Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Berry Budiman

Editor Bahasa di Benny Institute, penikmat seni, pengurus FLP (Forum Lingkar Pena) dan mahasiswa yang selengkapnya

Menulis Itu Mudah, Menulis Bagus yang Tidak Mudah.

REP | 20 January 2013 | 06:05 Dibaca: 575   Komentar: 55   24

Banyak penulis yang—dilihat dari tulisannya di Kompasiana—berbakat menulis… Mereka mampu menulis dengan kreatif, menyentuh, dan sudah baik pula tata bahasanya.

Saya rasa kebijakan Admin Kompasiana untuk lebih mengapresiasi sastra berpengaruh positif bagi aktivitas kepenulisan sastra di Fiksiana. Belum lagi teman-teman lain yang membuat group FB tentang kepenulisan dan mengadakan berbagai event. Fasilitasnya sudah ada, sudah disediakan, bagi yang menyukai sastra, jangan lupa untuk bergabung dan belajar lebih banyak lagi.

Sekarang, saya ingin berbagi pemahaman saya tentang ”Bagaimana Harusnya Mental Seorang Penulis Sastra.”

Saya yakin banyak dari kita yang benar-benar ingin menjadi penulis yang bagus. Yang karya-karyanya baik, bukan hanya dari segi ISI, tapi juga CARA.

Lebih jelasnya, sebagai berikut.

1. Secara “isi”, karya tersebut mengandung pesan yang besar bagi pembaca, yang kuat secara tema, aspek-aspek yang ditulisnya ”akrab” di hati pembaca, dan memiliki kerelevanannya bagi kebutuhan orang lain serta mampu menembus berbagai dimensi kehidupan.

2. Secara “cara”, karya tersebut ditulis dengan menggunakan teknik menulis yang baik dan benar (gaya bahasa, EyD, dll),dan teknik penyampaian yang menarik, segar, menabrak kekakuan, dll.

Penulis yang bagus adalah penulis yang telah memiliki keduanya.

Mencapai hal itu, tentu saja tidak mudah. Banyak dari kita (termasuk saya sendiri) mungkin hanya memiliki salah satunya saja dan lemah dalam aspek lain, ada yang bahkan belum memiliki keduanya.

Hal ini tentu tidak cukup, karena:

Jika kita memiliki faktor “isi”, maka kita hanya mampu menggugah pembaca awam. Bagi mereka yang kritis dalam ketatabahasaan dan estetika kepenulisan, karya yang hanya memiliki “isi” tentu akan menurunkan semangat untuk membacanya; banyak salah EyD, bahasa yang digunakan standard, cara penceritaan monoton, dll. Kalaupun ada dari mereka yang serius membaca, jangan-jangan mereka bertujuan MENCURI “isi”-nya untuk kemudian ia pakai sebagai pedoman membuat karyanya sendiri. Dan—tragisya—tidak ada yang salah dengan itu.

Jika kita hanya memiliki faktor “cara”, ini juga masalah. Karena walaupun karya anda perfect bagi pakar bahasa, fresh dan menantang kekakuan, anda tak akan mampu membuat pembaca anda berdecak kagum karena berhasil menggugah hati. Kasarnya, mereka akan meninggalkan tulisan anda dengan “tangan hampa”, ya, tak ada hal baru yang mereka dapatkan. Karya-karya seperti ini jarang sekali mendapat posisi “jawara” dalam lomba. Mereka akan dikalahkan oleh karya yang kuat secara “isi”, namun tidak pula berantakan secara “cara”, toh masalah teknis masih bisa diperbaiki (jika memang diperlukan).

Mereka yang berbakat, paling tidak memiliki salah satunya.

Lalu, bagaimana mengatasinya?

1. Jujur pada diri sendiri. Tanyakan pada diri anda: apakah aku betul-betul serius untuk belajar menulis sastra? Apa yang harus kulakukan untuk mencapai keinginanku? Mindset seperti apa yang kuperlukan untuk itu? Setelah itu, anda akan memahami hal-hal mendasar tentang karakter kepenulisan anda (yang telah mendapatkan jawaban-jawaban jujur dari diri anda),

2. Belajar. Tak ada yang bisa mengalahkan kemauan belajar seseorang. Pelajari bagian yang anda merasa belum menguasai. Isi atau cara. Karena kedua-duanya sama-sama penting untuk membuat tulisan anda makin ”Sastra”. Jika merasa masih lemah di keduanya, tak apa, perlahan-lahan pelajari dengan cara anda sendiri. Saran saya, cobalah untuk membaca karya yang bagus, lalu pelajari dengan sungguh-sungguh setiap aspek penting di dalamnya, catat, telaah, buat formula. Kemudian tantang diri anda untuk membuat karya yang sama baiknya dengan itu, lihat, betapa banyak kemajuan yang akan anda alami.

3. Ikhlas. Ada kata-kata bijak seperti ini: ”Apapun yang kita jalani dengan keikhlasan tak akan membuat kita kecewa”. Ya, belajar itu tak selamanya mudah. Hambatan dan rintangan adalah mata pisau yang membayangi setiap pembelajar. Tenanglah, semua hal yang baru pasti sulit pada awalnya. Itulah hukumnya.

Sebuah peringatan

Saya pernah membaca ulasan AS Laksana, kurang lebih intinya seperti ini:

Tidak ada yang lebih kuat dibandingkan KEGIGIHAN. Berbakat saja, tapi tak gigih, ya akan begitu-begitu saja, tak ada kemajuan, bahkan bisa berhenti menulis sama sekali. Memberi dorongan pada orang yang tidak GIGIH, sama seperti mendorong sebuah bus seorang diri; sia-sia. Tapi, orang yang GIGIH hanya perlu sedikit dukungan, maka ia akan melesat dengan cepat.

Ayo, belajar lagi.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Pengalaman Jadi Pengamen Pada 1968 – 2013 …

Mas Ukik | | 23 April 2014 | 21:14

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 17 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 19 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 20 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 21 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: