Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Doddy Nova

Guru di sekolah 'ndeso

KESEDERAHANAAN BAHASA INDONESIA

OPINI | 21 September 2012 | 20:30 Dibaca: 184   Komentar: 2   2

Richie (24 th), seorang relawan Peace Corp dari Amerika yang sedang bertugas di SMAN 1 Ngantang Kab. Malang, baru bulan April lalu menginjakkan kaki di Indonesia. Sebelumnya dia tidak pernah berkaitan dengan apapun dari Indonesia, termasuk bahasanya. Sesampai di Indonesia, dia bersama 44 relawan lainnya harus mengikuti pelatihan bahasa dan budaya selama dua bulan di Malang - Jatim. Praktis baru pada kesempatan itulah dia mulai mengenal Bahasa Indonesia.

Tapi hari ini, sesudah sekitar 5 bulan berinteraksi dengan orang Indonesia, anda akan melihat betapa Richie sudah cukup lancar berbahasa Indonesia.  Dia sudah sering berpergian dan berinteraksi sendirian dengan masyarakat, tanpa rasa kawatir ada hambatan komunikasi dengan masyarakat. Berkali-kali dia  bertanya kepada saya tentang istilah Indonesia untuk ungkapan tertentu dan dengan mudahnya dia mengingat dan menerapkannya dalam pembicaraan. Kadang-kadang masih terjadi pengujaran yang salah, tapi itu tidak mengganggu orang untuk memahaminya.

Ketika saya meminta pendapat Richie tentang Bahasa Indonesia, dia menjawab tanpa bermaksud meremehkan, bahwa Bahasa Indonesia itu enak tidak banyak perubahan kata kerja dan aturan tata bahasa. Seperti kita tahu perubahan kata kerja itu menjadi ciri khas Bahasa Inggris. Kata kerja eat, misalnya, harus berubah menjadi ate, ate, eating, dan sebagainya tergantung pada waktu kejadian dan pelakunya.

Demikian juga Tata Bahasa atau Grammar Bahasa Indonesia jauh lebih sederhana dari Bahasa Inggris. Aturan perubahan imbuhan ke-an untuk semua kata sifat menjadi kata benda juga lebih sederhana daripada dalam Bahasa Inggris yang akhiran tertentu hanya untuk kata tertentu saja dan itu membuat siswa-siswa saya pusing tujuh keliling. Maksudnya begini, dalam Bahasa Indonesia untuk menjadikan kata sifat menjadi kata benda, cukup tambahkan awalan ke dan kahiran an dalam kata tersebut, dan ini berlaku untuk semua kata sifat. Misalnya, keadaan, kesatuan, keadilan, keteraturan, kelucuan, dan sebagainya. Sementara dalam Bahasa Inggris ada bermacam-macam akhiran untuk menjadikan kata sifat menjadi kata benda. Ini yang sering membuat siswa-siswa saya kebingungan. Misalnya, akhiran -ness untuk happy - happiness, white - whiteness, ill - ilness, dll. Tapi curious - curiosity, able - ability, traumatic - trauma, angry - anger, dll.

Kalau diteliti akan banyak sekali kesederhanaan dalam bahasa Indenesia dibanding dengan bahasa lain. Kesederhanaan ini banyak memberikan keuntungan tapi juga mempunyai kelemahan, misalnya kesulitan memberikan makna secara detail atau waktu kejadian, dan lainnya. Semuanya masih terbuka untuk diadakan penelitian lebih lanjut.

Setiap bahasa tentunya punya keunggulan masing-masing. Menurut saya kesederhanaan adalah keunggulan Bahasa Indonesia. Kesederhanaan tidak menjadikan kita kecil hati terhadap bahasa-bahasa lain, tetapi seharusnya menjadi keunggulan yang harus dikedepankan.

Bahasa menunjukkan bangsa. Karakter bahasa bisa jadi mewakili karakter masyarakatnya. Kesederhanaan bisa menjadi kata kunci untuk memahami bangsa Indonesia.

Kesederhanaan bisa jadi sebuah pesan bagi para pemimpin kita agar berperilaku dan memperlakukan masyarakat secara sederhana. Maksudnya adalah tidak mempertontonkan ketidaksederhanaan di tengah masyarakat, tidak suka mengumbar janji-janji muluk, tidak suka membuat aturan yang rumit-rumit yang ujung-ujungnya “wani piro?”, tidak banyak omong yang penting ada buktinya, tidak suka basa-basi hanya untuk menutupi keburukan, pandai bersilat lidah memutar-mutar kalimat yang malah membuat orang bingung, dan lain-lain.

Kesederhanaan juga bisa menjadi pesan kepada masyarakat agar berperilaku sederhana,  agar kita tidak terlalu banyak mimpi, tapi bekerja dan bertindak untuk mewujudkan karya nyata. Sebagai pegawai, karyawan, profesional, partikelir, usahawan, dan lain-lain, bekerjalah dan bermimpilah sesuai porsinya. Keinginan-keinginan yang berlebihan hanya akan menjerumuskan kita ke dalam jurang ketidaksederhanaan yang akhirnya hanya akan membuat kita terjebak dalam perbuatan melanggar aturan dan kecurangan.

Amboi! Alangkah indahnya sederhana!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pecahnya “Kapal” PPP dan Upaya …

Irham Wp | | 20 April 2014 | 03:26

Bisakah Membangun Usaha Tanpa Uang? …

Maskal Novessro | | 20 April 2014 | 08:52

Ketika Rupiah Tidak Lagi Dianggap sebagai …

Dhita Arinanda | | 20 April 2014 | 05:10

Musafir; Aku Pasti Pulang …

Elkhudry | | 20 April 2014 | 06:29

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Gara-gara Amien Rais Mental Prabowo dan …

Mas Wahyu | 2 jam lalu

PDI P Sudah Aman, tapi Belum Tentu Menang …

El-shodiq Muhammad | 5 jam lalu

Rapor TimNas U-19 Usai Tur Timur Tengah dan …

Hery | 16 jam lalu

Nasib PDIP Diujung Tanduk …

Ferry Koto | 17 jam lalu

Alumni ITB Berkicau, Demo Mahasiswa ITB …

Hanny Setiawan | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: