Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Bone Ogur

smart supel elegan

kekuatan kata-kata

OPINI | 20 September 2012 | 16:53 Dibaca: 309   Komentar: 0   1

Kekuatan kata-kata

Oleh: Bonefasius Ogur

Alamat: Jakarta Pusat, keramat v, no.135

Kata-kata itu mempunyai kekuatannya tersendiri di dalam kehidupan bernegara. Kita telah mengetahui bersama, bahwa kata-kata itu menjadi dasar dalam menjalin komunikasi secara verbal antarpribadi. Dalam hal ini, kata-kata itu punya peranan penting di dalam kehidupan (bersama) bernegara. Tidaklah salah, jika penulis menarik suatu kesimpulan yang sederhana, bahwa kata-kata menjadi bagian dari setiap pribadi di dalam menjalin komunikasi. Lantas, kita bertanya, sejauh mana peranan dan kekuatan dari kata-kata itu dalam kehidupan bernegara dan apakah kekuatan kata-kata itu sama dengan kekuatan fisik jika kita bertolak pada kenyataan akhir-akhir ini.

Akhir-akhir ini, berbagai media, baik majalah surat kabar, majalah tempo, dan TV melaporkan berbagai berita yang actual. Konflik menjadi salah satu berita yang selalu diliputi di berbagai media itu. Misalnya, konflik yang terjadi di Papua. Yang sangat actual lagi adalah soal kampanye hingga perdebatan antara calon Gubernur DKI, Jakarta. Kita patut bertanya, apa peranan kata-kata jika kata-kata itu punya kekuatan.

Namun, kita mesti mengakui bahwa kita cendrung mengatasi persoalan-persoalan itu dengan mengandalkan kekuatan fisik. Khususnya, konflik yang terjadi di Papua. Pada umunya, ketika persoalan itu diselesaikan dengan kekuatan fisik, kadangkala kita kurang menemukan jalan keluar yang lebih baik (jika kita tidak ingin mengatakan sulit untuk menemukan jalan keluar). Bahkan, hal itu dapat mempersulit persoalan itu menjadi lebih besar. Sehingga, tidaklah heran jika persoalan yang sering diwartakan oleh berbagai media itu terus meningkat dan berkembang.

Demi menemukan solusi yang lebih baik atas persoalan-persoalan itu, kita mesti memanfaatkan kekuatan dari kata-kata itu di dalam kehidupan bernegara. Tidak mudah tetapi hal itu tidaklah berarti tidak bisa. Kita harus merangkai kata-kata itu menjadi satu kesatuan. Tentunya, satu kesatuan itu bukanlah kesatuan yang memiliki makna diskriminatif, melainkan satu kesatuan demi mencapai perdamaian dan kesejahteraan bersama di dalam kehidupan bernegara.

Satu kesatuan dari berbagai kata itu mesti direalisasikan oleh siapa pun. Menulis dan berdialog adalah langkah tepat untuk merealisasikan satu kesatuan dari berbagai kata itu demi mencapai perdamaian dan kesejahteraan. Sehinggga, akan terlihat jelas, bahwa kata-kata itu punya kekuatan atau peranan tersendiri yakni untuk mendamaikan dan menyejahteraan kehidupan bernegara.

Pun demikian dengan kampanye. Para calon Gubernur merangkai kata-kata dengan bagus. Dalam hal ini, mereka memilih kata-kata dengan tepat. Terbukti bahwa, kita yang mendengar kampanye itu menjadi percaya kepada mereka. Terlepas dari apakah mereka akan membuktikannya nanti. Semua itu berawal dari kata-kata.

Kata-kata juga punya kekuatan untuk menghibur. Dalam hal ini, kata-kata itu sebagai penghiburan bagi mereka yang dirundung kesedihan. Misalnya, ketika ada orang yang mengalami kesusahan kita mesti memberikan peneguhan. Tentunya, peneguhan itu berupa kata-kata sebagai langkah awal. Peneguhan itu berfungsi untuk memberikan motivasi dan menemukan sisi positif dari kesusahan. Walaupun, kita kadangkala membuat mereka tambah bersedih dengan mempersalahkan dan membenarkan apa yang menjadi penyebab kesusahan itu sendiri.

Namun, penulis mencoba untuk menitikberatkan pada kata-kata penghiburan. Sadar tidak sadar, ketika kita memberikan peneguhan dengan kata-kata penghiburan itu, kita pun turut merasakan dan mengalami kesedihan mereka sehingga kesedihan mereka menjadi kurang. Hal ini, tentunya, menjadi harapan kita semua.

Di samping itu juga, kata-kata juga menjadi obat penyebuhan. Misalnya, ketika ada orang yang sedang menderita sakit. Kita mestinya memberi harapan baru kepada mereka. Bahwa, setiap pribadi pasti pernah mengalami kesakitan. Dalam hal ini, kita harus bersabar dan tenang di dalam menghadapi penderitaan itu. Terkesan sederhana, tetapi kata-kata itu sungguh menjadi obat yang sangat dahsiat untuk penyebuhan.hal ini mau menegaskan dan mengingatkan kita bahwa kata-kata itu punya kekuatan untuk penyebuhan. Tidaklah berlebihan, jika penulis menilai dan membandingkan dengan bentuk obat secara fisik itu, bahwa kata-kata menjadi obat yang sangat ampuh ketimbang obat secara fisik.

Penulis mengakui dan menyadari bahwa semua itu merupakan kekuatan dari kata-kata. Kata-kata itu mesti dihidupi selanjutnya di dalam kehidupan bernegara. Hal ini bertujuan agar kata-kata itu dapat terbukti secara jelas akan kekuatannya yang mampu mengalahkan kekuatan fisik yang cenderung kita pakai selama ini.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Remaja di Moskow Juga Suka Naik ke Atap KRL …

Lidia Putri | | 01 August 2014 | 19:28

Yuk Kenali Serba-serbi Njagong …

Giri Lumakto | | 01 August 2014 | 23:14

Apakah ‘Emoticon’ Benar-benar Jujur? …

Fandi Sido | | 01 August 2014 | 18:15

“Tak Sempurna Hanya Tanpa …

Jarjis Fadri | | 31 July 2014 | 08:41

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Koalisi Merah Putih Tetaplah Merah Putih, …

Hanny Setiawan | 11 jam lalu

Jokowi Belum Dilantik, PKB Sudah Nagih Jatah …

Ikhlash Hasan | 11 jam lalu

Libur Lebaran, Bertemu Bule dan Supir Isteri …

Hendry Sianturi | 16 jam lalu

Membuat Tanda Salib di Pusara Ir. Soekarno …

Kosmas Lawa Bagho | 16 jam lalu

Info Hoax Umar Abuh Masih Disebarkan …

Gatot Swandito | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: