Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Alip Yog Kunandar

Alip Yog Kunandar alias Kang Alip, Berbagi ilmu di Prodi Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga. selengkapnya

Aksara Sunda, buat Apa?

OPINI | 07 December 2012 | 08:42 Dibaca: 564   Komentar: 0   2

1354844690381063749

Aksara Sunda dasar

“Baca apa Kang? Peta harta karun?” tanya Jajang yang memperhatikan Kabayan sedang membolak-balik kertas yang berisi huruf-huruf aneh, seperti huruf di piramida Mesir. Kabayan nyengir, “Ini teh hurup Sunda, Jang… sebagai orang Sunda, saya teh merasa harus bisa, malu, masak hurup Arab sama hurup Latin bisa, ari hurup Sunda nggak bisa…” jawab Kabayan.

Jajang melongok pada kertas yang dipegang Kabayan itu, “Hanacaraka?” tanya Jajang. Kabayan menggeleng, “Hanacaraka atau hurup cacarakan itu mah hurup Jawa.. ini mah hurup Sunda asli. Kata Pa Dadang, ini hurup Sunda yang sudah baku, penyempurnaan dari hurup Sunda kuno. Susunan hurupnya bukan ha-na-ca-ra-ka-da-ta-sa-wa-la, tapi ka-ca-ta-pa-ya-wa-ga-ja-da-ba-ra-sa…” terang Kabayan.

“Dulu saya diajari di SD, tapi yang hanacaraka itu…” kata Jajang sambil duduk di sebelah Kabayan dan meminjam kertas itu untuk memperhatikannya. “Kalau hanacaraka itu mah hurup Jawa, cuma memang pernah dipake di tatar Sunda, terutama sejak pengaruh Mataram menguat lewat Cirebon. Menurut Pa Dadang, ini hurup Sunda asli yang sempat hampir hilang karena penggunaan hanacaraka itu…” kata Kabayan lagi.

Jajang mengangguk-angguk, “Beda ya sama yang hanacaraka. Kalau yang hanacaraka lekukannya membulat, kalau yang ini tajam-tajam…” komentarnya. Kabayan mengiyakan, “Buat apa Kang Kabayan belajar hurup ini?” tanya Jajang lagi. “Ya sebagai orang Sunda, saya merasa wajib buat mempelajarinyaatuh Jang.. masak kita punya hurup sendiri nggak bisa memakainya…” jawab Kabayan.

“Persoalannya, bukan soal bisa atau enggak Kang, tapi setelah bisa mau diapakan? Memangnya Kang Kabayan mau ngirim surat pake hurup ini? Akang mungkin bisa, tapi yang dikirimi, apa bisa?” tanya Jajang. Kabayan diam sejenak, “Iya sih kalo soal itu mah saya juga bingung.. leluhur kita sudah dengan hebat membuat aksara ini, tapi anak cucu dan keturunannya nggak ada yang make, entah karena nggak bisa atau karena nggak mau make…” jawab Kabayan.

“Nah itu yang saya maksud Kang…” kata Jajang lagi, “Seharusnya, kalau kita punya dan bisa, kita kan harus memakainya. Tapi sekarang, coba, siapa yang make hurup itu?” tanyanya lagi. “Ya yang make ada, setau saya di Tasik, nama-nama jalan di bawah hurup Latin ada hurup Sunda-nya, yang ini…” jawab Kabayan.

“Ya itu bagus, persis kayak hurup Jawa yang dipake di nama-nama jalan di Jogja. Tapi ada nggak yang bisa membacanya?” tanya Jajang lagi. Kabayan menggeleng, “Paling yang bisa satu dua orang saja…” jawab Kabayan.

“Kalau begitu, hurup ini nggak ada manpaatnya… baru sebatas gagayaan, bangga pada sesuatu yang tidak banyak manpaatnya…” kata Jajang lagi. Kabayan agak tersinggung, “Ini bukan soal gagayaan Jang, tapi soal upaya melestarikan budaya!” katanya dengan nada agak tinggi.

Jajang tersenyum, “Saya tau Kang… kita memang harus melestarikan budaya, tapi budaya itu harus digunakan dan dimanpaatkan, bukan hanya sebagai tetenger (tanda) kejayaan masa lalu. Kejayaan masa lalu tidak ada gunanya kalau kita sebagai turunannya tidak mengambil manpaat dari kejayaan itu…” kata Jajang lagi.

“Terus, maksud kamu nggak ada gunanya kita belajar hurup ini?” tanya Kabayan yang masih sewot. Jajang tersenyum lagi dan menggeleng, “Bukan itu maksud saya Kang. Kalau kita bangga dengan ini, bahwa kita punya hurup sendiri, harusnya kan disebarkan, diajarkan, dan yang paling penting dipake dengan penuh kebanggaan. Lihat aja misalnya orang Thailand yang masih memakai hurupnya sampai sekarang, bukan hanya bangga, tapi dipake dalam keseharian, dan itu bukan hanya sebagai identitas bangsa, tapi juga sebagai ala komunikasi, sebagaimana kegunaan dasar dari hurup ini…” kata Jajang.

Kabayan merenung, “Bener juga sih Jang… pemerintah kita baru sebatas mengumumkan, ini nih hurup kita, hurup Sunda… tapi nggak ada upaya buat memakainya dengan lebih luas. Diajarkan ke anak-anak, dipake dalam acara-acara baik pormal maupun non pormal, jadi hurup itu berguna, bukan saja sebatas kebanggan kalau kita pernah punya hurup-hurup ini…” kata Kabayan. “Nah itu…” kata Jajang. “Kalau hanya bangga, akhirnya hurup itu hanya jadi penghuni museum saja, atau hanya jadi papan nama yang nggak dipahami sama sekali…” lanjut Jajang.

“Ya sudah, kalau begitu, kita harus memakainya…” kata Kabayan. Jajang meliriknya, “Di mana?” tanyanya. Kabayan tersenyum, “Kamu kan ketua Karang Taruna Jang… wajibkan semua pemuda dan anak-anak di sini untuk mempelajarinya, dan memakainya dalam berbagai kegiatan. Ngirim undangan, pake hurup ini, bikin pengumuman, pake hurup ini.. bila perlu, kalau kamu ngirim surat ke karang taruna kabupaten atau propinsi, kamu juga ngirim pake hurup ini, biar mereka juga belajar….” kata Kabayan.

Jajang diem sejenak, lalu mengangguk-angguk, “Bener Kang, saya setuju. Saya akan sosialisasikan hurup ini, lalu setelah itu akan dipake. Saya juga akan meminta Pak Kades memakainya di lingkungan desa. hebat idenya Kang, biar hurup itu bukan hanya jadi sekadar kebanggaan masa lalu!”

“Sip lah…” kata Kabayan. Jajang melirik, “Tapi Kang Kabayan ajari saya dulu ya… masak saya nyuruh anggota saya make, tapi sayanya nggak bisa…” katanya. “Ada honor buat ngajarinnya nggak?” tanya Kabayan sambil mesam-mesem. “Kang, orang yang menciptakan hurup ini aja nggak pernah minta honor atau royalti pada anak cucunya. Masak Akang mau mengkomersilkannya?” tanya Jajang sambil menatap Kabayan. Kabayan nyengir, “Persoalannya, saya juga belum bisa Jang, ini baru dikasih hurupnya sama Pa Dadang, suruh belajar sendiri!”

Jajang garuk-garuk kepala, “Ya sudah, nanti karang taruna bikin pelatihannya deh, ngundang Pa Dadang.. Kang Kabayan ikut ya, gratis!” katanya. Kabayan mengangguk, “Siap lah.. kalau belajarnya rame-rame kan asyik…” katanya.

Jogja, 7 Desember 2012

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

9 Mei 2014, Sri Mulyani Come Back …

Juragan Minyak | | 25 April 2014 | 10:12

Senayan Berduka: Wajah Baru Caleg Misterius …

Saefudin Sae | | 25 April 2014 | 08:37

Kesuksesan Kerabat Kepala Daerah di Sulawesi …

Edi Abdullah | | 25 April 2014 | 10:02

Ahmad Dhani: Saya Dijanjikan Kursi Menteri …

Anjo Hadi | | 24 April 2014 | 23:45

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: