Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Liliek Handoko

empower, entrepreneur, badminton

Bahasa dan Pendidikan Karakter

OPINI | 25 September 2012 | 15:45 Dibaca: 357   Komentar: 0   0

Salah satu fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi dan memiliki peran yang besar dalam komunikasi . Keunikan manusia dalam perbedaannya dari makhluk lain ialah bahwa, di samping sebagai homo sapiens, manusia adalah juga animal symbolicum. Antara pikiran dengan bahasa terdapat jalinan kait-mengait yang erat. Sebagai homo sapiens, manusia tidak dapat dilepaskan dari kegiatan sosial yang berhubungan dengan orang lain yang otomatis tidak dapat dapat lepas pula dari bahasa sebagai penghubung antar manusia tersebut. Di sinilah peran bahasa terlihat karena bahasa menjembatani hubungan antara manusia satu dengan manusia yang lain. Melalui proses komunikasi ini pula, sesuai dengan fitrah bahwa bahasa bersifat dinamis, perlahan tetapi pasti, bahasa mengalami perkembangan atau bahkan perubahan (dinamika bahasa).

Apabila menilik kepada pembagian tujuh unsur kebudayaan universal, dapat diketahui bahwa bahasa menjadi salah satu unsur kebudayaan universal. Bahasa sebagai salah satu bagian dari kebudayaan memberikan ciri tertentu yang merupakan rekaman perilaku manusia serta mencerminkan karakter suatu kelompok yang membedakannya dari kelompok lain. Bukan sekadar menjadi sebuah alat komunikasi semata tetapi juga menjadi sebuah identitas yang tidak dapat terpisahkan dari manusia tersebut. Hal tersebut juga berlaku bagi bahasa Indonesia yang menjadi alat komunikasi bagi warga negara Indonesia sekaligus menjadi identitas bangsa Indonesia. Undang-Undang nomor 24 tahun 2009 menjelaskan bahwa bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan Indonesia merupakan sarana pemersatu, identitas, dan wujud eksistensi bangsa yang menjadi simbol kedaulatan dan kehormatan Negara sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pasal 36.

Bagi bangsa Indonesia sebagai bangsa berkembang yang kini sedang membangun dalam upaya menyejajarkan diri dengan bangsa-bangsa maju, bahasa Indonesia memegang peranan sangat penting. Sejak dikumandangkan sebagai bahasa persatuan bangsa Indonesia pada 28 Oktober 1928 lalu, hingga kini penggunaan bahasa Indonesia makin meluas ke berbagai sendi kehidupan, terlebih lagi pada era globalisasi seperti saat ini.

Akibat bahasa yang semakin meluas muncullah berbagai ilmu terapan dalam linguistik. Salah satunya yaitu sosiolinguistik. Sosiolinguistik sebagai salah satu ilmu linguistik mikro mengkaji hubungan bahasa dan masyarakat. Abdul Chaer dan Leonel Agusta (1995: 3) menyatakan bahwa sosiolinguistik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat. Sebagai objek dalam sosiolinguistik, bahasa diperlukan manusia dalam kegiatan kemasyarakatan, yaitu mulai dari upacara pemberian nama pada bayi yang baru lahir sampai upacara pemakaman jenazah. Oleh karena itu, sosiolinguistik tidak akan terlepas dari persoalan hubungan bahasa dengan kegiatan atau aspek-aspek kemasyarakatan.

Variasi Bahasa

Akibat hubungan antara bahasa dan masyarakat muncul berbagai variasi bahasa. Varasi bahasa muncul atas konsekuensi terapan linguistik dalam konteks hubungan soial kemasayarakatan.

Salah satunya yang menjadi bahan kajian yaitu register. Variasi bahasa berdasarkan segi pemakaian atau register menyangkut bahasa yang digunakan untuk berbagai keperluan tertentu, misalnya dalam bidang sastra, jurnalistik, militer, pertanian, pelayaran, perekonomian, perdagangan, pendidikan, dan kegiatan keilmuan lainnya, termasuk pada komunitas tertentu yang acapkali memiliki bahasa-bahasa khusus.

Pendidikan Karakter

Lalu, apakah ada kaitannya variasi bahasa (baca: register) dengan pendidikan karakter. Pendidikan karakter mulai didengungkan di era Mendikbud, Muhammad Nuh. Menurutnya pendidikan di Indonesia mulai melupakan pembentukan karakter siswa. Atas dasar pemikiran itulah pendidikan saat ini harus memuat pendidikan karakter.

Karakter yang diungkapkan dalam hal ini merujuk pada pedoman Kementerian Pendidikan Nasional mengenai delapan belas karakter yang menjadi petunjuk pendidikan karakter, diantaranya religius, jujur, disipilin, kerja keras, semangat kebangsaan, cinta tanah air, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab, rasa ingin tahu, gemar membaca. Kreatif, mandiri, demokratis, cinta damai, menghargai prestasi, toleransi dan komunikatif.

Lalu bagaimana letak bahasa yang dalam hal ini register mampu mempunyai hubungan dengan pendidikan karakter?

Pendidikan Karakter dalam Perspektif Bahasa

Bahasa mencerminkan bangsa. Itulah kira-kira gambaran bagaimana hubungan bahasa dengan pendidikan karakter. Dalam beberapa literaur penelitian variasi bahasa semacam register mampu menunjukkan karakter dan meningkatkan karakter penuturnya. Penelitian yang dilakukan oleh Handoko, dkk (2012) menunjukkan register anggota Paskibra mampu membentuk karakter anggota Paskibra itu sendiri. Register yang muncul seperti siap, turun, dan spirit of destroyer mampu menunjukkan pendidikan karakter. Karakter yang muncul tak lepas dari delapan belas karakter yang ditetapkan Kemendikbud. Penelitian lain yang menunjukkan bahasa mampu menunjukkan karakter penelitian yang dilakukan Sudaryanto (2012). Ia meneliti register anaka jalanan. Hasilnya terdapat register khusus yang mampu membentuk karakter anak jalanan tersebut.

Lebih jauh bahasa yang notabene alat komunikasi mempunyai dampak yang besar terhadap perilaku manusia. Hal tersebutlah yang meyakini setiap tuturan yang diucapkan manusia mempunyai karakter tersendiri. Apabila kaum akademisi dan masyarakat peka terhadap hal ini tentu saja kesusahan dalam mencari model pendidikan karakter di sekolah dapat teratasi.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Pernahkah Ini Terjadi di Jaman SBY …

Gunawan | 3 jam lalu

Petisi Pembubaran DPR Ditandatangani 6646 …

Daniel Ferdinand | 7 jam lalu

Senyum dan Air Mata Airin Wajah Masa Depan …

Sang Pujangga | 8 jam lalu

Timnas Lagi-lagi Terkapar, Siapa yang Jadi …

Adjat R. Sudradjat | 9 jam lalu

Presiden Kita Bonek dan Backpacker …

Alan Budiman | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: