Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Bahasa Jurnalistik

OPINI | 21 November 2012 | 12:13 Dibaca: 1072   Komentar: 1   0

MAKALAH BAHASA JURNALISTIK


Disusun Oleh :

NAMA :LAICCO ERVANDA

NIM :12.1.70405.0589

NO.HP :089675223692

EMAIL :laicco161718@gmail.com

DASAR – DASAR JURNALISTIK

Akademi Komunikasi Radya Binatama Yogyakarta

BAB I

PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG

Bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia yang diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi.

Bagi para penulis dan jurnalis (wartawan), bahasa merupakan senjata, dan kata-kata merupakan pelurunya. Tanpa menguasai bahasa jurnalistik dengan baik dan benar

mereka tidak akan bisa memengaruhi pikiran, suasana hati, dan gejolak pe-rasaan pembaca, pendengar, atau pemirsanya, maka dari itu, para penulis dan jurnalis harus dibekali dengan penguasaan yang memadai atas kosa kata, pilihan kata, kalimat, paragraf, gaya bahasa, dan etika bahasa jurnalistik.

Dalam bahasa jurnalistik, setiap kata harus bermakna, bahkan harus bertenaga, dan bercita rasa. Kata bertenaga dengan cepat dapat membangkitkan daya motivasi, persuasi, fantasi, dan daya imajinasi pada benak khalayak.

Bahasa jurnalistik juga harus memenuhi persyaratan, seperti tampil menarik, variatif, segar, berkarakter. Selain itu, ia juga harus senantiasa tampil ringkas dan lugas, logis, dinamis, demokratis, dan populis.

Penulisan berita di media massa menggunakan bahasa jurnalistik yang disyaratkan tampil menarik, variatif, segar, berkarakter. Selain itu, ia juga harus senantiasa tampil ringkas dan lugas, logis, dinamis, demokratis. Dalam bahasa jurnalistik, setiap kata harus bermakna, bertenaga, dan bercita rasa.


B. RUMUSAN MASALAH

Dari pendahuluan diatas, dapat dirumuskan sebuah permasalahan yaitu penyimpangan penulisan dan penggunaan bahasa jurnalistik terhadap kaidah penulisan bahasa indonesia yang benar. Dengan beberapa pertanyaan yang terkait dengan permasalahan itu :

1. Bagaimana Sejarah bahasa jurnalistik?

2. Apakah pengertian bahasa jurnalistik?

3. Bagaimana cara membuat bahasa jurnalistik yang baik dan benar?

4. Apa syarat, karakteristik; dan ciri bahasa jurnalistik ?

BAB II

A. SEJARAH BAHASA JURNALISTIK

Sejarah awal lahirnya jurnalistik bermula pada masa Kekaisaran Romawi Kuno ketika Julius Caesar (100-44 SM) berkuasa. Dia memerintahkan agar hasil sidang dan kegiatan para anggota senat setiap hari diumumkan pada papan pengumuman yang disebut Acta Diurna. Dari kata Acta Diurna inilah secara harfiah kata jurnalistik berasal yakni kata diurnal dalam bahasa Latin berarti harian atau setiap hari (Onong U. Effendy, 1996: 24). Sejak saat itu dikenal para diurnarii yang bekerja membuat catatan-catatan hasil rapat dari papan acta diurna itu setiap hari untuk para tuan tanah dan hartawan.
Kemudian pada abad ke-19 setelah manusia melakukan revolusi industri, manusia menyempurnakan berbagai teknologi untuk membantu kehidupannya. Antara pabrik dangan pertanian pun disambungkan, manusia tidak lagi hanya melakukan komunikasi antarpribadi dan kelompok. Teknologi komunikasi mempertemukan manusia melalui industri telepon, surat kabar, majalah, fotografi, radio, film, televisi, komputer, satelit dan internet. Manusia kini ada dalam abad informasi.
Berita merupakan salah satu sumber informasi yang dibutuhkan oleh manusia.


B.PENGERTIAN BAHASA JURNALISTIK

Bahasa Jurnalistik adalah gaya bahasa yang digunakan wartawan dalam menulis berita. Disebut juga Bahasa Komunikasi Massa (Language of Mass Communication, disebut pula Newspaper Language), yakni bahasa yang digunakan dalam komunikasi melalui media massa, baik komunikasi lisan (tutur) di media elektronik (radio dan TV) maupun komunikasi tertulis (media cetak), dengan ciri khas singkat, padat, dan mudah dipahami.

PENGERTIAN BAHASA URNALLISTIK MENURUT PARA AHLI :

Rosihan Anwar:
wartawan senior terkemuka menyatakan bahwa bahasa yang digunakan oleh wartawan dinamakan bahasa pers atau bahasa jurnalistik. Bahasa pers ialah bahasa yang memiliki sifat-sifat khas yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas, dan menarik. Bahasa jurnalistik harus didasarkan pada bahasa baku, dia tidak dapat menganggap sepi kaidah-kaidah tata bahasa. Dia juga harus memperhatikan ejaan yang benar. Dalam kosa kata, bahasa jurnalistik mengikuti perkembangan dalam masyarakat. (Anwar, 1991:1).

S. Wojowasito dari IKIP Malang
D
alam karya latihan wartawan Persatuan Wartawan Indonesia di Jawa Timur (1978), bahasa jurnalistik adalah bahasa komunikasi massa seperti tertulis dalam harian-harian dan majalah-majalah. Dengan fungsi yang demikian itu bahasa tersebut haruslah jelas dan mudah dibaca oleh mereka dengan ukuran intelek yang minimal, sehingga sebagian besar masyarakat yang melek huruf dapat menikmati isinya. Walaupun demikian, bahasa jurnalistik yang baik haruslah sesuai dengan norma-norma tata bahasa yang antara lain terdiri atas susunan kalimat yang benar dan pilihan kata yang cocok (Anwar, 1991: 1-2).

JS Badudu
B
ahasa surat kabar harus singkat, padat, sederhana, jelas, lugas, tetapi selalu menarik. Sifat-sifat itu harus dipenuhi oleh bahasa surat kabar mengingat bahasa surat kabar dibaca oleh lapisan-lapisan masyarakat yang tidak sama tingkat pengetahuannya. Mengingat bahwa orang tidak harus menghabiskan waktunya hanya dengan membaca surat kabar. Harus lugas, tetapi jelas, agar mudah dipahami. Orang tidak perlu mesti mengulang-ulang apa yang dibacanya karena ketidakjelasan bahasa yang digunakan dalam surat kabar.

Asep Syamsul M. Romli
Bahasa Jurnalistik/Language of mass communication. Bahasa yang biasa digunakan wartawan untuk menulis berita di media massa. Sifatnya : (1) komunikatif, yakni langsung menjamah materi atau ke pokok persoalan (straight to the point), tidak berbunga-bunga, dan tanpa basa-basi. Serta (2) spesifik, yakni jelas atau mudah dipahami orang banyak, hemat kata, menghindarkan penggunaan kata mubazir dan kata jenuh, menaati kaidah-kaidah bahasa yang berlaku (Ejaan yang disempurnakan), dan kalimatnya singkat-singkat.

Dewabrata
Penampilan bahasa ragam jurnalistik yang baik bisa ditengarai dengan kalimat-kalimat yang mengalir lancar dari atas sampai akhir, menggunakan kata-kata yang merakyat, akrab di telinga masyarakat sehari-hari; tidak menggunakan susunan yang kaku formal dan sulit dicerna. Susunan kalimat jurnalistik yang baik akan menggunakan kata-kata yang paling pas untuk menggambarkan suasana serta isi pesannya. Bahkan nuansa yang terkandung dalam masing-masing kata pun perlu diperhitungkan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia(2005)
Bahasa jurnalistik adalah salah satu ragam bahasa Indonesia, selain tiga lainnya — ragam bahasa undang-undang, ragam bahasa ilmiah, dan ragam bahasa sastra.

C. MAKNA KATA JURNALISTIK

1. Pengertian makna
Menurut kamus, makna adalah arti atau maksud sesuatu kata (Anwar, 2002:285). Menurut seorang pakar bahasa, makna adalah hubungan antara bahasa dan dunia luar yang telah disepakati bersama oleh para pemakai bahasa sehingga dapat dimengerti (Bolinger, 1981: 108 dalam Aminuddin, 2003:153).
2. Makna denotative
Kata yang tidak mengandung makna atau perasaan-peraan tambahan disebut kata denotatif, atau maknanya disebut makna denotatif. Makna denotatif juga dengan beberapa istilah lain seperti makna denotasonal, makna kognitif, makna konseptual, makna ideasional, makna referensial, atau makna proporsional.
3. Makna konotatif
Makna kata yang mengandung arti tambahan, perasaan tertentu, atau nilai rasa tertentu disamping makna dasar yang umum, dinamakan makna konotatif atau konotasi.


D. DIKSI DALAM BAHASA JURNALISTIK
Menurut Gorys Keraf, pilihan kata tidak hanya mempersoalkan ketepatan pemkaian kata, tetapi juga mempersoalkan apakah diterima atau merusak suasan yang ada. (Keraf, 2004:24). Jadi pilhan kata atau diksi harus pula senantiasa memp[ertimbangkan dimensi psikologis suatu masyarakat. Masalah pemakaian kata dalam bahasa jurnalistik, adalah sebagai berikut:
(1) Kata bersinonim,
(2) Kata bernilai rasa,
(3) Kata konkret,
(4) Kata abstrak,
(5) Kata umum,
(6) Kata khusus, dan
(7) Kata lugas.

E. KAIDAH DIKSI JURNALISTIK
1. Dua persoalan pokok
1) Ketepatan Pemilihan kata 2) Kesesuaian atau kecocokan
2. Syarat ketepatan diksi
Gorys Keraf (2004:88-89) mengingatkan, kita harus memperhatikan sepuluh hal kalau ingin mencapai ketepatan dalam pilihan kata atau diksi adalah, sabagai berikut:
1) Membedakan secara cermat denotasi dari konotasi
2) Membedakan dengan cermat kata-kata yang hamper bersinonim
3) Membedakan kata-kata yang mirip dalam ejaannya
4) Hindarilah kata-kata ciptaan sendiri
5) Waspadalah terhadap penggunaan akhiran asing
6) Kata kerja yang menggunakan kata depan harus digunakan secara idiomatic
7) Membedakan kata umum dan kata khusus
8) Menggunakan kata indria yang menunjukkan persepsi yang khusus
9) Memperhatikan perubahan makna
10) Memperhatikan kelangsungan pemilihan kata


F. PERUBAHAN KOSA KATA JURNALISTIK
Karakter atau sifat dinamis memungkinkan kosa kata dalam bahasa jurnalistik mengalami,
(1) Penyempitan makna,
(2) Perluasan kata,
(3) Penguasaan kata aktif,
(4) Pengaktifan kosa kata: lebih sering menggunakan kata tertentu, mempertajam pengertian kata, dan menerbitkan pemakaian kata yang khas,
(5) Ameliorasi,
(6) Peyorasi, dan
(7) Metafora


BAB III

MENULIS PARAGRAF JURNALISTIK

A. ARTI DAN DEFENISI PARAGRAF JURNALISTIK


1. Pengertian paragraph jurnalistik
Paragraph sering disebut pula alinea. Secra fisik visual, sebuah paragraph atau alinea ditandai dengan penulisan kata awal kalimat yang menjorok ke dalam beberapa ketukan. Biasanya cukup lima sampai tujuh ketukan. Inilah yang lazim dinamakan baris baru atau ganti baris. Sebuah paragraph terdiri atas beberapa kalimat, bisa pula hanya sebuah kalimat. 

2. Defenisi paragraph jurnalistik
Pakar bahasa Djago Tarigan mendefenisikan paragraph sebagai berikut: paragraph adalah seperangkat kalimat tersusun logis-sistematis yang merupakan satu kesatuan ekspresi pikiran yang relevan dan mendukung pikiran pokok yang tersirat dalam keseluruhan karangan (Tarigan, 1981:11). Sedangkan guru besar Gorys Keraf menjelaskan, paragraph atau alinea tidak lain dari sautu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat. Ia merupakan himpunan dari kalimat-kalimat yang bertalinan dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan. Dalam alinea itu gagasan tadi menjadai jelas oleh uraoian-uaraian tambahan, yang maksudnya tidak lain untuk menampikan pokok pikiran tersebut secara lebih jelas (Keraf, 2000:62).
Dengan merujuk kepada defenisi Djago Tarigan tentang paragraph, maka defenisi paragraph jurnalistik sebagai berikut: paragraph jurnalistik adalah seperangkat kalimat tersusun logis-sistematis yang merupakan satu kestuan ekspresi pikiran yang relevan dan mendukung pikiran pokok yang tersirat dalam keseluruhan paparan materi jurnalistik tertentu.


B. KARAKTERISTIK PARAGRAF JURNALISTIK
Ada lima cirri atau karakteristik paragraphjurnalistik:
(1) Setiap paragraph mengandiung makna, pesan, pikiran, atau ide pokok yang relevan dengan ide pokok keseluruhan karangan,
(2) Umumnya paragraph dibangun oleh sejumlah kalimat,
(3) Paragraph adlah satu kesatuan ekspresi pikiran,
(4) Paragraph adalah kesatuan yang koheren dan padat, dan
(5) Kalimat-kalimat paragraph tersusun secara logis-sistenmatis (tarigan, 1981:11).

C. FUNGSI PARAGRAF JURNALISTIK
Sebuah paragraph memiliki empat fungsi (jsama dengan paragraph jurnalistik):
(1) Sebagai penampung dari sebagian kecil jalan pikiran atau ide pokok keseluruhan karangan,
(2) Memudahkan pemahaman jalan pikiran atau ide pokok pengarang,
(3) Memungkinkan pengrang melahirkan jalan pikirannya secara sitematis, dan
(4) Mengarahkan pemabaca dalam mengikuti alur pikiran pengarang setrta memahaminya (tarigan, 1981:11-12).

D. UNSUR-UNSUR PARAGRAF JURNALISTIK
Alat bantu untuk menciptakan susunan logis-sistematis itu ialah elemen-elemen paragraph yang mencakup empat unsure (demikian pula pada paragraph jurnalistik):
(1) Transisi (transition),
(2) Kaliamat topic (topic sentence),
(3) Kalimat pengembang (development sentence), dan
(4) Kalimat penegas (punch line).
Keempat unsure paragraph ini kadang-kadang bersama-sama, kadang-kadang hanya sebagian tampil dalam suatu paragraph (Tarigan, 1981:13).

E. JENIS-JENIS PARAGRAF JURNALISTIK
Paragraph, berdasarkan jenisnya, dikelompokkan ke dalam: (1) paragraph dedukti, (2) paragraph induktif, (3) paragraph campurtan, (4) paragraph perbandingan. (5) paragraph p[ertanyaan, (6) paragraph sebab-akibat, (7) paragraph contoh, (8) paragraph pengulangan, dan (9) paragraph defenisi (Tarigan, 1981 30-34). Paragraph jurnalistk tidak terkecuali. Setiap penulis atau jurnalis, bebas untuk memilih jenis paragraph mana yang disukai serta yang paling cocok dengan jalan cerita yang disajikannya. Terpenting, setiap paragraph jurnalistik yang disusunnya harus efektif dan variatif.

F. KUALITAS PARAGRAF JURNALISTIK
Menurut seorang pakar bahasa, kriteria kualitas paragraf menunjukkan kepada enam hal, yaitu (1) isi paragraf berpusat hanya pada satu hal saja, (2) isi paragraf relevan dengan isikarangan, (3) paragraph harus menyatu dan padu, (4) kalimat topik harus dikembanghkan dengan jelas dan sempurna, (5) struktur paragraf harus bervariasi, (6) pargraf tertulis dalam bahasa Indonesia yang benar dan baik (Tarigan, 1981:36), dalam buku ini sesuai dengan perspektif jurnalistik ditambahkan menjadi Sembilan yaitu, (7) singkat dan padat, (8) logis danm sistematis, dan (9) memiliki karakter yang khas.

BAB IV

EYD DALAM BAHASA JURNALISTIK

A. PENULISAN HURUF KAPITAL
Dalam penulisan huruf kapital, sebagian penulis dan jurnalis kerap terkecoh dengan beberapa ketentuan yang diatur dalam pedoman EYD. Kata yang seharusnya tidak ditulis dengan huruf kapital pada huruf pertama malah ditulis dengan huruf kapital.
1. Jabatan tidak diikuti nama orang
2. Huruf pertama nama bangsa
3. Nama geografi sebagai nama jenis
4. Setiap unsure bentuk ulang sempurna
5. Penulisan kata depan dan kata sambung

B. PENULISAN HURUF MIRING
Dalam pedoman EYD, ketentuan penulisan huruf miring hanya menunjuk kepada tiga hal saja, yakni penulisan nama buku dan surat kabar, penegasan atau pengkhususan kata, dan penulisan kata nama ilmiah.

C. PENULISAN KATA TURUNAN
Pedoman EYD tentang kata dasar dan kata turunan mengingatkan, kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Sedanghkan imbuhan berupa awalan, siispan, akhiran, ditulis serangkai dengan kata dasarnya. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, maka awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
1. Gabungan kata dapat awalan akhiran
2. Gabungna kata dalam kombinasi

D. PENULISAN GABUNGAN KATA
Penulisan gabungan kata menegaskan, gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah. Ketentuan ini sudah banyak dipatuhi para pemakai bahasa jurnalistik. Sebagian kecil saj yang tidak mengindahkan. Itu pun karena ketidaktahuan, bukan karena unsure kesengajaan.
1. Penulisan gabungan kata istilah khusus
2. Penulisan gabungna kata serangkai

E. PENULISAN PARTIKEL
Pedoman EYD menetapkan, ketentuan penulisan partikel terbagi atas tiga jenis. Pertama, terntang penulisab particle –lah, -kah, dan –tah. Kedua mengenai penulisan partikel pun. Ketiga, berkaitan dengan penulisan partikel per. Dari ketiga ketentuan penulisan partikel ini, dua ketentuan yang terakhir sering dilanggar. 

F. PENULISAN SINGKATAN
Pedoman EYD menegaskan, singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih. Singkatan nama rsmi lemabag pemerintah dan ketatanegaraan, bada organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf capital dan tidak diikuti dengan tanda titik. Dalam penulisan singkatan terdapat dua hal yangsering merisaukan para pemerhati juyrnalistik. Pertama, penulisan singkatan umu yang terdiri atas tiga huruf atau lebih. Kedua, penulisan singkatan lambing kimia, satuan ukuran, timbanan, dan mata uang.

G. PENULIS AKRONIM
Menurut pedoman EYD, akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata. Dalam penulisan akronim ini, bahasa jurnalistik mengingatkan dua jenis akronim agar tidak tertuka satu sama lain. Pertama, akronim nama diri berupa gabungan suku kata. Kedua, akronim yang bukan nama diri berupa gabungan huruf.

H. PENULISAN ANGKA
Pedoman EYD menetapkan empat jenis penulisan angka. Pertama, angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi. Kedua, angka digunakan untuk menyatakan (1) ukuran panjang, berat, luas, dan isi, (2) satuan waktu, (3) nilai uang, dan (4) kuantitas. Ketiga, angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apertemen, atau kamar pada alamat. Keempat, angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.
I. PENULISAN LAMBANG BILANGAN
1. Penulisan lambang bilangan satu-dua kata
2. Penulisan lambang bilangan awal kalimat
3. Penulisan lambing bilangan utuh
4. Penulisan lambing bilangan angka-huruf

BAB V


ETIKA BAHASA JURNALISTIK

A. DIMENSI ETIKA DAN MORAL
1. Arti dan defenisi etika
Secara etimologis, etik berasal dari bahasa Yunani, ethos, yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika dan moral sama pengertiannya. Moral atau moralitas untuk perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika untuk pengkajian system nilai-nilai yang berlaku. Menurut Ki Hajar dewantara, etika ialah ilmu yang mempelajari segal soal kebaikan dan keburukan dio dalm hidup manusia semuanya, teristimewah yang mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang dapat merupakan pertimbangn dan perasaan, sampai mengenai tujuan yang dapat merupakan perbuatan.


2. Arti dan defenisi Moral
Secara etimologis moral sama dengan etika, sekalipun bahasa asalnya berbeda. Moralitas, dari kata sifat latin moralis, mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan “moral”, hanya ada nada lebih abstrak. Kita berbicara tentang “moralitas suatu perbuatan”, artinya segi moral suatu perbuatan baik buruknya. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhanm asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk. Dalam KBBI (1988) terdpat kata amoral yang dijelaskan sebagai “tiodak bermoral, tidak berakhlak”. 

B. DIMENSI ETIKA DAN ETIKET
1. Dua persamaan etika-etiket
Persamaan antra etiket dan etika. Pertama etika dan etiket menyangkut perilaku mnusia. Kedua baik Etika dann etiket mengatur perilaku manusia secara normatif (Bertens, 100:8-9).

2. Empat perbedaan etika-etiket
1) Etiket menyangkut cara suatu perbuiatan manusia harus dilakukan manusia. Etika tidak terbatas pada cara yang dilakukannya suatu perbuatan.
2) Etiket hanya berlaku dalampergaulan. Etika selalu berlaku.
3) Etiket bersifat relatif, etika jauh lebih absolute.
4) Etiket memandang manusia dari segi lahiriah. Etika menyangkut manusia dari segi dalam.

C. SISTEMATIKA ETIKA
Secara umum misalnya, etika dibagi menjadi dua jenis: etika umum dan etika khusus. Etika khusus dibagi lagi menjadi dua, yaitu etika individual, dan etika social (Keraf, 1993: 41 dalam Ruslan, 2002: 32-33).
D. TIGA PENDEKATAN ETIKA
Dalam kerangka ini, menurut K. Bertens, terdapat tioga pendekatan yang bisa memberikan penjelasan secara sistematis: etiak deskriptif, etika normative, dan metaetika (Bertens, 200:15-20)

E. ETIKA BAHASA JURNLISTIK


1. Pengertian etika bahasa jurnalistik


Etika bahasa jurnalistik adalah, salah satu pemilik atau penghuni kamara dari etka profesi itu. Para pelaku atau subjek etika bahasa jurnalistik adalh semua orang yang bersentuhn dlam proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan segalah hal yang berkaitan dengan aktivitas jurnalistik sejak peliputan samapai dengan penyajian , pemuatan, penyairan, atau penayangannya dalam media masaa.

2. Defenisi dan pedoman etika bahasa jurnalistik
Dalam buku ini etika bahasa jurnalistik diartikan seabagai pedoman etis dalam penulisan dan penyajian semua jenis dan bentuk karya jurnalistik seperti tajuk rencana, karikatur, pojok, artikel, kolom, surat pembaca, berita langsung (staright news), berita mendalam, (depth news), berita penyelidikan (news investigative). Wawancara berita, (news interviewing), teks foto (caption) dan cerita khas berwarna (feature). 

BAB VI

Ciri Utama Bahasa Jurnalistik

Marshall McLuhan sebagai penggagas teori “Medium is the message” menyatakan bahwa setiap media mempunyai tatabahasanya sendiri yakni seperangkat peraturan yang erat kaitannya dengan berbagai alat indra dalam hubungannya dengan penggunaan media. Setiap tata bahasa media memiliki kecenderungan (bias) pada alat indra tertentu. Oleh karenanya media mempunyai pengaruh yang berbeda pada perilaku manusia yang menggunakannya (Rakhmat, 1996: 248).

Secara lebih seksama bahasa jurnalistik dapat dibedakan pula berdasarkan bentuknya menurut media menjadi bahasa jurnalistik media cetak, bahasa jurnalistik radio, bahasa jurnalistik televisi dan bahasa jurnalistik media online internet. Bahasa jurnalistik media cetak, misalnya, kecuali harus mematuhi kaidah umum bahasa jurnalistik, juga memiliki ciri-ciri yang sangat khusus yang membedakannya dari bahasa jurnalistik radio, bahasa jurnalistik TV, dan bahasa jurnalistik media online internet.

Terdapat 17 ciri utama bahasa jurnalistik yang berlaku untuk semua bentuk media berkala tersebut. yakni sederhana, singkat, padat, lugas, jelas, jernih, menarik, demokratis, populis, logis, gramatikal, menghindari kata tutur, menghindari kata dan istilah asing, pilihan kata. (diksi) yang tepat, mengutamakan kalimat aktif, sejauh mungkin menghindari pengunaan kata atau istilah-istilah teknis, dan tunduk kepada kaidah etika (Sumadiria, 2005:53-61). Berikut perincian penjelasannya.

1. Sederhana
Sederhana berarti selalu mengutamakan dan memilih kata atau. kalimat yang paling banyak diketahui maknanya oleh khalayak pembaca yang sangat heterogen, baik dilihat dari tingkat intelektualitasnya maupun karakteristik demografis dan psikografisnya. Kata-kata dan kalimat yang rumit, yang hanya dipahami maknanya oleh segelintir orang, tabu digunakan dalam bahasa jurnalistik.

2. Singkat
Singkat berarti langsung kepada pokok masalah (to the point), tidak bertele-tele, tidak berputar-putar, tidak memboroskan waktu pembaca yang sangat berharga. Ruangan atau kapling yang tersedia pada kolom-¬kolom halaman surat kabar, tabloid, atau majalah sangat terbatas, sementara isinya banyak dan beraneka ragam. Konsekwensinya apa pun pesan yang akan disampaikan tidak boleh bertentangan dengan filosofi, fungsi, dan karakteristik pers.

3. Padat
Menurut. PatmonoSK, redaktur senior Sinar Harapan dalam buku Teknik Jurnalislik (1996: 45), padat dalam bahasa jurnalistik berarti sarat informasi. Setiap  kalimat dan paragrap yang ditulis memuat banyak informasi penting dan menarik untuk khalayak pembaca. Ini berarti terdapat perbedaan yang tegas antara kalimat singkat dan kalimat padat. Kalinat yang singkat tidak berarti memuat banyak informasi. Sedangkan kaliamat yang padat, kecuali singkat juga mengandung lebih banyak informasi.

4. Lugas
Lugas berarti tegas, tidak ambigu, sekaligus menghindari eufemisme atau penghalusan kata dan kalimat yang bisa membingunglian khalayak pembaca sehingga terjadi perbedaan persepsi dan kesalahan konklusi. Kata yang lugas selalu menekankan pada satu arti serta menghindari kemungkinan adanya penafsiran lain terhadap arti dan makna kata tersebut.

5.  Jelas
Jelas berarti mudah ditangkap maksudnya, tidak baur dan kabur. Sebagai contoh, hitam adalah wara yang jelas. Putih adalah warna yang jelas. Ketika kedua warna itu disandingkan, maka terdapat perbedaan yang tegas mana disebut hitam, mana pula yang disebut putih. Pada. Kedua warna itu  sama sekali tidak ditemukan nuansa warna abu-abu. Perbedaan warna hitam dan putih melahirkan kesan kontras. Jelas di sini mengandung tiga arti: jelas artinya, jelas susunan kata atau kalimatnya sesuai dengan  kaidah subjek-objek-predikat- keterangan (SPOK), jelas sasaran atau maksudnya.

6.Jernih
Jernih berarti bening, tembus pandang, transparan, jujur, tulus, tidak menyembunyikan sesuatu yang lain yang bersifat negatif seperti prasangka atau fitnah. Sebagai bahan bandingan, kita hanya dapat menikmati keindahan ikan hias arwana atau oscar hanya pada akuarium dengan air yang jernih bening. Oscar dan arwana tidak akan melahirkan pesona yang luar biasa apabila dimasukkan  ke dalam kolam besar di persawahan yang berair keruh.
Dalam pendekatan analisis wacana, kata dan kalimat yang jernih berarti kata dan  kalimat yang tidak memiliki agenda tersembunyi di balik pemuatan suatu berita atau laporan kecuali fakta, kebenaran, kepentingan public. Dalam bahasa kiai, jermh berarti bersikap berprasangka baik (husnudzon) dan sejauh mungkin menghindari prasangka buruk (suudzon). Menurut orang komunikasi, jernih berarti senantiasa mengembangkan pola piker positif (positive thinking) dan menolak pola pikir negative (negative thinking). Hanya dengan pola pikir positif kita akan dapat melihat semua fenomena dan persoalan yang terdapat dalam masyarakat dan pemerintah dengan kepala dingin, hati jernih dan dada lapang.
Pers, atau lebih luas lagi media massa, di mana pun tidak diarahkan untuk membenci siapa pun. Pers ditakdirkan untuk menunjukkan sekaligus mengingatkan tentang kejujuran, keadilan, kebenaran, kepentingan rakyat.  Tidak pernah ada dan memang tidak boleh ada, misalnya hasutan pers untuk meraih kedudukan atau kekuasaan politik sebagaimana para anggota dan pimpinan partai politik.

7. Menarik
Bahasa jurnalistik harus menarik. Menarik artinya mampu membangkitkan minat dan perhatian khalayak pembaca, memicu selera baca, serta membuat orang yang sedang tertidur, terjaga seketika. Bahasa jurnalistik berpijak pada prinsip: menarik, benar, dan baku.
Bahasa ilmiah merujuk pada pedoman: benar dan baku saja. Inilah yang menyebabkan karya-karya ilmiah lebih cepat melahirkan rasa kantuk ketika dibaca daripada memunculkan semangat dan rasa penasaran untuk disimak lebih lama. Bahasa jurnalistik hasil karya wartawan, sementara karya ilmiah hasil karya ilmuwan. Wartawan sering juga disebut seniman.
Bahasa jurnalistik menyapa khalayak pembaca dengan senyuman atau bahkan cubitan sayang, bukan dengan mimik muka tegang atau kepalan tangan dengan pedang. Karena itulah, sekeras apa pun bahasa jurnalistik, ia tidak akan dan tidak boleh membangkitkan kebencian serta permusuhan dari pembaca dan pihak mana pun. Bahasa jurnalistik memang harus provokatif tetapi tetap merujuk kepada pendekatan dan  kaidah normatif. Tidak semena-mena, tidak pula bersikap durjana. Perlu ditegaskan salah satu fungsi pers adalah edukatif. Nilai dan nuansa edukatif itu, juga harus tampak pada bahasa jurnalistik pers.

8. Demokratis
Salah satu ciri yang paling menonjol dari bahasa jurnalistik adalah demokratis. Demokratis berarti bahasa jurnalistik tidak mengenal tingkatan, pangkat, kasta, atau perbedaan dari pihak yang menyapa dan pihak yang disapa sebagaimana di jumpai dalam gramatika bahasa Sunda dan bahasa Jawa. Bahasa jurnalistik menekankan  aspek fungsional dan komunal, sehingga samasekali tidak dikenal pendekatan feudal sebagaimana  dijumpai pada masyarakat dalam lingkungan priyayi dan kraton.
Bahasa jurnalistik memperlakukan siapa pun apakah presiden atau tukang becak, bahkan pengemis dan pemulung secara sama.Kalau dalam berita disebutkan presiden mengatakan, maka kata mengatakan tidak bisa atau harus diganti dengan kata bersabda. Presiden dan pengemis  keduanya tetap harus ditulis mengatakan. Bahasa jurnalistik menolak pendekatan diskriminatif dalam penulisan berita, laporan, gambar,  karikatur, atau teks foto.
Secara ideologis, bahasa jurnalistik melihat setiap individu memiliki kedudukan yang sama  di depan hukum schingga orang itu tidak boleh diberi pandangan serta perlakuan yang berbeda. Semuanya sejajar dan sederajat. Hanya menurut perspektif nilai berita (news value) yang membedakan diantara keduanya. Salah satu penyebab utama mengapa bahasa Indonesia dipilih dan ditetapkan sebagai bahasa negara, bahasa pengikat  persatuan dan kesatuan bangsa, karena. bahasa Melayu sebagai cikal bakal bahasa Indonesia memang sangat demokratis. Sebagai contoh, prisiden makan, saya makan, pengemis makan, kambing makan.

9.  Populis
Populis berarti setiap kata, istilah, atau kalimat apa pun yang terdapat dalam karya-karya jurnalistik harus akrab di telinga, di mata, dan di benak pikiran  khalayak pembaca, pendengar, atau. pemirsa. Bahasa jurnalistik harus merakyat, artinya diterima dan diakrabi oleh semua lapisan masyarakat. Mulai dari pengamen sampai seorang presiden, para pembantu rumah tangga sampai ibu-ibu pejabat dharma wanita. Kebalikan dari populis adalah elitis. Bahasa yang elitis adalah bahasa yang hanya dimengerti dan dipahami segelintir kecil orang saja, terutama mereka yang berpendidikan dan berkedudukan tinggi.

10.  Logis
Logis berarti apa  pun yang terdapat dalam kata, istilah, kalimat, atau paragraph jurnalistik harus dapat diterima dan tidak bertentangan dengan akal sehat (common sense). Bahasa jurnalistik harus dapat diterima dan sekaligus mencerminkan nalar. Di sini berlaku hokum logis. Sebagai contoh, apakah logis kalau dalam berita dikatakan: jumlah korban tewas dalam musibah longsor dan banjir banding itu 225 orang namun sampai berita ini diturunkan belum juga melapor.. Jawabannya tentu saja sangat tidak logis, karena mana mungkin korban yang sudah tewas, bisa melapor?
Menurut salah seorang wartawan senior Kompas dalam bukunya yang mengupas masalah kalimat jumalistik, dengan berbekal kemampuan menggunakan logika (silogisme), seorang wartawan akan lebih jeli menangkap suatu keadaan, fakta, persoalan, ataupun pernyataan seorang sumber berita. Ia akan lebih kritis, tidak mudah terkecoh oleh sumber berita yang mengemukakan peryataan atau keterangan dengan motif-mo¬tif tertentu (Dewabrata, 2004:76).

11. Gramatikal
Gramatikal berarti kata, istilah, atau kalimat apa pun yang dipakai dan dipilih dalam bahasa jurnalistik harus mengikuti kaidah tata bahasa baku. Bahasa baku artinya bahasa resmi sesuai dengan ketentuan tata bahasa serta pedoman ejaan yang disempurnakan berikut pedoman pembentukan istilah yang menyertainya. Bahasa baku adalah bahasa yang paling besar pengaruhnya dan paling tinggi wibawanya pada suatu bangsa atau kelompok masyarakat. Contoh berikut adalah bahasa jurnalistik nonbaku atau tidak gramatikal: Ia bilang, presiden menyetujui anggaran pendidikan dinaikkan menjadi 15 persen dari total APBN dalam tiga tahun ke depan. Contoh bahasa jumalistik baku atau gramatikal: Ia mengatakan, presiden menyetujui anggaran pendidikan dinaikkan menjadi 25 persen dari total APBN dalam lima tahun ke depan.

12. Menghindari kata tutur
Kata tutur ialah kata yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari secara informal. Kata tutur ialah kata-kata yang digunakan dalam percakapan di warung kopi, terminal, bus kota, atau di pasar. Setiap orang bebas untuk menggunakan kata atau istilah apa saja sejauh pihak yang diajak bicara memahami maksud dan maknanya. Kata tutur ialah kata yang hanya menekankan pada pengertian, sama sekali tidak memperhatikan masalah struktur dan tata bahasa. Contoh kata-kata tutur: bilang, dilangin, bikin, diksih tahu,  mangkanya, sopir, jontor, kelar, semangkin.

13.   Menghindari kata dan istilah asing
Berita ditulis untuk dibaca atau didengar. Pembaca atau pendengar harus tahu arti dan makna setiap kata yang dibaca dan didengarnya. Berita atau laporan yang banyak  diselipi kata-kata asing, selain tidak informatif dan komunikatif juga membingungkan.
Menurut teori komunikasi, khalayak media massa anonym dan heterogen. tidak saling mengenal dan benar-benar majemuk, terdiri atas berbagai suku bangsa, latar belakang sosial-ekonomi, pendidikan, pekerjaan, profesi dan tempat tinggal. Dalam perspektif teori jurnalistik, memasukkan kata atau istilah asing pada berita yang kita tulis, kita udarakan atau kita tayangkan, sama saja dengan sengaja menyebar banyak duri di tengah jalan. Kecuali menyiksa diri sendiri, juga mencelakakan orang lain.


14.  Pilihan kata (diksi) yang tepat
Bahasa jurnalistik sangat menekankan efektivitas. Setiap kalimat yang disusun tidak hanya harus produktif tetapi juga tidak boleh keluar dari asas efektifitas. Artinya setiap kata yang dipilih, memang tepat dan akurat sesuai dengan tujuan pesan pokok yang ingin disampaikan kepada khlayak. Pilihan kata atau diksi, dalam bahasa jurnalistik, tidak sekadar hadir sebagai varian dalam gaya, tetapi juga sebagai suatu keputusan yang didasarkan kepada pertimbangan matang untuk mencapai efek optimal terhadap khalayak.
Pilihan kata atau diksi yang tidak tepat dalam setiap kata jurnalistik, bisa menimbulkan akibat fatal. Seperti ditegaskan seorang pakar bahasa terkemuka, pengertian pilihan kata atau diksi jauh lebih luas dari apa yang dipantulkan oleh jalinan kata itu. Istilah ini bukan saja digunakan untuk menyatakan kata-kata mana yang dipakai untuk mengungkapkan suatu ide atau gagasan,  tetapi juga meliputi persoalan fraseologi, gaya bahasa, dan ungkapan. Fraseologi mencakup persoalan kata-kata dalam pengelompokan atau susunannya, atau yang menyangkut cara-cara yang khusus berbentuk ungkapan-ungkapan. Gaya bahasa sebagai bagian dari diksi bertalian dengan ungkapan-ungkapan yang individual atau karakteristik, atau yang memiliki nilai arstistik yang tinggi (Keraf, 2004:22-23).

15.  Mengutamakan kalimat aktif
Kalimat akiff lebih mudah dipahami dan lebih disukai oleh khalayak pembaca daripada kalimat pasif. Sebagai contoh presiden mengatakan, bukan dikatakan oleh presided.Contoh lain, pencuri mengambil  perhiasan dari dalam almari pakaian, dan bukan diambilnya perhiasan itu dari dalam almari pakaian oleh pencuri. Bahasa jurnalistik harus.jelas susunan katanya, dan kuat maknanya (clear and strong). Kalimat aktif lebih memudahkan pengertian dan memperjelas pemahaman. Kalimat pasif sering menyesatkan pengertian dan mengaburkan pemahaman.

16.  Menghindari kata atau istilah teknis
Karena ditujukan untuk umum, maka bahasa jurnalistik harus sederhana, mudah dipahami, ringan dibaca, tidak membuat kening berkerut apalagi sampai membuat kepala berdenyut. Salah satu cara untuk itu ialah dengan menghindari penggunaan kata atau istilah-istilah teknis. Bagaimanapun kata atau istilah teknis hanya berlaku untuk kelompok atau komunitas tertentu yang relatif homogen. Realitas yang homogen, menurut perspektif filsafat bahasa tidak boleh dibawa ke dalam realitas yang heterogen. Kecuali tidak efelitf, juga mengandung unsur pemerkosaan.
Sebagai contoh, berbagai istilah teknis dalam dunia kedokteran, atau berbagai istilah teknis dalam dunia mikrobiologi, tidak akan bisa dipahami maksudnya oleh khalayak pembaca apabila dipaksakan untuk dimuat dalam berita, laporan, atau tulisan pers. Supaya mudah dicerna dan mudah dipahami maksudnya, maka istilah-istilah teknis itu harus diganti dengan istilah yang bisa dipahami oleh masyarakat umum. Kalaupun tak terhindarkan, maka istilah teknis itu harus disertai penjelasan dan ditempatkan dalam tanda kerung.
Surat kabar, tabloid, atau majalah yang lebih banyak memuat kata atau istilah teknis, mencerminkan media itu : (1) kurang melakukaii pembinaan dan pelatihan terhadap wartawannya yang malas, (2) tidak memiliki editor bahasa, (3) tidak memiliki buku panduan peliputan dan penulisan berita serta laporan, atau (4) tidak memiliki sikap profesional. dalam mengelola penerbitan pers yang berkualitas.

17.  Tunduk kepada kaidah etika
Salah satu fungsi utama pers adalah edukasi, mendidik (to educated), Fungsi ini bukan saja harus, tercermin pada materi isi berita, laporan, gambar, dan artikel-aritikelnya, melainkan juga harus tampak pada bahasanya. Pada bahasa tersimpul etika. Bahasa tidak saja mencerminkan pikiran tapi sekaligus juga menunjukkan etika orang itu.
Dalam menjalankan fungsinya mendidik khalayak, pers wajib menggunakan serta tunduk kepada kaidah dan etika bahasa baku. Bahasa pers harus baku, benar, dan baik. Dalam etika berbahasa, pers tidak boleh menuliskan kata-kata yang tidak sopan, vulgar, sumpah serapah, hujatan dan makian yang sangat jauh dari norma sosial budaya agama. Pers juga tidak boleh menggunakan kata-kata porno dan berselera rendah lainnya dengan maksud untuk membangkitkan asosiasi serta fantasi seksual khalayak pembaca.
Pers berkualitas senantiasa menjaga reputasi dan wibawa martabatnya di mata masyarakat, antara lain dengan senantiasa menghindari penggunaan kata-kata atau istilah yang dapat diasumsikan tidak sopan, vulgar, atau mengumbar selera rendah. Kata-kata vulgar, kata-kata yang menjurus pornografi, biasanya lebih banyak ditemukan pada pers popular lapis bawah dan pers kuning (Sumadiria,2005: 53-61).


KESIMPULAN

Bahasa jurnalistik adalah bahasa yang digunakan oleh seorang jurnalis untuk menyampaikan informasi dalam bentuk apapun kepada komunikan agar para jurnalis dapat dengan mudah mempengaruhi comunikan.

Bahasa Jurnalistik memilki ciri utama sebagai berikut:

1.  Sederhana
2.  Singkat
3.  Padat
4.  Lugas
5. Jelas
6. Jernih
7. Menarik

8.  Demokratis
9. Populis
10. Logis
11. Gramatikal
12. Menghindari kata tutur
13. Menghindari kata dan istilah asing

14. Pilihan kata (diksi) yang tepat
15. Mengutamakan kalimat aktif

16. Menghindari kata atau istilah teknis
17. Tunduk kepada kaidah etika


DAFTAR PUSTAKA

Anwar Rosihan. 2004. Bahasa Jurnalistik Indonesia dan Komposisi. Yogyakarta: Media Abadi.

Badudu, J.S. 1986. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta: PT Gramedia.

Karzi, Udo Z., Ed. 1992. Jurnalistik Kampus. Bandar Lampung: UKM-PSKK Teknokra.

http://contohmakalah.web.id/2012/06/makalah-tentang-bahasa-jurnalistik/

Bahasa Jurnalistik (Drs. AS Sumadiria M. Si.)

Rangkuman Ali Rahman Mutajalli
Nim: 1110 0511 00077
Jurusan: Jurnalistik IV/C

Makalah ciri Utama Bahasa Jurnalistik oleh kangarul

Poerwadarminta, WJS. 1979. Bahasa Indonesia untuk Karang-Mengarang. Yogyakarta: UP Indonesia

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pecahnya “Kapal” PPP dan Upaya …

Irham Wp | | 20 April 2014 | 03:26

Bisakah Membangun Usaha Tanpa Uang? …

Maskal Novessro | | 20 April 2014 | 08:52

Ketika Rupiah Tidak Lagi Dianggap sebagai …

Dhita Arinanda | | 20 April 2014 | 05:10

Musafir; Aku Pasti Pulang …

Elkhudry | | 20 April 2014 | 06:29

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Gara-gara Amien Rais Mental Prabowo dan …

Mas Wahyu | 8 jam lalu

PDI-P Sudah Aman, tapi Belum Tentu Menang …

El-shodiq Muhammad | 10 jam lalu

Rapor TimNas U-19 Usai Tur Timur Tengah dan …

Hery | 22 jam lalu

Nasib PDIP Diujung Tanduk …

Ferry Koto | 22 jam lalu

Alumni ITB Berkicau, Demo Mahasiswa ITB …

Hanny Setiawan | 23 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: