Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Faisal Isnan

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula) | Guru Bahasa Indonesia PPM Muhammadiyah Boarding School selengkapnya

Membongkar Makna Kata “Senyum” dalam Cerpen “Senyum Karyamin”: Telaah Sosiologi Karya Sastra

OPINI | 07 January 2013 | 13:56 Dibaca: 807   Komentar: 0   0

Senyum karyamin merupakan salah satu judul antologi cerpen karangan  Ahmad Tohari yang kebetulan juga berjudul Senyum Karyamin. Dalam antologi ini, terdapat tiga belas judul cerpen yang sebagian besar menggambarkan sebuah perkampungan terpencil, tertinggal, dan masyarakat yang miskin. Fokus kajian kali ini bukan pada penggambaran masyarakat ataupun pedesaan miskin, namun menelaah arti dari senyuman Karyamin yang menjadi judul dalam cerpen tersebut.

Dengan cerpen tersebut, akan ditelaah menurut kajian sosiologi karya sastra. Fokus perhatian sosiologi karya sastra adalah pada isi karya sastra, tujuan, serta hal-hal lain yang tersirat dalam karya itu sendiri dan yang berkaitan dengan masalah sosial (Wellek dan Warren dalam Wiyatmi, 2008: 20). Kajian sosiologi karya sastra memliki kecenderungan dalam hal tidak  melihat karya tersebut sebagai suatu keseluruhan, tetapi lebih kepada menonjolkan sisi-sisi sosiobudaya tanpa mempersoalkan masalah pengarang serta struktur yang ada dalam karya tersebut. Dalam perkembangannya, Junus mengatakan bahwa karya sastra sebagai dokumen sosial budaya yang ditandai dengan beberapa hal. Salah satunya, pendekatan sosiologi karya sastra dapat mengambil citra tentang sesuatu, misalnya tentang perempuan, lelaki, orang asing, tradisi, dunia modern, dan lain-lain, selain itu juga dapat mengambil motif atau tema yang terdapat dalam karya sastra dalam hubungannya dengan kenyataan di luar karya sastra (dalam Wiyatmi, 2008: 21).

Maka, dalam kajian ini akan terfokus pada varian makna kata “senyum” yang dilakukan oleh Karyamin, si tokoh utama dalam cerpen Senyum Karyamin. Jika dikaitkan dengan dunia luar, konteksnya adalah karakter masyarakat Jawa yang begitu ramah dan sahaja terhadap semua orang, baik orang yang sudah dikenal baik, maupun orang yang baru dikenal. Salah satu pendekatan untuk membongkar makna-makna senyum tersebut yaitu secara semantis dan pragmatis, karena dalam kata “senyum” di cerpen tersebut memliki konteks yang berbeda. Berbeda konteks, juga akan dekat dengan perbedaan makna.

Sebagai negara yang terkenal santun dan ramah, Indonesia memilki karakteristik yang mungkin tidak ada tandingannya dengan bangsa-bangsa lain. Kita sering mendengar istilah gotong royong, sambatan, dan lain sebagainya yang merupakan salah satu peninggalan tradisi orang-orang zaman dahulu. Nenek moyang kita mengajarkan sesuatu yang bersifat kekeluargaan serta kebersamaan. Segala sesuatunya dilakukan atas nama kebersamaan dan tanpa pamrih seperti sekarang ini. Suasana tersebut masih dapat dirasakan dalam masyarakat pedesaan yang belum dimasuki oleh kebudayaan asing. Tidak seperti dalam masyarakat perkotaan yang sekarang sudah mengarah ke individualistik dalam berinteraksi antaranggota masyarakat. Ini yang menjadi pembeda antara masyarakat kota dengan desa dalam hal mempertahankan kebudayaan leluhur. Seperti yang sudah dipaparkan di atas, kita akan bincang mengenai budaya senyum dalam masyarakat Indonesia. Senyum erat kaitannya dengan ramah dan santun.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), senyum adalah gerak tawa ekspresif yang tidak bersuara untuk menunjukkan rasa senang, gembira, dsb dengan mengembangkan bibir sedikit. Secara definisi, senyum merupakan sesuatu yang dirasakan oleh seseorang ketika menjumpai atau mengalami peristiwa yang menarik, lucu, bahagia, ataupun mengesankan. Namun, terkadang sebuah senyuman tersebut menyimpan makna sebaliknya, yang terkadang menimbulkan sebuah persepsi yang berbeda antara orang yang senyum dengan lawan bicara, apa yang diharapkan berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya.

Hal yang menarik ataupun mengesankan dalam cerpen ini adalah ketika kata “senyum” melekat pada karakter Karyamin serta diulang-ulang sampai beberapa kali. Ini tidak mungkin jika tidak ada maksud dari seorang pengarang, apalagi sampai dijadikan sebuah judul. Untuk itu, dalam kajian kali  ini, akan dikupas mengenai arti dari kata “senyum” pada cerpen tersebut. Tentunya, kata “senyum” jika berdiri sendiri akan memilki makna dan arti yang relatif sama, dan masih sangat mungkin digeneralisasikan. Setelah kita mencermati masing-masing kata “senyum” dalam cerpen Senyum Karyamin, ternyata memilki makna yang berbeda-beda.

Karyamin merupakan seorang pengmpul batu di daerahnya. Setiap hari dia bersama teman-temannya yang juga merupakan pengumpul batu selalu bekerja keras demi menghidupi keluarganya.  Namun, hal yang berbeda dari Karyamin dengan teman-temannya yaitu pada diri Karyamin yang selalu tersenyum. Ketika menjumpai hal apapun yang menurut dia pantas untuk senyum, maka dia akan tersenyum. Senyum merupakan akhlak yang baik, karena dalam salah satu hadist dikatakan bahwa senyum merupakan amalan sodaqoh yang paling murah dan mudah bagi seseorang. Dengan tersenyum, orang-orang di sekitar akan merasa tentram nyaman dan tidak ada rasa ketegangan.

“Dan Karyamin tidak ikut tertawa, melainkan cukup tersenyum. Bagi mereka, tawa atau senyum sama-sama sah sebagai perlindungan terakhir. Tawa dan senyum bagi mereka adalah simbol kemenangan terhadap tengkulak, terhadap rendahnya harga batu, terhadap licinnya tanjakan….” (Tohari, 2005: 3).

Karyamin merupakan sosok yang tegar dalam menghadapi cobaan, dalam cerpen tersebut dikatakan bahwa dia dan keluarganya masih terbelit hutang, sehingga setiap haru harus didatangi oleh penagih hutang. Belum lagi masalah batu-batunya belum dibayar tengkulak dan itu semakin memperparah keadaan Karyamin dan keluarga.

“Pagi itu senyum Karyamin pun menjadi tanda kemenangan atas perutnya yang sudah mulai melilit dan matanya yang berkunang-kunang.” (Tohari, 2005: 3).

Makna kata senyum di atas, merupakan tanda ironi, karena, meskipun sedang lapar namun ia masih bisa tersenyum dan tidak mengeluh atas apa yang terjadi padanya. Ketika itu, Karyamin memang terlihat lesu dan tidak seperti biasanya.

“Tetapi dia hanya bisa tersenyum sambil melihat dua keranjangnya yang kosong.“ (Tohari, 2005: 5).

Pada hari itu, tampak begitu berbeda bagi karyamin, karena, sudah seharian ini dia belum juga mengumpulkan batu-batu seperti biasanya. Dia beberapa kali harus terperosok dan jatuh ketika membawa batu ke atas. Sungguh malang nasib Karyamin. Belum sempat dapat apa-apa, dia disarankan teman-temannya untuk pulang saja. Karena memang ketika itu Karyamin juga ingin pulang. Sungguh ironis memang, ketika sedang terpuruk, hari itu pun tidak mendapatkan apa-apa.

Ketika Karyamin hendak pulang, di jalan dia bertemu dengan Saidah, pedagang nasi pecel yang merupakan langganan Karyamin dan teman-temannya. Saidah merasa iba dengan karyamin, maka ditawarilah dia untuk makan.

“Karyamin menggeleng, dan tersenyum. Saidah memperhatikan bibirnya yang membiru dan kedua telapak tangannya yang pucat. Setelah dekat, Saidah mendengar suara keruyuk dari perum Karyamin.” (Tohari, 2005: 4).

Karyamin tersenyum, lantaran dia tidak enakan, karena masih nunggak hutang dengan Saidah, dan dia tidak ingin memperparah keadaan dengan cara menambah jumlah hutangnya. Belum lagi hutangnya dengan bank yang setiap harinya selalu menagih.

Ketika Karyamin sudah hampir sampai rumah dan bertemu dengan pak Pamong yang ternyata sudah lama mencari karyamin untuk menagih iuran uang, untuk dana menolong orang-orang Afrika yang kelapan. Kata Pak Pamong, hanya Karyamin yang belum membayar.

“….Tetapi Karyamin tidak melihat bibir sendiri yang mulai menyungging senyum. Senyum yang sangat baik untuk mewakili kesadaran yang mendalam akan diri serta situasi yang harus dihadapinya. Sayangnya, Pak Pamong malah menjadi marah oleh senyum Karyamin.” (Tohari, 2005: 6).

Senyum Karyamin bukan bermaksud untuk mengejek ataupun menghina niat Pak pamong, namun lebih dari itu. Kenapa harus memikirkan orang kelaparan yang berada di jauh sana, sedangkan di lingkungannya sendiri masih banyak yang kelaparan dan sangat layak untuk disantuni. Jangankan ikut iuran membayar untuk orang-orang Afrika, untuk makan hari ini saja Karyamin dan keluarga sangat kekurang bahkan tidak ada. Namun, Pak Pamong tidak menyadari. Sepertinya karyamin juga tidak ingin mengatakan keadaan yang sebenarnya.

“Kamu menghina aku, Min?”

“Tidak, Pak. Sungguh tidak.”

“Kalau tidak, mengapa kamu tersenyum-tersenyum? Hayo cepat, mana uang iuranmu?”(Tohari, 2005: 6).

Dan setelah itu, Karyamin tidak hanya tersenyum, tapi tertawa keras dan lepas karena melihat situasi yang begitu aneh.

Dari makna-makna kata “senyum” tersebut, dapat disimpulkan bahwa, sebagian besar menandakan sebuah ironi, yaitu pertentangan dengan apa yang terjadi. Namun, memang sudah menjadi sebuah takdir seorang yang miskin seperti Karyamin harus sanggup mengahadapi kedaan seperti itu. Pagi-pagi sudah bekerja, sore pulang, namun penghasilan tidak seberapa bahkan harus ikhlas jika tidak mendapatkan apa-apa. Senyum yang dilakukan Karyamin merupakan sebuah bentuk keihklasan dan kesabaran dalam menghadapi cobaan. Tidak selamanya orang tersenyum karena bahagia. Belajar dari senyum Karyamin, bahwa kita harus bisa menjadi manusia yang kuat, ikhlas, serta sabar dalam menghadapi cobaan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 6 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 6 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 7 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 13 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Air …

Hotman J Lumban Gao... | 7 jam lalu

Penguasaan Sumber Daya Strategis …

Kang Warsa | 7 jam lalu

Ironi Setalah Dialog Kerukunan dan …

Sapardiyono | 7 jam lalu

Kepercayaan untuk Pemimpin Baru …

Kasmui | 8 jam lalu

Revolusi dari Desa di Perbatasan …

Pepih Nugraha | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: