Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Farah Diena Rahmania

writing and photography are my sweet escape to be a reporter. I love journalism!

Fenomena Bahasa ‘Alay’

REP | 06 January 2013 | 23:15 Dibaca: 1719   Komentar: 0   0

Fenomena bahasa alay yang kerap digunakan dalam media sosial maupun percakapan sehari-hari menarik untuk dibahas. Pergeseran struktur kata yang terjadi di masa sekarang dan oleh semua kalangan  membentuk banyak kosakata baru. Kata serius berubah menjadi ciyus, kata beneran berubah menjadi enelan, contoh kata-kata ini sebenarnya seperti pelafan dari seorang balita yang belum fasih berbicara. Bahasa alay tersebut dapat dikategorikan sebagai ragam bahasa lisan.

Tidak hanya bahasa lisan saja yang mempunyai perubahan bentuk dari kata bahasa baku menjadi bahasa alay, sebelumnya ‘tulisan alay’ telah lebih dulu populer. Seperti contohnya tulisan berikut, H4Hh? Sa11yA gg4k N63rT1… dapat dilihat bahwa ragam tulis tersebut menggabungkan antara huruf dan angka. Huruf kapital juga ditulis secara acak dalam kata. Pada awalnya tulisan semacam ini digunakan dalam pesan singkat di telepon seluler, kemudian muncul di berbagai situs media sosial.

Beberapa kalangan yang menggunakan bahasa seperti ini sering disebut atau dicap sebagai ‘anak layangan’ atau ‘alay’. Maksud penamaan akan hal ini adalah sebagai pengelompokkan atas ketidaknormalan dalam merangkai penulisan kata atau kalimat. Namun yang terjadi sekarang, hampir semua kalangan masyarakat menggunakan kata ciyus sebagai bahasa pergaulan sehari-hari. Hal ini disebabkan kata tersebut dianggap sebagai hal yang lucu dan lazim diucapkan.

Perubahan bahasa baku bisa meliputi perubahan struktur huruf dan kata baku menjadi sebuah tulisan yang tidak biasa dan dikenal dengan sebutan ‘pengalayan’. Perubahan tersebut dibagi menjadi dua bagian, yaitu perubahan tulisan dan perubahan lafal dan tulisan. Yang dimaksud dengan perubahan tulisan adalah pencampuran antara kata dan huruf dalam sebuah kata, bisa juga meliputi pencampuran huruf kapital dalam kata, sedangkan yang dimaksud dengan perubahan lafal dan tulisan adalah kata baku yang berubah pelafan, seperti pencadelan dan pemberian kesan imut.

Berikut ini contoh dari perubahan tulisan:

1. H4Hh? Sa11yA gg4k N63rTi

2. m3t b’r4kt!vT4$ , c4L@m cuKces

Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa terdapat perubahan tulisan yang memadukan antara huruf dan angka. Perubahan ini terjadi karena adanya suatu penulisan yang dianggap mengikuti perkembangan zaman pada masa itu. Penyebaran penulisan ini berlangsung pada media komunikasi, berupa telepon seluler, karena pada masa itu media sosial, seperti facebook atau twitter belum begitu banyak dikonsumsi banyak orang.

Belakangan ini, terutama di media sosial, sedang marak penggunaan atau pengucapan kata yang berupaya terdengar imut dan lucu — seperti diucapkan balita yang masih cadel. Gejala bahasa alay terbaru ini agak berbeda dengan bahasa alay edisi sebelumnya yang cenderung merepotkan pembacanya (bahkan pengguna sendiri). Kalau dulu, bahasa alay lebih menekankan pada permainan huruf-angka-huruf-angka serta penggunaan huruf yang jarang digunakan.

Berikut ini contoh perubahan lafal dan tulisan:

1. Cungguh

2. Ciyus

3. Miapah

4. Cemungudh

5. Chayank

Penggunan bahasa alay ini memiliki perubahan konteks antara zaman terdahulu dengan zaman terkini, yaitu jika yang terdahulu banyak digunakan untuk sungguh-sungguh mengatakan apa yang ia sampaikan, yang terkini banyak digunakan dalam konteks bercanda.

Dari contoh-contoh di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa fenomena bahasa alay telah banyak mengubah kata dalam bahasa Indonesia. Hal ini masih bisa dianggap wajar apabila tidak menjadi suatu kebiasaan. Bahasa Indonesia mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Di setiap perubahannya, terdapat perbedaan yang nyata, seperti contohnya dalam perubahan tulisan dan perubahan lafal dan tulisan. Dampak positif dalam hal ini adalah sebagai bahan lelucon antarorang yang dapat menambah keakraban, tetapi dampak negatifnya adalah banyak masyarakat cenderung menjadi tidak tahu kadiah bahasa Indonesia yang benar.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Apa yang Kau Dapat dari Kompasianival 2014 …

Hendi Setiawan | | 22 November 2014 | 22:39

OS Tizen, Anak Kandung Samsung yang Kian …

Giri Lumakto | | 21 November 2014 | 23:54

Aku dan Kompasianival 2014 …

Seneng Utami | | 22 November 2014 | 02:18

Obama Juara 3 Dunia Berkicau di Jaring …

Abanggeutanyo | | 22 November 2014 | 02:59

Seru! Beraksi bareng Komunitas di …

Kompasiana | | 19 November 2014 | 16:28


TRENDING ARTICLES

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00

Memotret Wajah Jakarta dengan Lensa Bening …

Tjiptadinata Effend... | 21 November 2014 21:46

Ckck.. Angel Lelga Jadi Wasekjen PPP …

Muslihudin El Hasan... | 21 November 2014 18:13

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 21 November 2014 13:06


Subscribe and Follow Kompasiana: