Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Wil

Jangan mudah melemah, karena sesungguhnya melemah adalah ketidakmampuan yang dibuat-buat.

Orang Bugis Overload Penggunaan Huruf G & NG

OPINI | 28 December 2012 | 12:19 Dibaca: 404   Komentar: 0   0

Saya merupakan asli suku Bugis, bisa dibilang Bugis tulen karena memang lahir di daerah basis orang Bugis yaitu Bone, Sulawesi Selatan (satu kampung dengan Pak JK, mantan wapres kita bersama), namun sekarang berdomisili di salah satu daerah otonom di Kaltim.

Selang beberapa minggu setelah menginjakkan kaki di Kalimantan, saat tengah berada di tempat keramaian, saya sedikit tercengang ketika secara spontan mendengar kata yang entah dari mana asalnya bahwa ”Orang Bugis kalau ngomong kelebihan huruf G”. Kalau dengar kalimat tersebut, sudah cukup menggetarkan emosi hingga akan membuncah. Padahal tidak semua orang Bugis overload penggunaan huruf G, toh hanya sebagian kecil saja.

Kenyataan memang seperti itu. Contoh kata “Mungkin” disebut “Mungking. “Ikan” menjadi “Ikang”, “Awaluddin” berubah “Awaludding” dan tentu masih banyak lagi.

Masalah “syndrome” kelebihan huruf G dialami oleh hanya sebagian kecil oleh orang Bugis, selebihnya adalah mereka yang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Dari bahasa sehari-hari orang Bugis memang pada umumnya juga berakhiran “G & NG”. Sebut saja “Minung (Minum)”, Leppang (Singgah), Botting (Nikah/Kawin), Goncing (Gunting), Leureng (Tempat Tidur), dan lain-lain.

Saya berpendapat bahwa kebiasaan menggunakan bahasa daerah yang notabene sudah umum berakhiran G &NG, juga dikonversi menjadi bawaan ke dalam bahasa Indonesia yang berakhir huruf N hingga akhirnya berakhiran NG juga.

Selain alasan “Ala Bisa Karena Biasa” di atas, mungkin juga didasari oleh faktor pendidikan bahasa Indonesia yang kurang “mereka” serap dengan baik. Dari segi usia, dominan yang overload penggunaan huruf G & NG ini adalah golongan umur 40 tahunan ke atas. Sangat tergolong minim untuk golongan umur di bawahnya.

Terlepas dari semua alasan di atas, saya juga harus mengatakan bahwa Bugis merupakan salah satu suku, juga budaya yang merangkai negeri.

Saling menghargai di tengah kemajemukan. Bukan menjudge, bukan menghardik, antara satu sama lain.

Ini Indonesia, Bung …!!!

Dengan segala keunikannya …!!!

Balikpapan, 28-12-2012.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Secuil dari Acara Kompasiana Nangkring …

Find Leilla | | 28 March 2015 | 21:31

[kampretjebul4] Pasar Lanang dan Pasar Wedok …

Nanang Diyanto | | 28 March 2015 | 21:01

Daftar dan Tonton KompasianaTV di …

Kompasiana | | 13 February 2015 | 14:17

Warna-warni Devia Sherly dan Kolaborasi Tiga …

Alvidhiansyah Putra... | | 28 March 2015 | 17:47

[Blog&Photo Competition] Saatnya Non …

Kompasiana | | 17 March 2015 | 16:48


TRENDING ARTICLES

Belajar dari Olga Syahputra, Sukses Muda …

Pakde Kartono | 4 jam lalu

Mengapa Kamu Tidak Berjilbab? …

Feby Indirani | 9 jam lalu

“Evan Dimas Adalah Fotokopi Xavi ”Aji …

Attar Musharih | 10 jam lalu

ARB Prahara Bagi Golkar …

Restoe Bumi Victori... | 14 jam lalu

Dari BBM Naik, Pemerintah Ambil Dana Rakyat …

Ashwin Pulungan | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: