Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Fahmi Maloloh

Adalah manusia sederhana, punya impian yang tidak sederhana.

Bahasa Indonesia yang Mulai Dibuat ‘Gila’

OPINI | 24 September 2012 | 12:29 Dibaca: 314   Komentar: 2   2

BAHASA INDONESIA YANG MULAI DIBUAT ‘GILA’

Oleh : Fahmi

Haduch… nemenin ibu jln2 cpegh bgt.

Adduh… mw dpotong gag eaaa rmbutqw?

Duuhhhh xebelintttt bgt qmuach eaa… ,

Sedikit cuplikan kalimat alay yang penulis ambil dari update status di wall facebook beberapa teman ini hanyalah gambaran, betapa Bahasa Indonesia kita mulai menjadi bahasa yang kacau. Tidak hanya cara membacanya, tetapi juga cara menulisnya.

Kita tidak habis pikir mengapa bahasa kita yang sudah anggun, kemudian menjadi bahasa yang sepertinya asing untuk kita sendiri sebagai warga Indonesia. Ada yang mengatakan bahwa ini adalah bagian dari modernisme, tetapi kenapa harus merembet kepada tata bahasa kita?

Sering kita menjumpai kalimat-kalimat serupa walaupun tidak sama di SMS balasan teman, atau di cacatan status di beberapa jejaring sosial milik teman-teman kita. Dan ini tidak hanya terjadi di sekitar lingkungan kita, tetapi nyaris di seluruh generasi muda kita di Indonesia. Ironisnya, ini dilakukan oleh sebagian besar genarasi muda kita, yang sebanarnya harus mengabadikan yang sudah tertata. Kita mungkin pernah bertanya-tanya, kenapa mereka menulisnya seperti itu. Untuk menulis kata “YA”, kini tak lagi dengan ejaan seperti yang sejak dulu kita pelajari, mereka merasa bangga menulisnya dengan ejaan “ea”. Menyingkat kata dengan alasan irit untuk membalas SMS mungkin bisa diterima, selama bisa dimengerti dan dipahami oleh orang yang membaca tulisan kita, tapi pertanyaannya, sejak kapan huruf ‘Y’ menjadi ‘E’? Atau huruf ‘K’ menjadi ‘Q’ dalam kata ‘kamu’ yang tiba-tiba menjadi ‘Qmu’? Ada yang lebih gila lagi, kata ‘nya’ hanya hanya ditulis dengan huruf ‘x’ dalam kata ’sepertinya’ menjadi ’sepertix’. Atau versi yang lain, ’sepertinya’ menjadi ’seperti.na’.

Kehawatiran mulai muncul dari beberapa pemerhati tata bahasa, mulai guru Bahasa Indonesia di beberapa sekolah dan madrasah, bahkan para sastrawan dan seniman. Mereka sangat menyayangkan kenapa ini bisa terjadi. Apa sulitnya menuliskan kata dengan susunan kata yang sudah ada? Bahkan tidak hanya sulit dibaca, tetapi juga sulit dipahami oleh sebagian orang. Kita tak pernah membayangkan bagaimana bentuk mimik kita disaat harus membaca kalimat di atas sesuai abjad yang ada, walaupun bukan itu problem utamanya. Atau jangan-jangan pengguna bahasa ‘aneh’ ini merasa frustasi dengan pelajaran Bahasa Indonesia yang mungkin saja bagi sebagian mereka dianggap sulit? Wallahu a’lam.

Anehnya lagi, setelah beberapa teman ditanya mengenai penggunaan kalimat seperti ini, sebagian dari mereka menjawabnya dengan alasan perkembangan zaman, gaul, kreatif, bagian dari inovasi dan lain sebagainya. Alangkah tidak bijaknya jika alasan itu dijadikan sarana untuk ‘merusak’ bahasa kita. Bisa dibayangkan, bagaimana jika pada akhirnya ini menular kepada generasi-generasi kita berikutnya.

Sementara ini mungkin kita tidak terlalu peduli dengan hal ini. Tapi jika dibiarkan berlanjut, maka bukan tidak mungkin akan ada perubahan besar-besaran terhadap tata bahasa Indonesia yang juga akan berdampak besar pada penggunanya. Kita mungkin ada yang setuju, ada pula yang tidak. Tentu dengan alasan masing-masing. Tetapi, sebagai warga yang baik, seharusnya kita tidak menjadikan Bahasa Indonesia kita menjadi ‘gila’.

Oleh karenanya, tugas kita selanjutnya adalah membiasakan kembali menulis huruf sebagaimana mestinya. Ini bisa dilakukan dengan membiasakan diri untuk tidak lagi menggunakan kata asing seperti penulis cuplikkan di atas.

Alhasil, jika mau menulis, menulislah dengan sebaik-baiknya, dengan menggunakan abjad pada tampat yang semestinya, agar tak lagi ada kata “YA” yang tiba-tiba berubah menjadi “Eaaa”.

Penulis adalah Santri PP Annuqayah Latee.

Pembina Majalah Infitah MA Tahfidh Annuqayah

Guluk-Guluk Sumenep.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pelayanan Sertifikasi Lebih Optimal Produk …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 24 October 2014 | 07:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 9 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 14 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 15 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 17 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 8 jam lalu

Dosen Muda, Mana Semangatmu? …

Budi Arifvianto | 8 jam lalu

Aku Berteduh di Damai Kasih-Mu …

Puri Areta | 8 jam lalu

Pengembangan Mutu Akademis Berbasis Digital …

Nararya | 9 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: