Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Francisca Josephine

Siswi SMAK 7 Penabur.

Memahami Sebelum Mencaci

OPINI | 25 September 2012 | 23:22 Dibaca: 66   Komentar: 0   0

Hari-hari masyarakat Indonesia dipenuhi oleh suka,  duka, tawa, tangis, dan amarah. Kita tentunya biasa mengekspresikan emosi dengan berbagai cara. Tertawa, menangis, berteriak, dan dengan berbagai kata-kata yang biasanya sering kita dengar. Tapi sayangnya, mayoritas masyarakat Indonesia mengungkapkan hal itu dengan kata-kata makian. Bahkan ketika mereka senang, ataupun sedih, apalagi marah, semua emosi mereka terungkapkan dengan makian. Anjing, kampret, bajingan, bedebah, monyet, brengsek, sialan, dan makian-makian lain diucapkan secara otomatis, tanpa rasa bersalah, tanpa memikirkan dahulu akibat yang ditimbulkan dari ucapan mereka, seolah-olah memaki sudah menjadi bagian dari kebudayaan kita.

Kampret, di sisi lain, adalah sejenis kelelawar yang termasuk dalam subordo Megachiroptera. Untuk masyarakat yang pernah mengkonsumsi binatang ini, biasanya digoreng, untuk obat asma, mungkin sudah mengerti dan mengenal hewan nocturnal ini. Atau orang Jawa, juga pasti mengenal kampret, yaitu kelelawar kecil pemakan serangga, merupakan keluarga codot dan kalong yang lebih besar dan pemakan buah. Sedangkan  Pteropus celaenicus atau yang dikenal sebagai kalong sendiri “dipinjam” namanya untuk mengungkapkan orang yang suka bergadang. Padahal, kelelawar memiliki kontribusi yang besar dalam kehidupan, dari hal pangan sampai pengobatan, tapi sayangnya hal itu belum disadari oleh masyarakat pada umumnya.

Dalam hal pangan, kelelawar membantu penyerbukan tanaman yang buahnya sering dikonsumsi manusia. Di Kebun Raya Bogor saja, kelelawar menyerbuki 52 jenis tumbuhan. Penelitian juga menyebutkan bahwa ada 186 jenis tumbuhan tropis yang dapat digunakan sebagai obat, makanan, dan penghasil kayu yang tergantung pada kelelawar. Kelelawar juga berfungsi sebagai predator hama, salah satu hama yang dikonsumsi oleh kelelawar pada umumnya adalah hama pemakan padi. Kelelawar pemakan serangga, khususnya juga membantu mengurangi malaria, dengan cara mengkonsumsi kurang lebih 6000 ekor nyamuk tiap harinya.

Masyarakat Indonesia memang terbiasa meniru apa yang mereka lihat di televisi, terutama bagi masyarakat yang suka menonoton televisi. Bedebah, brengsek, sialan, bangsat, sering didengar dalam film-film silat zaman dulu. Sekarang, walaupun sudah tidak pernah terdengar lagi dari televisi, mestinya kita juga sudah cukup banyak mendengar makian seperti ini dalam kehidupan sehari-hari.

Biasanya, sesuatu yang sering kita pakai dalam kehidupan sehari-hari punya banyak kosakata yang detail. Tetapi makianlah yang punya lebih banyak kosakata daripada hal-hal  lain. Bahkan jumlah kosakatanya melebihi makanan pokok kita. Nasi. Hal ini mungkin adalah akibat dari keberingasan masyarakat Indonesia, baik dahulu maupun sekarang dalam mengungkapkan amarah.

Kita ambil contoh peristiwa Sampit yang merupakan perang antara suku Madura dan Dayak, lalu budaya orang Bugis kuno, yang bisa saja membunuh ankanya yang mempermalukan keluarga. Suku Asmat dulunya juga memiliki tradisi yang cukup kejam dalam memperlakukan musuhnya, dengan memutilasi tubuh musuhnya setelah dibunuh, memenggal kepalanya, lalu otak musuhnya diambil, dibakar untuk dimakan beramai-ramai bersama jasad pemiliknya.

Di zaman modern ini juga sering kita jumpai perkelahian massa, baik para mahasiswa yang berdemo dengan aparat keamanan, tawuran antar mahasiswa, bahkan tawuran antar siswa SD yang membahayakan keselamatan mereka  sendiri. Haruskah kita lanjutkan “budaya” kekerasan dalam masyarakat kita? Tidakkah kita punya cukup keberanian untuk memangkas habis keberingasan generasi muda Indonesia?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Stanley, Keindahan Sisi Selatan Hongkong …

Moris Hk | | 29 August 2014 | 14:46

Kisah Hidup Pramugari yang Selamat dari …

Harja Saputra | | 29 August 2014 | 12:24

Jose Mujica, Dihormati Meskipun Tidak Punya …

Putu Djuanta | | 29 August 2014 | 14:30

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 10 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 13 jam lalu

Jokowi Mengkhianati Rakyat Jika Tidak …

Felix | 14 jam lalu

Ganteng-Ganteng Hakim MK …

Balya Nur | 14 jam lalu

Cara Unik Jokowi Cabut Subsidi BBM, …

Rizal Amri | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

BBM Naik Kenapa Takut? …

Mike Reyssent | 7 jam lalu

Kasus Florence : Salahkah Bahasa …

Mania Telo | 7 jam lalu

Waspada, Demam Berdarah Mulai Jangkiti …

Weedy Koshino | 8 jam lalu

Dilarang Berenang di Laut Mati …

Andre Jayaprana | 8 jam lalu

Udah Ngapain Aja untuk Menghadapi Masyarakat …

Zuhri Muhammad | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: