Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Resta Giri

Look the future

Bahasa Indonesia Kini Jadi Yang kedua

OPINI | 22 September 2012 | 16:39 Dibaca: 122   Komentar: 0   0

BAHASA INDONESIA KINI JADI YANG KEDUA

“Pindah ke luar negeri? Wah, pasti nanti anaknya lupa bahasa Indonesia”. Itulah yang terucap dari para sanak saudara dan teman – teman ketika saya sampaikan rencana pindah keluarga saya. Awalnya saya tidak mengerti arti ucapan tersebut, atau saya hanya menganggapnya sebagai basa – basi belaka. Karena sejujurnya tidak ada kekhawatiran sama sekali anak – anak saya akan lupa berbahasa Indonesia, justru kekhawatiran yang ada adalah anak – anak saya tidak bisa mengikuti pelajaran di tempat baru karena bahasa Inggrinya yang pas – pasan. Meskipun akhirnya kekhawatiran saya tidak terbukti, karena ternyata anak – anak lebih cepat beradaptasi dalam hal bahasa.

Kini setelah setahun tinggal di rantau, barulah saya mengerti arti ucapan dari teman – teman saya dulu. Di sini saya menjumpai banyak anak – anak Indonesia yang sedikit mengerti bahasanya sendiri, bahkan ada juga yang tidak mengerti sama sekali. Bahasa Indonesia seakan hanya menjadi bahasa kedua yang tidak wajib bagi anak - anak Indonesia di luar negeri. Padahal mereka anak – anak yang kedua orang tuanya asli berdarah Indonesia. Dalam hati mulai timbul rasa prihatin terhadap mereka, orang tua dan anak – anak yang tidak lagi bangga dengan bahasa nasionalnya. Yang lebih membuat saya miris adalah ketika melihat ada rasa bangga di wajah para orang tua yang anaknya tidak mengerti bahasa Indonesia. Sepertinya menjadi kebanggaan tersendiri jika anak – anak mereka hanya pandai berbahasa Inggris. “Maaf, anak saya tidak mengerti bahasa Indonesia kalau bahasa Inggris baru ngerti”. Begitu selalu ucap ibu – ibu dengan bangganya jika saya mengajak ngobrol si kecil menggunakan bahasa Indonesia. Menurut saya, kekeliruan bukan terletak pada anak tetapi lebih kepada orang tua yang enggan memperkenalkan atau mempergunakan bahasa Indonesia saat berbicara dengan anak - anak.

Sebenarnya hanya sedikit perlu pemahaman yang baik dari orang tua untuk tetap memperkenalkan bahasa Indonesia kepada anak – anak meskipun mereka tinggal di luar negeri tanpa membatasinya dalam belajar bahasa Inggris. Berilah waktu yang seimbang untuk kedua bahasa ini. Setengah hari dari waktu yang dimiliki anak – anak telah dipakainya untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris di sekolah. Belum lagi sore hari saat mereka bermain dengan teman – teman di lingkungan rumah. Jadi tidak ada salahnya kalau saat di dalam rumah mereka kita wajibkan untuk tetap mempergunakan bahasa Indonesia. Ini adalah hal mudah dan murah yang bisa dilakukan oleh orang tua yang peduli terhadap rasa cinta tanah air kepada anaknya. Tidak perlu kursus seperti layaknya belajar bahasa Inggris di Indonesia yang memakan biaya tidak sedikit. Juga tidak perlu duduk belajar seperti guru dan murid. Bukankah lebih membanggakan jika memiliki anak yang menguasai lebih dari satu bahasa? Bukankah lebih hebat anak yang bisa berbahasa Inggris sekaligus berbahasa Indonesia, daripada yang hanya mengerti bahasa Inggris saja?

Rupanya tidak hanya warga Negara Indonesia yang di luar negeri saja yang terkena penyakit bahasa ini. Saat ini di kota – kota besar di Indonesia mulai banyak sekolah – sekolah yang mempergunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Untuk era globalisasi saya kira hal ini memang tidak ada masalah, justru tindakan posisif mengingat persaingan pencari kerja di dunia internasional. Tapi bagaimana dengan para orang tua di kota besar yang juga mewajibkan anak – anak mereka untuk menggunakan bahasa Inggris di rumah dengan alasan untuk memperlancar bahasa Inggrisnya? Apakah tidak ada rasa kekhawatiran dari para orang tua ini jika suatu saat nanti anak – anak mereka akan lupa dengan bahasa Indonesia, karena hal ini sudah mereka terapkan sejak anak – anak mereka masih tergolong kecil ?

Saya sendiri selalu menerapkan untuk menggunakan bahasa Indonesia di dalam rumah kepada anak – anak saya, kecuali saat belajar karena memang buku – bukunya dalam bahasa Inggris. Kadang mereka juga kesulitan mengerti arti kata – kata dari bahasa Indonesia yang jarang digunakan. Tugas kita sebagai orang tualah untuk menjelaskannya. Dengan cara ini ternyata membuat mereka fasih berbahasa Inggris sekaligus tetap pandai berbahasa Indonesia. Bahkan kadang – kadang kami juga menyelipkan bahasa daerah dalam percakapan sehari – hari. Saya selalu berpikir, bagaimana generasi muda ini kelak bisa mencintai Indonesia kalau bahasanya saja mereka tidak kenal. Sangat disayangkan, para orang tua yang terpelajar yang sudah bisa menembus dunia internasional tetapi tidak dibarengi dengan pendidikan cinta tanah air kepada penerusnya. Semoga tulisan ini bisa menggugah sedikit orang tua untuk mau mulai mengenalkan bahasa Indonesia kepada putra – putrinya dengan menggunakannya dalam percakapan di keluarga.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada Kain Benang Emas dan Ulos Gendongan Bayi …

Piere Barutu | | 24 April 2014 | 22:40

Lost in Translation …

Eddy Roesdiono | | 24 April 2014 | 22:52

PLN Gagap Online …

Andiko Setyo | | 24 April 2014 | 23:40

Drawing AFC Cup U-19: Timnas U-19 Berpotensi …

Primata Euroasia | | 24 April 2014 | 21:28

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Ahmad Dhani: Saya Dijanjikan Kursi Menteri …

Anjo Hadi | 9 jam lalu

Partai Manakah Dengan Harga Suara Termahal? …

Chairul Fajar | 11 jam lalu

Siapa yang Akan Bayar Utang Kampanye PDIP, …

Fitri Siregar | 11 jam lalu

Riska Korban UGB jadi “Korban” di Hitam …

Arnold Adoe | 12 jam lalu

Tangis Dahlan yang Tak Terlupakan …

Dedy Armayadi | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: