Persoalannya sekarang adalah apakah kamus mental yang ada pada diri kita sudah benar-benar menjadi kamus yang lengkap?. Layaknya kamus biasa jika tidak pernah dibuka tentu kamus itu tidaklah bermanfaat. Demikian juga dengan kamus mental yang sudah kita miliki tentu kamus itu tidak akan berfungsi jika kita juga malas untuk mengasahnya. Artinya, jika kita malas untuk berlatih mengasah otak kita, tentunya kamus mental itu juga tidaklah berkembang. Kamus mental itu akan tetap dan bahkan bisa jadi berkurang dalam jumlah perbendaharaan kata-kata. Maka dari itu, kamus mental itu seyogianya dilatih sedini mungkin. Ada beberapa cara sebenarnya untuk mengasah kamus mental itu agar semakin peka terhadap rangsangan khususnya dalam penerapannya mengenali arti bunyi-bunyi, kata, dan kalimat. Pertama, bangkitkan rasa suka membaca. Membaca sebenarnya mampu mengasah kamus mental kita. Membaca bukan hanya memahami isi bacaan secara keseluruhan, melainkan juga untuk memahami setiap simbol-simbol yang ada dalam teks. Dengan begitu, otak akan bekerja untuk memahami simbol-simbol itu lalu memasukkannya dalam kamus mental kita. Suatu saat dibutuhkan informasi maka otak selalu siap untuk membuka isi dari kamus mental kita. Misalnya, dalam teks kita pernah menemukan kata “mendung” dan pada akhirnya kita juga pernah melihat bagaimana kondisi mendung maka ketika kita memahami arti mendung otak akan membuka kamus mental kita. Kedua, seringlah mengisi teka-teki silang, khususnya yang berisi pertanyaan yang berkaitan dengan kata. Hal itu juga akan menambah perbendaharaan dalam kamus mental kita semakin lengkap dan tentunya memori otak kita akan memuat kata-kata yang ditanyakan dalam teka-teki silang itu lalu menyimpanya dalam kamus mental kita. Ketiga, berlatihlah untuk menulis sesuatu. Dengan menulis, otak kita akan terpacu untuk mengemukakan kata-kata yang ada dalam pikiran kita. Dengan begitu, kamus mental kita akan tetap terjaga keaktifannya. Pada situasi kapan pun ketika otak memerintah untuk mencari makna atau arti sebuah kata atau pun kalimat segera juga otak membuka kamus mental tadi. Marilah kita mengaktifkan kamus mental yang sudah ada pada diri kita sebagai anugerah Tuhan. Semoga mulai hari ini kita menyadari bahwa dalam diri kita ada “kamus mental”.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Para Wanita Penggiat Bank Sampah Memiliki …

Ngesti Setyo Moerni | | 23 April 2014 | 05:10

Ina Craft Apakah Mampu Membantu dan …

Een Irawan Putra | | 23 April 2014 | 06:01

Pelajaran Politik Busuk Ternyata Dimulai …

Muhammad Irsani | | 23 April 2014 | 09:41

Benarkah Anak Kecil Itu Jujur? …

Majawati Oen | | 23 April 2014 | 11:10

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 3 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 5 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 5 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 6 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 7 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: