Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Abul Muammar

Benar semua. Salah semua. Benar: misteri Ilahi yang harus terus menerus dipelajari.

Penyakit Lemah Menulis

OPINI | 27 December 2012 | 22:49 Dibaca: 198   Komentar: 0   0

SALAH satu dampak yang paling terasa dari kedangkalan intelektualitas adalah lemahnya kemampuan menulis. Menulis merupakan bentuk refleksi utama sekaligus wujud keteraturan berpikir seseorang tentang ilmu dan pengalaman yang dimilikinya. Oleh karenanya, ketidakmampuan/kelemahan dalam menulis praktis menunjukkan kegagalan dalam berpikir logis, kritis, runtut dan runut, serta tak ketinggalan, tak bergairah dalam mengapresiasi bahasa.

Menulis, bagi banyak pihak, adalah sesuatu yang tak penting. Bahkan sebagian pihak lain menganggap bahwa menulis adalah hal yang remeh-temeh. Pemikiran yang terakhir ini banyak menjangkiti kalangan pelajar muda yang berada dalam lingkup ilmu eksakta.

Ikhwal kelemahan tulis-menulis ini diyakini bukan karena buruknya tingkat kecerdasan anak bangsa, tetapi diyakini lebih disebabkan oleh minat serta kesadaran yang kurang akan bermanfaatnya kemampuan menulis itu. Menulis yang dimaksud di sini tentu bukan sekedar menyusun kata-kata menjadi kalimat belaka, melainkan merangkainya menjadi sebuah representasi ungkapan, gagasan, ide, seni, dan sebagainya dalam keteraturan-keteraturan berpikir dan berbahasa.

Saya menduga, mungkin lemahnya kemampuan menulis anak bangsa ini gara-gara lemah dalam berpikir serta kacau dalam berbahasa. Kalau memang itu sebabnya, berarti penyakit ini ada di akarnya. Tegasnya, intelektualitas anak bangsa ini sedang loyo. Kalau demikian, mari kita bedah patologi lemah-menulis ini. (Ini merupakan pengamatan sekaligus pengalaman saya juga lho).

Pertama, kita meyakini bahwa menulis itu bisa karena biasa. Semakin sering dan terbiasa, maka seseorang akan semakin terampil menulis. Nah, kalau kebiasaan menulis itu tidak diilhami, mau sampai kapan bisa jago-nulis?

Kedua, unsur dasar menulis itu adalah bahasa. Huruf dibentuk menjadi kata, kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragrap, paragrap menjadi rantai paragrap, dan seterusnya. Semuanya itu tunduk kepada tata bahasa yang ada. Sehingga pengetahuan tentang (tata) bahasa, yang mengajari kita mulai dari kapan harus menggunakan koma, kapan harus menggunakan titik, sampai bagaimana mengaitkan satu kalimat ke kalimat berikutnya, yang sudah seyogyanya harus kita ketahui (kalau harus, kuasai) dari pelajaran bahasa sejak SD dulu, adalah wajib hukumnya! Jadi, bagi yang terkendala di bagian ini, wajib mempelajari kembali tata bahasa!

Ketiga, merujuk pada “menulis itu refleksi dan ungkapan pengalaman”, maka menulis itu membutuhkan kepekaan terhadap lingkungan atau apa yang teramati di sekitar kita. Maka dari itu ada ungkapan, “Menulis itu membaca dulu”. Artinya kita harus membiasakan diri untuk membaca (peduli terhadap) apa yang sedang terjadi di sekeliling kita dan sesegera mungkin menuliskannya sesuai apa yang kita rasakan terhadap kejadian tersebut. Jadi, yang selama ini cuek dan baru sadar setelah jadi “korban” wacana, ayo, mulailah menjadi pembuat wacana lewat menulis.

Keempat, seiring dengan perkembangan dalam menulis, kita pasti menginginkan dan membutuhkan kata-kata baru atau kata-kata yang selama ini tidak pernah kita gunakan. Hal ini bertujuan agar tulisan kita semakin kaya dan segar. Untuk itu, biasakan diri sesering mungkin mengecek kamus ketika kita menemukan sebuah kata yang kita ragu atau tak tahu artinya. Kata-kata baru itu bisa kita peroleh dari membaca, apa saja. Yang terpenting, rajinlah membaca tulisan-tulisan yang bermutu dan bermanfaat - dalam arti memiliki kekayaan ilmu. Sekali lagi, ungkapan “Menulis itu membaca dulu” berlaku di sini. Jadi tanamkanlah kebiasaan membaca untuk memperkaya tulisan kita.

Kelima, berbanggalah dengan menulis. Ini merupakan penyokong spirit kita dalam menulis. Jadikan menulis itu sebagai identitas kita yang membanggakan. Dengan begitu, kegiatan dan konsistensi kita dalam menulis niscaya terjaga.

Itulah beberapa bedah penyakit lemah menulis yang merupakan pengalaman berharga yang pernah saya alami dalam menulis. Di samping uraian di atas, ada banyak momentum dimana saya terjatuh. Tetapi saya berusaha bangkit lagi. Rekan-rekan calon penulis sekalian juga pasti akan mengalaminya. Tetapi itu semua asyik. Terpenting adalah bahwa semua orang di bangsa ini, khususnya para pelajar, mampu menulis untuk menjadikan bangsa ini bangsa yang cerdas.

Mari menulis! Kita pasti bisa!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bergembira Bersama Anak-anak Suku Bajo …

Akhmad Sujadi | | 17 September 2014 | 05:23

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48

Jokowi Menghapus Kemenag atau Mengubah …

Ilyani Sudardjat | | 17 September 2014 | 13:53

Menempatkan Sagu Tidak Hanya sebagai Makanan …

Evha Uaga | | 16 September 2014 | 19:53

5 Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam …

Hendra Makgawinata | | 17 September 2014 | 19:50


TRENDING ARTICLES

Bangganya Pakai Sandal Jepit Seharga 239 …

Jonatan Sara | 8 jam lalu

Percayalah, Jadi PNS Itu Takdir! …

Muslihudin El Hasan... | 11 jam lalu

Yang Dikritik Cuma Jumlah Menteri dan Jatah …

Gatot Swandito | 11 jam lalu

Sebuah Drama di Akhir Perjalanan Studi …

Hanafi Hanafi | 12 jam lalu

Di Airport, Udah Salah Ngotot …

Ifani | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Pijat Refleksi Hilangkan Keluhan Lambungku …

Isti | 7 jam lalu

(Lumen Histoire) Sejarah dan Seputar …

Razaf Pari | 8 jam lalu

Kisah Pilu “Gerbong Maut” di …

Mawan Sidarta | 8 jam lalu

Batik Tulis Ekspresif yang Eksklusif …

Anindita Adhiwijaya... | 8 jam lalu

Akherat, Maya Atau Nyata? …

Akhmad Fauzi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: