Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Wil

Jangan mudah melemah, karena sesungguhnya melemah adalah ketidakmampuan yang dibuat-buat.

Orang Bugis Overload Penggunaan Huruf G & NG

OPINI | 28 December 2012 | 12:19 Dibaca: 390   Komentar: 0   0

Saya merupakan asli suku Bugis, bisa dibilang Bugis tulen karena memang lahir di daerah basis orang Bugis yaitu Bone, Sulawesi Selatan (satu kampung dengan Pak JK, mantan wapres kita bersama), namun sekarang berdomisili di salah satu daerah otonom di Kaltim.

Selang beberapa minggu setelah menginjakkan kaki di Kalimantan, saat tengah berada di tempat keramaian, saya sedikit tercengang ketika secara spontan mendengar kata yang entah dari mana asalnya bahwa ”Orang Bugis kalau ngomong kelebihan huruf G”. Kalau dengar kalimat tersebut, sudah cukup menggetarkan emosi hingga akan membuncah. Padahal tidak semua orang Bugis overload penggunaan huruf G, toh hanya sebagian kecil saja.

Kenyataan memang seperti itu. Contoh kata “Mungkin” disebut “Mungking. “Ikan” menjadi “Ikang”, “Awaluddin” berubah “Awaludding” dan tentu masih banyak lagi.

Masalah “syndrome” kelebihan huruf G dialami oleh hanya sebagian kecil oleh orang Bugis, selebihnya adalah mereka yang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Dari bahasa sehari-hari orang Bugis memang pada umumnya juga berakhiran “G & NG”. Sebut saja “Minung (Minum)”, Leppang (Singgah), Botting (Nikah/Kawin), Goncing (Gunting), Leureng (Tempat Tidur), dan lain-lain.

Saya berpendapat bahwa kebiasaan menggunakan bahasa daerah yang notabene sudah umum berakhiran G &NG, juga dikonversi menjadi bawaan ke dalam bahasa Indonesia yang berakhir huruf N hingga akhirnya berakhiran NG juga.

Selain alasan “Ala Bisa Karena Biasa” di atas, mungkin juga didasari oleh faktor pendidikan bahasa Indonesia yang kurang “mereka” serap dengan baik. Dari segi usia, dominan yang overload penggunaan huruf G & NG ini adalah golongan umur 40 tahunan ke atas. Sangat tergolong minim untuk golongan umur di bawahnya.

Terlepas dari semua alasan di atas, saya juga harus mengatakan bahwa Bugis merupakan salah satu suku, juga budaya yang merangkai negeri.

Saling menghargai di tengah kemajemukan. Bukan menjudge, bukan menghardik, antara satu sama lain.

Ini Indonesia, Bung …!!!

Dengan segala keunikannya …!!!

Balikpapan, 28-12-2012.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wisata ke Perbatasan Surga dan Neraka di …

Taufikuieks | | 17 December 2014 | 11:24

Melahirkan Cesar Versi Saya dan Ashanty …

Mariam Umm | | 17 December 2014 | 13:39

Mau Operasi Kanker Tulang Kemaluan Atau …

Posma Siahaan | | 17 December 2014 | 19:17

The Hobbit: The Battle of the Five Armies …

Iman Yusuf | | 17 December 2014 | 21:02

Lima Edisi Klasik 16 Besar Liga Champions …

Choirul Huda | | 17 December 2014 | 21:54


TRENDING ARTICLES

Sadisnya Politik Busuk Masa Pilpres di …

Mawalu | 6 jam lalu

Kalah Judi Bola Fuad Sandera Siswi SD …

Dinda Pertiwi | 7 jam lalu

Mas Ninoy N Karundeng, Jangan Salahkan Motor …

Yayat | 8 jam lalu

Jiwa Nasionalis Menteri yang Satu Ini …

Adjat R. Sudradjat | 8 jam lalu

Hanya Butuh 22 Detik Produksi Sebuah Motor …

Ben Baharuddin Nur | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Berjumpa dengan Agen-agen Tuhan …

Irfan Fauzi | 8 jam lalu

Melihat Lebih Dekat Honda Berkembang (Visit …

Novaly Rushans | 8 jam lalu

Tarian Bayang-bayang Bulan …

Handy Pranowo | 9 jam lalu

Pilot Cantik, Menawan dan Berhijab …

Axtea 99 | 9 jam lalu

7 Cara Ajaib! Memenangkan Lomba Vote di …

Giant Sugianto | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: