Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Dimana Taksu Bahasa Indonesia Bersembunyi?

OPINI | 24 September 2012 | 03:16 Dibaca: 98   Komentar: 0   0

DIMANA TAKSU BAHASA INDONESIA BERSEMBUNYI?

Indonesia merupakan negara dengan suku dan budaya terbesar di dunia. Di Indonesia terdapat puluhan jenis bahasa seperti bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Padang dll. Bahasa adalah penggunaan kode yang merupakan gabungan fonem sehingga membentuk kata dengan aturan sintaks untuk membentuk kalimat yang memiliki arti. [1]Bahasa itu merupakan alat yang sangat tidak memadai untuk berfikir dengan tertib dan untuk melahirkan pendapat. Untuk itu diperlukan bahasa resmi untuk mempermudah berkomunikasi yaitu bahasa Indonesia yang diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan sesuai dengan amanat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Bahasa Indonesia juga merupakan bahasa nasional seperti yang tertuang dalam batang tubuh UUD 1945 pasal 36.

[2]Bahasa baku adalah bahasa yang dianggap dapat digunakan sebagai bahasa di bidang pendidikan, administrasi negara, upacara resmi, karya tulis, hukum, peradilan, dan berbagai ranah yang dapat dipandang resmi. [3]Bahasa baku penting bagi sebuah negara, apalagi bagi Indonesia. Bahasa baku memiliki fungsi mempersatukan negara Indonesia yang terdiri dari 400 bahasa daerah. Bahasa Indonesia baku diperlukan untuk memperlancar atau memfasilitasi komunikasi pada tataran nasional.

Secara umum, fungsi bahasa Indonesia adalah sebagai sarana komunikasi dalam kehidupan sehari-hari, sebagai sarana mewujudkan seni melalui karya-karya sastra. Kedudukan bahasa Indonesia secara khusus, seperti sebagai bahasa Nasional, lambang kebanggaan Negara, Lambang Identitas Nasional, Alat penghubung antar daerah, dan masih banyak lagi fungsi lainnya. Bahasa ini merupakan warisan leluhur bangsa yang patut kita pertahankan.

Dalam kenyataannya, perkembangan bahasa Indonesia seakan tidak sesuai dengan yang diharapkan para pendahulu bangsa. Coba kita bayangkan perjuangan para pendahulu bangsa yang terlibat dalam peristiwa sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Dalam peristiwa tersebut, lahir ikrar atau sumpah dari para pemuda seluruh Nusantara dengan menyatakan bahwa mengakui bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan salah satu identitas bagi Bangsa Indonesia. [4]Apa jadinya jika anak-anak muda anonim pencetus sumpah pemuda bangkit dari kubur dan mendapati anak-anak muda sekarang saat bicara dan menulis lebih suka nginggris ketimbang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Banyak remaja yang menggunakan bahasa Indonesia dicampur dengan bahasa yang mereka sebut dengan bahasa gaul. Padahal penggunaan bahasa gaul tersebut dapat merusak tata bahasa Indonesia yang benar. [5]Bahasa gaul merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk pergaulan yang mulai muncul pada akhir ahun 1980-an. Bagi sebagian remaja, menggunakan bahasa gaul akan menciptakan image bagi mereka sebagai anak keren dan tidak ketinggalan jaman. Padahal apa yang mereka lakukan tidak benar dan dapat merugikan Bangsa Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa betapa rendahya kesadaran masyarakat terutama para remaja untuk mencintai bahasanya sendiri. [6]Bahasa Indonesia baku berfungsi sebagai bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa kebanggaan bangsa Indonesia. [7]Bahasa gaul merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk pergaulan yang mulai muncul pada akhir ahun 1980-an.

Keterpurukan bahasa Indonesia dapat terjadi karena dua faktor yaitu internal dan eksternal. Faktor internal yaitu faktor pendukung dalam Bahasa Indonesia, seperti tujuan pembelajaran, cara penyampaian materi, metode pengajaran, alat dan cara mengevaluasi. Kemajuan ilmu pengetahuan, merupakan faktor eksternal yang juga berdampak terhadap merapuhnya keterampilan bahasa Indonesia. Warga negara Indonesia yang baik, harus selalu menjaga bahasa persatuannya dan cinta terhadap bahasanya karena seperti pepatah mengatakan Bahasa menunjukkan Bangsa. Bahasa Indonesia itu adalah kebanggaan kita, dan harus kita junjung tinggi. Daerah-daerah sektor pariwisata juga bisa menjadi penyebab terhadap merapuhnya bahasa Indonesia.

Menjamurnya bahasa Alay merupakan kambing hitam dari hilangnya taksu bahasa Indonesia. [8]Di dunia sekitar kita terdapat dua realitas. Pertama realitas eksperimensial (experimential reality). Kedua realitas penyetujuan (agreement reality). Realitas eksperimensial maksudnya, orang mengetahui realitas sebagai akibat dari pengalaman langsung orang tersebut dengan dunianya. Realitas penyetujuan adalah sebagai akibat dari kabar (informasi) orang lain yang dia terima dan orang lain serta dirinya sendiri pun turut mendukung (setuju atau membenarkan) adanya realitas dimaksud.

Tidak dipungkiri hingga sekarang bahasa alay semakin luas pemakaiannya dan semakin banyak para remaja bahkan orang dewasa menggunakan penulisan atau pengucapan bahasa alay karena adanya unsur daya tarik yang membuat banyak orang yang sebelumnya kurang paham akan bahasa alay ini menjadi ingin tahu dan akhirnya mengikuti mengucapkan atau menulis dengan bahasa alay.

Perkembangan zaman terutama dalam bidang teknologi menjadi hal yang berpengaruh besar dalam hilangnya taksu bahasa Indonesia dikalangan remaja masa kini. [9]Bahasa yang digunakan oleh para publik figur sering kali membawa penonton untuk latah dan meniru bahasa tersebut, padahal dalam pendidikan formal, kita sudah diajarkan tentang berbahasa yang baik dan benar menurut kaidah yang berlaku serta diajarkan untuk memilah-milah mana bahasa yang baik untuk digunakan sesuai dengan waktu penggunaan bahasa tersebut. Apabila hal ini terus berlangsung, dapat dikhawatirkan akan menghilangkan budaya berbahasa Indonesia yang baik dan benar di kalangan remaja, bahkan di kalangan anak-anak. Hal tersebut juga dapat berakibat pada rusaknya tatanan berbahasa kita yaitu bahasa Indonesia.

[10]Penggunaan bahasa gaul dalam kehidupan sehari-hari mempunyai pengaruh negatif bagi keberlangsungan bahasa Indonesia. Misalnya, dalam suatu kegiatan percakapan biasa yang dilakukan oleh para remaja, ketika remaja menyatakan perasaan kepada lawan jenisnya atau akan memulai suatu pembicaraan, mereka menggunakan kata membaksokan dan mengapelkan, maka hal tersebut sudah mencerminkan bahwa penggunaan bahasa gaul telah berpengaruh negatif yaitu hilangnya aturan berbahasa baku dalam lingkungan masyarakat. Apabila hal tersebut terus berlangsung dalam kegiatan formal, dikhawatirkan masyarakat di Indonesia akan sulit mengutarakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

[11]Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang istimewa dibandingkan dengan beberapa negara lain yang masih kesulitan dalam menetapkan bahasa persatuan seperti India ada bahasa Hindi dan Inggris, di Belgia menggunakan bahasa Belanda dan Perancis. Lalu ada tiga bahasa yang dipakai di Swiss, yakni Italia, Perancis, dan Jerman. Kanada ada bahasa Inggris dan Perancis.

Peran sungguh-sungguh dari pemerintah sangat penting untuk mengatasi hal ini, sesuai dengan permen no. 40 tahun 2007 agar bahasa Indonesia tidak tergerus arus globalisasi. Metode pengajaran bahasa Indonesia tidak dapat menggunakan satu metode karena bahasa Indonesia sendiri yang bersifat dinamis. Bahasa sendiri bukan sebagai ilmu tetapi sebagai keterampilan sehingga penggunaan metode yang tepat perlu dilakukan. Pembelajaran yang menarik akan memikat anak-anak untuk terus dan betah mempelajari Bahasa Indonesia sebagai bahasa ke-2 setelah bahasa ibu.

Selain pemerintah, masyarakat Indonesia juga harus penuh motivasi untuk menjaga dan melestarikan taksu bahasa Indonesia melalui rajin membaca, karena dengan membaca kita akan kaya kosa kata dan dapat mencontoh bahasa yang baik agar dapat menulis dengan baik. Rajin membaca dan menulis berarti melestarikan salah satu karakter budaya bangsa yaitu bahasa Indonesia. Kita sebagai generasi muda harus bisa mempertahankan warisan-warisan para leluhur bangsa. Seperti pepatah yang mengatakan bahwa Perjuangan kita lebih sulit dari pada perjuangan para pendahulu negeri ini yang bisa mengusir kaum penjajah. Namun penjajahan zaman ini bukan berasal dari luar, melainkan dari dalam negeri kita sendiri. Taksu ( kekuatan dari dalam) ataupun kharisma bahasa Indonesia merupakan kharisma masyarakat Indonesia sendiri.


[1](C.P.F.Lecoutere, L. Grootaers), 1.

[2] UU No 24/2009, 1.

[3] Prof Dr Benny Hoedoro Hoed, pakar bahasa dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 1.

[5] Fathoni, Dosen Bahasa Indonesia Universitas Brawijaya, 2.

[6] Prof Dr Benny Hoedoro Hoed, Loc.Cit., 2.

[7] Fathoni, Dosen Bahasa Indonesia Universitas Brawijaya, Op.Cit., 2.

[8] Babibie 1998, 3

[9] Elendea A; Dwi Esti; Nugroho N.C; Adi Probo. Pengaruh Bahasa Opera Van Java terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia di Masyarakat. 2011, 3.

[10] Ibid.,hal 3.

[11] Prof Dr Benny Hoedoro Hoed, Loc.Cit., hal 4.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pecahnya “Kapal” PPP dan Upaya …

Irham Wp | | 20 April 2014 | 03:26

Bisakah Membangun Usaha Tanpa Uang? …

Maskal Novessro | | 20 April 2014 | 08:52

Ketika Rupiah Tidak Lagi Dianggap sebagai …

Dhita Arinanda | | 20 April 2014 | 05:10

Musafir; Aku Pasti Pulang …

Elkhudry | | 20 April 2014 | 06:29

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Gara-gara Amien Rais Mental Prabowo dan …

Mas Wahyu | 2 jam lalu

PDI P Sudah Aman, tapi Belum Tentu Menang …

El-shodiq Muhammad | 5 jam lalu

Rapor TimNas U-19 Usai Tur Timur Tengah dan …

Hery | 16 jam lalu

Nasib PDIP Diujung Tanduk …

Ferry Koto | 17 jam lalu

Alumni ITB Berkicau, Demo Mahasiswa ITB …

Hanny Setiawan | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: