Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Intan Pradita

linguistic phenomena hunter

Tahapan Pemerolehan dan Pembelajaran Bahasa Pada Anak-anak

OPINI | 07 February 2013 | 01:36 Dibaca: 2433   Komentar: 0   1

Perkembangan berbahasa pada anak-anak merupakan fenomena yang sangat menarik untuk di telaah. Banyak peneliti berlomba-lomba untuk menemukan bagaimana sebenarnya proses seorang individu mampu mengembangkan alat artikulasi sejak bayi hingga dewasa.

Ketika masih bayi, dengan menggunakan alat artikulasi yang masih terbatas, komunikasi antar bayi dan ibu sudah berjalan. Hingga bayi tersebut dewasa dan telah mampu untuk mengolah kata-kata menjadi satu sekuen yang terstruktur, pun tidak lepas dari apa yang telah di perolehnya saat masih bayi. Seiring dengan banyaknya temuan bahwa kemampuan berujar atau berkomunikasi dapat dilatih sejak kecil, semakin banyak pula anak-anak atau balita yang telah mampu berbicara dalam dua bahasa, bahkan ada dalam lebih dari dua bahasa.

Dalam konteks tertentu, hal ini sangat meresahkan jika ditilik dari proses pembelajaran bahasa kedua pada orang dewasa justru berjalan lamban. Proses apakah yang terjadi sehingga pemerolehan bahasa justru sangat efektif pada usia belia di banding pada usia dewasa.

Dalam makalah ini, penulis memberikan ringkasan tentang proses pemerolehan bahasa pada anak-anak, baik bahasa pertama dan kedua, dari referensi Psycholinguistics: Language, Mind, and World. Apa yang terjadi dalam alat artikulasi anak-anak, kemudian bunyi-bunyi apa saja yang di hasilkan dari alat artikulasi tersebut berdasarkan usia dan stimuli dari luar. Pada pembahasan selanjutnya, dijelaskan bahwa alat artikulasi dan hasil bunyi-bunyi tersebut berpengaruh besar terhadap perkembangan kognitif. Hubungan kesemuanya dipengaruhi oleh keterlibatan orang tua di dalamnya.
Pada akhirnya, akan kita temukan, pola asuh orang tua yang mana yang sesuai untuk mengembangkan kemampuan ujaran anak-anak.

B. Perkembangan Produksi Ujaran pada Anak-anak

Dalam perkembangan produksi ujaran pada anak-anak, terdapat beberapa tahapan yang dilalui. Vocalization, Babbling  sampai Speech

a. Vocalization to Babbling

Sebelum memproduksi ujaran, seorang bayi membuat suara-suara (Vocalizing) seperti saat dia menangis dan berdeguk. Pada  usia yang sama, semua bayi akan mengalami tahapan ini baik bayi normal maupun bayi tuna rungu (Lenneberg, Rebelsky, & Nichols, 1965). Dapat disimpulkan bahwa pada tahap ini, kemampuan bayi untuk berdeguk bukanlah suatu proses yang dipelajari namun terjadi secara natural.

Menginjak usia tujuh bulan, kebanyakan anak-anak mulai berceloteh (babbling), untuk memproduksi yang di sebut sebagai pengulangan silabi (syllabic reduplication) seperti misalnya: ‘baba’,’gigi’,’panpan’. Kebanyakan silabi yang diproduksi dapat dirumuskan sebagai berikut,   Konsonan dasar (basic consonant) + Vokal (vowel) + Variasi konsonan (consonant variety).   Rumusan semacam ini dapat di generalisasikan untuk semua jenis bahasa di dunia. Adapun penggunaan variasi konsonan tidak selalu di pakai dalam produksi celotehan (babbling). Adapun pengecualian adalah pada silabi yang hanya ada atau dipakai di negara atau wilayah tertentu. Seperti contoh silabi ‘th’ pada ‘thought’ dan ‘the’ di negara Inggris, silabi ‘na’ atau ‘ngga’ di wilayah Jawa, dan penggunaan silabi bahasa ‘clicque’ pada suku pedalaman Afrika. Vokalisasi berpengaruh terhadap karakter ujaran.

Pada usia 6 bulan, bayi dari komunitas bahasa yang berbeda mulai mampu memproduksi suara yang intonasinya sesuai dengan bahasa yang dipelajari atau yang sering di dengarkan kepadanya ( Tonkova-Yampol’skaya,1969; Nakazima,1962; Lieberman,1967 ). Seorang native speaker Inggris akan mampu mengindikasikan celotehan bayi yg diperdengarkan bahasa Inggris dan yang tidak. Adapun perkembangan kemampuan berbahasa pada anak tuna rungu, mereka dapat melakukan vokalisasi (vocalization) namun tidak bisa sampai pada tahap celoteh (babbling). Pada tahap babbling anak tuna rungu cenderung berkomunikasi dengan menggunakan sign language yaitu dengan tangan mereka.
b. Babbling to Speech

Pada bagian ini, ditunjukkan bahwa ada pertanyaan besar apakah babbling mempengaruhi speech dan apakah speech yang di produksi anak-anak merupakan tahap lanjutan dari babbling atau terjadi dengan sendirinya.  Ada beberapa penelitian yang menunjukkan adanya kesinambungan, namun justru lebih banyak yang menunjukkan bahwa tidak ada kesinambungan antara dua hal tersebut. ð Penelitian Oller dan Eilers (1982) Penelitian ini menemukan bahwa huruf vokal (vowel) yang sering diproduksi pada tahapan babbling akan sangat berhubungan dengan frekuensi munculnya huruf vokal (vowel) pada bahasa asal (native language) bayi saja, namun tidak berhubungan dengan produksi ujaran bermakna (meaningful speech) anak-anak. ð Penelitian Stoel-Gammon dan Cooper (1984) dan Kent dan Bauer (1985) Penelitian ini menemukan bahwa celotehan tahap lanjut (advanced babbling) adalah tahap awal dari kombinasi konsonan + vokal yang berlanjut pada ujaran bermakna (meaningful speech). Kedua penelitian ini kemudian ditengahi oleh konsep intentional dan non-intentional vocalization yang dijelaskan oleh Jesperson (1933). Penjelasan ini memberikan keterangan yang lebih komprehensif bahwa celotehan (babbling) bukanlah ujaran yang bermakna.

Non-Intentional vocalization Intentional vocalization Terjadi ketika suara yang diproduksi tidak di bawah kontrol kognisi pusat. Suara yang diujarkan secara sengaja dihubungkan dengan objek dan kebutuhan tertentu. Bayi tidak pernah secara sadar memproduksi celotehan. Celotehan terjadi hanya sebagai indikasi bahwa proses organ artikulasi anak sudah beroperasi. Dalam proses produksi ujaran, anak-anak akan berpikir untuk menggunakan organ artikulator yang mana. Misalnya untuk mengucapkan people maka organ yang harus digunakan bibir dan lidah.

c. Acquisition Order of consonants and vowels

Pada bagian ini terdapat penjelasan tentang konsonan dan vokal apa yang di produksi pertama kali oleh anak-anak, dan bagaimana urutannya. Pada dasarnya ketika anak-anak sudah dapat memproduksi ujaran bermakna, terdapat dua hal yang mendominasi proses perkembangan bahasa anak. Yaitu visibility of articulator  dan ease of articulation. Hal ini terjadi ketika anak-anak mengalami perkembangan produksi ujaran bermakna, mereka cenderung lebih mendengarkan apa yang diucapkan orang-orang di sekitar mereka. Selanjutnya mereka akan meniru ucapan tersebut.

Dalam proses meniru ujaran ini, anak-anak akan mengaktifkan organn artikulasi mereka. Karena bibir dan mulut merupakan organ artikulasi yang paling mudah terlihat, maka konsonan yang pertama kali di produksi biasanya berupa bunyi labial seperti, /p/, /b/, /m/. Konsonan yang berupa stop /k/ dan /g/ serta konsonan frikativ /s/ dan /z/ akan muncul kemudian. Dalam perkembangan produksi konsonan, anak-anak cenderung mungucapkan /a/ pertama kali karena suara yang diproduksi paling dekat dengan posisi resting articulation. Vokal terdapat pada kata-kata misalnya, watch, fun, dan sejenisnya. Sedangkan vokal /i/ yang lebih tense akan di produksi kemudian.

Tahapan awal ujaran: Naming, Holophrastic, Telegraphic, Morphemic.

a. Menamai: ujaran satu kata

Anak-anak dapat dikatakan sudah mempelajari bahasa pertama ketika: ð Mereka mampu memproduksi ujaran yang bisa di pahami. ð Ketika memproduksi ujaran tersebut anak-anak dapat mengubungkannya dengan objek atau keadaan pada lingkungan di sekitarnya. Ujaran yang diproduksi mungkin saja belum sempurna, misalnya “pak” untuk kata “bapak”. Namun jika ujaran tersebut digunakan pada situasi yang tepat maka dapat disimpulkan bahwa anak-anak sudah belajar kata pada bahasa pertamanya.

Anak-anak belajar bahasa pertama biasanya pada usia 4 bulan sampai 18 bulan, kebanyakan pada umur 10 bulan. Usia anak belajar bahasa pertamanya, dipengaruhi oleh beberapa faktor. Diantaranya: ð Otot mulut yang sangat berperan terhadap memproduksi suara yang benar ð Perkembangan otak juga berpengaruh pada produksi suara ujaran, yaitu di bagian cerebral cortex. Contoh penamaan objek bagi anak-anak adalah sebagai berikut: ð Ketika anak-anak menyebut kata mama ketika ibunya datang atau masuk ke kamar si anak, ð Ketika anak-anak mengatakan “bye-bye” atau “dada” ketika akan pergi. ð Ketika anak-anak mengatakan “wow-wow” ketika dia melihat anjing. Namun demikian bisa juga terjadi generalisasi pada proses penamaan.

b. Fungsi holofrastik: ujaran satu kata

Pada bagian ini dijelaskan tentang bagaimana satu kata yang diujarkan anak-anak dapat memiliki banyak arti. Misalnya ketika ada seorang anak hilang di pusat perbelanjaan, maka anak tersebut akan berteriak “mama” sambil menangis keras-keras. Pada konteks ini, ujaran anak tersebut bisa dimaknai sebagai “mana mamaku?” atau “aku ingin mama”. Namun berbeda ketika anak tersebut berujar “mama” ketika melihat sepatu yang mirip seperti sepatu ibunya. Maka ujaran “mama” bisa dimaknai “Itu sepatu mama”. Menurut Greenfield & Smith (1976), Bloom (1973), Scollon (1976), anak-anak dapat mengekspresikan jenis variasi fungsi semantik dan ide kompleks hanya dengan menggunakan satu kata. Holophrastic sendiri berasal dari kata holo  yang berarti whole atau seluruh dan kata phras yang berarti frase atau kalimat. Oleh karenanya orang dewasa dapat memaknai satu kata yang diujarkan anak-anak sebagai satu kalimat utuh. Terdapat beberapa hal yang membantu orang dewasa untuk memahami ujaran anak-anak, yaitu: ð Memahami karakter si anak tersebut ð Mengetahui apa yang dilakukan anak tersebut sebelum memproduksi ujaran tertentu ð Memperhatikan elemen yang ada di situasi ketika anak memproduksi ujaran. Misalnya benda, orang, gambar, dan lainnya.

Meskipun telah dijelaskan beberapa tips untuk memaknai bahasa anak,  interpretasi dan pemaknaan yang salah pun juga sering terjadi, baik pada orang tua dan anak, maupun pada anak dengan orang dewasa lainnya. Namun demikian, hal ini tidaklah selalu memberikan dampak negatif. Justru dengan terjadinya salah interpretasi, anak-anak akan terdorong untuk menjelaskan apa yang dimaksudkannya.

c. Ujaran tulis: ujaran dua-tiga kata

Pada usia 2 tahun atau lebih , anak-anak sudah mampu memproduksi ujaran dengan dua kata atau lebih. Pada tahap ini pemaknaan secara semantik mulai digunakan. Ujaran anak berdasarkan pemaknaan semantik dibagi menjadi tiga, yaitu: ð Variasi tujuan dan hubungan semantik Variasi tujuan anak berujar adalah untuk meminta, mengingatkan, menamai, menolak, bertanya, menjawab, memberitahu dan pamer. Sedangkan contoh dari hubungan semantik adalah hubungan dan konsep dari agen, tindakan, experiencer, receiver, pernyataan, objek, kepemilikan, lokasi, atribut, persamaan, penolakan, dan penghitungan (quantification).
Beberapa contohnya antara lain: Ujaran anak dan ujaran orang dewasa, serta Variasi Tujuan Hubungan semantik. ” Want cookie “-”I want a cookie” meminta. Experiencer-state-object “Daddy run”-” Daddy is running” memberitahu. Agent-action “Mommy chair”-” This is chair belongs to Mommy” menjawab.

Possession   ð Low incidence fungsi kata

Contoh dari low incidence adalah articles,  preposisi dan kopula “be”. Pada ujaran anak, beberapa contohnya antara lain “to John”, “with Marry”, “dengan Ibu”, “untuk Ayah”, “boneka dan permen”. Hal ini terjadi bukan karena ank-anak sengaja menghilangkan fungsi sebagian kata.

Disebut sebagai bahasa telegram karena ketika kita (orang dewasa) menulis telegram hanya menyertakan dua sampai tiga kata.   ð Perkiraan yang mendekati urutan kata bahasa (language’s word order) Tahapan akhir pada produksi ujaran dua kata atau lebih adalah susunan kata untuk membentuk kalimat utuh.

Pada anak Inggris, untuk mengatakan cangkir saya, mereka akan mengatakan “my cup”  bukannya “cup my”. Begitu juga pada anak Indonesia yang cenderung mengatakan “cangkir saya” bukan “saya cangkir”. Pada saat memproduksi ujaran seperti inilah anak-anak sudah belajar mengurutkan kata, yang secara tidak langsung anak belajar tentang penggunaan tata bahasa (grammar).

Analisis Sintaktik vs Analisis Semantik Pembelajaran bahasa anak mulai diteliti pada thau 1960an yang lebih fokus pada sintaksis, bukannya semantik. Hal ini dikarenakan pada saat itu Teori Sintaksis Chomsky adalah satu-satunya yang dijadikan landasan analisis. Namun demikian analisis sintaktik tidaklah cukup untuk menguak informasi penting pada ujaran anak. Pada penjelasan sebelumnya, analisis semantik sangat berguna untuk menentukan apakah anak sedang berusaha bertanya, memberitahu, atau menolak.

Oleh karenanya, pada tahun 1960 analisis semantik terhdap ujaran anak mulai berkembang pesat melalui Teori Generative Semantics dan Teori Semantic Cases dari Fillmore.

d. Morpheme acquisition Terdapat tiga jenis urutan akuisisi menurut Steinberg, yaitu:

ð  Ease of observability of referent Optimalisasi daya pengamatan anak terhadap benda atau objek di sekitarnya akan mempermudah dan mempengaruhi produksi suara anak-anak. Misalnya “makan nasi”, “lihat kucing”, “main ikan”. Terutama ketika pengamatan tersebut dilakukan pada saat kejadian berlangsung (on-going situation).

ð Meaningfulness of referent Referen atau benda yang disukai anak-anak, dengan kata lain yang menarik dan berarti (meaningful) baginya, akan mempercepat produksi ujaran anak. Contohnya, ketika anak suka dengan bola maka untuk memproduksi ujaran dengan kata bola akan semakin mudah.

ð Distinctiveness of sound in signalling the referent Perbedaan pengucapan suara pada sebuah kata akan mempermudah anak untuk mengidentifikasi kata tersebut dalam morpheme yang mana. Semakin jelas perbedaan pengucapan, maka semakin mudah anak mengidentifikasi sinyal morpheme. Contohnya pada Uncontractible Copula seperti What is it akan lebih mudah dipahami dari pada Contractible Auxilary seperti Marry’s playing.

Penjelasan terhadap urutan produksi dan pemahaman morpheme. ð Mengapa Progressive dan Preposition “in” dan “on” dipelajari pertama kali? Hal ini terjadi karena dua hal, Yang pertama adalah karena preposisi “in” dan “on” biasanya menyatukan dua benda kongkrit  misalnya “doll in a box” atau “books on the table”. Dalam bahasa Indonesia, misalnya seperti “kucing di kasur” atau “Barbie di lantai”. Alasan kedua adalah benda yang di hubungkan dengan preposisi tersebut berupa benda yang utuh sehingga memudahkan anak untuk mengamatinya.

Mengapa kalimat jamak dan kepemilikan muncul lebih dahulu dibanding dengan orang ketiga? Pola kata jamak dalam bahasa Inggris cukup dengan menambahkan /s/ di akhir kata, misalnya books, cats. Sedangkan pada bahasa Indonesia perlu adanya pengulangan atau penambahan kata para  di depan kata yang akan dijamakkan. Misalnya buku-buku, kucing-kucing, para hadirin, dan sebagainya. Pola seperti ini memudahkan anak untuk membedakan berapa jumlah benda yang diamatinya. Sehingga kata jamak lebih dahulu muncul. Pola kata kepemilikan dengan penambahan apostrop dan /s/ memudahkan anak untuk membedakan benda miliknya dan benda milik temannya.

Seperti contoh “kucing saya” dan “kucing kamu”. Sedangkan pola kata yang menggunakan orang ketiga memang lebih sulit sehingga munculnya terakhir. Hal ini dikarenakan orang ketiga selalu bersifat abstrak, sehingga anak-anak masih sulit untuk membayangkan. Seperti yang telah dijelaskan di awal bahwa anak-anak cenderung mengamati dan bukan membayangkan.

ð Mengapa Past Irregular  lebih dahulu muncul dibanding dengan Past Regular?

Hal ini terjadi karena tiga hal. Yang pertama adalah karena past irregular lebih sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.  Kedua, kata tersebut cenderung dianggap penting dalam kehidupan sehari-hari. Dan yang terakhir adalah karena kata tersebut tidak mengandung unsur peraturan seperti halnya pada past regular verbs yang memberlakukan peraturan yaitu V1+d/ed.

Tahapan lanjut ujaran: Rule Formation for Ngeatives, Questions, Relative Clauses, Passives, dan Complex Structures lainnya.

Dalam pembentukan kata negatif anak-anak pada awalnya akan memproduksi kata menggunakan pola NO + V1 misalnya “No Sleeping”, “No milk”. Pada tahap selanjutnya anak sudah bisa menggunakan kata do not  atau don’t. Dalam pembentukan kalimat tanya, seperti yang diketahui bersama bahwa terdapat dua jenis kalimat tanya, yaitu Yes/No  dan WH-Questions.

Pada urutannya, kalimat tanya yes/no cenderung diproduksi lebih awal dikarenakan polanya yang sederhana sekaligus memuat cara jawab yang mudah. Kalimat pasif diproduksi secara benar dan bulat oleh anak-anak Inggris pada usia 13 tahun! Hal ini dikarenakan anak-anak sudah terbiasa untuk menggunakan kalimat aktif dengan struktur yang kompleks dalam kehidupan sehari hari.

C. Perkembangan Pemahaman Ujaran
Dalam kaitannya dengan perkembangan pemahaman ujaran, sejak masih dalam kandungan ternyata bayi sudah mulai terstimulasi oleh suara yang disalurkan melalui cairan yang terdapat pada fetus ibu. Hal ini di buktikan dari penelitian beberapa ahli. Ketika baru saja lahir, bayi sudah bisa memahami bahasa yang di tuturkan orang dari luar berdasarkan bahasa yang di ujarkan oleh ibunya. Misalnya ibunya sering berujar dalam bahasa Inggris maka bayi hanya akan mendengarkan orang yang berbahasa Inggris saja.

Penggunaan bahasa lain cenderung tidak di dengarkan oleh bayi. Suara ibu yang didengar bayi melalui sistem vibrasi yang sdisalurkan ke telinga bayi melalui membran sel. Dalam kaitannya dengan produksi suara pada anak yang mengalami cacat otak, maka proses produksi suara bukanlah berupa suara yang bisa di dengar namun lebih cenderung ke bahasa tulis. Oleh karenanya, dapat dikatakan anak tersebut memahami bahasa melalui perkembangan tata bahasa dan mental grammar based on speech comprehension yang kemudian membuat mereka mampu memahami bacaan dan bahkan menulis bacaaan.

Sedangkan produksi suara pada anak normal, tentu saja proses tersebut jauh lebih meningkat dibanding anak yang cacar otak. Sistem produksi dan sistem pemahaman tidak berlangsung secara terpisah, sehingga lebih banyak produksi suara yang dihasilkan baik berupa lisan maupun tulisan. Untuk mengukur perkembangan pemahaman ujaran, dapat digunakan dua cara, yaitu tingkat produksi ujaran dan tingkat pemahaman ujaran. Pada saat ini sedang di kembangkan sistem pengukuran tingkat pemahaman ujaran meskipun lebih sulit daripada sistem produksi ujaran.

D. Hubungan Produksi Ujaran, Pemahaman Ujaran, dan Pemikiran

Produksi ujaran dan pemahaman ujaran saling mempengaruhi satu sama lain. Yaitu peranan penting pemahaman ujaran yang nantinya mampu membuat anak memproduksi ujaran. Dengan kata lain, semakin anak bisa memahami ujaran di sekitarnya, akan semakin banyak pula produksi ujarannya. Namun demikian, pada bagian sebelumnya teori ini tidak terjadi.

Pada anak-anak yang mengalami cacat otak, mereka tidak bisa mendengar bahkan ada pula yang tidak bisa melihat, bisa dikatakan mereka tidak memiliki pemahaman ujaran yang baik. Namun demikian, produksi ujaran mereka justru sangat baik. Oleh karenanya, hubungan produksi ujaran dan pemahaman ujaran adalah pada dua hal.

Pertama seorang anak harus pertama kali mendengarkan suara ujaran sebelum dia dapat memproduksi ujaran. Kedua sembari mendengarkan suara ujaran, anak harus melihat objek dan situasi di sekelilingnya, sehingga produksi ujaran akan maksimal. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa pemahaman ujaran tidaklah semata dengan mendengar tetapi juga melihat keadaan sekitar. Itulah mengapa anak yang cacat otak pun tetap bisa memproduksi ujaran.

Sedangkan kaitannya dengan pemikiran, perlu kita pahami bahwa bahasa merupakan sebuah sistem yang mengizinkan kita menamai pikiran kita melalui produksi suara yang memungkinkan kita berkomunikasi satu sama lain. Pikiran, merupakan bahasa independen, termasuk di dalamnya ide, emosi, perasaan dan lainnya. Pikiran merupakan dasar untuk memahami ujaran yang kemudian mendukung produksi ujaran.

E. Parentese dan Baby Talk Parentese adalah ujaran pendek yang diperoleh anak-anak ketika mereka masih kecil. Terdapat beberapa istilah untuk parentese seperti motherese, caregiver speech, Adult-to-Child Language (ACL) dan Chil-Direted Speech. Hal ini menunjukkan bahwa anak dapat memperoleh input ujaran dari mana saja. Bukan hanya dari orang tua, tetapi juga dari saudara, teman, dan saudara kandung.

Karakteristik parentese antara lain:
ð Immediacy dan correctness (kata-kata diberikan pada saat itu juga / immediacy dan kata tersebut haruslah benar (correct) agar anak nantinya memproduksi kata yang benar.
ð Input kata dan kalimat sesuai dengan tata bahasa
ð Kalimat pendek dan struktur sederhana ð Kosakatanya sederhana dan pendek ð Intonasinya dilebih-lebihkan dan diucapkan pada tempo lambat. Kadang terjadi pengulangan dari apa yang dikatakan anak.
ð Anak-anak yang lebih besar ternyata juga menggunakan parentese ketika berkomunikasi dengan anak yang lebih kecil darinya.
ð Meskipun parentese dilakukan oleh orang dewasa, namun parentese yang di ujarkan ayah memiliki ciri yang berbeda dari yang lain.

Ayah cenderung menantikan anaknya memulai pembicaraan lebih dulu, ayah juga lebih mengggunakan kata perintah dan kata pengarahan, selain itu ayah juga lebih suka menggunakan kosa kata yang lebih sulit.

Baby Talk adalah kata yang diperoleh anak-anak saat masih kecil namun dalam pola yang terlalu disederhanakan dan di kurangi. Contoh dari Baby Talk antara lain pada penggunaan kosa kata, anak-anak cenderung memproduksi kata yang onomatopik seperti “choo choo”  untuk menirukan suara kereta api, “wow wow” untuk menirukan suara anjing, dan sebagainya.

Selain penggunaan kosa kata, baby talk  juga melibatkan unsur sintaksis di dalamnya. Namun, penggunaan sintaksis di sini dalam pola yang lebih sederhana, misalnya “Mommy gives Tony an apple”  daripada menggunakan “I give you an apple”. Dalam bahasa Indonesia misalnya, ibu cenderung berujar “Apel buat Lintang”  bukannya “Ini apel untuk Lintang”. Pengaruh penggunaan parentese dan baby talk dalam pembelajaran bahasa berguna ketika anak-anak tesebut masih kecil.

Selain itu efek dari penggunaan parentese dan baby talk  bergantung pada interaksi orang tua dan anaknya. Selama si anak mendapatkan input bahasa yang secara langsung bisa diamati di lingkungan sekitarnya, maka kecerdasan kognitifnya akan semakin berkembang. Disinilah parentese  dan baby talk sangat berperan.

F. Kesimpulan

Dalam proses pemerolehan bahasa sampai produksi bahasa terdapat beberapa hal yang dapat menjadi pertimbangan kita, yaitu: 1. Vokalisasi pada anak berpengaruh kepada karakter bahasa yang diperoleh sejak lahir. 2. Celotehan anak merupakan proses bawah sadar sehingga tidak berpengaruh secara langsung dalam produksi ujaran. 3. Pada proses produksi suara, anak-anak cenderung lebih dulu memproduksi kata jamak, kata kepemilikan, preposisi “di”, dan pada anak Inggris terdapat “irregular verbs” yang diproduksi lebih awal. 4. Proses pemahaman bahasa ternyata sudah terjadi sejak bayi masih dalam kandungan. 5. Proses pemahaman ujaran selalu mendahului proses produksi ujaran. Proses ini akan lebih baik jika dilakukan pada saat itu juga, sehingga anak-anak dapat langsung mengamati benda atau situasi di sekitarnya. Oleh karenanya, parentese dan baby talk  menjadi suatu cara yang efektif untuk mengoptimalkan kognisi anak dan produksi ujaran anak.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Ratu Atut [Hanya] Divonis 4 Tahun Penjara! …

Mike Reyssent | 9 jam lalu

Benarkah Soimah Walk Out di IMB Akibat …

Teguh Hariawan | 10 jam lalu

Kisah Nyata “Orang Vietnam Jadi …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

Pak Jokowi, Saya Jenuh Bernegara …

Felix | 15 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

V2 a.k.a Voynich Virus (Part 21) …

Ando Ajo | 9 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 10 jam lalu

Pemuda Solusi Terbaik Bangsa …

Novri Naldi | 11 jam lalu

Rasa Yang Dipergilirkan …

Den Bhaghoese | 11 jam lalu

Kisah Rhoma Irama “Penjaga …

Asep Rizal | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: