Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Fitri Amalia

just doing be better and wish to Allah

“Apalah Arti Sebuah Nama”

OPINI | 24 September 2012 | 16:43 Dibaca: 348   Komentar: 1   0

Apalah arti sebuah nama” mungkin ungkapan itu sering kita dengar dalam aktivitas sehari-hari, bahkan sebagian orang mungkin menganggapnya hanya sebagai lelucon atau gurauan semata. Tahukah kawan, bahwa ungkapan tersebut bisa memiliki arti penting bahkan efek yang ditimbulkan juga sangat luas. Pernahkah kita berfikir : “kenapa bangsa kita diberi nama Bangsa Indonesia, bahasa Indonesia, orang Indonesia, kebudayaan Indonesia” kenapa tidak diganti saja dengan bangsa timur, bahasa jawa, dsb” padahal begitu banyak budaya, begitu banyak bahasa dan adat istiadat di negara kita yang justru dengan adanya itu semua menjadikan negara kita menjadi negara yang kaya akan keanekaragaman budaya. Begitu pula dengan bahasa kita, kenapa disebut bahasa Indonesia bukan bahasa melayu meskipun masih ada beberapa dialek melayu, bukan bahasa sansekerta meskipun awal adanya dulu adalah sansekerta ataupun bahasa daerah yang lain, hal ini tidak lain karna bahasa Indonesia menjadi bahasa “ciri khas” dan pemersatu bangsa. Pernahkah berfikir kawan, cobalah berkunjung ke desa-desa terpencil, daerah-daerah yang masih primitif atau belum terjamah kemajuan jaman, meskipun mereka terlihat sangat primitif dan kolot tapi dengan satu bahasa Indonesia mereka masih bisa mengucapkan dengan baik dan benar, hal ini mencirikan bahwa memang bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu bangsa hingga sampai ke pelosok desa.

Tapi cobalah lihat di sudut-sudut kota, dengan segala hiruk-pikuk kemajuan jaman, dengan segala macam teknologi yang dimainkan, ataupun dengan masuknya beragam ilmu pengetahuan yang mengatasnamakan “kemajuan teknologi” terkadang justru “bahasa kita bahasa Indonesia” jarang didengar dengan baik ataupun mungkin beberapa “anak kota” bahkan hampir lupa dengan bahasa persatuan mereka sendiri karna setiap harinya harus berkomunikasi dengan bahasa asing.  Bayangkan kawan, bagaimanakah nasib bangsa ini jika para generasi muda bangsa telah “lebih mengenal” bahasa asing daripada bahasa mereka sendiri, bukan tidak mungkin beberapa puluh tahun ke depan jika memang tidak ada perhatian dalam diri kita maka “bahasa persatuan” yang kita banggakan selama ini hanya menjadi “bahasa kenangan atau sebagai pemanis sejarah masa lalu bangsa”.

Tidak malukah kita pada bangsa asing yang begitu mengagumi kebudayaan kita sehingga ada beberapa universitas di luar negri yang membuka “mata kuliah bahasa Indonesia”, padahal mereka bukan orang Indonesia tapi bahsa Indonesia mereka terkadang lebih baik dari orang Indonesia sendiri. Tak sadarkah kita, sudah berapa banyak kebudayaan kita yang pada akhirnya diakui pihak asing?? mulai dari alat musik, lagu daerah sampai-sampai pakaian khas kita yang ingin diakui oleh pihak asing. akankah kita berdiam diri saja melihat itu semua?? “jika bukan kita siapa lagi yang mau memperjuangkan bangsa kita sendiri”.

Marilah kawan di moment yang baik ini, di waktu yang baik ini, dimana hingga adanya “bulan bahasa” adalah untuk mengingatkan kita akan pentingnya kebudayaan bangsa yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia dari generasi ke generasi untuk tetap terjaga keasliannya dan kebenarannya meskipun beragamnya kebudayaan asing ataupun bahasa asing yang harus kita kuasai karna “tuntutan dunia”, maka jangan lupakan jati diri bangsa kita untuk tetap menjaga bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan ciri khas bangsa agar Indonesia tetap bisa berjaga dengan jati dirinya sendiri.

Mungkin sedikit wacana diatas sebagai bentuk ungkapan rasa bangga dan harapan saya selaku orang Indonesia yang mencintai negrinya dengan segala bentuk jati diri bangsa Indonesia. semoga bisa menjadi “penggugah” bagi kita untuk lebih peduli lagi menjaga jati diri bangsa.

Surabaya, 24 Sept 2012

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | | 25 October 2014 | 12:30

Rafting Tidak Harus Bisa Berenang …

Hajis Sepurokhim | | 25 October 2014 | 11:54

10 Tanggapan Kompasianer Terhadap Pernikahan …

Kompasiana | | 25 October 2014 | 15:53

Dukkha …

Himawan Pradipta | | 25 October 2014 | 13:20

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 14 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 15 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 15 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

Gayatri Wailissa Anggota BIN? …

Prabu Bolodowo | 8 jam lalu

Ketika Berada di Bukit Wantiro …

Voril Marpap | 8 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 8 jam lalu

Selamat Ulang Tahun Baru Hijriah 1436 H …

Imam Muhayat | 8 jam lalu

Membaca Membuat Pintar …

Nitami Adistya Putr... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: