Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Ummil Mukmin

simple women with a complicated life

Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah, Dan Bahasa Inggris Pengajaran Bahasa Dalam “Dilema”

OPINI | 10 January 2013 | 20:32 Dibaca: 1744   Komentar: 0   0

Bahasa adalah hal yang sangat vital dalam kehidupan, tanpa bahasa mustahil terjadi interaksi antar sesama manusia. Maka dapat dibayangkan jika di dunia ini tidak ada bahasa, kehidupan bermasyarakat akan dipenuhi kesalahpahaman.

Bahasa terdiri atas empat kemampuan yang tersusun rapi mulai saat kita lahir yaitu dimulai dengan “mendengar”, lalu “berbicara”, kemudian “membaca” dan akhirnya dapat “menulis”. Keempat kemampuan itu kembali dibagi atas dua bagian yaitu berbicara dan menulis adalah kemampuan untuk menghasilkan atau aktif, mendengar dan membaca adalah kemampuan untuk memahami atau pasif.

Dalam penggunaan beberapa bahasa dalam sebuah negara dapat dibagi menjadi beberapa tingkatan bahasa. Bahasa pertama yang diwariskan orangtua kepada anak dimulai saat lahir adalah “bahasa ibu” biasanya adalah bahasa lokal (setempat), kemudian bahasa yang diketahui setelah bahasa ibu adalah “bahasa pertama”, lalu bahasa yang digunakan sehari-hari setelah bahasa pertama adalah “bahasa kedua”, sedangkan bahasa yang digunakan untuk hal yang khusus adalah “bahasa asing”.

Sejarah Penggunaan Bahasa Indonesia di Negara Indonesia

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Dasar RI 1945, Pasal 36. Dan juga merupakan bahasa persatuan sebagaimana disiratkan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Dari sudut pandang Linguistik, bahasa indonesia adalah salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu-Riau dari abad ke-19.
Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaannya sebagi bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan “Bahasa Indonesia” di awali sejak di canangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928.

Proses ini menyebabkan berbedanya Bahasa indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang di gunakan di Riau maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, bahasa indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.

Meskipun di pahami dan di tuturkan oleh lebih dari 90% warga indonesia, bahasa indonesia bukanlah bahasa ibu bagi kebanyakan penuturnya. Sebagian besar warga indonesia menggunakan salah satu dari 748 lebih bahasa lokal yang ada di indonesia sebagai bahasa Ibu.

Kedudukan Bahasa Inggris Di Negara Indonesia

Bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang dapat dimengerti oleh hampir semua negara di dunia. Di Indonesia kedudukan Bahasa Inggris masih dalam tingkatan sebagai Bahasa Asing, tidak seperti negara-negara tetangga yang telah menjadikannya sebagai bahasa kedua. Bahasa asing adalah bahasa negara lain yang tidak digunakan secara umum dalam interaksi sosial. Kedudukan Bahasa Inggris di Indonesia tersebut mengakibatkan jarang digunakannya Bahasa Inggris dalam interaksi sosial di lingkungan masyarakat. Walaupun demikian, karena pentingnya Bahasa Inggris pada interaksi internasional maka kurikulum pengajaran di Indonesia mulai mementingkan pengajaran Bahasa Inggris.

Di Indonesia, Bahasa Inggris tidak hanya diajarkan pada tingkatan SMP atau SMA, pada kurikulum Sekolah Dasar tahun 1994 Bahasa Inggris telah ditetapkan sebagai pelajaran muatan lokal berdampingan dengan pembelajaran Bahasa Daerah dan Komputer. Dan dalam perkembangannya kini Bahasa Inggris dapat ditemukan pada PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) bahkan beberapa PAUD di Indonesia telah menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam proses pembelajaran.

Bahasa Daerah Kekayaan Bangsa Yang Tidak Ternilai

Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, negara dengan jumlah suku yang banyak dan tentu saja dalam setiap suku tersebut memiliki bahasa daerah yang berbeda satu-sama lain. Di Indonesia ada 748 lebih bahasa lokal yang merupakan bahasa ibu.

Dalam kurikulum pendidikan, Bahasa Daerah memiliki tempat tersendiri sebagai pelajaran muatan lokal. Bahasa Daerah yang diajarkan disetiap sekolah di daerah berbeda-beda, bahkan ada juga sekolah yang berada dalam satu daerah dengan sekolah yang lain, pengajaran Bahasa Daerahnya berbeda, karena semua tergantung dari suku mayoritas yang menghuni daerah tersebut.

Bahasa Daerah untuk beberapa suku di Indonesia dalam keadaan “kritis” bahkan ada beberapa telah punah karena penggunanya tidak ada. Oleh karena itu pemerintah memberikan perhatian khusus dalam pelestarian Bahasa Daerah dengan tetap mempertahankannya dalam kurikulum pengajaran. Bahasa Daerah adalah kekayaan bangsa yang tidak ternilai.

Pengajaran Bahasa Dalam Dilema

Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Bahasa Daerah memiliki kedudukan, fungsi dan tempat tersendiri di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semua dicantumkan dalam kurikulum pendidikan yang pastinya juga diharapkan memberikan efek positif dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Tetapi kemudian akan terjadi masalah jika anak didik dikenalkan pada tiga bahasa secara bersamaan pada usia dini. Beberapa pendapat menyatakan, jika bahasa kedua dikenalkan sebelum bahasa pertama benar-benar terkuasai, maka bahasa pertama perkembangannya akan lambat dan bahkan mengalami regresi. Dan saat bahasa pertama digunakan terus-menerus maka tingkat pemahaman bahasa ibu juga akan mengalami penurunan. Dan faktanya memang begitulah yang terjadi.

Pengajaran bahasa dalam dilema menjadi permasalahan tersendiri mengenai pembelajaran bahasa, tidak diajarkan padahal penting untuk diajarkan, diajarkan juga dapat mempengaruhi pemerolehan bahasa yang lain. Oleh karena itu, perlu adanya pengaturan kurikulum khusus untuk mata pelajaran bahasa dan memberikan pengembangan program yang mapan dan berkesinambungan untuk menciptakan suatau program yang memang efektif untuk diterapkan di sekolah, mengingat ketiga bahasa tersebut sangatlah penting untuk rakyat Indonesia.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ratusan Ribu Hingga Jutaan Anak Belum Dapat …

Didik Budijanto | | 31 July 2014 | 09:36

Olahraga Sebagai Industri dan Sarana …

Erwin Ricardo Silal... | | 31 July 2014 | 08:46

Espresso, Tradisi Baru Lebaran di Gayo …

Syukri Muhammad Syu... | | 31 July 2014 | 07:05

Rasa Takut, Cinta, Naluri dan Obsesi …

Ryu Kiseki | | 31 July 2014 | 03:42

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 13 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 15 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 17 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 19 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: