Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Gaganawati

Wanita Indonesia di Jerman, ibu rumah tangga, 3 anak; menanam kebaikan saja tidak cukup, teruslah selengkapnya

Hore, Jawa Tengah Tetap Melestarikan Bahasa Jawa!

OPINI | 31 January 2013 | 15:22 Dibaca: 1057   Komentar: 0   6

Saat kanak-kanak, majalah berbahasa Indonsia seperti Intisari, Bobo, Ananda dan Kuncung sudah tak asing lagi bagi saya. Begitu pula dengan Panjebar Semangat dan Jayabaya yang berbahasa Jawa.

Jawa Tengah saya yakini memiliki pusat budaya Jawa yang adiluhung, yakni Surakarta Hadiningrat (Solo) yang memiliki riwayat segaris dengan Ngayogjakarta Hadiningrat (Jogja) milik DI Yogya. Semarang sebagai ibu kota Jawa Tengah ternyata tak mau kalah untuk menunjukkan eksistensi bahasa daerah yang patut dilestarikan itu. Meskipun Semarang ada di daerah pesisir dengan bahasa Jawa yang agak kasar dibanding kedua kota yang saya sebut sebelumnya.

Yup. Sebuah majalah berbahasa Jawa, terbit di Semarang, tepat pada tanggal 10 Oktober 2012. Pasarannya Pahing! Tak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik. Mari menulis artikel berbahasa Jawa ….

1359620058945252281

Semoga lestari majalah berbahasa Jawa ini ….

***

Seperti biasa, seminggu barang 1-3 kali saya menelepon orang tua di tanah air, menanyakan kabar, menjalin komunikasi dan berbagi cerita, meski jauh di mata dekat di hati. Dalam percakapan itu, ibunda berpesan bahwa beliau telah mengirimkan tiga buah majalah Blakasuta (red: transparan, terus terang, tembus), berbahasa Jawa. Pesan ibuk, “Nulisa ning kana … isih eling basa Jawa, tho?“ (red: ayo, menulis artikel berbahasa Jawa di majalah ini, bukankah kamu masih ingat bahasa Jawa?) dan ditambahi bapak “Kowe seneng nulis tho? Terusna … apik kuwi.” (red: Kamu suka menulis, bukan? Diteruskan hobi yang baik itu.”).

Saya tertawa. Haduh, mungkin saja bahasa Jawa saya campur aduk; bahasa Jawa, bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa Jerman lantaran bahasa Jawa bukan lagi bahasa sehari-hari seperti dulu lagi. Tapi tak pernah ada kata takut atau malu untuk mencoba ….

13596201081014736947

Lumayan buat koleksi perangko, nuwun, kanjeng ibu ….

Saya pandangi amplop coklat yang ditempeli perangko ting crentel (red: banyak sekali). Wow. Totalnya Rp 100.000 untuk tiga buah majalah dan selembar surat (berat 400 gram saja)??? Indonesia mahal amat, sih? Untuk surat ukuran P x L x T = 90 dengan berat 500 gram biasa dihargai 3 euroan (Rp. 40.000 an) di Jerman sedangkan paket 2 kg dengan ukuran yang sama hanya 16 euro. Masing-masing memiliki waktu tempuh 3 minggu, kok, dan dijamin tidak didudah (red: dibuka dan dibungkus ulang) seperti di tanah air.

***

Apa nama majalah berbahasa daerah di tempat kawan-kawan Kompasianer? Yang berbahasa Sunda, berbahasa Betawi, berbahasa Bali, berbahasa batak dan bahasa daerah lainnya???

Arghhhh …. Saya buka-buka dan baca majalah bernama Blakasuta dari Semarang, Jateng itu. Covernya termasuk menarik, dengan kertas mengkilat cling. Halaman pertama diisi purwawacana (red: prakata dari redaksi). Selanjutnya majalah diisi dengan berbagai rubrik seperti maneka warta (red: aneka berita), ekspresine guru (red: opini para guru yang kebanyakan guru bahasa Jawa di sekolah), budi pekerti, pawartos utami (red: berita utama), empon-empon (red: apotik hidup Jawa), warisane simbah (red: warisan nenek moyang), warta saka pahlawan (red: berita dari pahlawan), paramasastra (red: tata bahasa Jawa), warta saka kuta (red: berita kota), geguritan (red: puisi), olah-olah/nyamleng (red: resep), kluwung (red: wisata?), cerkak (red: cerpen), cerita bocah (red: cerita anak), tembang (red: lagu), surat saka pelajar (red: surat dari pelajar), sang pamomong (red: tokoh), dolanan (red: mainan anak), ngudarasa (red: opini?), dongeng, alaming lelembut (red: alam gaib), critane simbah (red: cerita nenek-kakek), cangkriman (red: teka-teki silang), opo tumon (red: humor) dan komunikasi seluler.

Lengkap sekali majalah bulanan (terbit tiap tanggal 25) terbitan LP2B Semarang, lembaga pelatihan dan pengembangan bakat ini. Harganya dipatok Rp 10.000 untuk 50 halamannya.

Hmmm … Banyak manfaat yang bisa dipetik dari munculnya majalah ini. Menjawab keresahan beberapa orang tentang akan dihilangkannya pelajaran bahasa daerah di sekolah. Kegelisahan orang tua bahwa anaknya ditaksir tak akan lagi belajar tata krama dan unggah ungguh (red: sopan-santun) bahkan sampai tak bisa berbahasa daerah sendiri. Ngisin-isini (red: memalukan), katanya. Mengingatkan yang telah lupa berbahasa Jawa untuk belajar lagi, mengasah lagi. Belum … belum terlambat.

Begitu pula dengan peran masyarakat, swasta dan pemda dalam mendukung pelestarian bahasa Jawa lewat sponsorship dan sumbangsih berupa artikel. Patut diacungi jempol. Jarang-jarang yang mantab untuk hal-hal yang berkaitan dengan bahasa daerah, kalau bahasa Indonesia atau bahasa asing pasti banyak sekali. Kalau tidak bangsa sendiri, masak harus orang Belanda atau Suriname yang nguri-uri, melestarikan??? Malu belajar bahasa sendiri dari bangsa asing yang ulet. Jangan sampai.

OK. Kalawarta atau majalah bahasa jawa yang memiliki niatan untuk mengajak orang selalu bersilaturahmi dan hidup bersama khususnya dengan saudara Jawa yang belum hilang kejawaannya ini memiliki motto hamemayu hayuning budaya lan bawana. Melestarikan budaya, meningkatkan kesejahteraan rakyat, mendorong terciptanya kepribadian baik dan menjaga keselarasan manusia dengan; manusia, Tuhan dan alam semesta. Majalah yang baru seumur jagung namun masih memiliki semangat yang makantar-kantar, berkobar layaknya api pada jerami. Let’s keep it up!!

Hayu, rahayu, raharja, niskala, satuhu! Nuwun. Salam sehat raga dan jiwa, serta bahagia dunia dan akherat … selalu untuk selamanya. (G76)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melongok Dapur Produksi Pesawat Boeing …

Bonekpalsu | | 20 December 2014 | 07:30

Merenungkan Sungai dalam Mimpi Poros Maritim …

Subronto Aji | | 20 December 2014 | 09:46

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46

Salah Penggunaan, Bubuk Protein Potensi …

Novia Cristi | | 20 December 2014 | 07:13

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 4 jam lalu

Hati Lembut Jokowi Atas Manuver Ical …

Mas Wahyu | 5 jam lalu

Hebat, Pemerintah Sanggup Beli Lumpur …

Erwin Alwazir | 9 jam lalu

Mau Lihat Orang Jepang Antri Di Pom Bensin? …

Weedy Koshino | 12 jam lalu

Talangi Lapindo, Trik Jokowi Jinakan …

Relly Jehato | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: