Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Wiyamara

Pecinta dan penikmat hidup sederhana

Melihat Siluet Menyapu Perbedaan

OPINI | 19 September 2012 | 19:41 Dibaca: 196   Komentar: 0   0

Adakalanya tak dipandang, ketika sesuatu bekerja dengan cara yang tak kental dirasa. Dari sejumput harapan hingga sebesar gajah keinginan, tak jua mencapai maksud yang ditujukan saat dikumandangkan. Jaman perjuangan merasakan efeknya, jaman kemerdekaan merasakan arti adanya, jaman sekarang merasakan yang tak terasa oleh jaman-jaman sebelumnya. Euforia hadiah menciptakan gemerincing suara-suara kaki para penari pengais rejeki, tak jua didapatkan seorang wali berhati murni yang menyadur sebuah kata menjadi mutiara kehidupan di tubuh rumah bernama Pancasila.

Rona memerah tatkala sebuah jendela terbuka menjadi tempat melihat setiap isi dari kamar-kamar  paling dalam. Berantakan dan tak terawat, tak seperti yang digambarkan bentuk luar dengan tekstur paling mahal, ada ilusi yang dibenamkan pada kepala orang-orang lewat. Dia berkata, “Kami bangga.. kami bangga..” Yaa, saat ada piala yang diusung untuk diperebutkan, setiap orang mengamini sebuah kebanggan yang tak pernah sedikit pun terpikirkan untuk dibanggakan. Nilai sebuah hati tak lebih dari mahalnya tawaran trofi yang disematkan di atas panggung kemerdekaan itu.

Apakah kebanggaan lahir dari suatu euforia bergambar Bank Indonesia? Ataukah kebanggan lahir dari suatu peringatan lama, yang tak pernah dipandang utuh oleh mata orang-orang kelahiran SARA? Maka kejujuran adalah nilai yang harus diutamakan ketika berhadapan dengan jalur-jalur pilihan keinginan. Pernah terjatuh dan tergelincir adalah suatu hal yang wajar, tapi berkali-kali jatuh dan tergelincir dengan sengaja adalah suatu pengkhianatan atas kata-kata dan kalimat yang diwartakan demi sebuah angka dengah nominal besar.

Di dalam negeri, kata dan logat saling beradu di setiap persimpangan jalan, ketika wajah-wajah dengan mimik yang berbeda berusaha memakai logat dan kata satu sama lain. Hanya demi mendapat keringanan makanan dan kenyamanan usaha dari situasi yang telah dibiasakan. Walau pedas dikatakan enak, walau pahit dikatakan manis, yang penting apa yang dibangun atas dasar pengertian satu sama lain menumbuhkan akar kuat betapa pentingnya kepercayaan dan persaudaraan. Tetap saja, ketika logat dan kata menjadi kesalahpahaman dalam tawa dan canda, pengertian harus diberikan menggunakan logat dan kata bahasa Indonesia, walau tak pernah dimengerti secara sempurna. Hasilnya, segala kesalahpahaman menjadi jelas dan jernih, walau hanya dipakai saat jedah waktu minum kopi di sore hari.

Di luar negeri, wajah-wajah terkenali dengan mimik asia berusaha saling jemput memulai bahasa yang dimengerti. Ketika menemukan kata dan logat Indonesia yang didengar sejak keluar dari rahim ibu, ada suatu kebanggan yang tak bisa diurai oleh materi. Sebuah persaudaraan lahir di tempat dimana mereka jauh dari kelahiran pertiwi, dimana ari-ari mereka dikuburkan.  Sebuah logat dan kata menjadi suatu kebanggan yang ‘renyah’ digunakan saat internasional mengucilkan darimana mereka berasal. Nilai yang tak pernah bisa dirasakan di dalam rumahnya sendiri, ketika logat dan kata itu digadaikan hanya demi menghindari penghakiman ‘ngga gaul’ dan ‘ndeso’. Ada suatu rasa yang menyatukan di luar sana, rasa yang mengikat persaudaraan mereka lewat sebuah bahasa yang dimiliki orangtua mereka yang tinggal di Indonesia.

Bahasa Indonesia itu seperti siluet, seperti bayangan yang berada di balik setiap logat dan kata yang menyebar dari berbagai suku, agama, ras serta golongan di dalam rumah Pancasila yang besar. Ia bekerja dengan cara yang tak terlihat, tak terasa, tak teraba oleh para pendeteksi yang hanya menyambangi permukaan dirinya. Ia masih memiliki roh yang kuat di setiap kesalahpahaman atas arti suatu kata yang sudah terkontaminasi pembauran dari berbagai pihak. Ia adalah penjuru yang selalu dituju oleh para editor buku dan para pelajar terdidik dengan gelar paling tinggi. Ia adalah pemberi kejernihan di setiap kesalahpahaman kata, pemersatu perbedaan di kala tak mendapatkan titik temu dalam mengartikan. Ia adalah siluet yang menyapu perbedaan menuju suatu bahasa persatuan. Ia-lah bahasa Indonesia, yang sering digadaikan demi gengsi dan harga diri, namun selalu dicari tatkala terjadi perbedaan arti antara logat dan kata dari berbagai pihak di tanah air ini.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | | 25 October 2014 | 14:51

Kompasiana Nangkring Special di Balikpapan …

Bambang Herlandi | | 25 October 2014 | 13:44

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 3 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 5 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 6 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 7 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 7 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenapa Lebih PD Dengan Bahasa Asing Dari …

Seneng | 8 jam lalu

Car Free Day Bukan Solusi …

Nitami Adistya Putr... | 9 jam lalu

ATM Susu …

Gaganawati | 9 jam lalu

Perjamuan Akhir di Bali …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: