Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

William Mamudi

Saya seorang pakar pendidikan, tetapi saya sendiri masih harus belajar banyak tentang kehidupan. Ernest Hemingway pernah selengkapnya

Orang Amerika Berbahasa Inggris?

OPINI | 08 February 2013 | 14:17 Dibaca: 824   Komentar: 0   0

Banyak orang yang berpikir otomatis bahwa Amerika (dan tentunya Inggris Raya, tapi posting kali ini fokus ke Amerika saja) adalah kiblatnya bahasa Inggris dunia. Jangankan bahasa Inggris standar resmi macam TOEFL, bahasa Inggris awam yang penuh bahasa gaul ala rapper saja sangat dipengaruhi oleh American pop culture.

Akan tetapi, sebenarnya bahasa Inggris ala America (American English) itu bahasa Inggris yang seperti apa? Pengalaman penulis, orang Amerika sendiri bahasa Inggrisnya sangat beraneka ragam. Ada logat Midwest, Brooklyn, Southern, dan lain sebagainya. Lebih celaka lagi, orang Amerika ada juga yang tidak begitu toleran jika bahasa Inggris yang kita pergunakan dalam percakapan sehari2 tidak begitu umum dengan logat yang mereka pergunakan. Jangankan orang India yang logat Hindinya cukup kental dalam percakapan, teman saya yang perempuan berkulit putih asli kelahiran Ontario-Canada juga pernah mendapatkan pengalaman kurang mengenakkan sebagai asdos di salah satu perguruan tinggi Amerika. Logat Canadian English-nya ternyata dikritik anak didiknya sendiri karena tidak dianggap cukup jelas untuk telinga orang Amerika!

Yang lebih konyol lagi adalah kampanye ‘English-only movement’ bagi para imigran di Amerika Serikat. Amerika sebagai suatu bangsa ternyata kalah langkah dibandingkan Indonesia. Jika di Indonesia kita sudah secara resmi memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan dijamin oleh konstitusi UUD’45, Amerika tidak pernah secara tersurat mengakui bahasa Inggris sebagai bahasa nasional mereka. Hal ini ternyata menjadi masalah pada abad ke-21 karena ada banyak sekali influx imigran dari Amerika Latin yang tetap mengusung bahasa Spanyol sebagai bahasa percakapan sehari2, sehingga bahasa Inggris otomatis tersingkir dari tempat2 publik. Hal ini terlihat jelas untuk negara2 bagian Southern yang berbatasan langsung dengan Meksiko dan kawasan Karibia, dan memicu perdebatan sengit sampai ketika blog ini ditulis. Apakah Amerika harus secara tersurat mencantumkan bahasa Inggris sebagai bahasa nasional mereka? Ataukah Amerika mengakui saja bahasa Spanyol sebagai salah satu bahasa resmi negara mereka? Yang jelas para politikus Amerika saja tidak sependapat dalam menanggapi isu bahasa Inggris ini. Kaum republik umumnya berusaha merangkul gerakan satu bahasa nasional yaitu bahasa Inggris karena basis pendukung mereka relatif dominan dari kaum WASP (White Anglo Saxon Protestant) tradisional, sedangkan kaum demokrat cenderung lebih toleran akan isu bahasa ini karena basis pendukung mereka cukup kuat dari kaum Hispanik.

Namun kembali kepada topik di atas, penulis pribadi berpendapat bahwa secara de facto memang benar bahasa Inggris akan tetap dominan bagi orang Amerika baik sekarang dan setidaknya untuk beberapa dekade ke depan. Akan tetapi, kita juga tidak perlu berkecil hati jika ternyata logat kita tidaklah benar2 sesuai dengan logat orang Amerika. Yang lebih penting disini adalah agar kita bisa beradaptasi secara fleksibel. Jika memang kita berada di komunitas orang Midwest, tidak ada salahnya kita menyesuaikan logat kita dengan logat Midwest. Begitu pula jika ternyata tinggal di daerah Brooklyn, ya silakan menyesuaikan diri dengan logat Brooklyn yang khas. Dan jika kita ternyata tinggal di komunitas Hispanik di Southern State, tentunya tidak ada salahnya menggunakan bahasa Inggris logat Southern dan sekaligus belajar bahasa Spanyol agar bisa berinteraksi dengan orang2 dari Amerika Latin. Point saya disini adalah American English yang benar2 standar dalam percakapan sehari2 sebenarnya tidak ada. Akan lebih baik jika kita fokus beradaptasi dengan logat yang umum dipergunakan ketika berada di kawasan tertentu di Amerika, apa lagi jika kita memang akan menetap di kawasan tersebut dalam jangka waktu cukup lama.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Bertualang dalam Lukisan Affandi …

Yasmin Shabrina | | 25 October 2014 | 07:50

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 5 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 10 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 11 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 11 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | 8 jam lalu

Takut Pada Presiden Jokowi, Malaysia Bongkar …

Febrialdi | 8 jam lalu

Melihat dari Film II …

Nilam Sari Halimah | 8 jam lalu

Cara Efektif Menghafal …

Masykur | 8 jam lalu

Sembilu Cinta …

Christian Kelvianto | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: