Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Renny Amelia

Seorang pembelajar.. Mari berkunjung : http://www.rennysemangatmenulis.blogspot.com. Follow @Rennyamel

Bahasa Indonesia di Zaman Alay

OPINI | 25 September 2012 | 12:23 Dibaca: 569   Komentar: 0   0

1348532747187678268

“Kami putra putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa indonesia.”

Poin ketiga dari Sumpah Pemuda itu kembali mengingatkan kita akan sebuah peristiwa bersejarah. Hari itu, 28 Oktober 1928, bahasa Indonesia resmi sebagai bahasa persatuan. Tak lama lagi, usianya genap 84 tahun. Bahasa pemersatu tersebut kian renta kini. Ironisnya, kian renta justru kian tak populer di kalangan pemuda, khususnya remaja.

Tengoklah fenomena bahasa remaja saat ini. “H4! uD4H l4mA nDa KtMu, p4 Kb4R nA! ?????” Kalimat dengan ejaan seperti itu tentu sudah tak asing lagi ditemui. Entah darimana dan siapa yang memulainya, gaya bahasa tersebut semakin berkembang pesat. Mulai dari penggunaan huruf besar dan kecil yang dikombinasikan seperti HumZ (rumah), ceMunguuutt (semangat), atau fLendz (teman). Kata yang disingkat seperti gue menjadi W, Wa, Q, Qu, atau G. Tanda baca yang bisa muncul di mana saja. Hingga istilah-istilah seperti lebay, kepo, kamseupay, dan sebagainya. Aneh bukan? Inilah yang belakangan disebut sebagai bahasa alay.

Budaya Gadget : Asal Usul Bahasa Alay

Peradaban bangsa yang maju dibangun dengan menjadikan budaya membaca dan menulis sebagai prioritas. Namun di Indonesia budaya membaca dan menulis sudah sejak lama kalah bersaing dengan budaya lisan, budaya audio-visual (nonton), dan kini semakin tergerus dengan “budaya gadget”.

Remaja Indonesia masa kini lebih akrab dengan “budaya gadget” dan budaya nonton daripada budaya baca tulis. Saat waktu luang mereka lebih asyik dengan menonton televisi, berkirim sms, memperbarui status di facebook, berkicau di twitter, atau ngobrol (chatting) dengan gadget masing-masing. Memiliki gadget tercanggih jauh lebih penting dan membanggakan daripada memiliki buku bacaan. Dari sinilah tanpa disadari bahasa alay lahir dan berkembang. Bermula dari efiensi huruf untuk berkirim sms, kemudian muncul istilah-istilah gaul dalam situs jejaring sosial, dan semakin dipopulerkan lewat sinetron, acara remaja, atau iklan di televisi.

Semakin populer semakin pesat pula perkembangannya. Kosakata, ejaan, atau singkatan baru bahasa alay dapat dengan mudah dikreasikan oleh siapapun. Saking luasnya variasi kata dalam bahasa ini, bahkan kini telah ada kamus bahasa alay. Tentu, remaja penggunanya pun kian meluas. Tanpa perlu melakukan “sumpah pemuda alay”, bahasa ini seakan telah menjadi bahasa pemersatu pergaulan remaja saat ini.

Akankah bahasa alay menggeser bahasa Indonesia?

Sebenarnya jika ditilik lebih dalam, sejak dulu bahasa Indonesia memang bukanlah bahasa ibu (bahasa utama) bagi mayoritas penduduknya pun remaja. Dengan beragamnya suku bangsa di Indonesia maka tentulah bahasa ibu adalah bahasa masing-masing daerah. Baru kemudian bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua. Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah pun hasilnya tak cukup menggembirakan. Dari data Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Nasional (2011) pada UN 2011 lalu pelajaran bahasa Indonesia memiliki nilai rata-rata lebih rendah jika dibandingkan dengan mata pelajaran lain, bahkan dengan pelajaran bahasa inggris. Jadi sebenarnya bahasa Indonesia yang baik dan benar masih menjadi bahasa yang sulit untuk digunakan baik dalam bentuk tertulis maupun komunikasi lisan. Hal ini antara lain disebabkan oleh bahasa Indonesia memiliki banyak sekali aturan baku yang tertuang dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan. Banyaknya aturan inilah yang membuat bahasa Indonesia menjadi bahasa sulit. Selain itu, rendahnya minat baca tulis remaja juga turut mempengaruhi dispopularitas bahasa Indonesia. Maka jadilah bahasa Indonesia sebagai bahasa yang sulit dan tidak populer pula.

Munculnya bahasa alay bukan tidak mungkin menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa ketiga bahkan keempat bagi remaja. Urutannya mungkin seperti ini : (1) bahasa daerah, (2) bahasa alay, (3) bahasa asing (Inggris/Mandarin), (4) bahasa Indonesia.

Untuk itu, upaya menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama atau setidaknya bahasa kedua tak lain adalah dengan meningkatkan minat baca tulis masyarakatnya. Namun, nampaknya ini bukanlah pekerjaan mudah. Bagaimana mengubah “budaya gadget” dan budaya nonton menjadi budaya baca tulis di Indonesia perlu upaya semua pihak. Jika tidak bahasa Indonesia akan menjadi asing di negerinya sendiri.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemeriksaan Keperawanan Itu “De …

Gustaaf Kusno | | 24 November 2014 | 10:33

Disambut Pelangi Halmahera Utara …

Joko Ade Nursiyono | | 24 November 2014 | 09:41

Gonzales, ‘Kartu Truf’ Timnas …

Achmad Suwefi | | 24 November 2014 | 09:32

Jaringan Buruh Migran Indonesia di Hong Kong …

Ida Royani | | 24 November 2014 | 05:47

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 7 jam lalu

Musni Umar: Bunuh Diri Lengserkan Presiden …

Musni Umar | 11 jam lalu

Baru 24 Tahun, Sudah Dua Kali Juara Dunia! …

Jimmy Haryanto | 12 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 13 jam lalu

Hebohnya yang Photo Bareng Pak Ahok di …

Fey Down | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: