Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Midi Hardiani

i don't need to be wanted i want to be needed

Mengajar Bahasa Indonesia Dialek Sunda

OPINI | 22 September 2012 | 00:30 Dibaca: 163   Komentar: 0   0

Disamping pengalaman belajar bahasa Indonesia saya juga memiliki pengalaman mengajar bahasa Indonesia. Selain karena mencari penghasilan tambahan untuk menambah tabungan, mengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar merupakan cara jitu untuk mencari pengalaman dan mempraktikkan apa yang sudah dipelajari selama di bangku kuliah terkait bahasa Indonesia. Bimbingan belajar (Bimbel) merupakan lembaga terbuka, sehingga siswa siswi yang datang untuk belajar disana berasal dari beberapa sekolah yang berbeda satu sma lain dan mayoritas terdiri dari keluarga menengah ke atas yang berarti pula mereka telah siap belajar karena itulah mengikuti bimbel. Pada satu waktu saya mengajar kelas IX. Materi yang dibahas adalah tentang jenis-jenis karangan Deskriptif, Naratif, Eksposisi, Persuasi, dan sebagainya. Ketika saya mulai berbicara dan menjelaskan jenis karangan tersebut ada seorang siswi yang ‘nyeletuk‘ tiba-tiba dengan serta merta berkata, “Kakak, orang sunda ya?” saya jawab, “Kok Tahu?” dia kembali berkata, ”Logatnya sunda banget..” dengan nada mendayu-dayu dan memainkan kepala. Sontak seisi kelas pun menjadi riang karena semua tersenyum menanggapi tingkah temannya itu. Tak sampai disitu ketika menerangkan “Karangan Narasi atau sifatnya disebut naratif merupakan karangan yang ditandai dengan sebuah cerita atau “menceritakeun”” karena berbicara cepat saya tak sadar menggunakan bahasa sunda karena selama libur semester saya berada di rumah dan berinteraksi dengan warga sekitar menggunakan bahasa sunda akhirnya terbawa sampai kelas bimbel. Sontak semua anak pun tertawa dan ada yang berkarta, “ Bu, ini kelas bahasa Indonesia, bukan bahasa Sunda”. Akirnya saya pun malu dan segera mengganti, “maaf anak-anak maksud ibu menceritakan”. Akhirnya mereka tertawa dan saya pun menjelaskan jenis karangan yang lain agar suasana hangat kembali.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Menjadi Tim Sukses Caleg Gagal …

Harja Saputra | | 24 April 2014 | 08:24

Pojok Ngoprek: Tablet Sebagai Pengganti Head …

Casmogo | | 24 April 2014 | 04:31

Virus ‘Vote for The Worst’ Akankah …

Benny Rhamdani | | 24 April 2014 | 09:18

Nonton Pengumpulan Susu Sapi di Kampung …

Merza Gamal | | 24 April 2014 | 08:30

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 3 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 4 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 4 jam lalu

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 8 jam lalu

Hapus Bahasa Indonesia, JIS Benar-benar …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: