Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Hendra Wardhana

menyukai Anggrek Alam Indonesia | tidak suka rokok dan masakan pedas | @_hendrawardhana | wardhanahendra.blogspot.com

Bahasa Ibu, Suara Indah yang Terancam Punah

HL | 21 February 2013 | 11:35 Dibaca: 1990   Komentar: 12   11

13614273451435187692

Ilustrasi/Admin (Ajie Nugroho)

Hampir setiap hari telinga ini mendengarkan suara-suara keras mahasiswa baru di ruang sebelah. Suara-suara yang selalu memunculkan bunyi-bunyian “bro-bro-bro”. Awalnya saya suka menyimpan senyum ketika mendengarnya. Terdengar lucu tapi akhirnya entah karena mulai terganggu dengan suara kerasnya atau terusik dengan bunyi-bunyian bahasa mereka itu, saya kerap ingin keluar untuk meminta mereka tutup mulut. Tentu saya selalu mengurungkan niat itu. Apa daya, bagi mereka menggunakan bahasa “gaul” adalah hak. Bagi mereka menggunakan bahasa-bahasa aneh seperti itu adalah bagian dari penunjang dan penunjuk eksistensi diri meski tanpa disadari mereka justru sedang perlahan membunuh jati diri.

Tak banyak yang sadar jika hari ini, 21 Februari adalah Hari Bahasa Ibu Sedunia. Hari Bahasa Ibu Sedunia adalah peringatan yang ditetapkan oleh UNESCO sejak tahun 1999. UNESCO memandang pentingnya setiap bangsa menanamkan kesadaran pendidikan bahasa ibu kepada generasi penerusnya. Di sisi lain, UNESCO menangkap keprihatinan dunia yang terus kehilangan bahasa-bahasa ibunya. UNESCO memperkirakan sekitar 3000 bahasa akan punah di akhir abad ini. Hanya separuh dari jumlah bahasa yang dituturkan oleh penduduk dunia saat ini yang masih akan eksis pada 2100 nanti. National Geographic merinci lagi bahwa ada 1 bahasa ibu di dunia yang punah setiap 14 hari. Di banyak tempat di dunia, bahasa ibu sedang berjalan menuju ke kepunahannya.

Apakah itu termasuk bahasa-bahasa daerah di Indonesia? Sayang sekali iya. Bahkan Indonesia menjadi salah satu negara di dunia yang memiliki kerentanan besar terkait kepunahan bahasa ibu masyarakatnya. Ratusan bahasa ibu masyarakat penduduk Indonesia semakin kehilangan penutur.

13614195171507600957

Sebaran & jumlah bahasa daerah di Indonesia yang beresiko dan terancam punah (sumber : www.endangeredlanguages.com/#/5/-0.742/-229.285/0/100000/0/low/mid/high/unknown)

Lalu adakah bahasa daerah di Indonesia yang sudah tak lagi memiliki penutur alias punah?. Data UNESCO memaparkan ada 12 bahasa daerah di Indonesia yang telah punah yakni Hukumina, Kayeli, Liliali, Mapia, Moksela, Naka’ela, Nila, Palumata, Piru, Tandia, Te’un, Tobada’. Jumlah ini diyakini lebih sedikit dari yang sebenarnya karena ada banyak bahasa daerah yang tidak terdokumentasikan.

Bagaimana dengan bahasa Jawa ?. Penutur bahasa Jawa masih boleh merasa lega karena bahasa Jawa menjadi 1 dari 20 bahasa paling eksis di dunia saat ini. Tapi tak ada artinya eksistensi sebuah bahasa Ibu bagi sebuah bangsa jika di saat yang sama, bahasa-bahasa lainnya menghilang.


1361420089739728911

Sebaran & jumlah bahasa daerah di Indonesia yang hanya menyisakan penutur 1-100 orang (sumber : http://www.unesco.org/culture/languages-atlas/index.php?hl=en&page=atlasmap)

Di samping bahasa-bahasa daerah yang sudah punah, tak kurang ada 47 bahasa daerah di Indonesia yang terancam punah dengan jumlah penutur hanya tersisa 1-100 orang. Bahasa Ibu yang merupakan bahasa lokal Maluku Utara hanya menyisakan 10 penutur di tahun 1997 dan kini patut diduga sudah punah. Sementara Bahasa Longiku (Kalimantan) diketahui hanya memiliki 4 penutur di tahun 2000, Bahasa Lom (Sumatera) menyisakan 10 orang penutur pada tahun 2000. Di Sulawesi bahasa Budong-Budong hanya tinggal dituturkan oleh 50 orang. Sementara bahasa Nusa Laut pada tahun 1987 penuturnya tinggal berjumlah 10 orang. Di Papua Bahasa Mansim atau Borai menyisakan 5 penutur di tahun 2007.  Bahasa Dusner diketahui hanya memiliki penutur berjumlah 20 orang di tahun 2000.

1361419884194154835412 bahasa daerah di Indonesia diyakini telah punah (sumber : http://www.unesco.org/culture/languages-atlas/index.php?hl=en&page=atlasmap).

Tak hanya catatan UNESCO yang menunjukkan betapa rentannya bahasa-bahasa Ibu di Indonesia. Endangered Language Project mengidentifikasi ada banyak bahasa daerah di Indonesia yang terancam kelestariannya. Pulau Bali yang kehidupan masyarakatnya sangat kental dengan budaya ternyata menyimpan bahaya hilangnya salah satu bahasa ibunya. Bahasa Katakolok teridentifikasi sangat terancam punah karena tinggal memiliki 48 penutur di Bali.

Bahasa Enggano di Sumatera dan bahasa Punan Merah di Kalimantan juga mengalami nasib serupa. Sementara di Sulawesi beberapa bahasa seperti Gorontalo, Waru, Bahousai dan Taje memiliki penutur tak lebih dari 500 bahkan beberapa di antaranya tinggal dituturkan oleh 200 orang.

Di wilayah timur, Indonesia perlu segera mengambil tindakan nyata untuk menyelamatkan banyak bahasa daerah. Di Indonesia timur terdapat bahasa Kao penuturnya tinggal berjumlah 400 orang dan bahasa Salas yang sangat terancam punah karena hanya dituturkan oleh 50 orang. Sementara bahasa Loun lebih kritis lagi karena penuturnya diketahui tinggal berjumlah 20 orang. Ketiganya adalah bagian dari belasan bahasa di kepulauan Maluku yang terancam kelestariannya.

13614202971695006876Indonesia Timur memiliki banyak bahasa ibu yang terancam eksistensinya (sumber : www.endangeredlanguages.com/#/5/-0.742/-229.285/0/100000/0/low/mid/high/unknown)

Sementara itu di Papua terdapat banyak bahasa ibu yang terancam punah. Bahasa Duriankere atau Esaro diduga tinggal memiliki penutur berjumlah 30 orang. Sementara Liki tinggal dituturkan oleh 11 orang. Kehu menyisakan 25 penutur dan Iresim 70 penutur. Beberapa bahasa seperti Taworta, Demisa, Burmesu dan Warkay-Bipim meski masih memiliki penutur berjumlah ratusan tetapi dianggap rentang karena kecenderungan masyarakat penuturnya diprediksi terus berkurang.

Lalu apa yang membuat banyak bahasa Ibu kehilangan penuturnya ?. Globalisasi dan pembangunan yang menepikan kearifan lokal diyakini menjadi penyebab terbesar hilangnya suara-suara indah itu. Arus globalisasi mendorong banyak orang mengganti bahasa ibunya dengan bahasa lain yang dianggap lebih kekinian.

Apa yang menimpa beberapa bahasa ibu di Indonesia dan di dunia tak ubahnya seperti ancaman eksistensi yang dialami oleh Bahasa Indonesia saat ini. Atas nama globalisasi banyak manusia Indonesia mengganti begitu saja bahasanya dengan bahasa Internasional. Di sisi lain Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan kerap dipaksakan sebagai bahasa yang harus dituturkan sehari-hari oleh masyarakat di seluruh penjuru negeri hingga diam-diam menyingkirkan bahasa-bahasa daerah.

“Kreativitas” generasi muda saat ini dalam membentuk bahasanya sendiri ditambah gegar budaya membuat mereka secara tak sadar membunuh bahasanya sendiri. Mereka yang gemar mengutip dan menuturkan bahasa-bahasa Korea misalnya, disadari atau tidak sedang menghajar bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa ibu nusantara lainnya. Tanpa disadari mereka sedang membunuh jati dirinya sendiri. Keprihatinan ini bertambah jika mengingat pemerintah yang seharusnya memiliki daya justru gamang dan kerap kehilangan orientasi dalam pembangunan budaya.

Memang bukan hanya Indonesia yang kehilangan dan mungkin akan terus kehilangan banyak bahasa ibunya. Hampir seluruh negara memiliki masalah serupa. Tapi di Indonesia dari setiap bahasa yang punah kita tak hanya kehilangan suara-suara indah. Indonesia akan mengalami kerugian dan kehilangan yang lebih besar karena punahnya bahasa daerah turut membawa musnah segala warisan budaya, nilai-nilai kemanusian dan ilmu pengetahuan. Hilangnya bahasa daerah tak hanya akan membuat Indonesia kehilangan cerita tentang asal-usulnya tapi juga membuat generasi-generasi selanjutnya tak mewarisi jati diri Indonesia.

Pada dasarnya kehilangan bahasa daerah sama artinya dengan kehilangan spesies-spesies yang ada di bumi. Punahnya bahasa membuat kita akan kehilangan banyak cerita indah tentang dunia.

Hal yang menyedihkan ketika ada orang Indonesia yang harus menempuh pendidikan lanjut tentang bahasa Jawa dan Maluku lalu ia harus terbang ke Belanda untuk bisa memahami sejarah bahasa ibunya sendiri. Sayapun kerap bercermin pada diri sendiri. Saya memang masih kerap menggunakan bahasa ibu dalam percakapan sehari-hari. Saya memang masih fasih berbahasa Jawa, tapi jika harus berdiskusi dengan para orang tua Jawa, saya lebih sering terdiam tak bersuara.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Bank Papua, Sponsor Tunggal ISL Musim Depan …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Seminggu di Makassar yang Tak Terlupakan …

Annisa Nurul Koesma... | 8 jam lalu

Robohkah Surau Kami Karena Harga BBM Naik? …

Arnold Mamesah | 9 jam lalu

Sahabat Hati …

Siti Nur Hasanah | 9 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: