Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Putra Gara

sederhana, apa adanya, tetapi selalu berdoa dan berusaha untuk menjadi manusia yang berguna

Menulis Novel

OPINI | 06 January 2013 | 05:50 Dibaca: 4092   Komentar: 0   1

Novel dalam penjelasan teori formal adalah sebuah karya fiksi yang ditulis secara naratif. Kata novel sendiri berasal dari bahasa Italia yaitu novelia yang berarti “sebuah kisah atau sepotong berita.”

Novel lebih panjang dan lebih komfleks dari cerpen. Umumnya sebuah novel bercerita tentang tokoh-tokoh dan kehidupan mereka sehari-hari dengan menitik beratkan pada “sisi yang aneh” dari naratif tersebut. Hal itu tentu dengan satu tujuan, bagaimana dalam kisah novel itu menjadi menarik untuk dibaca.

Setelah kita terbiasa menulis cerpen, biasanya ada keinginan menulis novel. Atau terkadang banyak juga yang belum terbiasa menulis cerpen, tetapi sudah kepingin menulis novel. Itu sah-sah saja dan tidak pernah ada larangannya. Hanya saja yang perlu diperhatikan, bahwa dalam menulis novel, kita sudah memahami minimal aturan main EYD (ejaan yang disempurnakan). Karena tentu sangat melelahkan bila kita sudah menulis begitu banyak kata, tetapi harus mengoreksi EYD yang berantakan.

Bagaimana Menulis Novel

Bagaimana memulai nulis novel? Pertanyaan ini mungkin terlintas bagi para penulis yang ingin menulis novel. Dan setiap penulis mungkin punya caranya sendiri. Namun berikut ini adalah cara menulis novel yang secara umum saya lakukan.

Sebenarnya menulis novel itu bisa dimulai dari menulis cerpen. Hanya saja dalam konsep menulis novel, cerpen akhirnya hanya menjadi sinopsis kecil dari perencanaan menulis novel. Namun apabila menulis novel tidak berangkat dari sebuah cerpen, kita bisa menyiapkan sinopsisnya, atau “garis besarnya” sebelum kita memulai menulis.

Garis besar atau sinopsis adalah keseluruhan cerita dari yang ingin kita tulis. Dan setelah kita membuat garis besarnya, ada lagi “poin besar” dari garis besar yang telah kita buat.

Poin besar inilah, yang akan membuat novel yang kita tulis jadi menarik. Karena dalam poin besar, banyak sub poin yang akan kita siapkan agar pembaca kita menyukai cerita yang kita tulis. Bukan hanya menarik dari segi konflik atau dramatisasinya, namun tujuan dari cerita dalam novel itu pun akhirnya di dapatkan oleh si pembaca.

Dalam menulis novel, dari garis besar yang telah dibuat, biasanya saya bedah sinopsis tersebut menjadi beberapa bab. Jadi dari pola seperti itu, saya sudah tahu bab satu saya bicara apa, bab dua bicara apa, dan seterusnya. Dari persiapan ini setiap bab pengayaannya pun sudah kita siapkan. Darimulai dramatisasinya, pembendaharaannya katanya, dan hal-hal lainnya.

Kreatif Menulis Novel

Kreatif dalam menulis novel, hal ini terkait erat dengan personal seorang novelis (panggilan untuk penulis novel). Dan untuk menjadi kreatif, kita bisa asah kepekaan jiwa kepengarangan kita dengan banyak membaca tekstual dan kontekstual.

Membaca tekstual adalah membaca buku-buku yang sudah banyak tersedia, sebagai modal dari wawasan pembendaharaan kata yang akan dilahirkan ketika kita menulis. Bahan bacaan inilah yang dapat mengantarkan kita menjadi penulis yang tidak gagap ketika kita menulis novel. Karena dengan banyak wawasan, kita jadi tahu banyak hal. Dan ini salah satu modal kreatifitas kita ketika akan menjadi penulis novel.

Membaca kontekstual adalah membaca lingkungan yang ada di sekitar. Hal ini berkaitan erat dengan kejelian dan kemampuan si pengarang dalam menyikapi dan menyerap apa yang terjadi di lingkungannya, sehingga menjadi pengetahuan yang membeku dalam ingatan, dan dengan kreatifitasnya bisa dijadikan bahan untuk tulisan.

Produktif Menulis Novel

Untuk menjadi penulis novel yang produktif, tidak beda dengan cara menulis cerpen yang produktif. Lakukan apa yang sudah dirancang, bukan sekadar diniatkan. Karena untuk produktif, harus dilakukan. Kalau kita sudah menyiapkan garis besar dari novel yang akan kita tulis, dan kita sudah menemukan poin besarnya, kreatifitas kita sudah ditempatkan untuk melahirkan ide tulisan, kita tinggal memulainya untuk menulis.

Mulai menulis, dengan kalimat awal yang bisa disiapkan terlebih dahulu, maupun dengan kalimat yang mengalir begitu saja. Karena kalau tidak dimulai, hingga kapanpun rancangan garis besar dan poin besar ini tidak akan terselesaikan tanpa memulainya untuk ditulis.

Halaman novel yang berjumlah ratusan itu tidak sertamerta bimsalabim menjadi sebegitu banyak tanpa ada kalimat awal, lembar pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya.

Kalau kita sudah memiliki garis besar dan poin besar untuk menulis novel, kita sudah memiliki tuntunan untuk melakukan dan menyelesaikan novel kita. Karena dalam garis besar itu kita bisa mengetahui, langkah-langkah mana saja yang harus kita siapkan dan kita lakukan.

Disiplin menulisnya, dengan meniatkan dan melakukan satu hari menulis novel yang ditulis minimal 5 halaman, sukur-sukur sampai 10 halaman. Bayangkan kalau satu hari minimal kita menulis 10 halaman, berarti satu bulan sudah 300 halaman. Dan kalau menjadi buku, itu tebalnya sudah sekitar 500 halaman. Jadi kalau kita menulis novel yang jadi bukunya sekitar 200-300 halaman, sebenarnya bisa kita kerjakan hanya dalam dua minggu dengan pola disiplin menuliskannya.

Dengan menuliskannya, terlepas selanjutnya ada koreksian atau editan, itu lain hal. Tetapi hal itu sudah membentuk kita menjadi penulis novel yang produktif.*** (Putra Gara)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pesona Pasar Legi Kotagede: Kerukunan …

Sulfiza Ariska | | 19 December 2014 | 17:43

Jangan Mau Mengajar Mahasiswa …

Giri Lumakto | | 20 December 2014 | 00:33

(Maaf) Ngupil Pun Ada Etikanya …

Find Leilla | | 19 December 2014 | 14:04

Sang Penabuh Kabar …

Muhammad Armand | | 19 December 2014 | 10:18

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35


TRENDING ARTICLES

Mau Lihat Orang Jepang Panik Antri Bensin? …

Weedy Koshino | 8 jam lalu

Talangi Lapindo, Trik Jokowi Jinakan …

Relly Jehato | 9 jam lalu

Mengapa Fuad Harus di Dor Sampai Tewas? …

Ibnu Purna | 10 jam lalu

Kenapa Steve Jobs Larang Anaknya Bermain …

Wahyu Triasmara | 11 jam lalu

Media Online, “Pelahap Isu Hoax” …

Ajinatha | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: