Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Endah Kusumaningrum

Scripta manent, verba volant

Resensi Novel Sebelas Patriot Karya Andrea Hirata

OPINI | 30 January 2013 | 11:15 Dibaca: 5605   Komentar: 7   1

AYAHKU SEORANG PATRIOT PSSI

Judul novel      : Sebelas Patriot

Penulis             : Andrea Hirata

Penerbit           : Bentang Pustaka

Cetakan           : Juni, 2011

Tebal               : 116 halaman

Novel Sebelas Patriot adalah novel yang menceritakan kehidupan seorang anak Melayu Belitong bernama Ikal tentang kebanggannya terhadap PSSI dan Ayahandanya. Dari sebuah foto yang tidak sengaja ia temukan di atas almari, Ikal tahu tentang masa lalu Ayahnya yang manis sekaligus pahit. Sewaktu muda dulu, Ayahnya pernah menjadi pemain bola yang hebat pada masanya sebagai pemain di posisi sayap kiri. Ayah dan dua Saudaranya dulu dipekerjakan dengan paksa oleh penjajah di parit tambah, posisi paling hina, kasta paling rendah di Maskapai Timah. Meskipun begitu, tim kesebelasan parit tambang pernah mengalahkan tim kesebelasan kebanggaan Van Holden, hal itu dianggap sebagai sebuah pembangkangan dan mempermalukan bangsa penjajah. Hingga kemudian tiga Saudara itu diangkut ke tangsi dan diasingkan, kecuali Ayah Ikal. Belanda sempat menawarinya untuk memperkuat tim kesebelasannya namun Ayah Ikal menolak dan hal itulah yang menjadi akhir dari perjalan Ayah Ikal bermain sepak bola, karena setelah itu Ayah Ikal diangkut kembali ke tangsi. Lelaki muda itu pulang dalam keadaan tempurung kaki kirinya pecah, sehingga mustahil untuk kembali bermain sepak bola. Ikal mengetahui semua sejarah sejarah tentang Ayahnya yang selama ini dirahasiakan oleh Ibu dan Ayahnya sendiri pada Si Pemburu Tua. Ikal merasa bangga terhadap ayahnya juga dengan PSSI

Perjalanan hidup ayahnya di masa silam menjadi motivasi Ikal untuk menjadi pemain sepak bola yang hebat, menjadikan dirinya semakin cinta pada Ayahnya dan cinta pada PSSI. Ikal kecil mengikuti tes seleksi pemain Junior Kabupaten, kemudian lolos ke Provinsi, hingga tembus ke seleksi pemain PSSI. Ikal mengikuti seleksi dari tahap awal hingga akhir dengan satu tujuan mulia “membahagiakan Ayahnya”, tapi nasib berkata lain Ikal dimata para pelatih PSSI tak layak masuk menjadi pemain PSSI karena kemampuan yang masih kalah dengan para pemain lain. Kegagalan yang dialami Ikal sungguh membuatnya kecewa dan sempat berkecil hati, namun hal itu tak membuatnya benci terhadap PSSI. Dia justru bangga terhadap PSSI dan semakin cinta terhadap PSSI. Karena Ayahnya-pun selalu bangga terhadap PSSI itu yang membuat Ikal menjadi fans berat PSSI.

Ketika Ikal mengenyam pendidikan di Universitas Sorbone, Perancis, Ikal sempat mengisi liburan musin panasnya menjadi seorang backpacker. Bersama Arai, sepupunya, Ikal menjelajahi Afrika dan Eropa. Diperjalanan mereka sebagai backpacker, Ikal dan Arai berpisah karena tujuan yang diminatinya berbeda. Ikal ingin ke Madrid sedangkan Arai ingin ke Alhambra. Ikal ingin singgah di Madrid karena Ayahnya, salah satu club dikota itu menjadi kebanggan Ayah ikal yaitu Real Madrid. Di kota Madrid Ikal bertemu dengan seseorang bernama Adriana, seorang perempuan yang gemar dengan bola. Selain penggemar bola dia berprofesi sebagai penjaga toko resmi kepunyaan Real Madrid. Perkenalan itu berawal ketika Ikal akan membeli sebuah kaos bola bertuliskan Luis Figo. Namun, Adriana menawarkan sebuah kaos bertanda tangan Luis Figo dengan harga yang berlipat lebih mahal dibanding kaos tak bertanda tangan. Ikal ingin sekali membeli untuk Ayahnya namun uangnya tak cuku. Kemudian Ikal berjanji pada Adriana bahwa dirinya akan kembali lagi untuk membeli kaos bertanda tangan Luis Figo. Ikal bekerja mati-matian untuk memperoleh uang 250 Euro. Di tengah perjuangannya mengumpulkan uang sebanyak 250 Euro, Ikal ingat kepada Pelatih Toharun. Ia kemudian membelikan kaos dari toko resmi milik Barcelona ketika ia bekerja di Nou Camp sebagai general manager atau bahasa kerennya ‘kacung’. Ikal rela mengambil tiga pekerjaan sekaligus yaitu menjadi tukang cat dan tukang angkat-angkat furniture di siang hari, dan tukang pungut bola pada malam hari demi mendapatkan uang 250 Euro. Akhirnya sebuah kaos yang bertanda tangan Luis Figo dapat dibelinya untuk kemudian dihadiahkan kepada Ayahnya.

Kemudian, setelah pertemuannya yang kedua di toko resmi milik Real Madrid, Ikal semakin akrab dengan Adriana. Merekapun sempat menyaksikan secara langsung pertandingan Real Madrid VS Valencia di Estadio Santiago Bernabeu. Pada saat menyaksikan pertandingan itu, ketika Real Madrid berhasil mencetak gol, puluhan ribu penonton berteriak, “Real!, Real!” namun Ikal berteriak, “Indonesia! Indonesia!”. Adriana takjub melihat semangat Ikal, melihat bagaimana seseorang yang berasal dari sebuah pulau terpencil di negeri antah berantah bisa berada di tengah ingar-bingar Santiago Bernabeu.

Esoknya Ikal mengirimkan Kaos bertanda Tangan Luis Figo untuk Ayahnya dan kaos Barcelona untuk pelatih Toharun. Ikal juga menulis surat pada Ayahnya, berlembar-lembar rasa rindu yang ia tumpahkan. Di akhir surat Ikal menuliskan begini :

Ayahanda,

Dari jauh kumelihat, tak lepas kumemandang,

Sebelas patriot, rapatkan barisan.

Peluit berkumandang, bendera berkibar-kibar,

Dadaku bergetar.

Sebelas patriot, garage menyerang, gagah

Bertahan.

Ayahanda,

Aku akan datang untukmu

Dan katakana pada PSSI, aku akan datang untuknya!

Ayah, engkau pernah dibungkam ketika

Meneriakkan Indonesia,

Ini aku, anakmu, berteriak sekuat tenaga,

Indonesia, Indonesia!

Indoneisa aku datang!

PSSI, engkau menang!

Ayahanda,

Aku ingin menjadi patriot PSSI

Jantungku berdetak untuk PSSI

Anakmu,

Ikal.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat Tinggal Banjir, Proyek Revitalisasi …

Agung Han | | 30 October 2014 | 21:02

Elia Massa Manik Si Manager 1 Triliun …

Analgin Ginting | | 30 October 2014 | 13:56

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31

Bau Busuk Dibelakang Borneo FC …

Hery | | 30 October 2014 | 19:59

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Kabinet Kerja Jokowi-JK, Menepis Isu …

Tasch Taufan | 4 jam lalu

Saat Tukang Sate Satukan Para Pendusta …

Ardi Winata Tobing | 6 jam lalu

Jokowi-JK Tolak Wacana Pimpinan DPR …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Mantan Pembantu Mendadak PD, Berkat Sudah …

Seneng | 9 jam lalu

Soal Pengumuman Kenaikan Harga BBM, …

Gatot Swandito | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika PBR Merangsek ke Semifinal ISL 2014 …

Bahrur Ra | 9 jam lalu

Wasit Pertandingan Semen Padang vs Arema …

Binball Senior | 10 jam lalu

Ihwal Pornografi dan Debat Kusir Sesudahnya …

Sugiyanto Hadi | 11 jam lalu

Kabinet Kerja Jokowi-JK, Menepis Isu …

Tasch Taufan | 11 jam lalu

Saat Tak Lagi Harus ke Kebun …

Mohamad Nurfahmi Bu... | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: