Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Erik Supit

Independent Writer

Nama, Kata, Kita

HL | 30 January 2013 | 07:36 Dibaca: 707   Komentar: 0   8

1359515320329786360

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

(Jaman membuat orang mudah abai. Bahkan terhadap kata-kata. Jangan-jangan, juga kepada diri sendiri?)

Bila bertemu Shakespeare, saya akan ajak dia duduk di teras sembari nyeruput kopi. Mudah-mudahan bisa menepati sore hari, mumpung gerimis kerap turun menjelang senja. Konon suasana seperti lebih nyaman dan adem, untuk guyon. Saya sadar, penyair itu sudah lama meninggal dunia, tapi siapa tahu bisa bertemu secara imajiner. Atau jangan-jangan arwahnya? Ah, ini hanya “seandainya”. Jangan dianggap serius. Saya bukan penjelajah dimensi alam, yang bisa mendatangkan mereka yang sudah mendiang.

Ini bukan keperluan yang teramat penting untuk bertemu dengan orang Inggris itu. Cuma ingin ngobrol, sekaligus menanyakan perkara remeh. Apa yang membuatnya terpikir untuk menulis “What’s in a name? that which we call a rose. By any other name would smell as sweet“. Pada naskah romeo and Juliet yang ditulis pada kisaran abad ke 16 tersebut, tercantum kalimat diatas. Hingga dikemudian hari, orang-orang menyupliknya sebagai sebuah pepatah baru, yang diambil dari penggal pertama, dengan terjemahan “Apalah arti sebuah nama?” tanpa menyertakan pengalihan bahasa untuk baris terakhir.

Saya percaya, Shakespeare tak memaksudkan tulisannya itu, untuk mengecilkan arti nama yang melekat pada orang, sebagai identitas pengenal.  Karena diapun, bisa jadi, akan keberatan, jika ada orang memanggilnya dengan nama lain. Apalagi bentuk-bentuk nama yang di Inggris sana tidak akrab dipakai. Misalkan dia disapa dengan nama arjuna atau sengkuni, besar kemungkinan akan menolak.

Ketika bayi hendak lahir, orang tuanya sibuk mempersiapkan juluk apa yang hendak disematkan pada anaknya. Tidak ada yang tanpa dasar, bahkan nama yang reflek terpikirpun semuanya berasal dari pemantik-pemantik. Apakah itu tentang harapan, doa-doa, pembacaan situasi lingkungan atau tafsir atas kondisi fisik bayi tersebut. Saya pikir, “nama diri” adalah anugerah pertama, yang diterima anak manusia, dari pihak-pihak yang terdekat dengannya, begitu lahir ke dunia. Sedemikian penting posisi “nama diri” itu, hingga tradisi-tradisi lokal di Indonesia, mengiringi penyematan melalui upacara-upacara khusus.

Demikian juga dengan Shakespeare. Bukan tanpa alasan dia menamakan anak sulungnya dengan Susanna lalu kedua adiknya yang kembar, Hamnet dan Judith. Ketiganya adalah hasil pernikahan dengan Anne Hathaway . Nama Susanna, diambil Shakespeare dari salah satu bagian pada kitab daniel yang berbahasa ibrani dan aramaik. Arti Susanna dalam perspektif hebrew adalah bunga lili, orang mesir juga menggunakan istilah yang sama dengan arti lotus. Tentu saja, terdapat keinginan yang terpendam dalam diri Shakespeare melalui penamaan itu.

Putranya, hamnet, kerap dihubung-hubungkan dengan tokoh hamlet, yang sang ayah buat, yaitu hamlet. Dari tatanan hurufnya memang nyaris sama. Tak pelak, berkembang spekulasi mengenai kedekatan kedua nama itu. Meskipun jika ditelusur dari akar katanya, Hamnet berati “rumah, tempat perlindungan” yang bersumber dari bahasa jerman kuno. Usia 11 tahun, anak lelaki Shakespeare itu meninggal. Dan kenangan akannya melekat pada pikiran sang penulis. Hingga sejumlah pengamat sastra mengembangkan asumsi, bahwa tokoh Hamlet yang tenar itu,  kemudian  Naskah Twelfth Night, The Merchant of Venice dan As You Like It  adalah buah rindu dari penulisnya kepada putranya. Sepertinya Shakespeare berharap Hamnet akan menjadi rumah bagi inspirasi dan semangatnya. Jangan-jangan, itulah alasan yang dimilikinya sehingga sang anak dinamakan demikian.

Lain lagi dengan Judith. Nama itu berasal dari tradisi Ibrani, Yehudith, yang merujuk kepada Judah, anak yakub.  Arti dari Judith adalah puji-pujian, kemudian dimasa kini, orang-orang di Inggris dan bilangan eropa lainnya, memangkasnya menjadi Judy. Sudah bisa diraba, bahwa Shakespearpun menaruh harapan tertentu dalam menamakan anaknya. Tentang derajat, cita-cita dan kemuliaan yang diinginkan kelak jika sang putri dewasa.

Ketiganya mempunyai riwayat. Nama-nama anak yang diberikan shakespeare, memiliki latar belakang suasana dan semangat yang berbeda-beda. Ada sejumlah argumentasi pada pikiran shakespeare ketika memberikan identitas yang akan dibawa seumur hidup itu, kepada putra-putrinya. Apakah mungkin, dikemudian hari, penyair itu mengabaikan arti sebuah nama diri?

Barangkali, tangkapan yang diinginkan Shakespeare dari penggal kalimat pada naskah teater itu sebenarnya adalah, jangan terlalu zakelijk terhadap kategori-kategori makna pengistilahan benda dan suasana. Sebab makna kata, juga nama-nama, bisa berubah-ubah, tergantung sudut pandang ruang dan waktunya. Apalagi dijaman, ketika kata dan nama begitu kurang diperhatikan, hingga terkesan serampangan. Orang jawa bilang “waton njeplak” Jika itu iya, maka hari-hari ini kita banyak mendapati. Betapa sebuah kata dan nama bisa berbeda sama sekali dengan maksud awalnya.

Tinggal cacah saja, sudah berapa puluh, bahkan mungkin ratus kata dalam ujaran kita yang direka ulang, dengan pengartian baru. Jika itu adalah upaya pengayaan makna, bisa dimaklumi. Namun apabila kata-kata yang terucap maupun tertulis tersebut mempunyai makna yang samasekali berbeda dengan makna akar, itu akan membingungkan. Misalnya saja, kata anarki. Jalur keturunannya, kata itu berasal dari bahasa Yunani “anarkhia”  yang artinya “kepincangan kepempinan, tanpa pemerintahan”. Gabungan dari dua kata yaitu “an” yang berarti “tidak” dan “arkhos” yang ujungnya berinduk pada bahasa Proto-indo-eropa, “arkhein”, artinya “memerintah”. Lantas arti apa yang sekarang dikenakan pada anarki?

Seperti ada keputusasaan yang menjangkit, sehingga arti secara etimologis pada sebuah kata kian diabaikan. Seakan-akan ada ujaran “Sudahlah, kata itu kesepakatan. Yang penting maksudnya sampai”. Benar, bahwa kata, istilah dan nama memang produk konvensi atas identifikasi sesuatu untuk mempermudah komunikasi. Tetapi, sebuah kata yang lahir juga merupakan padatan dari apresiasi atas sesuatu, yang mempunyai latar belakang alasan dan sejarah penggunaan. Artinya, tidak ada kata, istilah dan nama yang tiba-tiba muncul, tanpa argumentasi historis. Jika pada sebuah jaman, karena kekeliruan transformasi, sebuah kata berbeda artinya, maka resikonya akan ada pada komunikasi antar generasi. Salah kaprah tafsir mewabah, apresiasi berubah arah, dan bermunculan kesalahpahaman akibat pengaplikasian istilah yang membingungkan.

Masih banyak kata yang lain yang sudah berubah arti sama sekali dimasa kini. Imbuhkan saja istilah Radikal, yang sekarang diartikan sebagai kekerasan. Asal kata radikal adalah radix, artinya akar, dari kosakata latin. Radikal adalah istilah politik, yang pada tahun 1817, bahasa inggris mencantumkannya dengan arti baru, yaitu reformis. Sebuah gerakan politik yang ingin mengubah tatanan kekuasaan, hingga akar-akarnya. Lalu ketika terserap dalam bahasa Indonesia, tiba-tiba kata itu berubah makna, menjauh.

Indonesia memang terkesan tak mempedulikan pemeliharaan istilah. Media juga berperan banyak dalam menambah keblingernya pengistilahan. Makna-makna dijauhkan, dan pembedaan-pembedaan penyebutan makin kabur batasnya. Saya kira, anak-anak sekolah sekarang sudah tidak bisa lagi membedakan apa itu warga, penduduk, masyarakat, kaum, khalayak, rakyat. Tidak mengerti lagi bagaimana maksud masing-masingnya. Identifikasi atas itu sudah tidak telaten lagi, bahkan untuk diterapkan dalam sistem komunikasi keseharian. Banyak yang kehilangan pegangan makna, apa yang dimaksud dengan istilah “Pemerintah” Itu. Apakah “Pihak yang diperintah oleh pemegang kedaulatan untuk menata sebuah sistem kekuasaan”, atau “Pihak yang memerintah orang banyak pada sebuah bangunan politik”?

“Apalah arti sebuah nama” Begitu banyak orang bilang. Dan betul, disini nama, isitilah dan kata, agaknya tak mendapat perhatian lagi. Yang penting jalan, yang penting sampai. Lalu lupa, bahwa huruf-huruf, kata-kata dan pengistilahan adalah rambu yang berada disepanjang jalur perjalanan itu. Apabila rakyat, tak mengerti apa makna “rakyat” bukankah itu mengkhawatirkan? Mereka tak paham lagi posisinya dimana, parameter kerakyatan itu seperti apa, perannya sebagai siapa dan bagaimana mengolah haknya.

Kalau diruntut, kata rakyat berasal dari bahasa Arab, “Rokyah”. Himpunan manusia, yang memiliki kedaulatan, kemudian menunjuk pihak tertentu untuk jadi pemimpin. Kata kuncinya adalah kedaulatan. Pertanyaannya, apakah disini, Indonesia sekarang, rakyat masih mempunyai kedaulatan? Jika masih punya, saya sepakat untuk tetap menggunakan kata itu. Bila tidak, maka tinggal memilih opsi : mau ganti sebutan atau merebut kembali apa yang hilang itu? Kedaulatan.

Sayangnya, hingga kini saya tidak bisa mengajak shakespeare bertandang ke teras rumah ini. Padahal, kopi seduh ini nikmat sekali jika dijadikan teman bicara untuk mengupas, apa maksudnya dia bilang “What’s in a name?”. Lalu pembicaraan akan saya giring juga untuk mengungkap, kenapa tokohnya disebut Hamlet, bukan slamet, misalnya. Sebab tentu dia tidak mau tokohnya dipanggil sembarangan, karena nama itu begitu penting. Perlu kenduri untuk mengubahnya.

Dalam benak terlintas, jika sedemikian pentingnya nama diri pada manusia, karena itu adalah hadiah perdana anak manusia ketika lahir, maka jadikan saja sebagai tolok ukur untuk apa yang di sebut “harga diri”. Hingga ketika orang menyebut istilah “nama baik”, pada suatu kesempatan, kita mengerti pasti apa maksudnya itu. Nama baik adalah sejarah identitas formal dan non-formal yang baik. Tindakannya baik, lalu apa yang tertera di sertifikat sekolahnya baik, KTP, SIM, STNK, BPKB, kartu Keluarga, semuanya baik.

Nama baik mempunyai posisi penting dinegeri ini, hingga kerap disebut-sebut. Bila seperti itu, kenapa kita tidak menggunakan tindakan “pencabutan nama baik” sebagai salah satu pilihan hukuman berat pada koruptor? Seseorang yang terbukti korupsi dicabut namanya. Seluruh surat-surat resmi yang menerakan namanya, dihapuskan. Sehingga koruptor itu akan kebingungan yang akhirnya bisa membuatnya sangat putus asa. Sebab dia tak punya nama samasekali. Orang yang berpapasan tidak akan memanggilnya, karena sudah tak memiliki nama lagi. Bukankah hukuman terberat, yang membuat hidup serasa mati adalah ketika kita ada, tapi dianggap tak ada? Diabaikan. Tanpa nama.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wahana Baru Ice Age Arctic Adventure, Dufan …

Rokhmah Nurhayati S... | | 19 April 2014 | 01:35

Sesat Pikir Koalisi …

Faisal Basri | | 18 April 2014 | 19:08

Jangan Prasangka Pada Panti Jompo Jika Belum …

Mohamad Sholeh | | 19 April 2014 | 00:35

Araira …

Fandi Sido | | 16 March 2014 | 19:39

Memahami Skema Bantuan Beasiswa dan Riset …

Ben Baharuddin Nur | | 18 April 2014 | 23:26


TRENDING ARTICLES

Paskah di Gereja Bersejarah di Aceh …

Zulfikar Akbar | 3 jam lalu

Mengintip Kompasianer Tjiptadinata Effendi …

Venusgazer™ | 9 jam lalu

Kasus Artikel Plagiat Tentang Jokowi …

Mustafa Kamal | 12 jam lalu

Kue Olahan Amin Rais …

Hamid H. Supratman | 21 jam lalu

Puan Sulit Masuk Bursa Cawapres …

Yunas Windra | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: