Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Wil

Jangan mudah melemah, karena sesungguhnya melemah adalah ketidakmampuan yang dibuat-buat.

Orang Bugis Overload Penggunaan Huruf G & NG

OPINI | 28 December 2012 | 12:19 Dibaca: 375   Komentar: 0   0

Saya merupakan asli suku Bugis, bisa dibilang Bugis tulen karena memang lahir di daerah basis orang Bugis yaitu Bone, Sulawesi Selatan (satu kampung dengan Pak JK, mantan wapres kita bersama), namun sekarang berdomisili di salah satu daerah otonom di Kaltim.

Selang beberapa minggu setelah menginjakkan kaki di Kalimantan, saat tengah berada di tempat keramaian, saya sedikit tercengang ketika secara spontan mendengar kata yang entah dari mana asalnya bahwa ”Orang Bugis kalau ngomong kelebihan huruf G”. Kalau dengar kalimat tersebut, sudah cukup menggetarkan emosi hingga akan membuncah. Padahal tidak semua orang Bugis overload penggunaan huruf G, toh hanya sebagian kecil saja.

Kenyataan memang seperti itu. Contoh kata “Mungkin” disebut “Mungking. “Ikan” menjadi “Ikang”, “Awaluddin” berubah “Awaludding” dan tentu masih banyak lagi.

Masalah “syndrome” kelebihan huruf G dialami oleh hanya sebagian kecil oleh orang Bugis, selebihnya adalah mereka yang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Dari bahasa sehari-hari orang Bugis memang pada umumnya juga berakhiran “G & NG”. Sebut saja “Minung (Minum)”, Leppang (Singgah), Botting (Nikah/Kawin), Goncing (Gunting), Leureng (Tempat Tidur), dan lain-lain.

Saya berpendapat bahwa kebiasaan menggunakan bahasa daerah yang notabene sudah umum berakhiran G &NG, juga dikonversi menjadi bawaan ke dalam bahasa Indonesia yang berakhir huruf N hingga akhirnya berakhiran NG juga.

Selain alasan “Ala Bisa Karena Biasa” di atas, mungkin juga didasari oleh faktor pendidikan bahasa Indonesia yang kurang “mereka” serap dengan baik. Dari segi usia, dominan yang overload penggunaan huruf G & NG ini adalah golongan umur 40 tahunan ke atas. Sangat tergolong minim untuk golongan umur di bawahnya.

Terlepas dari semua alasan di atas, saya juga harus mengatakan bahwa Bugis merupakan salah satu suku, juga budaya yang merangkai negeri.

Saling menghargai di tengah kemajemukan. Bukan menjudge, bukan menghardik, antara satu sama lain.

Ini Indonesia, Bung …!!!

Dengan segala keunikannya …!!!

Balikpapan, 28-12-2012.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tertangkapnya Polisi Narkoba di Malaysia, …

Febrialdi | | 01 September 2014 | 06:37

Menjelajahi Museum di Malam Hari …

Teberatu | | 01 September 2014 | 07:57

Memahami Etnografi sebagai Modal Jadi Anak …

Pebriano Bagindo | | 01 September 2014 | 06:19

Kompas TV Ramaikan Persaingan Siaran Sepak …

Choirul Huda | | 01 September 2014 | 05:50

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 5 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 6 jam lalu

Salon Cimey; Acara Apaan Sih? …

Ikrom Zain | 6 jam lalu

Bayern Munich Akan Disomasi Jokowi? …

Daniel Setiawan | 7 jam lalu

Kisah Ekslusive Tentang Soe Hok Gie …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | 7 jam lalu

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | 8 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 8 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

‘Royal Delft Blue’ : Keramik …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: