Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Aditya Ristianang

aktif di Twitter, silakan ke @aditrist atau 085642167289

Disintegrasi Bahasa Indonesia

OPINI | 05 November 2012 | 10:10 Dibaca: 402   Komentar: 0   0

Dalam berbicara dan beraktivitas sehari-hari bahasa Indonesia menjadi salah satu hal pokok dalam berkomunikasi, bahasa Indonesia menjadi media untuk mengungkapkan apa yang orang ingin ungkapkan lewat tutur kata atau pun tulisan, sehingga orang paham apa yang orang lain maksud lalu meresponnya. Seiring perkembangan teknologi dan demokrasi bangsa Indonesia, dan dalam skala luas boleh disebut pula arus globalisasi yang yang masuk ke Indonesia selama beberapa dekade ini, bahasa Indonesia seakan berdiri lemas di tekan oleh pengaruh luar, saat kita berbicara tentang bahasa Indonesia, bahasa ibulah yang menjadi karib bahasa Indonesia. Bahasa yang berasal dari daerah asal, boleh dikatakan sebagian bahasa ibu sudah  luluh oleh arus luar, banyak bahasa daerah yang telah hilang, tapi disini kita tak akan membicarakan bahasa ibu.

Bahasa Indonesia berkembang tanpa batas, aturan, dan pendalaman makna, semua orang menciptakan kata-kata yang mereka gunakan sehari-hari tanpa mengerti makna yang jelas dan pakem, tehnologi komunikasi membawa kita pada dimensi waktu dan arus yang serba cepat, media sosial dan komunikasi seluler menjadi “pasangan intim” yang tak dapat hilang dalam kehidupan umat manusia modern saat ini, penyingkatan kata dan kalimat di amini demi sejajar dengan arus. Parahnya lagi, anak muda atau bahkan orang tua menggunakan huruf atau angka yang sangat keluar konteks dari arti kata itu sendiri. Anak muda menjadi seperti seorang “pesulap”, dalam waktu sekejab mampu menciptakan kata yang mungkin mereka tak tahu makna sebenarnya (Kepo, alay, lebay) dan menjadi booming dalam sekejab, jangankan bicara tentang makna, alasan kenapa kata baru itu di pakai pun tak akan dapat menjawab. Kamus Besar Bahasa Indonesia ibarat bambu runcing bagi generasi anak muda sekarang, sudah using, kuno dan tanpa guna. hanya mereka yang studi di jalur bahasa yang menggunakanya. Beberapa waktu lalu saya hampir tiap hari mendengar kata galau yang terucap di teman-teman saya dan di sosial media Twitter dan Facebook. Saya sempat bertanya pada teman saya apa itu galau, mayoritas dari mereka mengartikan galau adalah perasaan sedih dan kecewa. Boleh jadi itu benar (dalam konteks percakapan mereka), tapi saya tak percaya begitu saja dengan pengertian yang dilontarkan teman saya, kemudian saya membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia. Hasilnya sangat berbeda sekali dengan pengertian dari teman saya. Boleh pembaca melihat sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Itu hanya salah satu contoh nyata disintegrasi Bahasa Indonesia, makna sebuah kata tak koheren dengan konteks percakapanya. Sedikit berbicara tentang globalisasi yang digembor-gemborkan oleh para pemerhati bangsa, globalisasi membuat bahasa asing mudah masuk dan menyatu dengan lingkungan dan kehidupan sehari-hari bangsa secara bebas dan leluasa, tanpa kontrol yang kuat atau entah siapa yang mengontrol, bahasa Indonesia meratap di ujung tanduk, penyatuan bahasa asing dan bahasa Indonesia tanpa sistem yang pas menjadikan banyak kata baru yang tak baku digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Perlu adanya penyeimbang dan penyelaras untuk disintegrasi bahasa Indonesia dikehidupan sehari-hari.

Tanpa penyeimbang penggunaan bahasa Indonesia yang baik tidak lama lagi perluasan makna suatu kata akan menyebabkan generasi penerus lupa jati diri bangsanya. Mungkin jenengan sering menggunakan bahasa-bahasa yang seperti itu, tapi saya tak mempersalahkan siapapun di tulisan ini, semoga dengan tulisan ini kita semua menjadi pribadi yang lebih baik. Salam

Tanpa mempelajari bahasa sendiri pun orang takkan mengenal bangsanya sendiri –Pramoedya Ananta Toer

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Stanley, Keindahan Sisi Selatan Hongkong …

Moris Hk | | 29 August 2014 | 14:46

Kisah Hidup Pramugari yang Selamat dari …

Harja Saputra | | 29 August 2014 | 12:24

Jose Mujica, Dihormati Meskipun Tidak Punya …

Putu Djuanta | | 29 August 2014 | 14:30

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 8 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 11 jam lalu

Jokowi Mengkhianati Rakyat Jika Tidak …

Felix | 12 jam lalu

Ganteng-Ganteng Hakim MK …

Balya Nur | 12 jam lalu

Cara Unik Jokowi Cabut Subsidi BBM, …

Rizal Amri | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kapusan (Tertipu) …

Amin | 7 jam lalu

Jokowi-JK Berhentilah Berharap Tambahan …

Win Winarto | 8 jam lalu

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 8 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 8 jam lalu

Makna Kesaktian 2 (Episode : …

Akhmad Fauzi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: