Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Syarif Yunus

Profesional bekerja di Manulife Indonesia & Pemerhati Pendidikan Bahasa. Ketua Ikatan Alumni Bahasa dan Sastra selengkapnya

Bahasa Indonesia Pada Dunia Maya & Jejaring Sosial; Ancaman atau Peluang?

OPINI | 21 December 2012 | 08:34 Dibaca: 2869   Komentar: 2   1

Oleh: Syarifudin Yunus, Pemerhati Bahasa Indonesia

Tidak ada yang dapat menyangkal, bahasa memiliki peran yang sangat penting. Bahasa menjadi alat yang paling efektif dalam setiap aktivitas komunikasi. Setiap manusia memerlukan bahasa agar dapat menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya. Dalam pemakaiannya, bahasa menjadi sangat beragam. Keragaman bahasa sangat bergantung pada kebutuhan dan tujuan komunikasi. Bahasa dapat dilakukan secara lisan maupun tulisan.

1389704041222900623

Seiring majunya peradaban manusia, termasuk di Indonesia, banyak cara yang dipilih pemakai bahasa dalam berkomunikasi. Bahkan pilihan cara komunikasi tidak hanya makin beragam tapi juga semakin canggih. Salah satu fenomena komunikasi yang paling pesat saat ini adalah penggunaan bahasa yang didukung oleh perangkat teknologi mutakhir, khususnya bahasa yang digunakan pada dunia maya dan jejaring sosial, seperti internet, facebook, twitter, chatting, email, sms, dan sebagainya.

Penggunaan bahasa di dunia maya dan jejaring sosial inilah yang patut mendapat perhatian para praktisi dan pemerhati bahasa. Apalagi di tengah kemunculan fenomena “bahasa alay” yang makin merasuk di kalangan remaja. Dukungan kecanggihan teknologi telah menjadikan bahasa dalam segala bentuknya mengalami kemajuan varian yang sangat pesat. Bagaimana tidak? Fakta bahwa pengguna internet di Indonesia hingga tahun 2012 ini telah mencapai 63 juta orang (Okezone, 12 Desember 2012) atau naik 300% dalam 5 tahun terakhir. Kondisi ini diperkuat dengan adanya 29 juta orang meng-akses internet secara mobile sebagai tanda tingkat produktivitas pemakaian bahasa pemakainya. Proyeksi ini akan terus berkembang hingga mencapai 80 juta orang pada tahun 2014. Di sisi lain, data Kominfo April 2012 menyebutkan jumlah pengguna jejaring sosial di Indonesia juga sangat besar. Setidaknya tercatat sebanyak 44,6 juta pengguna Facebook dan sebanyak 19,5 juta pengguna Twitter di Indonesia. Kondisi ini bertolak belakang dengan kenyataan adanya 15 bahasa daerah yang sudah punah dan 139 bahasa daerah yang terancam punah dari 726 bahasa daerah yang ada di Indonesia.

Perkembangan teknologi begitu cepat dan dahsyat, manusia selalu mencari cara berkomunikasi yang cepat, murah dan praktis. Hanya dalam hitungan detik, kita dapat terhubung ke seluruh penjuru dunia tanpa batas ruang dan waktu. Inilah yang dinamakan dunia maya. Kita dapat dengan mudah beranjang sana kapanpun, dimanapun dan kepada siapapun asalkan memiliki dukungan teknologi yang dibutuhkan dan terkoneksi ke berbagai penjuru dunia tersebut. Jika saja teknologi mampu “bergerak cepat”, bagaimana bahasa mengantisipasinya?

Berlatar pada kondisi itulah, kita perlu berdiskusi dan menentukan sikap terhadap fenomena bahasa pada dunia maya dan jejaring sosial yang semakin mengglobal. Bagaimana kita memandang bahasa pada dunia maya dan jejaring sosial; ancaman atau peluang?

Bahasa Indonesia adalah salah satu aset penting bangsa Indonesia. Kenapa? Karena Bahasa Indonesia merupakan satu-satunya bahasa resmi yang membantu berbagai suku di Indonesia untuk berkomunikasi secara baik (Mustakim, 1994 : 2). Namun Bahasa Indonesia hari ini menghadapi tantangan yang berat seiring intervensi dan realitas penggunaan bahasa pada dunia maya atau jejaring sosial yang bertolak belakang dengan prinsip penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Apalagi bahasa pada dunia maya atau jejaring sosial semakin mendapat tempat di kalangan anak muda. Sebut saja, fenomena “bahasa alay” yang benar-benar sudah menjadi bahasa favorit mereka daripada Bahasa Indonesia itu sendiri. Hal ini terjadi karena anak muda sekarang membutuhkan pengakuan akan eksistensi mereka. Mereka hampir tidak punya ruang untuk mewujudkan eksistensi mereka. Jadi, anak muda yang tidak memakai bahasa alay maka tidak disebut anak gaul, dan status sosial seseoranglah yang paling mempengaruhi penggunaan bahasa itu sendiri (Meyerhofff, 2006:108).

Mari kita simak salah satu contoh “bahasa alay” dalam status Facebook seorang anak muda:

· haii, namaq aiiu (Ayu), quwtinggal dii dkeeet mumphunk (mampang) quw niie tmenndna kakag kaoo sii mhilaa, lam knall ya, oiyawh, aq single lowh. kaloo kmuu minadd maoo xmxx aq, xmx quuw jaa dii 0816xxxxxx, quwwtunggu yaachh !! aiiu-chann. XoXoo !

· beiibbhskuw chayaanx!kuuw chaiang kalii ma kmuuwh, cnenxz beuudh niiy arii bsaa ktmuuw kmuwhh!!!! cmogaaa qtaa bsaa slamanaaablsamaaa….. nathaacwamiikuwww-loubhe chaaaduuds..20072009 tilltheendophtaimm.. lophelophe phorepherr.

Sungguh tidak mudah untuk memahami bahasa di atas. Namun apabila dikaji, tampak sudah ada kesepahaman dalam penggunaan kombinasi huruf dan angka untuk merujuk pada kata tertentu yang dimaksudkan. Tentu, kesepahaman ini tidak membutuhkan “Kongres Bahasa Alay” tetapi cukup dengan saling belajar dan meniru melalui sms dan media sosial lainnya.

Kita juga patut bersyukur generasi alay ini belum muncul saat perumusan Sumpah Pemuda tahun 1928. Bayangkan, jika generasi alay diberi mandat membuat teks Sumpah Pemuda maka kalimat-kalimat yang dihasilkan seperti berikut ini:

Smph PMd4
K54tu: kaM1 p03tR4 d4n p03tr1 1ndn35i4 m3n64qu brt0mP4H d4Rh j4N6 54t03, t4n4h A1r 1ndn35i4
K
dw4: kaM1 p03tR4 d4n p03tr1 1ndon35i4 m3n64qu brBngs4 j4ng 54t03 B4n654 1ndn35i4
KTi64: kaM1 p03tR4 d4n p03tr1 1ndon35i4 m3n64qu m3njUnj0En6 b4h454 pr54tU4n b4h45a 1ndon35i4

Hal yang menarik dari fenomena “bahasa alay” adalah salah satu lembaga survey besar di Indonesia menyatakan bahwa penggunaan “bahasa alay” dalam marketing produk, membuat para remaja tertantang untuk membacanya dan 83% dari mereka akhirnya tertarik dan memutuskan untuk membelinya! Promosi memakai bahasa alay = kenaikan penjualan, sungguh dampak yang luar biasa! Ciyusss? Enelan ….. Miapah, begitulah kata-kata bahasa dunia maya dan jejaring sosial yang sedang menjadi tren saat ini. Ada yang benar-benar benci dengan bahasa tersebut, ada yang apatis, ada yang senang-senang saja.

1. Bahasa dunia maya dan jejaring sosial

Satu hal yang pasti dalam bahasa dunia maya dan jejaring sosial adalah adanya peralihan dari komunikasi lisan menjadi komunikasi tulisan. Hal ini terjadi karena dilakukan melalui internet. Cara berkomunikasi ini yang mendorong terjadinya eksplorasi untuk memperkaya bahasa tulis yang dipakai, termasuk penggunaan emotikon sebagai simbol ekspresi tertentu. Dari segi sifatnya, bahasa dunia maya biasanya terjadi pada pemakai bahasa yang sudah saling kenal, meskipun berada di ruang publik. Penggunaan singkatan-singkatan yang umum, seperti km dan u untuk ’kamu’ atau ’Anda’; thx atau tks untuk ’terima kasih’; gpp untuk ’tidak apa-apa’; ce untuk ’cewek’; co untuk ’cowok’, menjadi contoh adanya konsensus atau kedekatan emosional di antara pemakainya.

Bahasa dunia maya dan jejaring sosial telah menjadi realitas. Dalam konteks berbahasa, kita hanya perlu mencermati beberapa ciri bahasa pada dunia maya dan jejaring sosial, antara lain:

1. Adanya sisipan istilah atau kosakata bahasa Inggris yang digunakan dalam konstruksi kalimat bahasa Indonesia, seperti: install, blogging, googling, dan sebagainya).

2. Adanya singkatan pada sebagian besar konstruksi kalimat yang digunakan, seperti: met pagi, pa kbr?

3. Kalimat yang digunakan relatif lebih singkat dan cenderung tidak lengkap.

4. Dihiasi dengan beragam bentuk emotikon sebagai simbol ekspresi wajah, di samping untuk menghadirkan nuansa emosi dalam komunikasi tulisan.

5. Disisipi dengan kosakata khas penyedia layanan tertentu di internet, seperti facebook, Google, Yahoo!, friendster, Wikipedia, dan lain-lain.

6. Tulisan mencampuradukan huruf besar, huruf kecil, angka, dan emotikon.

7. Tulisan sering ditambahkan huruf yang tidak perlu dan tidak penting.

8. Tidak ada pola baku yang diterapkan dalam penulisan bahasa dunia maya dan jejaring sosial.

Berdasarkan ciri-ciri tersebut, bahasa dunia maya dan jejaring sosial dalam bentuk kosakata, ejaan, atau singkatan pada dasarnya dapat dengan mudah dikreasikan oleh siapapun. Bahasa “gaya maya dan alay” telah menjadi bahasa pemersatu pergaulan kalangan anak muda dan remaja saat ini. Karena sifatnya yang santai, bahasa dunia maya dan jejarimg sosial perlu dikawal agar tidak merambah ke aktivitas komunikasi dan berbahasa yang bersifat formal. Inilah sikap penting yang harus dijunjung setiap pemakai bahasa.

2. Bahasa dunia maya; ancaman atau peluang?

Ada yang menerima, ada yang menolak penggunaan bahasa dunia maya dan jejaring sosial. Sebagian kalangan tetap “ngotot” pentingnya penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun, ada juga yang menganggap Bahasa Indonesia terlalu kaku dan terlalu banyak aturan. Di sisi lain, fakta membuktikan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah hasilnya tidak cukup menggembirakan. Pada UN 2011 lalu, pelajaran Bahasa Indonesia memiliki nilai rata-rata lebih rendah jika dibandingkan dengan mata pelajaran lain, bahkan dengan pelajaran Bahasa Inggris. Bahasa Indonesia yang baik dan benar masih menjadi bahasa yang sulit untuk digunakan baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.

Jika demikan, salahkah kemunculan bahasa pada dunia maya dan jejaring sosial? Tidak ada yang salah. Peradaban manusia, budaya, dan lingkungan/demografis adalah faktor- faktor yang mempengaruhi pola berbahasa seseorang (Meyerhoff, 2006:108). Sikap bangsa Indonesia terhadap Bahasa Indonesia cenderung ambivalen, sehingga terjadi dilematis. Artinya, di satu pihak kita menginginkan Bahasa Indonesia menjadi bahasa modern, dan dapat mengikuti perkembangan zaman serta menginginkan pemakaian yang baik dan benar, tetapi di pihak lain, kita telah melunturkan identitas dan citra bahasa sendiri dengan lebih banyak mengapresiasi bahasa asing sebagai lambang kemodernan (Warsiman, 2006:42-43). Atas dasar itu, tidak heran jika kalangan muda dan remaja masa kini lebih cenderung menggunakan varian bahasa baru/asing sebagai bagian dari dinamika peradaban manusia.

Satu hal yang harus tetap disepakati adalah penggunaan Bahasa Indonesia yang bercampur kode dengan bahasa gaul, dunia maya, alay, slang, ataupun bahasa daerah selagi tidak dipakai dalam situasi formal tidaklah perlu dirisaukan. Namun, yang menjadi kerisauan kalau ragam formal bahasa Indonesia (baku) itu digunakan tidak sebagaimana mestinya (Nababan, 1993).

Jadi, bahasa dunia maya dan jejaring sosial akan menjadi ancaman apabila penggunaannya yang marak mulai merambah pada aktivitas berbahasa formal, baik lisan maupun tulisan. Selain itu, kita juga harus mencermati pergerakan bahasa pada dunia maya dan jejaring sosial pada akhirnya memiliki “nilai ekonomi” yang semakin tinggi atau tidak? Karena bahasa yang memiliki “nilai ekonomi tinggi” biasanya langgeng dan tidak bersifat sesaat sehingga mampu menggeser keberadaan bahasa utama atau formal.

Di sisi lain, fenomena bahasa pada dunia maya dan jejaring sosial dapat memberi peluang kepada Bahasa Indonesia untuk semakin menegaskan posisinya sebagai bahasa nasional dan bahasa persatuan. Setiap pemakai Bahasa Indonesia menjadi “hati-hati” terhadap perkembangan varian bahasa yang berkembang di masyarakat. Kita menjadi semakin “peduli” terhadap Bahasa Indonesia yang baik dan benar setelah munculnya fenomena bahasa dunia maya dan jejaring sosial.

Secara jujur, inilah momentum bagi pemakai Bahasa Indonesia untuk menerapkan pola tutur yang baik dan benar secara lisan maupun tulisan. Kita harus bersikap bangga terhadap Bahasa Indonesia dan selalu menjunjung tinggi kaidah pemakaiannya agar tidak hilang akibat dinamika peradaban manusia dan intervensi dari bahasa lain. Kita harus aktif dan tepat dalam menggunakan Bahasa Indonesia dan tidak menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa sarkasme terhadap generasi muda dan remaja. Bahasa adalah keharmonian. “Tidak ada satupun negara di dunia ini yang monolingual secara murni” (Meyerhoff, 2006:103).

Bahasa pada dumia maya dan jejaring yang semakin marak merupakan realitas akibat dinamika peradaban manusia. Bahasa dunia maya dan jejaring sosial merupakan pola bahasa peralihan dari bahasa lisan ke bahasa tulisan. Tidak ada yang salah dalam bahasa dunia maya karena dinamika peradaban manusia, budaya, dan lingkungan/demografis adalah faktor-faktor yang mempengaruhi pola berbahasa seseorang. Dunia maya dan jejaring sosial akan menjadi ancaman apabila penggunaannya yang marak mulai merambah pada aktivitas berbahasa formal, baik lisan maupun tulisan. Namun, bahasa dunia maya dan jejaring sosial akan memberi peluang kepada Bahasa Indonesia untuk semakin menegaskan posisinya sebagai bahasa nasional dan bahasa persatuan. Setiap pemakai Bahasa Indonesia menjadi “hati-hati” terhadap perkembangan varian bahasa yang berkembang di masyarakat, di samping semakin “peduli” terhadap Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Setiap pemakai Bahasa Indonesia harus aktif dalam menggunakan Bahasa Indonesia dan tidak menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa sarkasme terhadap generasi muda dan remaja. Bravo Bahasa Indonesia !

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ratusan Ribu Hingga Jutaan Anak Belum Dapat …

Didik Budijanto | | 31 July 2014 | 09:36

Olahraga Sebagai Industri dan Sarana …

Erwin Ricardo Silal... | | 31 July 2014 | 08:46

Espresso, Tradisi Baru Lebaran di Gayo …

Syukri Muhammad Syu... | | 31 July 2014 | 07:05

Rasa Takut, Cinta, Naluri dan Obsesi …

Ryu Kiseki | | 31 July 2014 | 03:42

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 15 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 17 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 19 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 21 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 24 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: