Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Lord Ririd

Like your dreams, Biidznillah.

SEJARAH Yang Harus Diluruskan

OPINI | 15 October 2012 | 07:10 Dibaca: 208   Komentar: 0   0

Lepas dari tendensi mengapa bukan bahasa Jawa yang adalah bahasa mayoritas penduduk Indonesia untuk dipakai bahasa nasional, bahasa Indonesia justru mengambill Bahasa Melayu sebagai Induknya.Meski ada semacam pengambangan identitas dalam keputusan tersebut,sebenarnya ada catatan lain bahwa Melayu sendiri melihat faktanya dalam peradaban dan antropologi terpengaruh begitu kuat oleh Islam sehingga tidak aneh bahwa lingua-civilation-nya banyak mengambil kosa kata Arab.Taruh kata “musyawarat”,”sanubari”,”kalbu”,”cinta”,”rahmat”,”kertas”,”tamasya” dan seterusnya.Dan satu kata yang menarik untuk dibahas di sini adalah “sejarah”.”Sejarah” jelas-jelas artinya pohon.Bagaimana pohon bisa dimaksudkan kisah dan cerita masa lalu oleh orang Indonesia atau katakan sebagai sinonom history,ini tidak akan banyak yang tahu atau mengkaitkannya dengan benar.Sebelum kita kaitkan ada baiknya kita tentukan dulu tiga pilihan yang berkutat di sekitar kebijakan penerjemahan :1.apakah sebaiknya kita terjemahkan ke bahasa ibu semua bahasa asing selama itu tersedia,2.ataukah sebaiknya kita berbahas asing saja seluruhnya atau semaksimal mungkin,3.atau sebaiknya kita banggakan bahasa ibu dengan sedikit-sedikit varian asing kalau itu dipandang lebih bermanfaat.Dari ketiga pilihan tersebut sepertinya -dalam kasus bahasa negara mana pun- pilihan ke tigalah yang diambil.Itu artinya orang yang ke-asing-asing-an adalah tidak punya identitas.Demikian pula mereka yang ngotot berbahasa lokal adalah orang kolot yang cuma hidup di bawah tempurung.

Kembali ke persoalan POHON,maka sebenarnya SEJARAH itu dulunya dimaksudkan untuk POHON NASAB.Yakni silsilah nasab yang menyerupai pohon karena ada pangkal,ujung,dahan ,ranting dan seterusnya sampai dalam penulisannya pun sering dijelmakan dalam bentuk POHON.Memang di sana ada sedikit maksud cerita dan asal-usul suatu keluarga.Namun pengertian itu tidak digunakan kecuali dalam relevansi keluarga atau nasab.Sehingga tidak ada ungkapan SYAJAROH-MONGOL,SYAJAROH-DUNIA,SYAJAROH-MALAKA dan yang semacam itu.Tetapi untuk artian yang lebih luas dari pada lingkup nasab mereka menggunakan kata TARIKH sehingga diucapkanlah TARIKH-MONGOL,TARIKH-ALAMIYAH,TARIKH-MALAKA dan sebagainya.Dengan demikian pemakain yang lebih tepat untuk SEJARAH versi Indonesia untuk arti yang dikehendaki dalam lingkup Indonesia adalah :TARIKH.

Ini bila tidak mau dikatakan bahwa proses pencomoton bahasa oleh orang Indonesia dilakukan orang-orang kurang mawas.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Pengalaman Jadi Pengamen Pada 1968 – 2013 …

Mas Ukik | | 23 April 2014 | 21:14

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 17 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 19 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 20 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 21 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: