Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Ariany Primastutiek

Saya adalah ibu rumah tangga yang berprofesi sebagai perawat di salah satu rumah sakit swasta selengkapnya

Lingkaran Emas Sumpah Pemuda, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Ibu

OPINI | 23 September 2012 | 14:10 Dibaca: 400   Komentar: 0   0

Sumpah Pemuda :

PERTAMA.

KAMI PUTERA DAN PUTERI INDONESIA MENGAKU BERTUMPAH-DARAH YANG SATU, TANAH INDONESIA.

KEDUA.

KAMI PUTERA DAN PUTERI INDONESIA MENGAKU BERBANGSA YANG SATU, BANGSA INDONESIA.

KETIGA.

KAMI PUTERA DAN PUTERI INDONESIA MENJUNJUNG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA.

Menurut sejarahnya, sumpah pemuda merupakan perwujudan dari rasa senasib sepenanggungan yang dirasakan oleh para pemuda dari seluruh nusantara. Mereka berkumpul guna melandaskan rasa persatuan demi meraih kemerdekaan. Satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa menjadi alat pemersatu yang kokoh. Setidaknya beitulah harapan yang tersirat dalam bunyi sumpah pemuda yang konon selalu dibacakan di muka rapat atau perkumpulan-perkumpulan mereka. Napas persatuan yang menggema dalam setiap bait sumpah pemuda selalu mampu menggetarkan hati rakyat Indonesia. Bahkan bisa dibilang hampir seluruh rakyat Indonesia hafal atau minimal pernah mendengar karena hingga saat ini masih menjadi salah satu materi pelajaran sejarah di sekolah. Meski begitu, hanya segelintir orang yang mampu mengamalkan makna sumpah pemuda. Lihat saja bagaimana penuhnya pemberitaan di media tentang perselisihan yang bukan saja melibatkan remaja yang notabene pemuda harapan bangsa, namun lebih dari itu pertikaian antar kampung, permusuhan yang disebabkan oleh keyakinan, hingga berujung pada penganiayaan sekaligus tindakan yang melanggar hak asasi manusia. Perasaan senasib sepenanggungan seolah hilang tak berbekas. Akhirnya sumpah pemuda benar-benar hanya menjadi sejarah.

Menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Salah satu bunyi sumpah pemuda itu seolah mengumumkan bahwa pemersatu rakyat Indonesia dari barat sampai timur, utara sampai selatan adalah bahasa Indonesia. Ya, kita yang di Jawa tentu kesulitan jika diminta berbahasa Sunda. Mereka yang ada di Jawa Barat tentu saja lidah mereka tak terbiasa dengan bahasa Minang. Begitupun sebaliknya. Bahasa Indonesia merupakan sarana yang menjadi jembatan penghubung dari segenap perbedaan yang ada. Seharusnya begitu. Buktinya pelajaran bahasa Indonesia bahkan masuk dalam daftar ujian nasional ddari tingkat SD sampai SMA. Bahkan soal-soal guna menembus perguruan tinggi negeri juga tak jauh dari pelajaran bahasa Indonesia. Secara tidak langsung, hal ini menunjukkan bahwa setiap rakyat Indonesia sudah seharusnya bisa bahasa Indonesia. Namun kenyataannya bahasa Indonesia lebih popular di kota daripada di desa. Bahkan bahasa Indonesia menjadi bahasa mewah bagi mereka yang tinggal di perkampungan.

Sebagai perawat, saya pernah menemui kendala dalam berbahasa Indonesia. Suatu hari bangsal saya menerima pasien baru yang berdomisili di dekat perbatasan cilacap dan ciamis. Penduduk di sana rata-rata menggunakan bahasa sunda dalam pergaulannya. Dengan semangat bahwa bahasa Indonesia adalah alat pemersatu puls keyakinan bahwa semua rakyat Indonesia bisa berbahasa Indonesia, dengan penuh percaya diri mulailah saya menanyakan keluhan pasien tersebut hingga harus dirawat di rumah sakit dengan bahasa Indonesia, karena saya sama sekali tak menguasai bahasa sunda. Namun, si pasien yang notabene adalah tiyang sepuh (orang yang sudah tua), hanya menunjukkan ekspresi bingung sambil berkata sesuatu dalam bahasa sunda. Akibatnya saya dan si pasien sama-sama terjebak dalam kebingungan berbahasa. Dalam hati saya mencoba menerka mengapa komunikasi kami tidak nyambung. Setelah datang putra dari si nenek yang mengatakan bahwa ibunya tidak bisa bahasa Indonesia, kini giliran saya yang melongo. Mendapati kenyataan yang diluar perkiraan. Hingga si nenek pulang dari rumah sakit, anak-anaknya secara bergantian menjadi penerjemah.

Begitulah potret bahasa kita meski dia bergelar bahasa persatuan. Seperti yang sudah saya katakan, bahasa Indonesia masih merupakan barang mewah bagi masyarakat yang tinggal jauh dari kota. Dampaknya pun sangat terasa. Saya ingat ketika saya kecil, saya dan keluarga berlibur ke Pulau Dewata. Ibu saya yang orang Jawa tulen tentu saja tak bisa berbahasa layaknya orang Bali, sehingga beliau menggunakan bahasa Indonesia. Beliau sedikit kaget ketika ternyata harga sayuran di pasar lokal dua kali lebih mahal, seorang tetangga kontrakan yang mengatakan hal itu. Mungkin karena si penjual meyakini ibu saya -yang berbicara dalam bahasa Indonesia- adalah orang dari luar kota dengan tingkat ekonomi atas sehingga dengan mudah si penjual dengan mudah memahalkan harga dagangannya. Benar saja ketika ibu tetangga kontrakan mengajak ibu saya berbelanja di pasar yang sama harganya jauh lebih murah. Perbedaannya, ibu saya menggunakan bahasa Indonesia dan tetangga kami itu menggunakan bahasa lokal.

Bukan hanya di Bali, saya yang tinggal di dekat alun-alun kota pernah mencoba belanja di pasar dengan menggunakan bahasa Indonesia. Nasib saya tak beda jauh dengan ibu saya saat berbelanja di Bali dulu. Ketika beberapa hari kemudian saya belanja lagi dengan bahasa krama alus (bahasa jawa yang lebih sopan dan halus, biasanya digunakan saat berbicara pada orang yang lebih tua atau dihormati), ternyata harga yang saya dapatkan bisa setengah lebih murah padahal saya belum menawar.

Kesimpulan saya sementara, bahasa daerah atau bahasa ibu lebih menjalinkan rasa persaudaraan bagi masyarakat setempat. Rasanya lebih akrab dan dekat. Ditambah ada program dari kelurahan tempat saya tinggal untuk lebih mengajari anak-anak -terutama dalam komunikasi- menggunaan bahasa Jawa halus ketimbang bahasa Indonesia. Alasannya, anak akan bisa dengan sendirinya berbahasa Indonesia karena sudah masuk dalam kurikulum pelajaran sejak jaman dulu. Hal ini dilakukan agar bahasa daerah yang telah turun temurun mengakar tidak hilang begitu saja, karena lebih menjamurnya para orang tua yang lebih suka berkomunikasi dengan bahasa Indonesia kepada putra putrinya.

Sampai disini, masih perlukah menggunakan bahasa Indonesia terutama dalam pergaulan dengan anak-anak? Menurut saya, sebgai orang tua kita harus seimbang dalam mengajarkan bahasa. Pernah saya iseng bertanya pada seorang anak menggunakan bahasa Indonesia yang kemudian dijawabnya dnegan bahasa Jawa halus. Dalam hati saya kagum, masih belia bahasanya sudah demikian halus. Namun setelah kami terlibat percakapan yang cukup lama ternyata si anak lebih banyak menjawab dengan bahasa jawa, saya jadi berpikir lagi. Sungguh tidak nyaman bercakap dalam dua bahasa. Saya berharap si anak tadi menanggapi pertanyaan saya dengan bahasa Indonesia, tak disangka si anak menjawab, “Sampun biasa, kulo mboten pinter bahasa Indonesia.” (sudah biasa, saya tidak lancar berbahasa Indonesia). Gludak! Saya berasa jatuh dari tebing yang tinggi. Saya tidak bisa membayangkan, jika dia tersesat lalu ditanya oleh orang sunda asli (yang tak paham bahasa jawa) lalu si anak menjawab dalam bahasa jawa. Saya ragu si anak akan menemukan jalan pulang. Sebab, keduanya sama-sama bingung.

Itulah mengapa puluhan tahun silam, para pemuda bersumpah dengan mengakui, salah satunya, bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Sangat baik mengajarkan bahasa ibu sejak dini kepada anak-anak, agar mereka tahu bahwa meraka memiliki budaya berbahasa yang halus dan sopan. Namun tak mengajarkan sama sekali tentang bahasa Indonesia, jelas pilihan yang patut dikaji lagi. Bagaimanapun, kita hidup di tanah Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dan tentu saja memiliki ribuan budaya dan bahasa. Sudah barang tentu menjadi kewajiban kita mengajari anak-anak bahasa Indonesia dengan porsi yang seimbang dengan bahasa ibu.

Seiring berkembangnya teknologi, bahasa Indonesia telah banyak mengalami kemajuan. Terutama munculnya kosa kata baru yang dulunya masih terpendam. Namun karena banyaknya pekerja media yang sudah terlatih dalam hal diksi, membuat kosa kata itu menjadi popular di masyarakat. Selain itu bahasa yang dipakai pada peralatan elektronik guna menjelaskan kegunaan, cara pakai, dan sebagainya kini juga dilengkapi dengan bahasa Indonesia. Hal ini tentu saja memudahkan orang awam untuk lebih memahami cara penggunaan barang elektronik itu, terutama bagi mereka yang tidak menguasai bahasa Inggris, yang notabene merupakan bahasa persatuan masyarakat di dunia.

Sebagai masyarakat Indonesia, tentu kita tidak ingin bahasa persatuan kita tenggelam oleh bahasa-bahasa lain di dunia. Kita boleh bangga ketika bahasa kita ternyata masuk kurikulum sebuah sekolah tingkat SMA dan masuk dalam jurusan sastra di berbagai negara di dunia, contohnya Australia. Begitu bersemangat mereka mempelajari bahasa kita. Mengapa kita yang lahir di Indonesia enggan berbahasa Indonesia? Memang, saya sendiri jarang menemui orang bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia, kecuali itu di perkotaan. Hampir semua masyarakat desa berkomunikasi dalam bahasa ibu. Mungkin itu sebabnya bahasa Indonesia menjadi mewah. Tak hanya penduduk desa, penduduk kota pun merasa nyaman dengan bahasa ibu, karena sudah lebih mengakar dan turun temurun. Namun saya yakin mereka bukannya tidak mencintai bahasa Indonesia, hanya saja, -seperti kata anak kecil yang saya ceritakan di atas- sudah biasa.

Bahasa menunjukkan bangsa. Mungkin pepatah itu sangat pas untuk menjadi acuan kita agar tetap mencintai bahasa Indonesia. Meski jaman menuntut kita menguasai bahasa asing, meski kita berada jauh di ujung benua, kita tetap harus melestarikan bahasa Indonesia sebagai bukti cinta kita bahwa kita adalah bangsa yang bersatu -salah satunya- dengan berbahasa Indonesia.

Bulan Oktober, yang telah dicanangkan pemerintah sebagai bulan bahasa bisa menjadi penyemangat masyarakat Indonesia untuk lebih mencintai bahasa Indonesia. Bukan hanya dengan berbahasa Indonesia, bukti bahwa kita mencintai bahasa kita juga bisa dilakukan dengan cara menulis, membaca, dan berdiskusi apa saja tentang Indonesia. Sehingga apa yang menjadi cita-cita sumpah pemuda bisa terwujud.

Kalau bukan kita yang mencintai bahasa Indonesia, siapa lagi?


 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selintas Mengenang Taufik H Mihardja …

Dwiki Setiyawan | | 27 August 2014 | 15:21

Bledug Kuwu, Fenomena Langka Alam Indonesia …

Agoeng Widodo | | 27 August 2014 | 15:18

Ini yang Harus Dilakukan Kalau BBM Naik …

Pical Gadi | | 27 August 2014 | 14:55

Cinta dalam Kereta (Love in The Train) …

Y.airy | | 26 August 2014 | 20:59

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Hilangnya Acara Budaya Lokal di Televisi …

Sahroha Lumbanraja | 2 jam lalu

Lamborghini Anggota Dewan Ternyata Bodong …

Ifani | 3 jam lalu

Cara Mudah Latih Diri Agar Selalu Berpikiran …

Tjiptadinata Effend... | 4 jam lalu

3 Kebebasan di K yang Buat Saya Awet Muda …

Hendrik Riyanto | 5 jam lalu

Boni Hargens cs, Relawan atau Buruh Politik …

Munir A.s | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: